Pak Risman ysh. Saya tanggapi dulu sambil menunggu yang lain. Perspektif anthropo-spatial saat ini memang sepertinya sedang mengemuka, menunjukkan kita tidak bisa lepas, sebagai masing-masing anak bangsa, untuk mencari pijakan berdiri. Saya kurang tahu kalau harus sampai seperti skenario yang bapak duga, karena hal itu mensyaratkan kecerdasan yang sangat tinggi dari pemimpin bangsa. Saya ragu dalam hal ini, juga terhadap layer 1, 2, dst. Belum kelihatan politisi yang cerdas. Namun upaya untuk obrak-abrik sistem koalisi, harus diakui sangat berhasil. Manajemen konflik ini bisa fatal kalau ada yang tidak bisa jaga diri.
Setelah mendapatkan beberapa pelajaran jurus dari Pak BSP, saya coba susun analisis sendiri. Kelihatannya memang ada niat me-reshuffle dominasi lama, yang terlalu mahal ongkos politiknya bila diteruskan. Ini masanya ular-ular lagi ganti kulit, namun nggak tahu mau jadi apa. Jadi mungkin benar jurus harimau ngamuk belum tentu bisa menandingi jurus ular tanah. Harimau perlu stamina tinggi untuk bermain long-time session, supaya konsisten. Dan ini saya masih ragu, berkaca dari pengalaman terdahulu. Jadi rakyat seharusnya tidak perlu meneropong terlalu tinggi, agak diturunkan saja sedikit, supaya kelihatan dinamikanya. Itu saja kurang lebih lembar jawaban saya, minta diponten pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], "risman" <par...@...> wrote: > > Yth Pak Mod, Pak Efha, Pak Andri, rekan-rekan, > > Sambil menanti jadi tidaknya shotgun wedding Megawati-Prabowo, simbol > kebingungan aspiran pemimpin yang memang tak terbiasa membaca --- apalagi > mengikuti --- kehendak rakyat itu, saya buat catatan ringan berikut. > > 1. Ide besarnya ingin melihat adakah tunas-tunas > perubahan antropologik-kultural dan sosial di masyarakat bangsa Indonesia > selama dekade 1999-2009, apa wujudnya di bidang kegiatan politik dan > ekonomi, apa futurologinya (hallo Pak Ekadj?). Pak Efha mencatat 50 juta > suara mengambang dan belum tentu SBY terpilih, padahal beliau dari Semarang. > Pak Andri, menurut saya, mewakili khas watak setia orang Sumut! Saya sendiri > berpendirian tak musim lagi aspiran maupun penguasa cukup jadi ahli > konspirasi; ini zaman internet dan HP bung! Rakyat tidak lagi bodoh. Vox > Populi Vox Dei. Justru setiap langkah harus dapat teruji di ruang terbuka > publik. > > 2. Indonesia sejak 9 April seperti nonton Bruce > Lee, sebagai Tang Lung dalam "The Way of The Dragon" yang diutus > menyelamatkan restoran Cina dari rampokan mafia Roma. Disuguhi Jurus-4 > Tinju Naga Emas, 'Naga Kecil Menanyakan Jalan'. Dijawab dengan Jurus-5 Tinju > Naga Emas, 'Naga Besar Mengibaskan Ekor'. Naga Kecil merasa dilecehkan lalu > cari calan sendiri. Ada pengkhianat, Paman Wong, mengipas dengan ujar-ujar > "harimau mengamuk tak mampu menandingi ular tanah". Paman Wong sendiri > termotivasi berkhianat menjadi pemecah belah karena sebagai orang upahan > terikat pepatah besi oriental " anak buah tak bisa menonjol", maka mencari > jalan menjadi pemegang kuasa, setidaknya sebagian. Orang-orang lain ikutan, > maka terjadi perang awur-awuran, koalisi maju-mundur terbentuk-bubrah > (periksa Attachment --- di wawancara orang MI bilang kini justru rakyat > sedang mendidik politisi!). > > 3. Ustadz Syafii Maarif dari Muhammadiyah > mengeset ke persoalan sakitnya berubah dari alam 'Biar Lambat Asal Selamat' > menjadi 'Cepat dan Selamat' pada diri agen-agen sub-kultur Jawa. > > 4. Politik: sejak 1999 pemerintahan Indonesia > berupa antitesis dari otokrasi-feodalistis, menjadi demokrasi ketiga > terbesar di dunia. Empat lima estat kekuasaan ada di puncak negara, jika > Moneter/BI dan Media Massa/Pembentuk Opini dihitung. Presiden hanya > seperlima Chief Executive, empat perlima Kepala Negara, berperan pemayung. > Di legislatif didapati DPR, DPD, MPR, dengan Ketua/Tim Pimpinan dan > Sekretariat sendiri-sendiri. Belum terhitung Komisi-komisi independen. Maka > banyak keputusan dapat diambil, banyak kerja dapat selesai. Basis kinerja > jadi nyata. Untuk orang Minang memiliki "Basa Ampek Balai" itu jamak saja, > bagi orang Jawa susah tak ada wakil Sang Hyang Tunggal di bumi. > > 5. Ekonomi: "Abdunnomics" bermetamorfose di > lapangan sejak 2005 ke "Kallanomics" (Pak Eka ingat yang pertama sudah saya > setor ke Files milis ini. Boediono bukan peletak dasar politik-ekonomi > SBY-JK). Tinggal seangin lagi perekonomian khas asli Nusantara > nakhoda-pelaut-saudagar Melayu itu meraja di Asia, Hindia, dan Pacific. > Justru dibantu 2009 ini oleh kolapsnya finance-ekonomi berdasar riba yang > ditentang habis para kaum beragama. > > 6. Demokrasi tidak mudah dicerna penguasa yang > masih dialiri darah feodal, bagaimanapun bersandiwara sebagai demokrat. > Bercermin kepada Soekarno dan Soeharto, di dekade terakhir kekuasaan > masing-masing justru semakin menuntut absolutisme: Paduka Yang Mulia! Anak, > kucing, supir, ayamnya juga PJM! Ini refleksi the idea of power --- a la > Benedict Anderson --- di sub-kultur Jawa (dugaan saya, praktis hanya masih > hidup kini di Kab Sukohardjo). > > 7. Populer kembali digebah-gebah, slogan "menuju > sistem Presidensial yang kuat". Dan SBY tergiur, atau teryakinkan, oleh > jilatan begitu banyak sycophant, dengan ciri khas "bagaimana Bapak saja ... > " Tak terbaca lagi pesan rakyat 9 April 2009, "Lanjutkan, SBY_JK!!!" lengkap > dengan urutan kedudukan kedua partai begitu. > > 8. Maka terbuka kesempatan muncul kekuatan bandul > perubahan yang bisa mengekstrem kembali ke kekuasaan mutlak Presiden, > ekonomi fasistis, politik pembungkaman, landasan informasi intel teritorial, > BUMN sapi perahan. Kalau SBY memang berurat akar berdarah Demokrat, sebelum > Sabtu beliau akan mengajak kembali JK untuk bersama rakyat melawan semua > itu. > > 9. Indonesia tercinta ini ternyata masih > menggairahkan, masih menggeliat. Memang, Vox Populi Vox Dei masih berproses. > "Tahta Untuk Rakyat" masih di kawah candradimuka menuju "Tahta Dari Rakyat". > Wahai tiap pribadi dari 230 juta jiwa Indonesia, ingatlah: engkau telah > Merdeka! > > > > Wassalam, > > RMaris > > > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf > Of efha_mardians...@... > Sent: 11 Mei 2009 23:50 > To: [email protected] > Subject: Re: [referensi] [OOT] Pimpinan Nasional Berbasis Kinerja > > > > He... he... he... > Jangan terlalu percaya diri bahwa SBY akan memenangi PilPres nanti... > Mohon diingat, Demokrat hanya dipilih aoleh sekitar 20an juta pemilih.. Kalo > ditambah dengan partai koalisinya, paling cuma nambah berapa belas juta > suara.... > Padahal di luar sana ada sekitar 50 juta suara mengambang yang belum > diketahui akan lari ke mana.... Bisa jadi akan digunakan untuk memilih yang > lain... > SBY belum tentu jadi... > > Salam, > > Fadjar > > --- On Mon, 5/11/09, Mohammad Andri Budiman mand...@gmail. > <mailto:mandrib%40gmail.com> com> wrote: > > > From: Mohammad Andri Budiman mand...@gmail. <mailto:mandrib%40gmail.com> > com> > > Subject: [referensi] [OOT] Pimpinan Nasional Berbasis Kinerja > > To: > > Date: Monday, May 11, 2009, 10:19 PM > > Rekan-rekan yth, > > > > Sebagian dari kita tentu telah mengikuti berita di > > detiknews bahwa Boediono *disinyalir* akan dipasangkan > > dengan SBY untuk "bertarung" pada Pilpres y.a.d. > > Link-nya adalah sbb.: > > > > http://pemilu. > <http://pemilu.detiknews.com/read/2009/05/11/195952/1129794/700/boediono\ -dis > ebut-sebut-jadi-cawapres-sby> > detiknews.com/read/2009/05/11/195952/1129794/700/boediono-disebut-sebut-\ jadi > -cawapres-sby > > > > Menarik untuk diikuti, karena SBY adalah salah satu > > kandidat yang paling kuat untuk memenangi Pilpres -- kalau > > tidak boleh disebut "yang paling besar potensinya untuk > > menang". > > > > Jadi, siapa yang akan berpasangan dengan SBY tentu saja > > akan ikut menentukan bagaimana nasib negeri kita di masa > > mendatang. > > > ,_._,___ > > Internal Virus Database is out of date. > Checked by AVG - www.avg.com > Version: 8.5.325 / Virus Database: 270.12.16/2094 - Release Date: 05/03/09 > 16:51:00 > > > > Editor MI: Koalisi MajuMundur > > > Kamis, 14 Mei 2009 > > Koalisi Maju Mundur > Kamis, 14 Mei 2009 00:00 WIB > > > PARTAI politik di negeri ini belum juga beranjak dewasa dan matang. Perangai kekanak-kanakan masih saja melekat. Main ancam dan suka mutung. Tapi, ketika dibelai dan diberi permen, segera balik dan memeluk erat. > Watak seperti itu kentara benar ketika calon presiden dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memastikan menggandeng Boediono sebagai calon wakil presiden pada pemilihan presiden 8 Juli nanti. Partai-partai politik yang sebelumnya ikut dalam koalisi dengan Demokrat tiba-tiba berang. Mereka pun mengancam menarik dukungan dan membentuk koalisi alternatif. Ada juga yang ingin hijrah ke pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, sedangkan yang lainnya mau maju bersama Megawati Soekarnoputri atau Prabowo Subianto. > Sebelum SBY memutuskan cawapresnya, partai-partai itu pun mengajukan nama cawapres kepada SBY disertai permintaan agar SBY memilih cawapres dari kalangan parpol. Bukan nonparpol atau profesional. Tapi ada embel-embel, "Semuanya bergantung kepada capres SBY." > Ketika SBY memutuskan Boediono, serangan dan ancaman pun bertubi-tubi datang dari partai koalisi. SBY dinilai tidak menjunjung tinggi etika komunikasi. SBY dinilai melakukan blunder politik karena mengabaikan unsur Jawa dan luar Jawa. SBY dinilai mengabaikan tingkat elektabilitas dari calon pendamping dan seribu satu alasan lain. Seharusnya sebelum menetapkan Boediono, Partai Demokrat dan SBY membicarakan keputusan itu dengan parpol pendukung. > Kita heran karena tiba-tiba makna koalisi menjadi jungkir balik. Koalisi yang seharusnya menyatukan platform partai, melaksanakan visi dan misi bersama, kemudian dikerdilkan menjadi dagang sapi hanya untuk bagi-bagi kursi. Partai politik dan politisi kita ternyata hanya disesaki nafsu berkuasa, kalkulasi untung rugi, dan bukan idealisme mengabdi masyarakat. Partai politik dan politisi hanya ingin menuai tanpa menanam, hanya ingin memungut tanpa menabur. > Seorang pemimpin harus menjadi contoh memegang teguh kata-katanya dan melakukan sesuatu atas dasar apa yang sudah diucapkannya. Jika menyatakan menyerahkan penentuan cawapres kepada SBY, kata-kata itu harus dipegang. Masyarakat masih cukup cerdas dan waras mengingat kata-kata para pemimpin. Publik muak melihat perilaku politisi yang mudah berubah. > Partai politik yang perolehan suaranya jauh di bawah Partai Demokrat merasa sederajat dan berhak mendikte SBY. Padahal, partai-partai itu yang merasa perlu merapat ke Demokrat dan SBY meski Demokrat dan SBY juga memerlukan partai-partai itu. Memang partai politik dan politisi sering tidak tahu diri. > Kita juga prihatin melihat perilaku elite politik yang senang main gertak dan mudah bersalin mitra koalisi. Seolah tidak ada ikatan apa-apa sehingga partai-partai seperti angin yang mudah beralih tanpa meninggalkan jejak dan tanpa malu. > Pelajaran berharga dari koalisi campur sari sekarang ini adalah perlunya membangun koalisi permanen. Dengan demikian, partai-partai tidak mudah lompat pagar atau menyeberang sesuka hati karena tidak ada ikatan platform partai. > Masalah utama yang dihadapi elite parpol yang selalu berulang adalah buruknya komunikasi. Komitmen-komitmen yang sudah tercapai tidak dapat terawat karena buruknya komunikasi. Bahkan sesama partai koalisi bisa saling menyerang termasuk mengenai kebijakan pemerintah karena tidak ada komunikasi untuk menjaga komitmen-komitmen tersebut. > Hiruk pikuk berburu kekuasaan telah membuat parpol dan elite politik melupakan rakyat, padahal rakyat adalah tempat kebenaran berdomisili. > > Comments & suggestions please email mi...@... >

