Sisi lain dari kasus heboh Manohara... -K-
From: RATNA SARUMPAET <[email protected]> Date: Mon, 1 Jun 2009 15:09:33 To: FORUM PEMBACA KOMPAS<[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] RE: Ratna Sarumpaet Ragukan Cerita Manohara KAWAN-KAWAN SEKALIAN .... Sebelum komentar-komentar tentang keraguan saya dan mundurnya saya mendukung Desy (Ibunya Mano) melebar ke mana-mana, sebaiknya kita, paling tidak anggota milis ini mendengar dulu alasan penjelasan dari saya sebagai yang bersangkutan dan mengalami. Tanggal 30 Ibu Mano dan Keluarga dan Wartawan, mendatangi saya minta bantuan. Saya tidak langsung terima. Kepada Desy saya katakan "SAYA PELAJARI DULU". TUDUHAN Dasy saat itu adalah : 1. KAWIN PAKSA ANAK DI BAWAH UMUR YANG DILAKUKAN DENGAN PENCULIKAN . 2. PEMERKOSAAN DI KAPAL PESIAR OTW BALI - SINGAPURA. 3. PENGANIAYAAN. 4. LARANGAN MANO BERTEMU IBUNYA. Dua hari saya dan team serta 9 Pengacara RSCC (Ratna Sarumpaet Crisis Center) mempelajari laporan Dasy. Kami juga mencari reverensi di Internet tentang siapa Desy dan anaknya. Dari informasi yang saya dapatkan dari milis-milis dan beberapa Blog saya mendapatkan banyak sekali cerita yang terus terang membuat saya ragu menerima kasus ini. A> Tuduhan kawin paksa di bawah umur itu, di beberapa foto terlihat berlangsung baik-baik saja dan saat pernikahan Dasy duduk di sekitar Mano sebagai Ibunya, dan TIDAK DALAM KEADAAN TERTEKAN APALAGI DIRANTAI. B> Banyak TULISAN YANG MENCERITAKAN perilaku Desy sebagai Ibu yang memang senang menjaja-jajakan putrinya ke kalangan Jet Set. Ke keluarga SUHARTO, keluarga BAKRI, berikut foto2 (bagian ini saya lihat/baca di milis). C> Desy punya banyak kasus dalam hidupnya, hutang yang menumpuk - penipuan di Eropa, dan kasus pelecehan seksual yang dia lakukan bersama suaminya di Prancis. Namun. permohonan Dasy tetap saya terima. Buat saya, seburuk apapun Desy, apapun latar belakangnya, ada Mano di Klantan, di tengah sebuah istana yang sangat feodal "KATANYA TERANIAYA". Bagi saya itu cukup sebagai alasan menerima kasus itu. Dalam beberapa kali pertemuan, termasuk rapat dimana Surat Kuasa ditandatanganinya, saya terus menekankan pada Desy : Pertama, APA YANG IBU SIARKAN SELAMA INI SECARA MELUAS - STATUSNYA MASIH FITNAH, KARENA BELUM ADA PEMBUKTIAN SECARA HUKUM" Jadi langkah pertama yang akan saya ambil, kalau IBU setuju adalah melapor ke MABES dan saya minta betul Ibu mendukungnya. Kedua, saya minta pemberitaan dihentikan sementara sampai kita sudah bisa melakukan pembuktian. Ketiga, Dengan hasil penyelidikan MABES nanti, barulah kita meminta dukungan Masyarakat Indonesia, Pemerintah Indonesia (Presiden, Mentri Luar Negri), Pemerintah Malaysia, bila perlu PBB. TIGA KALI PANGGILAN DARI MABES TIDAK DIGUBRIS. Dalam tiga minggu, setiap hari Senin (tiga kali) Desy dipanggil Mabes, tidak satupun yang digubris. Panggilan untuk gelar perkara, Panggilan untuk membuat BAP sebagai saksi Pelapor, dan terakhir, tanggal 25 Mei. Penyerahan bukti2 tetap tidak dianggap. Padahal selama seminggu kami terus mengingatkan membujuk menyemangati supaya dia hadir. Pas pada harinya sms tidak dijawab, Telepon tidak diangkat. Yang menjawab orang suruhan, dan jawabannya berragam. 1. Tadi malam nggak bisa tidur karena kakak Mano kesurupan. 2. Nggak bisa bicara, sedang radang tenggorokan. 3. Tidak bisa bangun, nggak enak badan. YANG MEMBUAT JENGKEL, sorenya Dassy tau-tau sedang wawancara televisi, menggambarkan kalau hari itu dia demo, berada di hotel bintang lima ketemu Datu Anu, dll. Tapi saya senang Mano kembali dalam keadaan SEGAR BUGAR. Itu menguatkan apa yang saya ragukan ketika saya menarik diri dari kasus ini. Sebab selama sebulan bergaul dengan Dasy, setiap kali dia saya ingatkan soal kesabaran saya dia akan meratap : “Anak itu setiap hari dianiaya Kak, disilet-silet, dusundut-sundut dengan setrum, dll” Saya betul kurang akhli dalam hal setrom, tapi surprise Mano balik dalam keadaan BUGAR. Saya sarankan, kalau kita mau mendorong kasus ini menjadi kasus yang terang benderang dan tidak sekedar Soap Opera – Desy harus segera ke Mabes membuat pembuktian. Dan kalau dia tidak bisa buktikan, dia sebaiknya minta maaf pada masyarakat Indonesia. Bukan pada saya. Ratna Sarumpaet. 2009/6/1 Risfan M <[email protected]> > > > Soal TKI ...setuju. Kalau tidak bisa menyediakan lapangan kerja, lalu > terpaksa membiarkan warganya mencari kerja...ya harus diakui secara terbuka. > Lalu jangan pura-pura tidak tahu. Akui bahwa bangsa ini bisanya masih > "jualan minyak, hutan (SDA) dan keringat manusia-nya". Karena itu tingkatkan > pelayanan kepada TKI, tingkatkan pendidikan keterampilannya. > > Jangan berpikir yang jauh-jauh, benchmark ke Asean saja lah. Mengurus TKI > niru Filipina, mengurus budaya, wisata, industri kecil niru Thailand, > mengurusi pertanian niru Thailand. Pusat perputaran uang negara kita > nyatanya kan di Singapura. Ironisnya pusat pergudangan ekspor-impor pun di > negara sempit itu. > > Seorang senior kita yang sedang melawat ke Vietnam cerita bahwa bangsa yang > baru perang dan mengaku diri "belajar" dari Indonesia itu sudah jauh > meninggalkan kita soal kemajuan ekonomi dan keberhasilannya mengentaskan > kemiskinan, karena fokus. > > Kalau mau menyalah kan negara lain, ahli bangsa lain, jangan-jangan seluruh > dunia akan kita salahkan, karena mereka semua ambil manfaat dari bangsa yang > "gemar ribut sendiri" ini. Seperti dikatakan Michael Porter, ahli daya saing > itu, bangsa ini potensinya besar, tapi kentara sekali belakangan suka ribut > sendiri. > > Salam, > Risfan Munir >

