Ibu Mila dan rekan-rekan ysh, ingin mewarnai sedikit, namun mohon diabaikan saja.
Persoalan gender sebenarnya masalah klasik, telah ada sejak manusia masih berada di dalam sorga. Dalam sejarah kita. posisi ini terpesankan melalui peninggalan arkeologis seperti patung lingga dan yoni, dll. Yang menarik adalah bagaimana bila masalah ini dibawa ke dalam ruang, dan secara lebih khusus lagi adalah apakah ada pengejawantahannya dalam ruang makro? Telah ditekankan oleh Pak Ibeng bila masalahnya bukan pada peran/partisipasi wanita dalam pembangunan, tetapi kalau coba saya tangkap dari pendapat bu Nita dll, sebenarnya adalah : bagaimana wanita akan mendapatkan ruang yang aman-nyaman untuk melakukan pergerakan dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-harinya, serta tentunya dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya secara pantas. Jadi hal ini adalah menyangkut bagaimana suatu ruang mengakomodasi hati wanita, dan bilamana perlu mempermuliakannya. Suatu kendala bila mayoritas masyarakat (adat <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3194> dan modern) kita hidup dalam pola patrilineal, atau `dunianya laki-laki', dimana ruang kehidupan ini terbangun berdasarkan `selera laki-laki'. Sebenarnya bila telah sampai disini, kita akan sampai pada filsafat `ruang maskulin' dan `ruang feminim'. Secara kaidah kebahasaan, orang Perancis dan Jerman akan jauh lebih memahami dibandingkan masyarakat kultur Anglo. Paris, akan terasa lebih feminim, karena sejarahnya juga menunjukkan kampung ini terbangun karena penghormatan terhadap Helenisme, demikian juga kota-kota lain (baca Da Vinci Code). Dari referensi pak Boy, di Belanda: Scheveningen. Kalau di Jepang saya kira Osaka. Kalau di Indonesia, `rasa-rasanya': Bandung (< 1990an), Bogor, Padang Panjang, Tasik, Solo, Kuta, Long Ampung <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5558> , Blok M, mana lagi ya? Dari berbagai tempat tersebut, saya sebenarnya paling terkesan dengan Kuala Lumpur, sepertinya ini adalah kota untuk para wanita. Kalau di Arab, pak BTS, untuk era ini adalah Madinah, coba deh kesana. Memang kalau kita membaca relief di candi Prambanan, `hati wanita' itu adalah layak direbut dengan perjuangan. Setelahnya patut diingat pesan Teh Nini, bila Aa itu bukan hanya milik teteh seorang, tapi sebenarnya adalah milik Allah subhanahu wata'ala. Salam. -ekadj --- In [email protected], mila karmila <alim_...@...> wrote: > > Bapak-bapak dan Ibu ysh > > Saya harus berterima kasih, karena persoalan gender dan pembangunan ini membuat bapak-bapak dan ibu merasa prihatin dan mulai memikirkan bagaimana memasukkan isu-isu gender didalam perencanaan pembangunan > > P risfan sudah menyatakan bahwa gender adalah konstruksi sosial yang dibangun atas budaya patriarkhal (laki-laki) didalam kehidupan masyarakat kita budaya ini cukup mengakar tercermin pada hampir seluruh aspek kehidupan walaupun mungkin saat ini sudah lebih baik tapi bukan berarti kesenjangan gender tidak ada. Implementasi dari budaya ini adalah tereduksinya hak-hak perempuan yang kemudian dianggap sama dengan laki-laki (di dunia kerja walaupun suda ada cuti hamil, cuti haid dan sebagainya) tapi ini belum cukup karena hak-hak yang lebih mendasar masih sering dilanggar seperti hak untuk berserikat, hak mendapatkan pendidikan, hak untuk mengakses pelayan kesehatan yang murah dan terjangkau, semuanya itu belum sepenuhnya terpenuhi. Kondisi ini tentunya memprihatinkan, jika semua ini terakomodasi di dalam perencanaan pembangunan dan menjadi pemikiran bersama mungkin hak-hak yang terlanggar tadi bisa dieliminasi. Indonesia memang telah meratifikasi CEDAW > didalam UU No 7/1984 tentang penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, namun inipun masih dianggap belum efektif berjalan dan kemudian disusul dengan keluarnya UU No 9/2000 tentang PUG (Pengarusutamaan Gender) yang intinya memasukkan isu gender di dalam setiap perencanaan pembangunan. Tapi sayang karena masih banyak SKPD yang tidak responsif gender shg isu gender di reduksi menjadi isu perempuan, dan yang berhubungan dengan perempuan kembalinya kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Di Jateng teman-teman Biro Pemberdayaan Perempuan sudah bekerjasama dengan Bappeda Prov agar didalam perencanaannya pembangunan bisa memasukkan isu-isu gender. Sedangkan terkait dengan bagaimana memasukkan isu gender didalam perencanaan pembangunan adalah dengan mengawal kebijakan tersebut kemudian memastikan bahwa di dalam penggaggaranpun isu-isu tersebut diterima. > > Salam > Mila > > From: Risfan M risf...@... > Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang > To: [email protected] > Date: Wednesday, May 20, 2009, 10:51 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Iman, Pak Aby, Mbak Mila, Mbak Nyta, Bung Efha dan rekans ysh, >  > Saya sudah baca comment Pak Iman, Pak Aby, Efha, tapi sengaja reply mbak Alim... eh Mila, maksud saya mbok jangan ragu sampaikan "opini" mbak, jangan hanya komentar -terima kasih dan setuju, atau masih prihatin saja. Apa sih gender itu? Dan bagimana.... .. Untuk mancing, saya sampaikan reka-rekaan saya (salah gak dimarahi Pak Aby kok). >  > Gender dan Penataan Ruang > Terpancing oleh diskusi teman-teman, saya coba menggali beberapa ingatan yang saya tahu saat bersinggungan dengan topic ini. >  > Gender & Sex > Gender dibedakan dengan sex. Soal sex atau jenis kelamin bersifat ânatural, biologisâ. Perempuan bisa melahirkan dan menyusui, dan konsekuensi dari itu. Sementara laki-laki tidak bisa. Sedangkan soal gender, adalah soal pandangan yang terbentuk oleh budaya (nurture) bahwa laki-laki berkuasa, pencari nafkah, lebih ini dan itu. Anggapan ini menjadikan hak-hak wanita diletakkan dibawah lelaki. Kerja bisa sama tapi hak sebagai karyawan untuk dapat posisi, tunjangan bisa beda. > Jadi soal kodrat biologis tidak bisa diubah, tapi soal tradisi dan pandangan atas peran perempuan yang merugikan, bisa diubah. Sekarang umumnya wanita bekerja, tapi tanggung jawab urusan rumah tangga sebagian besar masih di dia, jadi fungsinya rangkap. >  > Tuntutan Gender > Perjuangan gender, kalau menurut saya mengandung paradox. Di satu sisi menuntut âpersamaanâ posisi/perlakuan, di sisi lain menuntut hak karena kebutuhannya ada yang berbeda (ruang/jalur khusus, kuota, hal-hal terkait dengan kebutuhannya sebagai wanita dan ibu rumah tangga). Ini perlu penjelasan. > Kebijakan pembangunan yang âbuta-genderâ memang bisa mengakibatkan kesulitan bagi perempuan. Adanya teknologi pertanian yang menghapus pekerjaan tertentu (misal ani-ani, menumbuk beras), membuat banyak wanita desa kehilangan pekerjaan. Dan banyak contoh peraturan perburuhan yang menyulitkan perempuan. > Secara hukum tuntutan persamaan hak ini telah diakui oleh perundangan, sejak UU no8/1978 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Kaum Perempuan. Lalu Konferensi PBB Nairobi 1985 menegaskan untuk menjadikan perspektif gender ke dalam semua kebijakan negara dan pembangunan. Dan, pada 1995 di Beijing dituangkan dalam platform for action dengan strategi yang dikenal sebagai âgender mainstreamingâ. >  > Kepada peminat kajian âgender and planningâ sebetulnya sudah bisa mencoba menerjemahkan strategi tersebut dalam proses dan substansi perencanaan wilayah dan kota, wabil khusus penataan ruang. Kalau perlu bisa sampai menyusun daftar simak (check-list) untuk memandu, memonitor dan mengevaluasi apakah seluruh proses penataan ruang sudah âsadar genderâ. > Misalnya: > Apakah prinsip kebijakan yang mendasari perencanaan sudah mengacu pada perundangan/ kebijakan gender? > Apakah tim penyusun rencana sudah mempertimbangkan representasi suara perempuan? > Apakah proses penyesyahannya juga melibatkan stakeholder yang merepresentasi gender? > Apakah substansi rencana, isinya, langkah-langkahnya sudah mempertimbangkan aspek gender? Standar tata ruang yang digunakan juga sudah mempertimbangkan kebutuhan khas wanita dan keluarga? > Apakah proses diseminasi rencana sudah mengundang representasi perempuan/gender? > Apakah cara-cara pelaksanaan rencana sudah mempertimbangkan partisipasi perempuan, organisasi wanita? Apakah dalam proses monitoring & evaluasi sudah melibatkan representasi suara perempuan untuk member feed-back? Dst, dsb. > >  > Semoga memancing diskusi lanjutan >  > Salam, > Risfan Munir > > > --- On Wed, 5/20/09, mila karmila alim_...@yahoo. com> wrote: > > > From: mila karmila alim_...@yahoo. com> > Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Wednesday, May 20, 2009, 9:18 PM > > > > > > > > > Pak Risfan dan temen-temen Referensier > > Sepakat pak bahwa mindset yang selama ini terbangun adalah mindset yang dipengaruhi budaya Patriarkhal, sehingga budaya ini merasuk mulai dari kebijakan sampai dengan penyediaan fasilitas yang semuanya adalah netral gender. Semoga semakin banyak yang terusik maka semakin cepat isu bergulir dan akan menjadi agenda yang juga dipikirkan oleh perencana pembangunan. > > Salam > Mila > > --- On Wed, 5/20/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote: > > > From: Risfan M risf...@yahoo. com> > Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Wednesday, May 20, 2009, 5:56 PM > > > > > >  >

