Yth Pak Mod, Pak Efha, Pak Andri, rekan-rekan,
Sambil menanti jadi tidaknya shotgun wedding Megawati-Prabowo, simbol
kebingungan aspiran pemimpin yang memang tak terbiasa membaca --- apalagi
mengikuti --- kehendak rakyat itu, saya buat catatan ringan berikut.
1. Ide besarnya ingin melihat adakah tunas-tunas
perubahan antropologik-kultural dan sosial di masyarakat bangsa Indonesia
selama dekade 1999-2009, apa wujudnya di bidang kegiatan politik dan
ekonomi, apa futurologinya (hallo Pak Ekadj?). Pak Efha mencatat 50 juta
suara mengambang dan belum tentu SBY terpilih, padahal beliau dari Semarang.
Pak Andri, menurut saya, mewakili khas watak setia orang Sumut! Saya sendiri
berpendirian tak musim lagi aspiran maupun penguasa cukup jadi ahli
konspirasi; ini zaman internet dan HP bung! Rakyat tidak lagi bodoh. Vox
Populi Vox Dei. Justru setiap langkah harus dapat teruji di ruang terbuka
publik.
2. Indonesia sejak 9 April seperti nonton Bruce
Lee, sebagai Tang Lung dalam "The Way of The Dragon" yang diutus
menyelamatkan restoran Cina dari rampokan mafia Roma. Disuguhi Jurus-4
Tinju Naga Emas, 'Naga Kecil Menanyakan Jalan'. Dijawab dengan Jurus-5 Tinju
Naga Emas, 'Naga Besar Mengibaskan Ekor'. Naga Kecil merasa dilecehkan lalu
cari calan sendiri. Ada pengkhianat, Paman Wong, mengipas dengan ujar-ujar
"harimau mengamuk tak mampu menandingi ular tanah". Paman Wong sendiri
termotivasi berkhianat menjadi pemecah belah karena sebagai orang upahan
terikat pepatah besi oriental " anak buah tak bisa menonjol", maka mencari
jalan menjadi pemegang kuasa, setidaknya sebagian. Orang-orang lain ikutan,
maka terjadi perang awur-awuran, koalisi maju-mundur terbentuk-bubrah
(periksa Attachment --- di wawancara orang MI bilang kini justru rakyat
sedang mendidik politisi!).
3. Ustadz Syafii Maarif dari Muhammadiyah
mengeset ke persoalan sakitnya berubah dari alam 'Biar Lambat Asal Selamat'
menjadi 'Cepat dan Selamat' pada diri agen-agen sub-kultur Jawa.
4. Politik: sejak 1999 pemerintahan Indonesia
berupa antitesis dari otokrasi-feodalistis, menjadi demokrasi ketiga
terbesar di dunia. Empat lima estat kekuasaan ada di puncak negara, jika
Moneter/BI dan Media Massa/Pembentuk Opini dihitung. Presiden hanya
seperlima Chief Executive, empat perlima Kepala Negara, berperan pemayung.
Di legislatif didapati DPR, DPD, MPR, dengan Ketua/Tim Pimpinan dan
Sekretariat sendiri-sendiri. Belum terhitung Komisi-komisi independen. Maka
banyak keputusan dapat diambil, banyak kerja dapat selesai. Basis kinerja
jadi nyata. Untuk orang Minang memiliki "Basa Ampek Balai" itu jamak saja,
bagi orang Jawa susah tak ada wakil Sang Hyang Tunggal di bumi.
5. Ekonomi: "Abdunnomics" bermetamorfose di
lapangan sejak 2005 ke "Kallanomics" (Pak Eka ingat yang pertama sudah saya
setor ke Files milis ini. Boediono bukan peletak dasar politik-ekonomi
SBY-JK). Tinggal seangin lagi perekonomian khas asli Nusantara
nakhoda-pelaut-saudagar Melayu itu meraja di Asia, Hindia, dan Pacific.
Justru dibantu 2009 ini oleh kolapsnya finance-ekonomi berdasar riba yang
ditentang habis para kaum beragama.
6. Demokrasi tidak mudah dicerna penguasa yang
masih dialiri darah feodal, bagaimanapun bersandiwara sebagai demokrat.
Bercermin kepada Soekarno dan Soeharto, di dekade terakhir kekuasaan
masing-masing justru semakin menuntut absolutisme: Paduka Yang Mulia! Anak,
kucing, supir, ayamnya juga PJM! Ini refleksi the idea of power --- a la
Benedict Anderson --- di sub-kultur Jawa (dugaan saya, praktis hanya masih
hidup kini di Kab Sukohardjo).
7. Populer kembali digebah-gebah, slogan "menuju
sistem Presidensial yang kuat". Dan SBY tergiur, atau teryakinkan, oleh
jilatan begitu banyak sycophant, dengan ciri khas "bagaimana Bapak saja ...
" Tak terbaca lagi pesan rakyat 9 April 2009, "Lanjutkan, SBY_JK!!!" lengkap
dengan urutan kedudukan kedua partai begitu.
8. Maka terbuka kesempatan muncul kekuatan bandul
perubahan yang bisa mengekstrem kembali ke kekuasaan mutlak Presiden,
ekonomi fasistis, politik pembungkaman, landasan informasi intel teritorial,
BUMN sapi perahan. Kalau SBY memang berurat akar berdarah Demokrat, sebelum
Sabtu beliau akan mengajak kembali JK untuk bersama rakyat melawan semua
itu.
9. Indonesia tercinta ini ternyata masih
menggairahkan, masih menggeliat. Memang, Vox Populi Vox Dei masih berproses.
"Tahta Untuk Rakyat" masih di kawah candradimuka menuju "Tahta Dari Rakyat".
Wahai tiap pribadi dari 230 juta jiwa Indonesia, ingatlah: engkau telah
Merdeka!
Wassalam,
RMaris
_____
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of [email protected]
Sent: 11 Mei 2009 23:50
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] [OOT] Pimpinan Nasional Berbasis Kinerja
He... he... he...
Jangan terlalu percaya diri bahwa SBY akan memenangi PilPres nanti...
Mohon diingat, Demokrat hanya dipilih aoleh sekitar 20an juta pemilih.. Kalo
ditambah dengan partai koalisinya, paling cuma nambah berapa belas juta
suara....
Padahal di luar sana ada sekitar 50 juta suara mengambang yang belum
diketahui akan lari ke mana.... Bisa jadi akan digunakan untuk memilih yang
lain...
SBY belum tentu jadi...
Salam,
Fadjar
--- On Mon, 5/11/09, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail.
<mailto:mandrib%40gmail.com> com> wrote:
> From: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. <mailto:mandrib%40gmail.com>
com>
> Subject: [referensi] [OOT] Pimpinan Nasional Berbasis Kinerja
> To:
> Date: Monday, May 11, 2009, 10:19 PM
> Rekan-rekan yth,
>
> Sebagian dari kita tentu telah mengikuti berita di
> detiknews bahwa Boediono *disinyalir* akan dipasangkan
> dengan SBY untuk "bertarung" pada Pilpres y.a.d.
> Link-nya adalah sbb.:
>
> http://pemilu.
<http://pemilu.detiknews.com/read/2009/05/11/195952/1129794/700/boediono-dis
ebut-sebut-jadi-cawapres-sby>
detiknews.com/read/2009/05/11/195952/1129794/700/boediono-disebut-sebut-jadi
-cawapres-sby
>
> Menarik untuk diikuti, karena SBY adalah salah satu
> kandidat yang paling kuat untuk memenangi Pilpres -- kalau
> tidak boleh disebut "yang paling besar potensinya untuk
> menang".
>
> Jadi, siapa yang akan berpasangan dengan SBY tentu saja
> akan ikut menentukan bagaimana nasib negeri kita di masa
> mendatang.
>
,_._,___
Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.325 / Virus Database: 270.12.16/2094 - Release Date: 05/03/09
16:51:00
Editor MI: Koalisi MajuMundur
Kamis, 14 Mei 2009
Koalisi Maju Mundur
Kamis, 14 Mei 2009 00:00 WIB
PARTAI politik di negeri ini belum juga beranjak dewasa dan matang. Perangai
kekanak-kanakan masih saja melekat. Main ancam dan suka mutung. Tapi, ketika
dibelai dan diberi permen, segera balik dan memeluk erat.
Watak seperti itu kentara benar ketika calon presiden dari Partai Demokrat
Susilo Bambang Yudhoyono memastikan menggandeng Boediono sebagai calon wakil
presiden pada pemilihan presiden 8 Juli nanti. Partai-partai politik yang
sebelumnya ikut dalam koalisi dengan Demokrat tiba-tiba berang. Mereka pun
mengancam menarik dukungan dan membentuk koalisi alternatif. Ada juga yang
ingin hijrah ke pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, sedangkan yang lainnya mau maju
bersama Megawati Soekarnoputri atau Prabowo Subianto.
Sebelum SBY memutuskan cawapresnya, partai-partai itu pun mengajukan nama
cawapres kepada SBY disertai permintaan agar SBY memilih cawapres dari kalangan
parpol. Bukan nonparpol atau profesional. Tapi ada embel-embel, "Semuanya
bergantung kepada capres SBY."
Ketika SBY memutuskan Boediono, serangan dan ancaman pun bertubi-tubi datang
dari partai koalisi. SBY dinilai tidak menjunjung tinggi etika komunikasi. SBY
dinilai melakukan blunder politik karena mengabaikan unsur Jawa dan luar Jawa.
SBY dinilai mengabaikan tingkat elektabilitas dari calon pendamping dan seribu
satu alasan lain. Seharusnya sebelum menetapkan Boediono, Partai Demokrat dan
SBY membicarakan keputusan itu dengan parpol pendukung.
Kita heran karena tiba-tiba makna koalisi menjadi jungkir balik. Koalisi yang
seharusnya menyatukan platform partai, melaksanakan visi dan misi bersama,
kemudian dikerdilkan menjadi dagang sapi hanya untuk bagi-bagi kursi. Partai
politik dan politisi kita ternyata hanya disesaki nafsu berkuasa, kalkulasi
untung rugi, dan bukan idealisme mengabdi masyarakat. Partai politik dan
politisi hanya ingin menuai tanpa menanam, hanya ingin memungut tanpa menabur.
Seorang pemimpin harus menjadi contoh memegang teguh kata-katanya dan melakukan
sesuatu atas dasar apa yang sudah diucapkannya. Jika menyatakan menyerahkan
penentuan cawapres kepada SBY, kata-kata itu harus dipegang. Masyarakat masih
cukup cerdas dan waras mengingat kata-kata para pemimpin. Publik muak melihat
perilaku politisi yang mudah berubah.
Partai politik yang perolehan suaranya jauh di bawah Partai Demokrat merasa
sederajat dan berhak mendikte SBY. Padahal, partai-partai itu yang merasa perlu
merapat ke Demokrat dan SBY meski Demokrat dan SBY juga memerlukan
partai-partai itu. Memang partai politik dan politisi sering tidak tahu diri.
Kita juga prihatin melihat perilaku elite politik yang senang main gertak dan
mudah bersalin mitra koalisi. Seolah tidak ada ikatan apa-apa sehingga
partai-partai seperti angin yang mudah beralih tanpa meninggalkan jejak dan
tanpa malu.
Pelajaran berharga dari koalisi campur sari sekarang ini adalah perlunya
membangun koalisi permanen. Dengan demikian, partai-partai tidak mudah lompat
pagar atau menyeberang sesuka hati karena tidak ada ikatan platform partai.
Masalah utama yang dihadapi elite parpol yang selalu berulang adalah buruknya
komunikasi. Komitmen-komitmen yang sudah tercapai tidak dapat terawat karena
buruknya komunikasi. Bahkan sesama partai koalisi bisa saling menyerang
termasuk mengenai kebijakan pemerintah karena tidak ada komunikasi untuk
menjaga komitmen-komitmen tersebut.
Hiruk pikuk berburu kekuasaan telah membuat parpol dan elite politik melupakan
rakyat, padahal rakyat adalah tempat kebenaran berdomisili.
Comments & suggestions please email [email protected]