Rekans ysh, Sebetulnya melihat perkembangan terakhir, dari proses awal kampanye capres cawapres plus reaksi masyrakat secara umum, kita sudah mulai memasuki era reformasi kedua. Era kesadaran perlunya mengoreksi pendekatan pembangunan lama yang terlalu percaya atau terjebak belenggu sistem pasar global menjadi lebih berorientasi peningkatan potensi diri. Seperti abad-abad recovery setelah Meiji dimana lahir koperasi-koperasi berbasis nasional dan produksi lokal Jepang, Indonesia sejak dulu juga mencoba berjenis pola "ekonomi kerakyatan". Konsep koperasi Hatta, KUD, kelompok tani, inti plasma, UKM, PEMP, PNPM Mandiri, dsb, yang pada dasarnya merupakan upaya peningkatan keberdayaan masyarakat dari akar rumput. Ekonomi rakyat tipe ini memang berpotensi meningkatkan kemampuan masyarakat bawah, namun perlu program peningkatan kualitas serta perlindungan dari tekanan kelas yang lebih kuat secara konsisten. Ini berbeda dengan mengundang investasi asing untuk membuka lapangan kerja, peningkatan industri perakitan dengan CSR nya, pengiriman TKI kelas bawah yang berpotensi meningkatkan devisa, dan wara laba atau MLM yang walaupun mampu meningkatkan kegiatan ekonomi informal, pada dasarnya memperkaya produsen luar. "Ekonomi kerakyatan" model ini memang berpotensi lebih cepat meningkatkan peningkatan angka pertumbuhan ekonomi agar dana untuk charity lebih besar, pada dasarnya justru meningkatkan ketergantungan atau cenderung merupakan bom waktu di masa krisis. Pendekatan ini perlu dikontrol lebih ketat agar "kebocoran konseptual" yang terjadi dapat segera dikendalikan. Dalam hal ini tipe-tipe usaha HPH, pertambangan, hingga perdagangan karang dan ikan hias (tanpa berbasis budi daya) tampaknya merupakan penggerogotan keberlanjutan hari depan lingkungan hidup kita. Pedagang (di) "kaki-lima" ataupun "laskar pemulung" mungkin sudah harus dibatasi hanya untuk yang berusaha "lebih berkualitas" serta sungguh-sungguh menerapkan 4R dan pro-kebersihan. dsb, dst. Menangani permasalahan di "dunia bawah" yang sangat beragam memang tidak sesederhana sistem ekonomi kapitalistik yang lebih mengutamakan perhatian pengembangan beberapa unsur-unsur strategis tapi bernilai besar (Pareto), sehingga lebih efisien dan lebih cepat meningkatkan garis statistik perekonomian agregat. Juga tidak sesederhana pemilahan dualistik antara ekonomi "the winner" dengan yang "the looser", karena semua sub-sistem kehidupan kita memang merupakan kesatuan rangkaian interaktif yang saling berpengaruh.... Dalam hal ini, keberasilan pembangunan bersama hanya bisa dicapai kalau setiap pelaku, pemangku kepentingan dan sistem kepemerintahan di setiap lokal berusaha meningkatkan kualitas masing-masing dalam koordinasi yang sinergis dan berkelanjutan dengan sistem nasional untuk berinteraksi secara "cerdas" dan "bermartabat" dengan sistem global lainnya. ........ Dalam kasus Jepang, perkembangan budaya dan kreatifitas mereka cukup tangguh sehingga mampu menjadi pemenang (ekonomi dan status) setelah kekalahannya (secara politis dalam PD II). Artinya...peningkatan kemandirian, kreatifitas serta semangat juang sebagian besar warganya dapat menjadi salah satu contoh pemicu keberhasilan suatu bangsa... Kita bisa mulai sekarang....
Salam, ATA 2009/6/2 Risfan M <[email protected]> > > > > Ideologi, Sistem Ekonomi, Sistem Keuangan, Manajemen. > > Rekan Referensiers ysh, > > Sambil mereview posting rekan-rekan tentang neolib, kerakyatan, bejo, > Jepang dan Syariah. Saya pikir ada yang mesti dipilah, agar tak rancu > melihat yang dari luar mesti baik. Baik Barat, Jepang atau lainnya. > > Dalam tataran ideologi kita bicara spektrum antara "paling kapitalis > hingga paling sosialis". disamping itu juga ethos berbasis keagamaan > atau kebangsaan - ethos Protestan, ethos Zen, ethos Islam, Konfusian, dst. > Juga ethos kebangsaan atau nasionalisme, yang juga mewarnai sistem politik, > ekonomi yang dipilih. > > Kasus Jepang, ada nasionalime yang kuat sebagai warisan. Juga identitas > bangsa yang solid. Sehingga saat harus membuka diri terhadap Barat, dia bisa > pinjam ilmu barat untuk disesuaikan dengan ethos kebangsaannya. dengan > spirit mengalahkan/ mengungguli. Sedang sistem politik ekonomi yang mereka > terapkan tampaknya kok sama dengan Barat. Ada Liberal Democratic Party, ada > bursa Nikei, perusahaannya juga listing di pasar modal. Negaranya juga tidak > banyak menyampuri swasta, bahkan banyak memfasilitasi. > > Yang khas Jepang adalah rasa kebangsaannya, yang bukan cuma slogan. > Semangat mengunggulli bangsa lain (Barat), diwujudkan merata dengan > "cinta produk sendiri". Ini konsisten dilaksanakan pemerintah dan > rakyatnya. Di kita ini tak ada, pemerintah dan rakyat sama-sama punya seribu > satu alasan untuk belanja produk luar. > > Keunggulan terkait kekhasan tradisi Jepang yang lain ialah menerapkan etika > Zen secara praktis dalam Manajemen Operasi. Prinsip KAIZEN, yang simplenya > "hari ini lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari > ini." Prinsip simple ini jadi pedoman kerja harian diterapkan di segala > bidang. Diucapkan saat senam pagi, dievaluasi saat tutup kerja sore hari. > Ini jadi CONTINUOUS PROCESS IMPROVEMENT, salah satu pilar TQR, konsep dari > Barat yang suksesnya justru di Jepang. > Soal dialektika Kapitalis vs Sosialis (buruh, dst) saya kira bukan tidak > ada. > > Bangsa kita tentu punya tantangan sendiri. Mungkin supaya lebih jernih bisa > kembali ke era pencarian ideologi dan bentuk sistem yang pas, sebelum > kemerdekaan dulu. Tantangan kebangsaan sungguh besar sebagai bangsa ribuan > pulau, multi etnik, dengan tingkat kelembagaan, ekonomi yang beda-beda pula. > Ada yang berlatar kerajaan besar, ada yang kerajaan kecil, suku-suku, serta > diaspora dari etnik yang menyebar. Bahwa akhirnya menyatu jadi bangsa > Indonesia saja sudah harus banyak disyukuri. > > Ada masa ketika ideologi politik/ ekonomi diperdebatkan. Semangatnya waktu > itu tentu anti imperialis, penjajah, dari Eropa ataupun Jepang. Maka ide-ide > sosialis yang pro-rakyat menjadi populer. Namun karena ide itu lebih > menonjol dalam bentuk ekstrem sebaagai komunis, maka banyak yang > berhati-hati. Ada yang berusaha mengawinkan dengan demokrasi, menjadi > sosialis-demokrat. Ada yang mencoba mengawinkannya dengan etika Islam, salah > satunya adalah HOS Tjokroaminoto. Dia pemuka Serikat Dagang Islam, Ketua > Serikat Islam, yang lalu jadi Partai Serikat Islam. Dia mentor politik > pertama Bung Karno yang mewarisi kemampuan orasinya. Dia menerjemahkan > Sosialisme Islam kepada masyarakat dalam ungkapan sederhana, > "berhentilah makan sebelum kenyang" (jangan serakah), dan > sosialisme diartikan sebagai "persahabatan sosial" (semangat > berbagi). Dia tidak percaya pada revolusi yang menjungkir balikkan sistem > secara radikal, tapi perbuatan nyata di > kalangan komunitas, yang kalau menasional manjadi revolusi juga, tapi sudah > berakar di masyarakat. > > Ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya mencari alternatif sistem ekonomi > alternatif, tentu layak didukung, namun kemajuannya nampaknya masih di > sistem pengelolaan keuangannya, yaitu menjauhi riba. Sistem ekonomi yang > menyeluruh belum berkembang. Apalagi kebanykan negara Islam berbentuk > monarchy, beda dengan kepemimpinan Nabi saw dan Empat Sahabat, yang jadi > acuan HOS Tjokroaminoto di atas. > > Jadi, ada faktor ideologi, ethic yang bersumber nilai luhur religi, budaya > bangsa, ada sistem politik ekonomi, ada pula ethos dan praktek manajemen. > Kesemuanya saling membentuk keunggulan daya saing dan kemajuan bangsa. Saya > coba mereview saja sesuai keterbatasan, apakah begitu? > > Salam, > Risfan Munir > > hengky abiyoso wrote: > > Pada 5/29/09 Prof. A bimanyu TA menulis : > > “…….. Saya yakin bahwa kesuksesan Jepang tidak dimulai dengan mencari > istilah-istilah yang rumit-rumit, tetapi dengan terjun ke dunia nyata. Tidak > asik menghitung angka pertumbuhan dan kepercayaan bank ataupun investro > luar, teapi mencoba pola produksi > > baru sesuai kekhasan kreatifitas budaya lokal yang mungkin dikembangkan > masyarakatnya. ….” . > > Betul prof… Saya setuju banget…….. diantara nampak nyata Jepang langsung > saja terjun ke Manchuria, Hongkong, Birma, Thailand, Malaysia, Palembang, > Tarakan, Pantura Jawa, Morotai, Papua Nugini bahkan Pearl harbour di > Honolulu……. > > Salam, > > > > --- On Mon, 6/1/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@... .....> wrote: > > > From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@... ......> Subject: Re: > [referensi] Re: Ekonomi Bejo To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, > June 1, 2009, 10:42 AM > > Betul sekali Mas Djarot, Dalam masa restorasi Meiji tersebut, setelah > merasakan kesalahan meniru Barat bangsa Jepang segera mengoreksinya dengan > mengganti produk import dengan penyesuaian selaras dengan nilai dan potensi > lokalnya. Jadi ... ada proses panjang pematangan bangsa Jepang dalam abad > tersebut, dari rasa bangga atas tradisi budayanya secara berlebihan, > kegundahan setelah merasakan teknologinya kalah dari budaya Barat, upaya > menjiplak secara total, merasakan kegagalan, kesadaran nasional, hingga > kemudian bangkit dengan pembaruan ke skala dan model yang lebih mantap, > walau mulai dengan kelas produksi yang dianggap pasar kelas bawah (cepat > rusak namun murah) menjadi Jepang moderen dan unggul sekarang ini. Salam, > ATA > > 2009/5/30 Djarot Purbadi < dpurb...@... ...... > > > Prof ATA, menurut saya, Jepang bukan sekedar terjun di dunia nyata dengan > pikiran kosong, melainkan ada isinya minimal sebagai referensi. Nah > referensi adalah kata dahsyat (milis ini memang dahsyat) ketika orang harus > bertindak di dunia nyata memperjuangkan sesuatu. Paman saya yang sudah > meninggal dunia, seorang doktor etnomusikologi dari Osaka pernah tinggal > beberapa kali di Jepang, selalu berceritera bahwa kehebatan Jepang adalah > kecanggihannya memadukan BARAT dan JEPANG yang di mulai dari Kaisar dalam > program restorasi Meiji ! Kita juga telah kenal, bahwa Jepang bisa sejajar > (bahkan melampaui barat) tanpa kehilangan kejepangannya. ....Pernah ada > Konser 1000 anak bermain biola di tahun 60-an (?) yang merupakan hasil kerja > keras orang Jepang mendatangkan musisi kaliber dunia ke Jepang untuk melatih > anak-anak dan diwujudkan dalam konser itu.....barangkali > > kuncinya memang pemaduan atau perkawinan atau dialog budaya ! Salam, > Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. > wordpress. com --- On Fri, 5/29/09, abimanyu takdir alamsyah < takdi...@... > ........ > wrote: > > From: abimanyu takdir alamsyah < takdi...@... ...... > > > Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo To: refere...@yahoogrou > > ps.comDate: Friday, May 29, 2009, 5:06 PM > > Rekans ysh, Saya yakin bahwa kesuksesan Jepang tidak dimulai dengan > mencari istilah-istilah yang rumit-rumit, tetapi dengan terjun ke dunia > nyata. Tidak asik menghitung angka pertumbuhan dan kepercayaan bank ataupun > investro luar, teapi mencoba pola produksi baru sesuai kekhasan kreatifitas > budaya lokal yang mungkin dikembangkan masyarakatnya. .. Salam.... ATA > > 2009/5/29 ffekadj < 4ek...@..... ..... > > > Pak Fadjar ysh, beberapa tahun yang lalu saya pernah sesorah di forum > antropolog, dan saya cuplik lagi di bawah. Intinya antropologi itu bukan > sekedar ilmu, tetapi juga merupakan "bahasa". Salam. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com , <efha_mardiansjah@ ...> wrote: > > > > Lho Pak Bambang, > > Diskusi ttg paradigma-paradigma tsb, (atau pilihan > paradigma yg paling diminati oleh Indonesia), menurut saya bukan merupakan > diskusi antropologis, Pak.... > > Saya rasa itu lebih merupakan diskusi > filsafat (falsafah?) tentang apa cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia > dan juga pendekatan-pendekat an yg perlu dilakukan untuk mencapainya. Kalau > Bhutan melakukan pemilihan kepada paradigma kebahagiaan ( happyness) dan > bukan pertumbuhan (not growth), itu khan bagian dari pilihan-pilihan > strategis bangsa Bhutan dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Saya rasa, > kita tidak harus memilih paradigma kebahagiaan seperti Bhutan tsb... Walau, > tertus terang, pilihan strategis bangsa Bhutan itu bisa menjadi > "pengingatan" bagi kita yang cenderung memilih paradigma pertumbuhan > (growth) di dalam pilihan strategis pembangunan bangsa...... Apakah hal itu > telah benar dan sesuai dengan apa yg dicita-citakan dahulu > > > > Jadi, mungkin, perlu dilakukan refleksi di dalamnya, Pak... > > > > > > --- On Fri, 5/29/09, bspr...@... bspr...@... wrote: > > > From: > bspr...@... bspr...@... > > > Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo > To: refere...@yahoogrou ps.com> > > > Date: Friday, May 29, 2009, 11:30 AM > > Mas Fadjar ysh, > Maaf saya tidak > mau mengajak milist ini kearah antropo-discussion. Saya cuman benar2 tidak > bisa memahami begitu banyaknya kebetulan yang terjadi di negara ini dan > semua berbuah pada sebuah kenikmatan ... meskipun ini baru kenikmatan dunia > he he he. > Salam > bambang sp > .... Pak Fikar dan kerabat2 ysh, Sebelumnya > saya sampaikan bilamana saya bukan seorang antropolog, justru sebenarnya > secara tidak sadar sedang mempelajari hal itu. Bila anda membaca sedikit > tulisan saya, sebenarnya saya sedang tidak menggambarkan suatu ilmu, tetapi > adalah bahasa. Jadi antropologi adalah bahasa yang beredar, dan mau tidak > mau setiap orang akan berusaha kalau tidak mau > > disebut dipaksa untuk berbicara dengan bahasa itu. Mungkin ini penafsiran > amatir saya. Saya tidak mengabaikan Geertz, bukunya telah saya baca sejak 20 > tahun yang lalu. Justru tercerahkan, karena membuka alam pertama saya > tentang bangsa-bangsa. Boleh jadi rujukan, namun maunya setelah itu lebih > banyak swakarya yang mengungkapkan jatidiri kita sendiri. Kemarin saya baca > Babad Tanah Jawi bahasa Indonesia, ternyata klasifikasi sosial bisa lebih > rumit dari yang digambarkan Geertz. Dan saya belum nemu literatur yang > memuaskan tentang hal ini. Karena ini persoalan bahasa, maka saya mencari > sendiri jalan ke hal itu, termasuk mengintip di milis ini. Dan ternyata luar > biasa, dalam beberapa hal banyak tabir yang bisa kita ungkap sendiri. > Mungkin pertanyaan naif saya kepada kerabat antropologi, sejauh mana anda > memahami bangsa anda sendiri? Pertanyaan ini yang saya simpan pada posting > sebelumnya. Bila anda merasa > > terpanggil, silahkan dijawab, dan kita bisa memulai berbagi informasi > secara sehat. Bilamana tidak, kita mungkin hanya tumbuh sebagai generasi > pembaca buku cerita, atau komentator iseng. Karena ini adalah persoalan > bahasa, tentunya antropologi adalah penting untuk pembangunan. Tentunya saya > setuju dengan pandangan sebelumnya tentang perlunya meningkatkan peran itu > dewasa ini. Sejak beberapa tahun ini saya sudah melibatkan rekan2 antropolog > untuk beberapa pekerjaan teknis. Cobalah, betapa tidak kurang pentingnya > antropologi ini. Harapan yang tersimpan adalah bagaimana para kerabat > antropologi dapat menemukan kesejatian bangsa Indonesia dan suku-suku > bangsanya, dan karenanya kita bisa bermartabat dalam pergaulan dunia. > Bilamana mungkin seperti yang saya lihat di Jepang bulan lalu, ketika > 'keajaiban ekonomi Jepang' hanya dapat dilakukan oleh 'orang' Jepang dan > 'budaya' Jepang. .... > > > > >

