On Mon 9/2/09 
"Mohammad Andri Budiman" [email protected] wrote :
 
Eyang Aby ysh, saya salut sama panjenengan, jam 12 liwat kok masih 'cas':-) Apa 
rahasianya, apakah Dji Sam Soe plus bandrek dan kopi luwak, atau memang masih 
'jetlag' karena pernah 'berinap' di IBT? ;-)


Cak Andri yang baik, 
Resepnya sederhana saja nak……
Naik keranjang pukul 7.30….. lalu bangun pukul 11.30….. lalu ambil jatah makan 
malammu sekali lagi…. sekalian juga yg  jatah utk.  sarapan paginya…..

Salam,aby



--- On Mon, 2/9/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Tgp : Re: Geografi Ekonomi: Sektor Informal dan 
Stimulus Fiskal
To: [email protected]
Date: Monday, February 9, 2009, 9:58 AM

Eyang Aby ysh, saya salut sama panjenengan, jam 12 liwat kok masih
'cas':-) Apa rahasianya, apakah Dji Sam Soe plus bandrek dan kopi
luwak, atau memang masih 'jetlag' karena pernah 'berinap' di
IBT? ;-)

Salam,
Andri

On 2/10/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
>
>
> Milisters ysh,
>
> Trims bahwa pak Risfan   berkenan membuka proyek pemancingan (diskusi)
> bernama "Geografi Ekonomi : Sektor Informal dan Stimulus
Fiskal"…….
> Haruslah diakui itu sangatlah menambah pengayaan pada kepustakaan visi PWK
> (Perencanaan Wilayah dan Kota)…. agar masyarakat PKW tak sekedar akrab 
pada
> aspek fisik dan aspek ekologi ruang saja… namun juga agar akrab pada
aspek
> 'perekonomian perkotaan', 'sosiologi perkotaan' serta
'kewiraswastaan kecil
> kota'…. yang itu dekat pada mendorong terciptanya  "perluasan
kesempatan
> kerja"…… dimana nantinya diharapkan PWK dapat memenuhi idealitas
berbagai
> aspek keruangan fisik, ekologi, sosial, ekonomi, budaya, hankam…
dsb………
> Utamanya setiap kali muncul krisis ekonomi…. Sektor informal selalu
> mengemuka menjadi perbincangan masyarakat intelektual ekonomi dan para
> otoritas ekonomi….. hanya giliran ingin mengartikulasikan kehadirannya
> menjadi aset ekonomi serta  aset perkotaan yg kenyal, perkasa dan
elegan….
> selalu spt trdpt  kebuntuan imajinasi utk mengimplementasikannya dgn
lancar
> dan mudah dlm pembangunan keruangan perkotaan……..
> Pihak ekonom jelas…  mereka sgt mengerti bgmn skenario mengangkat
kehidupan
> manusia dari fase menganggur, miskin dan kurang pendidikan sekalipun… 
agar
> dpt menjadi warga kota  yg makmur dan terhormat…. Dari menjadi pengusaha
> kakilima sampai menjadi industrialis dan konglomerat…. Krn mereka amat
> menguasai  urut2an cerita serta kreativitas bgmn cara2 memproduksi,
> memasarkan, menjual serta bertransaksi sehingga mengkoleksi uang dan
> memperoleh nilai tambah….….  tapi sementara itu 'kelemahannya'
adalah  aspek
> perencanaan "ruang usaha" dan ruang tinggal" serta apalagi
"perencanaan
> fisik kota" bagi  sikecil  diperkotaan sangatlah kurang  mereka
kuasai krn
> memang itu bukan spesialisasi studi mereka……..
> Mereka mempunyai kendala  ttg krgnya belajar dan menguasai  bentuk2 3-D
> "ruang" dari "wilayah" serta "kota"…….
agar sektor informal dalam bentuk
> "ruang usaha" dan "ruang tinggal" dpt melebur menjadi
bagian dari tata ruang
> kota yg legal, estetik dan fungsional ….. sehingga apa yg dpt mereka
lakukan
> dan kuasai hanyalah sebatas aspek "non-keruangan" serta
'finansial' saja
> ialah membina "ekonomi kewiraswastaan kecil perkotaan"
saja…….
> Disisi lain masyarakat teknik dan estetika keruangan seperti planner,
> arsitek dan ahli interior design  sangatlah mengerti bgmn merencanakan
> bentuk2 '3-D'  ruang "wilayah  dan kota" yg tepat dan
kece bagi "ruang
> usaha" serta "ruang tinggal" pengusaha kecil serta sektor
informal dikota yg
> legal serta dpt integrated dgn tt ruang kota ….. tapi sering mereka
sangat
> jauh dari pemahaman ttg aspek bisnis dan kewiraswastaan dari usaha kecil,
>  sektor informal maupun juga sektor industri formal manufaktur serta
> berbagai aspeknya…… seperti bgmn mengenali berbagai jenis usaha
> kewiraswastaan sektor informal…. sbgmn pak Risfan dpt memberikan banyak
> contohnya seperti mulai dari kegiatan yg dekat pada sektor industri,
> perdagangan dan jasa… sampai pada yg dekat pada dunia2 pengemisan, jual
> diri, ilegalitas dan kriminalitas………
> Dengan itu walau sektor formal ekonomi kita masih terseok2 dan kedodoran
tak
> mampu memberikan lapangan kerja seluruh rakyat…. tapi semua rumah tangga
> miskin Indonesia utk sementara waktu bisa memperpanjang umur bbrp
hari…..
> banyak perut bisa terganjal dgn bbrp suap nasi… dan  urusan lapar
sementara
> memang jadi beres karena peran sektor informal ini......
> Melihat "kesenjangan kapabilitas pengabdian intelektual"
"keruangan" dan
> "non-keruangan" antara masy. ekonomi dan masy. keruangan dlm
menata sektor
> informal… agar dpt menjadi bag. yg melembaga dari sistem ekonomi
nasional
> kita……. maupun juga agar sektor informal menjadi bagian aset legal dan
> terhormat dari sistem penataan ruang kota  ….. kiranya kita melihat….
> diperlukan langkah mulia memadukan visi maupun kapabilitas lintas
disipliner
> setidaknya ekonomi, sosial dan teknik keruangan…….
> Selain itu…. dgn maraknya proses dan tuntutan "pemekaran
daerah"…… dimana
> dilaporkan banyak hasil dari "pemekaran daerah" itu menyimpan
masalah…..
> kita lihat pula bhw  walau disatu sisi aspek perkembangan politik dan
> demokratisasi  (otda) "mengalami banyak kemajuannya di
Indonesia"….. tapi
> disisi lain kita lihat pula….. "kemajuan dibidang politik dlm
pembangunan
> daerah" yg tak diimbangi dengan "kemajuan dibidang lain seperti
ekonomi,
> sosial, budaya dan fisik kota" juga ternyata menimbulkan
'kemandegan'
> juga…….
> Tak dipungkiri….. "kemajuan" itu berjalan (idealnya) seiring
dengan
> "perkembangan kota serta perkembangan multisektoral
lainnya"….. karena
> kemajuan itu mengandung aspek modernitas, teknologi, kesejahteraan,
> intelektualitas, urbanisasi, migrasi, industri, ekonomi ….. dsb.
> "Pemekaran wilayah" yg tidak disertai dengan sukses perkembangan
perkotaan
> yg seimbang pada "ibukota2 baru" menyebabkan wilayah2 pemekaran
tidak banyak
> menikmati 'perubahan'…. Kecuali bhw hanya sekelompok kecil
masyarakat/ gol.
>  yg menikmatinya seperti perangkat pemda dan DPRD serta sedikit
kroni..……
> Dari uraian diatas jelas bhw tantangan dari perencana ruang wilayah dan
kota
> dimasa kini dan yad adalah… selain pengembangan fisik dan ekologi
kota….
> Namun juga pengembangan sosial dan ekonomi kota….. bahkan bukan itu saja
> ….. juga diperlukan pengembangan pengarahan mobilitas penduduk….
> transurbanisasi SDM intelektual….  transinvestasi ekonomi….
translokasi
> industri… dan tentu saja perencanaan sistem besaran serta persebaran
kota….
> dalam prinsip2 jaraknya… maupun hirarkhinya…. dsb….. dalam rangka
a.l. utk
> memasukkan sektor informal agar menjadi bagian dari struktur ekonomi kota
yg
> legal dan terhormat……..
> Tak ada cara lain kecuali kita hrs ingat menengok kekayaan negeri kita…
1,9
> juta km2 ruang daratan…… dimana Jabodetabek (6850km2)  hanya  seluas
> 0.03%nya saja namun mampu menjadi mesin ekonomi nasional….. dan mampu
> menampung sebanyak 16 juta jiwa…..
> Jadi logikanya…. tak aneh kalau kita seharusnya dpt membangun kota besar
> lain yg sama….. yg dapat menampung setidaknya sebesar separuh saja dari
> penduduk Jabodetabek ditempat lain diluarJawa… dalam mana kita dpt
> memasukkan aspek (trans)migrasi/ transurbanisasi urban (cukup 125-200m2
per
> KK dan tak harus gratis dibanding dgn transmigrasi agraris yg boros
> lahan.... 2 ha per KK)….. yg dipadukan dgn pengembangan sektor
informal….
> Dipadukan pula dgn penyemaian industri manufaktur dari industri
> memimpin….serta sentuhan arsitektur dan interior design..... Pada lokasi
> disudut lain dari pusat negeri ini diluar Jawa……..
>
> Sementara demikian dulu dan salam,
> aby
>
> --- On Fri, 2/6/09, Risfan M <[email protected]> wrote:
>
> From: Risfan M <[email protected]>
> Subject: [referensi] Geografi Ekonomi: Sektor Informal dan Stimulus Fiskal
> To: "referensi" <[email protected]>
> Date: Friday, February 6, 2009, 6:50 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Rekan Referenciers ysh,
>
> Akibat krisis keuangan global, di Indonesia PHK bisa mencapai 200 ribu
> orang, kata Kepala Bappenas (Kompas, 6-2-09). Berita lain Malaysia secara
> bertahap akan memulangkan TKI hingga 2 juta orang.
>
> Angka 200 ribu itu menurut sebagian ahli terlalu kecil, karena hanya yang
> tercatat. Masih banyak lagi dari usaha mikro atau sektor informal yang
> menghentikan usahanya karena krisis yang tak tercatat dalam statistik.
>
> Sektor informal yang dianggap katup penyelamat ekonomi masyarakat itu
> rupanya juga menjadi penyelamat pemerintah karena meringankannya dari
> tuntutan penyediaan lapangan kerja, atau kegagalan.
> Bisa dibayangkan kalau tidak ada sektor informal maka statistik
pengangguran
> bisa berlipat. Dengan adanya sektor informal, maka kalau warga mengasong
> koran, rokok, permen, jaga sandal di masjid, jadi pak ogah, sudah masuk
> kategori orang yang bekerja.
>
> Para regional planner bisa bilang dengan urbanisasi maka ekonomi tumbuh,
> masalah kelebihan penduduk di perdesaan teratasi. Itu di negara maju. Mana
> mungkin terjadi di negara berkembang yang mengalami deindustrialisasi dari
> sektor industri yang terbatas itu. Jawabannya adalah karena ada sektor
> informal yang memberi pekerjaan para migran ke kota itu. Walaupun cuma
> sebagai penjual makanan keliling, tukang gado-gado, bakso, warung tegal,
> atau aneka calo di terminal, stasiun atau di jalanan.
>
> Urban planner, perencana tata ruang kota Jakarta , Surabaya, Medan,
Makasar
> bisa bangga dengan jalan utama kotanya diisi deretan gedung megah. Seperti
> jalan Sudirman, Thamrin, Rasuna Said di Jakata. Kalau melihat deretan
> sky-line deretan pencakar langit itu terkesan kemakmuran kota, setidaknya
> karyawan yang kerja disitu. Tapi lihatlah jalan-jalan kecil dibalik itu.
> Deretan warung tenda, warung dorongan, Sogo jongkok tempat mayoritas
> karyawan makan dan belanja. Kantor dan gedung megah tak menyediakan tempat
> makan dengan harga terjangkau. Maka pedagang di sektor informallah
> penelamatnya. Apakah lokasi berdagang mereka diakui? Itulah soalnya.
>
> Besarnya sektor informal ada menyebut 69,9% dari jumlah pekerja. Statistik
> lain juga mengatakan 96,2% pekerja pada usaha mikro & kecil, sementara
99,9
> % perusahaan adalah mikro dan kecil. Boleh dikata yang disebut usaha mikro
> itu umumnya ya informal. Mungkin bisa disebut ekonomi rakyat.
>
> Tanpa berdebat soal definisi, bisa dikatakan sektor informal ya
> usaha/kegiatan ekonomi yang "ada tapi tiada". Artinya ada,
exist, sebagai
> kumpulan diakui sebagai suatu "konsep", kita terlibat sebagai
konsumen,
> bahkan sebagai pelaku "sambilan." Tapi tidak mengakuinya secara
formal.
> Tidak memasukkannya dalam kebijakan pembangunan daerah, tata ruang kota.
>
> Akibat situasi yang "mendua" (ambigu) ini, maka sektor kegiatan
yang
> merupakan mayoritas ini tak masuk dalam "kebijakan" dan program
fasilitasi
> pemerintah. Selalu dikatakan sebagai "katup/dewa penyelamat"
ekonomi. Tapi
> kehadirannya diingkari.
> Bagi perbankan dianggap unbankabel. Oleh penata ruang kota dianggap
> pelanggar land-use. Oleh satpol PP sering di "tertibkan" dan
dikejar-kejar,
> dst.
>
> Bagaimana mereka bisa berdaya, mentas jadi formal kalau kondisinya dibuat
> "infant" terus. Baru untuk bernafas lega, bisa nabung dikit,
sudah
> "ditertibkan" , diporak porandakan asetnya.
>
> Yang diperlukan, barangkali, ialah pengakuan akan kehadiran mereka secara
> "konsekuen." Kalau dianggap "katup penyelamat", ya
terima kehadirannya.
> Fasilitasi kebutuhannya untuk tumbuh dan mentas. Ibarat kupu-kupu yang
kita
> akui keindahannya, asalnya kan dari ulat yang menjijikkan, menakutkan.
> Setelah lewat jadi kepompong, akhirnya mereka menjadi kupu-kupu.
>
> Mestinya kebijakan Stimulus Fiskal yang sedang diluncurkan juga melibatkan
> sektor informal sebagai salah satu kelompok sasaran.
> Tulisan selengkapnya disertai Tabel data silahkan klik & baca di
Ecoplan.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links






      

Kirim email ke