Eyang Aby ysh, saya salut sama panjenengan, jam 12 liwat kok masih 'cas':-) Apa rahasianya, apakah Dji Sam Soe plus bandrek dan kopi luwak, atau memang masih 'jetlag' karena pernah 'berinap' di IBT? ;-)
Salam, Andri On 2/10/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: > > > Milisters ysh, > > Trims bahwa pak Risfan berkenan membuka proyek pemancingan (diskusi) > bernama "Geografi Ekonomi : Sektor Informal dan Stimulus Fiskal"……. > Haruslah diakui itu sangatlah menambah pengayaan pada kepustakaan visi PWK > (Perencanaan Wilayah dan Kota)…. agar masyarakat PKW tak sekedar akrab pada > aspek fisik dan aspek ekologi ruang saja… namun juga agar akrab pada aspek > 'perekonomian perkotaan', 'sosiologi perkotaan' serta 'kewiraswastaan kecil > kota'…. yang itu dekat pada mendorong terciptanya "perluasan kesempatan > kerja"…… dimana nantinya diharapkan PWK dapat memenuhi idealitas berbagai > aspek keruangan fisik, ekologi, sosial, ekonomi, budaya, hankam… dsb……… > Utamanya setiap kali muncul krisis ekonomi…. Sektor informal selalu > mengemuka menjadi perbincangan masyarakat intelektual ekonomi dan para > otoritas ekonomi….. hanya giliran ingin mengartikulasikan kehadirannya > menjadi aset ekonomi serta aset perkotaan yg kenyal, perkasa dan elegan…. > selalu spt trdpt kebuntuan imajinasi utk mengimplementasikannya dgn lancar > dan mudah dlm pembangunan keruangan perkotaan…….. > Pihak ekonom jelas… mereka sgt mengerti bgmn skenario mengangkat kehidupan > manusia dari fase menganggur, miskin dan kurang pendidikan sekalipun… agar > dpt menjadi warga kota yg makmur dan terhormat…. Dari menjadi pengusaha > kakilima sampai menjadi industrialis dan konglomerat…. Krn mereka amat > menguasai urut2an cerita serta kreativitas bgmn cara2 memproduksi, > memasarkan, menjual serta bertransaksi sehingga mengkoleksi uang dan > memperoleh nilai tambah….…. tapi sementara itu 'kelemahannya' adalah aspek > perencanaan "ruang usaha" dan ruang tinggal" serta apalagi "perencanaan > fisik kota" bagi sikecil diperkotaan sangatlah kurang mereka kuasai krn > memang itu bukan spesialisasi studi mereka…….. > Mereka mempunyai kendala ttg krgnya belajar dan menguasai bentuk2 3-D > "ruang" dari "wilayah" serta "kota"……. agar sektor informal dalam bentuk > "ruang usaha" dan "ruang tinggal" dpt melebur menjadi bagian dari tata ruang > kota yg legal, estetik dan fungsional ….. sehingga apa yg dpt mereka lakukan > dan kuasai hanyalah sebatas aspek "non-keruangan" serta 'finansial' saja > ialah membina "ekonomi kewiraswastaan kecil perkotaan" saja……. > Disisi lain masyarakat teknik dan estetika keruangan seperti planner, > arsitek dan ahli interior design sangatlah mengerti bgmn merencanakan > bentuk2 '3-D' ruang "wilayah dan kota" yg tepat dan kece bagi "ruang > usaha" serta "ruang tinggal" pengusaha kecil serta sektor informal dikota yg > legal serta dpt integrated dgn tt ruang kota ….. tapi sering mereka sangat > jauh dari pemahaman ttg aspek bisnis dan kewiraswastaan dari usaha kecil, > sektor informal maupun juga sektor industri formal manufaktur serta > berbagai aspeknya…… seperti bgmn mengenali berbagai jenis usaha > kewiraswastaan sektor informal…. sbgmn pak Risfan dpt memberikan banyak > contohnya seperti mulai dari kegiatan yg dekat pada sektor industri, > perdagangan dan jasa… sampai pada yg dekat pada dunia2 pengemisan, jual > diri, ilegalitas dan kriminalitas……… > Dengan itu walau sektor formal ekonomi kita masih terseok2 dan kedodoran tak > mampu memberikan lapangan kerja seluruh rakyat…. tapi semua rumah tangga > miskin Indonesia utk sementara waktu bisa memperpanjang umur bbrp hari….. > banyak perut bisa terganjal dgn bbrp suap nasi… dan urusan lapar sementara > memang jadi beres karena peran sektor informal ini...... > Melihat "kesenjangan kapabilitas pengabdian intelektual" "keruangan" dan > "non-keruangan" antara masy. ekonomi dan masy. keruangan dlm menata sektor > informal… agar dpt menjadi bag. yg melembaga dari sistem ekonomi nasional > kita……. maupun juga agar sektor informal menjadi bagian aset legal dan > terhormat dari sistem penataan ruang kota ….. kiranya kita melihat…. > diperlukan langkah mulia memadukan visi maupun kapabilitas lintas disipliner > setidaknya ekonomi, sosial dan teknik keruangan……. > Selain itu…. dgn maraknya proses dan tuntutan "pemekaran daerah"…… dimana > dilaporkan banyak hasil dari "pemekaran daerah" itu menyimpan masalah….. > kita lihat pula bhw walau disatu sisi aspek perkembangan politik dan > demokratisasi (otda) "mengalami banyak kemajuannya di Indonesia"….. tapi > disisi lain kita lihat pula….. "kemajuan dibidang politik dlm pembangunan > daerah" yg tak diimbangi dengan "kemajuan dibidang lain seperti ekonomi, > sosial, budaya dan fisik kota" juga ternyata menimbulkan 'kemandegan' > juga……. > Tak dipungkiri….. "kemajuan" itu berjalan (idealnya) seiring dengan > "perkembangan kota serta perkembangan multisektoral lainnya"….. karena > kemajuan itu mengandung aspek modernitas, teknologi, kesejahteraan, > intelektualitas, urbanisasi, migrasi, industri, ekonomi ….. dsb. > "Pemekaran wilayah" yg tidak disertai dengan sukses perkembangan perkotaan > yg seimbang pada "ibukota2 baru" menyebabkan wilayah2 pemekaran tidak banyak > menikmati 'perubahan'…. Kecuali bhw hanya sekelompok kecil masyarakat/ gol. > yg menikmatinya seperti perangkat pemda dan DPRD serta sedikit kroni..…… > Dari uraian diatas jelas bhw tantangan dari perencana ruang wilayah dan kota > dimasa kini dan yad adalah… selain pengembangan fisik dan ekologi kota…. > Namun juga pengembangan sosial dan ekonomi kota….. bahkan bukan itu saja > ….. juga diperlukan pengembangan pengarahan mobilitas penduduk…. > transurbanisasi SDM intelektual…. transinvestasi ekonomi…. translokasi > industri… dan tentu saja perencanaan sistem besaran serta persebaran kota…. > dalam prinsip2 jaraknya… maupun hirarkhinya…. dsb….. dalam rangka a.l. utk > memasukkan sektor informal agar menjadi bagian dari struktur ekonomi kota yg > legal dan terhormat…….. > Tak ada cara lain kecuali kita hrs ingat menengok kekayaan negeri kita… 1,9 > juta km2 ruang daratan…… dimana Jabodetabek (6850km2) hanya seluas > 0.03%nya saja namun mampu menjadi mesin ekonomi nasional….. dan mampu > menampung sebanyak 16 juta jiwa….. > Jadi logikanya…. tak aneh kalau kita seharusnya dpt membangun kota besar > lain yg sama….. yg dapat menampung setidaknya sebesar separuh saja dari > penduduk Jabodetabek ditempat lain diluarJawa… dalam mana kita dpt > memasukkan aspek (trans)migrasi/ transurbanisasi urban (cukup 125-200m2 per > KK dan tak harus gratis dibanding dgn transmigrasi agraris yg boros > lahan.... 2 ha per KK)….. yg dipadukan dgn pengembangan sektor informal…. > Dipadukan pula dgn penyemaian industri manufaktur dari industri > memimpin….serta sentuhan arsitektur dan interior design..... Pada lokasi > disudut lain dari pusat negeri ini diluar Jawa…….. > > Sementara demikian dulu dan salam, > aby > > --- On Fri, 2/6/09, Risfan M <[email protected]> wrote: > > From: Risfan M <[email protected]> > Subject: [referensi] Geografi Ekonomi: Sektor Informal dan Stimulus Fiskal > To: "referensi" <[email protected]> > Date: Friday, February 6, 2009, 6:50 PM > > > > > > > > > > > > Rekan Referenciers ysh, > > Akibat krisis keuangan global, di Indonesia PHK bisa mencapai 200 ribu > orang, kata Kepala Bappenas (Kompas, 6-2-09). Berita lain Malaysia secara > bertahap akan memulangkan TKI hingga 2 juta orang. > > Angka 200 ribu itu menurut sebagian ahli terlalu kecil, karena hanya yang > tercatat. Masih banyak lagi dari usaha mikro atau sektor informal yang > menghentikan usahanya karena krisis yang tak tercatat dalam statistik. > > Sektor informal yang dianggap katup penyelamat ekonomi masyarakat itu > rupanya juga menjadi penyelamat pemerintah karena meringankannya dari > tuntutan penyediaan lapangan kerja, atau kegagalan. > Bisa dibayangkan kalau tidak ada sektor informal maka statistik pengangguran > bisa berlipat. Dengan adanya sektor informal, maka kalau warga mengasong > koran, rokok, permen, jaga sandal di masjid, jadi pak ogah, sudah masuk > kategori orang yang bekerja. > > Para regional planner bisa bilang dengan urbanisasi maka ekonomi tumbuh, > masalah kelebihan penduduk di perdesaan teratasi. Itu di negara maju. Mana > mungkin terjadi di negara berkembang yang mengalami deindustrialisasi dari > sektor industri yang terbatas itu. Jawabannya adalah karena ada sektor > informal yang memberi pekerjaan para migran ke kota itu. Walaupun cuma > sebagai penjual makanan keliling, tukang gado-gado, bakso, warung tegal, > atau aneka calo di terminal, stasiun atau di jalanan. > > Urban planner, perencana tata ruang kota Jakarta , Surabaya, Medan, Makasar > bisa bangga dengan jalan utama kotanya diisi deretan gedung megah. Seperti > jalan Sudirman, Thamrin, Rasuna Said di Jakata. Kalau melihat deretan > sky-line deretan pencakar langit itu terkesan kemakmuran kota, setidaknya > karyawan yang kerja disitu. Tapi lihatlah jalan-jalan kecil dibalik itu. > Deretan warung tenda, warung dorongan, Sogo jongkok tempat mayoritas > karyawan makan dan belanja. Kantor dan gedung megah tak menyediakan tempat > makan dengan harga terjangkau. Maka pedagang di sektor informallah > penelamatnya. Apakah lokasi berdagang mereka diakui? Itulah soalnya. > > Besarnya sektor informal ada menyebut 69,9% dari jumlah pekerja. Statistik > lain juga mengatakan 96,2% pekerja pada usaha mikro & kecil, sementara 99,9 > % perusahaan adalah mikro dan kecil. Boleh dikata yang disebut usaha mikro > itu umumnya ya informal. Mungkin bisa disebut ekonomi rakyat. > > Tanpa berdebat soal definisi, bisa dikatakan sektor informal ya > usaha/kegiatan ekonomi yang "ada tapi tiada". Artinya ada, exist, sebagai > kumpulan diakui sebagai suatu "konsep", kita terlibat sebagai konsumen, > bahkan sebagai pelaku "sambilan." Tapi tidak mengakuinya secara formal. > Tidak memasukkannya dalam kebijakan pembangunan daerah, tata ruang kota. > > Akibat situasi yang "mendua" (ambigu) ini, maka sektor kegiatan yang > merupakan mayoritas ini tak masuk dalam "kebijakan" dan program fasilitasi > pemerintah. Selalu dikatakan sebagai "katup/dewa penyelamat" ekonomi. Tapi > kehadirannya diingkari. > Bagi perbankan dianggap unbankabel. Oleh penata ruang kota dianggap > pelanggar land-use. Oleh satpol PP sering di "tertibkan" dan dikejar-kejar, > dst. > > Bagaimana mereka bisa berdaya, mentas jadi formal kalau kondisinya dibuat > "infant" terus. Baru untuk bernafas lega, bisa nabung dikit, sudah > "ditertibkan" , diporak porandakan asetnya. > > Yang diperlukan, barangkali, ialah pengakuan akan kehadiran mereka secara > "konsekuen." Kalau dianggap "katup penyelamat", ya terima kehadirannya. > Fasilitasi kebutuhannya untuk tumbuh dan mentas. Ibarat kupu-kupu yang kita > akui keindahannya, asalnya kan dari ulat yang menjijikkan, menakutkan. > Setelah lewat jadi kepompong, akhirnya mereka menjadi kupu-kupu. > > Mestinya kebijakan Stimulus Fiskal yang sedang diluncurkan juga melibatkan > sektor informal sebagai salah satu kelompok sasaran. > Tulisan selengkapnya disertai Tabel data silahkan klik & baca di Ecoplan. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

