Mas Djarot,
Mungkin keterisolasian Timor tidak dapat disamakan dengan Bali.Demikian juga
dengan tetangganya Flores.Negara kita sangat kaya dengan keberagaman, juga
keberagaman permasalahannya.
Oleh karena itu introduksi kebijakan dan ipteks ke kawasan tersebut selain
perlu mendalami kekhasan bioregionnya juga antroposistemnya.

Bali memiliki bumi dan iklim yang lebih ramah daripada Timor. Juga
kelembagaan kulturalnya juga lebih mantap bahkan sejak sebelum Belanda
menginterfensinya. Walaupun kondisi dan suasana hari suci nyepi mereka
menunjukkan bahwa kekuatan kultural kelembagaan mereka masih cukup bertahan,
namun justru kerusakan semakin menjadi-jadi setelah sebagian pengatur negara
ini mengutamakan kekuasaan ekonomi pasar (termasuk rekan-rekan perancang
fisik kita) dalam mengintroduksi hal-hal baru ke dalamnya. Saya turut
gembira bahwa akhirnya kebijakan satu pintu akan diterapkan untuk berbagai
incaran investasi ke kawasan ini. Dengan demikian lembaga adat setempat
tidak lagi diperlakukan sekuler dari bagian kehidupan kepemerintahan mereka.

Ragam budaya dan kekuatan tradisi komunitas-komunitas di Flores juga berbeda
dengan di Timor, walaupun keduanya sama-sama merupakan bagian dari Nusa
Tenggara Timur. Walaupun di dalam satu pulau atau bersama gugus pulau mikro
di sekitarnya, Flores memiliki beragam kultur lokal yang walaupun berada di
dalam satu pulau namun memiliki bioregion yang agak saling terosolasi.
Terdapat daerah yang cukup subur, hijau dan sejuk maupun yang agak gersang.
Terdapat kawasan alam yang potensial untuk mengaggumi keindahan alam (bekas
kawah ditengah pegunungan yang kadang berkabut tebal) maupun kekayaan budaya
lokal (berbagai arsitektur etnik/tradisi lokal) Pencapaian lokasi antar
sub-region setempat tidak semudah di Bali atau Timor, karena struktur
permukaan bumi yang begitu berliku-liku dan melelahkan. Namun kondisi
tersebut justru membuat kekuatan tersendiri bagi penikmatan suasan lokal
masing-asing sub-region. Kondisi, religi dan kekayaan setiap kultur lokal
juga cukup beragam. Bahkan corak produk rumahan mereka juga berciri khas
antar tempat (tenunan yang berbeda corak dan warna antar tempat). Mereka
juga memiliki tradisi kumpul keluarga besar per desa untuk merayakan hari
besar bersama walau telah merantau jauh keluar pulau mereka dengan acara
yang cukup meriah dan suasana khas setempat. Tentu pemberdayaan untuk
peningkatan kualitas hidup komunitas setempat dan lingkungan hidupnya
menuntut pendekatan yang sangat berbeda dengan Bali ataupun Timor.

Menurut teman-teman setempat, Timor memiliki empat warna musim: hijau,
kuning, coklat dan hitam. Musim daun bersemi saat musim hujan turun, saat
air hujan mulai berkurang, saat daun-daun mulai meranggas waktu masuk musim
panas, serta akibat kebakaran pada saat panas memuncak. Berbeda dengan
Flores, apalagi Bali, pada musim kering, kita hanya menikmati tanah kering
dan debu saat melintasi bukit-bukit setempat untuk mencapai pantai di balik
gunung setempat. Terdapat beberapa suasana hijau hutan bakau di beberapa
kawasan pantai setempat atau hutan di sekitar genangan tampungan air hujan
di dataran lebih rendah. Bahkan air tawar dapat diperoleh diperairan pantai
di beberapa kawasan pesisir setempat. Namun kekhasan kultur setempat tidak
seberagam Flores atau semantap kelembagaan di Bali. Perbedaan kultur dan
religi antara komunitas darat setempat dengan komunitas laut yang umumnya
dari Bugis belum cukup melahirkan kekhasan kultural yang cukup khas dan
mantap untuk menjadi tuan di pulau-laut sendiri. Kekayaan kultur lokal masa
lalu banyak tergerus oleh budaya kota yang lebih cepat membawa persaingan
individual daripada peningkatan kualitas kesejahteraan manusia dan alamnya,
termasuk kultur setempat.

Sementara itu dulu sekilas catatan perjalanan yang pernah tercatat dalam
sesobek kertasku....

Salam,
ATA



2009/4/2 Hasbunalloh Wa Ni'mal Wakil <[email protected]>

>   Mau ikutan yaa.
>
> Saya jadi ingat waktu saya ke Nias. Kondisinya juga mirip dengan Timor :
> terisolir. Untungnya Nias punya pariwisata. Lalu saya terbayang pulau-pulau
> lain di barat laut P. Sumatera yang menghadap ke Samudera Hindia. Barangkali
> juga P. Sumba, pulau di selatan Papua (di Laut Arafuru), di Maluku Selatan.
> Kayaknya banyak bagian negara kita yang "terisolir" dan akibatnya tertahan
> terus dalam keterbelakang. Apa yakh yang kita bisa perbuat.
> Yakh, katanya kita ada pendekatan "kawasan strategis perbatasan", katanya
> mereka sudah menjadi bagian dalam rencana struktur/pola ruang nasional
> (RTRWN), dst, dst. Tapi kapan dan bagaimana yaaa agar kesejahteraan menetes
> (lebih baik lagi kalau bisa mengalir deras) ke sana ?
> Sekedar perenungan.
> Fitri I. W.
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, Djarot
> Purbadi <dpurb...@...> wrote:
> >
> > Mas Dwi, saya merenungkan sejenak tentang keterpencilan Timor dari arus
> lalu lintas fisik dengan bagian Indonesia yang lain. Saya merasa prihatin,
> tetapi kok melihat ada berkah tersembunyi. Kita ingat, dulu pulau Bali
> pernah diisolasi oleh Belanda supaya penetrasi budaya dari luar nggak masuk
> dan mempengaruhi (kalau nggak salah begitu). Sekarang kita melihat Bali yang
> begitu kuat karakternya.
> >
> > Apakah keterpencilan fisik ini juga akan membuat Timor memiliki karakter
> kuat juga seperti Bali. Jika kita menggunakan kacamata ilmu sosial tentu
> akan mengatakan TIDAK, sebab Timor tidak sama persis dengan Bali dan
> peristiwa Bali adalah einmalig alias sekali terjadi.
> >
> > Saya kebetulan saja menemukan desa Kaenbaun yang menurut saya masih
> otentik dan taat dengan adat mereka, bahkan kata Kaenbaun artinya adalah
> TAAT ADAT LELUHUR. Menurut saya, minimal keterpencilan itu sedikit
> menghambat perubahan budaya yang ada di Timor, meskipun tanda-tanda adaptasi
> ya terus ditemukan semakin banyak. Minimal ada harapan, menggunakan
> pengalaman di bagian lain Indonesia untuk membangun Timor dan sekitarnya
> menjadi lebih baik secara cermat, berbasis budaya lokal.
> >
> > Apakah ini berkah atau bukan ya ????
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> >
> > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> >
> > --- On Wed, 4/1/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...> wrote:
> > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...>
> > Subject: [referensi] P.Lombok sedang bangun??
> > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> > Date: Wednesday, April 1, 2009, 12:18 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Wah,… P.Lombok dibangun,…. Nunggu bandara
> > internasional, tahun ini….
> >
> > Â
> >
> > Mungkin nanti bergulir ke timur,.. ke flores dan timor??
> >
> > Mudah2an….
> >
> > Â
> >
> > Woiya,
> >
> > Rekan-rekan PU katanya lagi ada hajatan besar di Mataram ya,…
> > semoga sukses ya,…
> >
> > Â
> >
> > ------------ ---------
> >
> > Â
> >
> > Wapres: Mei, Kawasan Wisata Lombok
> > Dibangun
> >
> > MINGGU, 29 MARET 2009 | 10:44 WIB
> >
> > MATARAM, KOMPAS.com â€" Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan agar
> pembangunan
>
> > fisik kawasan wisata Lombok dilakukan pada Mei 2009. "Akhir April masalah
> > administrasi selesai dan Mei pembangunan fisik (kawasan wisata Lombok)
> harus
> > dimulai," kata Wapres seusai rapat infrastruktur di Bandara Selaparang,
> > Lombok, NTB, Minggu (29/3).
> >
> > Secara khusus, Wapres sudah tiga
> > kali datang ke Lombok untuk mengecek proyek pembangunan kawasan wisata di
> daerah
> > itu, termasuk Bandara Internasional Lombok (BIL).
> >
> > Dalam rapat tersebut juga diikuti
> > Menhub Jusman Safeii Djamal, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BPN Joyo
> Winoto,
> > Dirut PT PLN Fachmi Muchtar, Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak, Dirut PT
> > Angkasa Pura I Bambang Darwoto, serta Gubernur NTT Tuan Guru Muhammad
> Zainal
> > Majdi.
> >
> > Di depan peserta rapat, Wapres
> > menanyakan beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya soal pengadaan
> tanah
> > yang belum beres. "Yang ada masalah administrasi saja, soal PPN tanah
> > akhir April selesai," kata Wapres.
> >
> > Saat rapat Wapres bahkan langsung
> > menelepon Mensesneg Hatta Rajasa dan Menkeu Sri Mulyani untuk mengecek
> soal PP
> > Nilai tanah tersebut. Kepada Menkeu, Wapres meminta agar segera
> diselesaikan
> > dan dapat ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum
> berangkat ke
> > pertemuan G-20 di London.
> >
> > Wapres menjelaskan bahwa lahan
> > yang diperlukan untuk pembangunan lokasi wisata Lombok merupakan milik
> BUMN.
> > Berdasarkan UU untuk penggunaan lahan milik BUMN yang nilainya di atas Rp
> 100
> > miliar harus mendapatkan persetujuan DPR. "Nah DPR sudah menyetujui, jadi
> > tinggal masalah administrasi saja," kata Wapres.
> >
> > Selain lokasi wisata, Wapres juga
> > mengecek perkembangan pembangunan BIL di Lombok Tengah. Pembangunan BIL
> untuk
> > menunjang kawasan wisata yang akan dibangun dengan investor EMAAR dari
> Timur
> > Tengah.
> >
> > Untuk BIL dilaporkan telah
> > dilakukan pembangunan landasan pacu 70 persen. Sementara pembangunan
> fisik
> > terminal baru 40 persen dan target penyelesaian BIL dapat dilakukan akhir
> tahun
> > 2009 ini.
> >
> > Â
> >
> > Bandara Internasional Lombok Selesai
> > Oktober 2009
> >
> > /
> >
> >
> >
> > MINGGU, 29 MARET 2009 | 15:58 WIB
> >
> > MATARAM, KOMPAS.com - Pembangunan Bandara Internasional Lombok di Desa
> Tana Awu,
>
> > Kecamatan Penujak, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)
> > ditargetkan akan selesai pada Oktober 2009. Hal itu disampaikan dalam
> rapat
> > terbatas antara Wakil Presiden, Jusuf Kalla bersama dengan para Menteri
> > Perhubungan Jusman Syafeii Djamal dan Menteri BUMN Sofyan Djalil di
> Mataram,
> > Minggu (29/3).
> >
> > Dalam rapat koordinasi itu,
> > Wapres menekankan pentingnya perampungan BIL beserta fasilitas
> pendukungnya dan
> > berbagai dukungan terhadap rencana investasi perusahaan Dubai Emaar
> Properties
> > LLC di Lombok Tengah itu, sesuai jadwal. Diharapkan dengan selesainya
> Bandara
> > tersebut dibangun, selesai pula pengembangan kawasan wisata di sana.
> >
> > Usai koordinasi, Menteri Negara
> > (Meneg) BUMN Sofyan Jalil, dan Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafei
> > Djamal meninjau langsung ke lokasi pembangunan bandara. Saat meninjau
> lokasi
> > pembangunan BIL itu, Meneg BUMN dan Menhub didampingi Kepala BPN Joyo
> Winoto,
> > Dirut PT PLN Fachmi Muchtar, Dirjen Bina Marga, Hermanto Dardak, dan
> Dirut PT Angkasa
> > Pura I, Bambang Darwoto. Gubernur NTB, KH. M. Zainul Majdi beserta
> sejumlah
> > pejabat pemerintah daerah juga ikut mendampingi.
> >
> > Meneg BUMN dan Menhub beserta
> > rombongan melihat dari dekat proses pembangunan BIL seperti landasan pacu
> > (runway) dan terminal bandara, apron dan "taxiway" serta fasilitas
> > penunjang lainnya. Saat peninjauan lapangan itu, pembangunan landasan
> pacu
> > sudah terealisasi 69,91 persen, apron, dan "taxiway" serta fasilitas
> > penunjangnya sudah 97,59 persen. Sementara terminal penumpang dan
> fasilitas
> > penunjangnya sudah terealisasi 35,23 persen dan pekerjaan area parkir dan
> > fasilitas penunjangnya mencapai 28 persen.
> >
> > Menurut Site Manager BIL PT
> > Angkasa Pura I Marsidi, bandara tersebut lebih luas tiga kali lipat dari
> > bandara yang ada saat ini menjadi seluas Bandara Internasional Adisumarmo
> Solo.
> > Kawasan bandara internasional itu seluas 551 hektare atau dua kali luasan
> > kawasan Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali.
> >
> > Panjang runway 2750 meter dan
> > lebar 45 meter pada tahap pertama diproyeksikan dapat menampung 1 juta
> > wisatawan setahun dan mampu didarati pesawat badan lebar Boeing 747.
> Landasan
> > pacu itu didesain dengan ketebalan 142 sentimeter, teridiri dari lapisan
> pasir
> > batu setinggi 85 sentimeter, lapisan batu pecah setinggi 45 setimeter,
> dan
> > aspal hotmix tiga lapisan setinggi 12 sentimeter.
> >
> > Pembangunan BIL dengan dukungan
> > dana sebesar Rp802 miliar itu ditargetkan rampung akhir tahun 2009 agar
> dapat
> > digunakan pada awal tahun 2010. Landasan pacu itu dikerjakan PT Hutama
> Karya
> > (BUMN), terminal dikerjakan PT Slipi Raya Utama, apron, "taxiway" dan
> > fasilitas penunjangnya dikerjakan kontraktor yang ditunjuk Pemerintah
> Provinsi
> > NTB. Sementara areal parkir, jalan lingkungan dan fasilitas penunjangnya
> akan
> > dikerjakan oleh kontraktor yang ditunjuk Pemerintah Kabupaten Lombok
> Tengah.(Persda)
> >
> > Â
> >
> > Â
> >
> > Regards,
> >
> > Â dwiagus
> >
> > http://bdwiagus. blogspot. com
> >
> > http://bdwiagus. multiply. com
> >
> > Â
> >
> > "The most difficult thing in the world is to know how to do
> > a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment."Â  -
> T. H. White
> >
> > Â
> >
> > :::... Indo-MONEV ...:::
> >
> > Indo-MONEV
> > is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the
> world
> > who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on
> monitoring
> > and evaluation and other related development issues including development
> > aid works, particularly in Indonesia.
> >
> > Join in by sending an email to:Â  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
> >
> >
> > Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group.
> php?gid=34091848 127&ref=ts
> >
> > Â
> >
>
>  
>

Kirim email ke