Mau ikutan yaa.
Saya jadi ingat waktu saya ke Nias. Kondisinya juga mirip dengan Timor :
terisolir. Untungnya Nias punya pariwisata. Lalu saya terbayang pulau-pulau
lain di barat laut P. Sumatera yang menghadap ke Samudera Hindia. Barangkali
juga P. Sumba, pulau di selatan Papua (di Laut Arafuru), di Maluku Selatan.
Kayaknya banyak bagian negara kita yang "terisolir" dan akibatnya tertahan
terus dalam keterbelakang. Apa yakh yang kita bisa perbuat.
Yakh, katanya kita ada pendekatan "kawasan strategis perbatasan", katanya
mereka sudah menjadi bagian dalam rencana struktur/pola ruang nasional (RTRWN),
dst, dst. Tapi kapan dan bagaimana yaaa agar kesejahteraan menetes (lebih baik
lagi kalau bisa mengalir deras) ke sana ?
Sekedar perenungan.
Fitri I. W.
--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Mas Dwi, saya merenungkan sejenak tentang keterpencilan Timor dari arus lalu
> lintas fisik dengan bagian Indonesia yang lain. Saya merasa prihatin, tetapi
> kok melihat ada berkah tersembunyi. Kita ingat, dulu pulau Bali pernah
> diisolasi oleh Belanda supaya penetrasi budaya dari luar nggak masuk dan
> mempengaruhi (kalau nggak salah begitu). Sekarang kita melihat Bali yang
> begitu kuat karakternya.
>
> Apakah keterpencilan fisik ini juga akan membuat Timor memiliki karakter kuat
> juga seperti Bali. Jika kita menggunakan kacamata ilmu sosial tentu akan
> mengatakan TIDAK, sebab Timor tidak sama persis dengan Bali dan peristiwa
> Bali adalah einmalig alias sekali terjadi.
>
> Saya kebetulan saja menemukan desa Kaenbaun yang menurut saya masih otentik
> dan taat dengan adat mereka, bahkan kata Kaenbaun artinya adalah TAAT ADAT
> LELUHUR. Menurut saya, minimal keterpencilan itu sedikit menghambat perubahan
> budaya yang ada di Timor, meskipun tanda-tanda adaptasi ya terus ditemukan
> semakin banyak. Minimal ada harapan, menggunakan pengalaman di bagian lain
> Indonesia untuk membangun Timor dan sekitarnya menjadi lebih baik secara
> cermat, berbasis budaya lokal.
>
> Apakah ini berkah atau bukan ya ????
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Wed, 4/1/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...> wrote:
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...>
> Subject: [referensi] P.Lombok sedang bangun??
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, April 1, 2009, 12:18 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Wah,⦠P.Lombok dibangun,â¦. Nunggu bandara
> internasional, tahun iniâ¦.
>
> Â
>
> Mungkin nanti bergulir ke timur,.. ke flores dan timor??
>
> Mudah2anâ¦.
>
> Â
>
> Woiya,
>
> Rekan-rekan PU katanya lagi ada hajatan besar di Mataram ya,â¦
> semoga sukses ya,â¦
>
> Â
>
> ------------ ---------
>
> Â
>
> Wapres: Mei, Kawasan Wisata Lombok
> Dibangun
>
> MINGGU, 29 MARET 2009 | 10:44 WIB
>
> MATARAM, KOMPAS.com â" Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan agar
> pembangunan
> fisik kawasan wisata Lombok dilakukan pada Mei 2009. "Akhir April masalah
> administrasi selesai dan Mei pembangunan fisik (kawasan wisata Lombok) harus
> dimulai," kata Wapres seusai rapat infrastruktur di Bandara Selaparang,
> Lombok, NTB, Minggu (29/3).
>
> Secara khusus, Wapres sudah tiga
> kali datang ke Lombok untuk mengecek proyek pembangunan kawasan wisata di
> daerah
> itu, termasuk Bandara Internasional Lombok (BIL).
>
> Dalam rapat tersebut juga diikuti
> Menhub Jusman Safeii Djamal, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BPN Joyo
> Winoto,
> Dirut PT PLN Fachmi Muchtar, Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak, Dirut PT
> Angkasa Pura I Bambang Darwoto, serta Gubernur NTT Tuan Guru Muhammad Zainal
> Majdi.
>
> Di depan peserta rapat, Wapres
> menanyakan beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya soal pengadaan tanah
> yang belum beres. "Yang ada masalah administrasi saja, soal PPN tanah
> akhir April selesai," kata Wapres.
>
> Saat rapat Wapres bahkan langsung
> menelepon Mensesneg Hatta Rajasa dan Menkeu Sri Mulyani untuk mengecek soal PP
> Nilai tanah tersebut. Kepada Menkeu, Wapres meminta agar segera diselesaikan
> dan dapat ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum berangkat
> ke
> pertemuan G-20 di London.
>
> Wapres menjelaskan bahwa lahan
> yang diperlukan untuk pembangunan lokasi wisata Lombok merupakan milik BUMN.
> Berdasarkan UU untuk penggunaan lahan milik BUMN yang nilainya di atas Rp 100
> miliar harus mendapatkan persetujuan DPR. "Nah DPR sudah menyetujui, jadi
> tinggal masalah administrasi saja," kata Wapres.
>
> Selain lokasi wisata, Wapres juga
> mengecek perkembangan pembangunan BIL di Lombok Tengah. Pembangunan BIL untuk
> menunjang kawasan wisata yang akan dibangun dengan investor EMAAR dari Timur
> Tengah.
>
> Untuk BIL dilaporkan telah
> dilakukan pembangunan landasan pacu 70 persen. Sementara pembangunan fisik
> terminal baru 40 persen dan target penyelesaian BIL dapat dilakukan akhir
> tahun
> 2009 ini.
>
> Â
>
> Bandara Internasional Lombok Selesai
> Oktober 2009
>
> /
>
>
>
> MINGGU, 29 MARET 2009 | 15:58 WIB
>
> MATARAM, KOMPAS.com - Pembangunan Bandara Internasional Lombok di Desa Tana
> Awu,
> Kecamatan Penujak, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)
> ditargetkan akan selesai pada Oktober 2009. Hal itu disampaikan dalam rapat
> terbatas antara Wakil Presiden, Jusuf Kalla bersama dengan para Menteri
> Perhubungan Jusman Syafeii Djamal dan Menteri BUMN Sofyan Djalil di Mataram,
> Minggu (29/3).
>
> Dalam rapat koordinasi itu,
> Wapres menekankan pentingnya perampungan BIL beserta fasilitas pendukungnya
> dan
> berbagai dukungan terhadap rencana investasi perusahaan Dubai Emaar Properties
> LLC di Lombok Tengah itu, sesuai jadwal. Diharapkan dengan selesainya Bandara
> tersebut dibangun, selesai pula pengembangan kawasan wisata di sana.
>
> Usai koordinasi, Menteri Negara
> (Meneg) BUMN Sofyan Jalil, dan Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafei
> Djamal meninjau langsung ke lokasi pembangunan bandara. Saat meninjau lokasi
> pembangunan BIL itu, Meneg BUMN dan Menhub didampingi Kepala BPN Joyo Winoto,
> Dirut PT PLN Fachmi Muchtar, Dirjen Bina Marga, Hermanto Dardak, dan Dirut PT
> Angkasa
> Pura I, Bambang Darwoto. Gubernur NTB, KH. M. Zainul Majdi beserta sejumlah
> pejabat pemerintah daerah juga ikut mendampingi.
>
> Meneg BUMN dan Menhub beserta
> rombongan melihat dari dekat proses pembangunan BIL seperti landasan pacu
> (runway) dan terminal bandara, apron dan "taxiway" serta fasilitas
> penunjang lainnya. Saat peninjauan lapangan itu, pembangunan landasan pacu
> sudah terealisasi 69,91 persen, apron, dan "taxiway" serta fasilitas
> penunjangnya sudah 97,59 persen. Sementara terminal penumpang dan fasilitas
> penunjangnya sudah terealisasi 35,23 persen dan pekerjaan area parkir dan
> fasilitas penunjangnya mencapai 28 persen.
>
> Menurut Site Manager BIL PT
> Angkasa Pura I Marsidi, bandara tersebut lebih luas tiga kali lipat dari
> bandara yang ada saat ini menjadi seluas Bandara Internasional Adisumarmo
> Solo.
> Kawasan bandara internasional itu seluas 551 hektare atau dua kali luasan
> kawasan Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali.
>
> Panjang runway 2750 meter dan
> lebar 45 meter pada tahap pertama diproyeksikan dapat menampung 1 juta
> wisatawan setahun dan mampu didarati pesawat badan lebar Boeing 747. Landasan
> pacu itu didesain dengan ketebalan 142 sentimeter, teridiri dari lapisan pasir
> batu setinggi 85 sentimeter, lapisan batu pecah setinggi 45 setimeter, dan
> aspal hotmix tiga lapisan setinggi 12 sentimeter.
>
> Pembangunan BIL dengan dukungan
> dana sebesar Rp802 miliar itu ditargetkan rampung akhir tahun 2009 agar dapat
> digunakan pada awal tahun 2010. Landasan pacu itu dikerjakan PT Hutama Karya
> (BUMN), terminal dikerjakan PT Slipi Raya Utama, apron, "taxiway" dan
> fasilitas penunjangnya dikerjakan kontraktor yang ditunjuk Pemerintah Provinsi
> NTB. Sementara areal parkir, jalan lingkungan dan fasilitas penunjangnya akan
> dikerjakan oleh kontraktor yang ditunjuk Pemerintah Kabupaten Lombok
> Tengah.(Persda)
>
> Â
>
> Â
>
> Regards,
>
> Â dwiagus
>
> http://bdwiagus. blogspot. com
>
> http://bdwiagus. multiply. com
>
> Â
>
> "The most difficult thing in the world is to know how to do
> a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment."Â - T.
> H. White
>
> Â
>
> :::... Indo-MONEV ...:::
>
> Indo-MONEV
> is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the
> world
> who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on monitoring
> and evaluation and other related development issues including development
> aid works, particularly in Indonesia.
>
> Join in by sending an email to:Â indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
>
>
> Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group.
> php?gid=34091848 127&ref=ts
>
> Â
>