Ideologi, Sistem Ekonomi, Sistem Keuangan, Manajemen.

Rekan Referensiers ysh,

Sambil mereview posting rekan-rekan tentang neolib, kerakyatan, bejo, Jepang 
dan Syariah. Saya pikir ada yang mesti dipilah, agar tak rancu melihat yang 
dari luar mesti baik. Baik Barat, Jepang atau lainnya.

Dalam tataran ideologi kita bicara spektrum antara "paling kapitalis 
hingga paling sosialis". disamping itu juga ethos berbasis keagamaan atau 
kebangsaan - ethos Protestan, ethos Zen, ethos Islam, Konfusian, dst. Juga 
ethos kebangsaan atau nasionalisme, yang juga mewarnai sistem politik, ekonomi 
yang dipilih.

Kasus Jepang, ada nasionalime yang kuat sebagai warisan. Juga identitas bangsa 
yang solid. Sehingga saat harus membuka diri terhadap Barat, dia bisa pinjam 
ilmu  barat untuk disesuaikan dengan ethos kebangsaannya. dengan spirit 
mengalahkan/ mengungguli. Sedang sistem politik ekonomi yang mereka terapkan 
tampaknya kok sama dengan Barat. Ada Liberal Democratic Party, ada bursa Nikei, 
perusahaannya juga listing di pasar modal. Negaranya juga tidak banyak 
menyampuri swasta, bahkan banyak memfasilitasi.

Yang khas Jepang adalah rasa kebangsaannya, yang bukan cuma slogan. Semangat 
mengunggulli bangsa lain (Barat), diwujudkan merata dengan "cinta produk 
sendiri". Ini konsisten dilaksanakan pemerintah dan rakyatnya. Di kita ini 
tak ada, pemerintah dan rakyat sama-sama punya seribu satu alasan untuk belanja 
produk luar.

Keunggulan terkait kekhasan tradisi Jepang yang lain ialah menerapkan etika Zen 
secara praktis dalam Manajemen Operasi. Prinsip KAIZEN, yang simplenya 
"hari ini lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini." 
Prinsip simple ini jadi pedoman kerja harian diterapkan di segala bidang. 
Diucapkan saat senam pagi, dievaluasi saat tutup kerja sore hari. Ini jadi 
CONTINUOUS PROCESS IMPROVEMENT, salah satu pilar TQR, konsep dari Barat yang 
suksesnya justru di Jepang.
Soal dialektika Kapitalis vs Sosialis (buruh, dst) saya kira bukan tidak ada.

Bangsa kita tentu punya tantangan sendiri. Mungkin supaya lebih jernih bisa 
kembali ke era pencarian ideologi dan bentuk sistem yang pas, sebelum 
kemerdekaan dulu. Tantangan kebangsaan sungguh besar sebagai bangsa ribuan 
pulau, multi etnik, dengan tingkat kelembagaan, ekonomi yang beda-beda pula. 
Ada yang berlatar kerajaan besar, ada yang kerajaan kecil, suku-suku, serta 
diaspora  dari etnik yang menyebar. Bahwa akhirnya menyatu jadi bangsa 
Indonesia saja sudah harus banyak disyukuri.

Ada masa ketika ideologi politik/ ekonomi diperdebatkan. Semangatnya waktu itu 
tentu anti imperialis, penjajah, dari Eropa ataupun Jepang. Maka ide-ide 
sosialis yang pro-rakyat menjadi populer. Namun karena ide itu lebih menonjol 
dalam bentuk ekstrem sebaagai komunis, maka banyak yang berhati-hati. Ada yang 
berusaha mengawinkan dengan demokrasi, menjadi sosialis-demokrat. Ada yang 
mencoba mengawinkannya dengan etika Islam, salah satunya adalah HOS 
Tjokroaminoto. Dia pemuka Serikat Dagang Islam, Ketua Serikat Islam, yang lalu 
jadi Partai Serikat Islam. Dia mentor politik pertama Bung Karno yang mewarisi 
kemampuan orasinya. Dia menerjemahkan Sosialisme Islam kepada masyarakat dalam 
ungkapan sederhana, "berhentilah makan sebelum kenyang" (jangan 
serakah), dan sosialisme diartikan sebagai "persahabatan sosial" 
(semangat berbagi). Dia tidak percaya pada revolusi yang menjungkir balikkan 
sistem secara radikal, tapi perbuatan nyata di
 kalangan komunitas, yang kalau menasional manjadi revolusi juga, tapi sudah 
berakar di masyarakat. 

Ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya mencari alternatif sistem ekonomi 
alternatif, tentu layak didukung, namun kemajuannya nampaknya masih di sistem 
pengelolaan keuangannya, yaitu menjauhi riba. Sistem ekonomi yang menyeluruh 
belum berkembang. Apalagi kebanykan negara Islam berbentuk monarchy, beda 
dengan kepemimpinan Nabi saw dan Empat Sahabat, yang jadi acuan HOS 
Tjokroaminoto di atas.

Jadi, ada faktor ideologi, ethic yang bersumber nilai luhur religi, budaya 
bangsa, ada sistem politik ekonomi, ada pula ethos dan praktek manajemen. 
Kesemuanya saling membentuk keunggulan daya saing dan kemajuan bangsa. Saya 
coba mereview saja sesuai keterbatasan, apakah begitu?

Salam,
Risfan Munir

hengky abiyoso wrote: 
>  Pada   5/29/09 Prof. A bimanyu TA menulis : 
>    “…….. Saya yakin bahwa kesuksesan Jepang tidak dimulai dengan mencari 
> istilah-istilah yang rumit-rumit, tetapi dengan terjun ke dunia nyata. Tidak 
> asik menghitung angka pertumbuhan dan kepercayaan bank ataupun investro luar, 
> teapi mencoba pola produksi
>  baru sesuai kekhasan kreatifitas budaya lokal yang mungkin dikembangkan 
> masyarakatnya. ….” . 
>  Betul prof… Saya setuju banget…….. diantara nampak nyata Jepang langsung 
> saja terjun ke Manchuria, Hongkong, Birma, Thailand, Malaysia, Palembang, 
> Tarakan, Pantura Jawa, Morotai, Papua Nugini bahkan Pearl harbour di 
> Honolulu…….   
>  Salam, 
>    
>  --- On Mon, 6/1/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@... .....> wrote: 
>  From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@... ......> Subject: Re: 
> [referensi] Re: Ekonomi Bejo To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, 
> June 1, 2009, 10:42 AM 
>  Betul sekali Mas Djarot, Dalam masa restorasi Meiji tersebut, setelah 
> merasakan kesalahan meniru Barat bangsa Jepang segera mengoreksinya dengan 
> mengganti produk import dengan penyesuaian selaras dengan nilai dan potensi 
> lokalnya. Jadi ... ada proses panjang pematangan bangsa Jepang dalam abad 
> tersebut, dari rasa bangga atas tradisi budayanya secara berlebihan, 
> kegundahan setelah merasakan teknologinya kalah dari budaya Barat, upaya 
> menjiplak secara total, merasakan kegagalan, kesadaran nasional, hingga 
> kemudian bangkit dengan pembaruan ke skala dan model yang lebih mantap, walau 
> mulai dengan kelas produksi yang dianggap pasar kelas bawah (cepat rusak 
> namun murah) menjadi Jepang moderen dan unggul sekarang ini.   Salam, ATA 
>  2009/5/30 Djarot Purbadi < dpurb...@... ...... > 
>  Prof ATA, menurut saya, Jepang bukan sekedar terjun di dunia nyata dengan 
> pikiran kosong, melainkan ada isinya minimal sebagai referensi. Nah referensi 
> adalah kata dahsyat (milis ini memang dahsyat) ketika orang harus bertindak 
> di dunia nyata memperjuangkan sesuatu. Paman saya yang sudah meninggal dunia, 
> seorang doktor etnomusikologi dari Osaka pernah tinggal beberapa kali di 
> Jepang, selalu berceritera bahwa kehebatan Jepang adalah kecanggihannya 
> memadukan BARAT dan JEPANG yang di mulai dari Kaisar dalam program restorasi 
> Meiji ! Kita juga telah kenal, bahwa Jepang bisa sejajar (bahkan melampaui 
> barat) tanpa kehilangan kejepangannya. ....Pernah ada Konser 1000 anak 
> bermain biola di tahun 60-an (?) yang merupakan hasil kerja keras orang 
> Jepang mendatangkan musisi kaliber dunia ke Jepang untuk melatih anak-anak 
> dan diwujudkan dalam konser itu.....barangkali
>  kuncinya memang pemaduan atau perkawinan atau dialog budaya ! Salam, Djarot 
> Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu 
> santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On 
> Fri, 5/29/09, abimanyu takdir alamsyah < takdi...@... ........ > wrote: 
>  From: abimanyu takdir alamsyah < takdi...@... ...... >
>  Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo To: refere...@yahoogrou ps.com 
> Date: Friday, May 29, 2009, 5:06 PM
>  Rekans ysh, Saya yakin bahwa kesuksesan Jepang tidak dimulai dengan mencari 
> istilah-istilah yang rumit-rumit, tetapi dengan terjun ke dunia nyata. Tidak 
> asik menghitung angka pertumbuhan dan kepercayaan bank ataupun investro luar, 
> teapi mencoba pola produksi baru sesuai kekhasan kreatifitas budaya lokal 
> yang mungkin dikembangkan masyarakatnya. .. Salam.... ATA 
>  2009/5/29 ffekadj < 4ek...@..... ..... > 
>  Pak Fadjar ysh, beberapa tahun yang lalu saya pernah sesorah di forum 
> antropolog, dan saya cuplik lagi di bawah. Intinya antropologi itu bukan 
> sekedar ilmu, tetapi juga merupakan "bahasa". Salam. 
>  -ekadj 
>  --- In refere...@yahoogrou ps.com , <efha_mardiansjah@ ...> wrote: > 
>  > Lho Pak Bambang, > > Diskusi ttg paradigma-paradigma tsb, (atau pilihan 
> paradigma yg paling diminati oleh Indonesia), menurut saya bukan merupakan 
> diskusi antropologis, Pak.... > > Saya rasa itu lebih merupakan diskusi 
> filsafat (falsafah?) tentang apa cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia 
> dan juga pendekatan-pendekat an yg perlu dilakukan untuk mencapainya. Kalau 
> Bhutan melakukan pemilihan kepada paradigma kebahagiaan ( happyness) dan 
> bukan pertumbuhan (not growth), itu khan bagian dari pilihan-pilihan 
> strategis bangsa Bhutan dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Saya rasa, 
> kita tidak harus memilih paradigma kebahagiaan seperti Bhutan tsb... Walau, 
> tertus terang, pilihan strategis bangsa Bhutan itu bisa menjadi "pengingatan" 
> bagi kita yang cenderung memilih paradigma pertumbuhan (growth) di dalam 
> pilihan strategis pembangunan bangsa...... Apakah hal itu telah benar dan 
> sesuai dengan apa yg dicita-citakan dahulu
>  > > Jadi, mungkin, perlu dilakukan refleksi di dalamnya, Pak... > > > 
>  > --- On Fri, 5/29/09, bspr...@... bspr...@... wrote: > > > From: 
> bspr...@... bspr...@... 
>  > Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo > To: refere...@yahoogrou ps.com > 
> Date: Friday, May 29, 2009, 11:30 AM > > Mas Fadjar ysh, > Maaf saya tidak 
> mau mengajak milist ini kearah antropo-discussion. Saya cuman benar2 tidak 
> bisa memahami begitu banyaknya kebetulan yang terjadi di negara ini dan semua 
> berbuah pada sebuah kenikmatan ... meskipun ini baru kenikmatan dunia he he 
> he. > Salam > bambang sp > .... Pak Fikar dan kerabat2 ysh, Sebelumnya saya 
> sampaikan bilamana saya bukan seorang antropolog, justru sebenarnya secara 
> tidak sadar sedang mempelajari hal itu. Bila anda membaca sedikit tulisan 
> saya, sebenarnya saya sedang tidak menggambarkan suatu ilmu, tetapi adalah 
> bahasa. Jadi antropologi adalah bahasa yang beredar, dan mau tidak mau setiap 
> orang akan berusaha kalau tidak mau
>  disebut dipaksa untuk berbicara dengan bahasa itu. Mungkin ini penafsiran 
> amatir saya. Saya tidak mengabaikan Geertz, bukunya telah saya baca sejak 20 
> tahun yang lalu. Justru tercerahkan, karena membuka alam pertama saya tentang 
> bangsa-bangsa. Boleh jadi rujukan, namun maunya setelah itu lebih banyak 
> swakarya yang mengungkapkan jatidiri kita sendiri. Kemarin saya baca Babad 
> Tanah Jawi bahasa Indonesia, ternyata klasifikasi sosial bisa lebih rumit 
> dari yang digambarkan Geertz. Dan saya belum nemu literatur yang memuaskan 
> tentang hal ini. Karena ini persoalan bahasa, maka saya mencari sendiri jalan 
> ke hal itu, termasuk mengintip di milis ini. Dan ternyata luar biasa, dalam 
> beberapa hal banyak tabir yang bisa kita ungkap sendiri. Mungkin pertanyaan 
> naif saya kepada kerabat antropologi, sejauh mana anda memahami bangsa anda 
> sendiri? Pertanyaan ini yang saya simpan pada posting sebelumnya. Bila anda 
> merasa
>  terpanggil, silahkan dijawab, dan kita bisa memulai berbagi informasi secara 
> sehat. Bilamana tidak, kita mungkin hanya tumbuh sebagai generasi pembaca 
> buku cerita, atau komentator iseng. Karena ini adalah persoalan bahasa, 
> tentunya antropologi adalah penting untuk pembangunan. Tentunya saya setuju 
> dengan pandangan sebelumnya tentang perlunya meningkatkan peran itu dewasa 
> ini. Sejak beberapa tahun ini saya sudah melibatkan rekan2 antropolog untuk 
> beberapa pekerjaan teknis. Cobalah, betapa tidak kurang pentingnya 
> antropologi ini. Harapan yang tersimpan adalah bagaimana para kerabat 
> antropologi dapat menemukan kesejatian bangsa Indonesia dan suku-suku 
> bangsanya, dan karenanya kita bisa bermartabat dalam pergaulan dunia. 
> Bilamana mungkin seperti yang saya lihat di Jepang bulan lalu, ketika 
> 'keajaiban ekonomi Jepang' hanya dapat dilakukan oleh 'orang' Jepang dan 
> 'budaya' Jepang. .... 
>      



      

Kirim email ke