Itumah ut jaga-jaga. Kalau rumus nya ini Ben; Dari pada dari pada, lebih baik 
lebih baik.  Di Indonesia, hidup itu sudah kehilangan kenyamanan. Semuanya 
sudah saling tdk percaya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]

Date: Sun, 7 Jun 2009 23:32:33 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Stop Keluarga Pejabat Ikut Proyek Berdana APBN/APBD!


Milis yth,ikut rembug meski sangat normatif
Saya berpandangan tdk ada salahnya keluarga utk ikut proyek berdana APBN/APBD 
sepanjang sesuai n comply dgn ketentuan kompetisi yg telah disepakati di 
awal.memang akan lebih nyaman,apalagi di kondisi skrg,utk mengurangi conflict 
of interest sbg akibat keluarga ikut bisnis krn ada resiko dgn nilai ekonomi 
akan tdk sebanding.di lain pihak,sy menduga pihak2 yg mempersoalkan keluarga 
pejabat ikut proyek apb n/d tdk cukup siap berkompetisi.semoga tdk begitu,tapi 
lebih pada semangat menjaga kualitas n manfaat pekerjaan.
Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: ida gumelar <[email protected]>

Date: Sun, 7 Jun 2009 04:05:53 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Stop Keluarga Pejabat Ikut Proyek Berdana APBN/APBD!


Dear all, 
Menurut saya, sulit untuk melarang keluarga pejabat ikut lelang karena bisa 
saja mereka pinjam nama atau nama merekja dipinjam orang. Yang perlu dibenahi 
adalah pelaksanaan lelang. Jika prosesnya transparan maka arena untuk kolusi 
menjadi terbatas. 
 
Tahun 2006, ketika saya baru pindah ke pemda, ada ketidak-percayaan yang tinggi 
kepada pemerintah. MUngkin pengalaman sebelumnya membuat mereka begitu. Hampir 
semua paket ada sanggahan, walaupun setelah kami teliti sebenarnya Tim 
Pengadaan sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. ada juga satu dua yang main. 
Yang menjadi masalah, ketika peraturan diterapkan ada fihak yang dirugikan. 
Mereka biasanya tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa harus berkompetisi. 
Dulu, pasti dapat.
 
Tahun 2007, hampir tidak ada staf yang mau menjadi panitia lelang karena 
pengalaman pada tahun 2006, dimana mereka dipanggil kejaksaan dan polisi hanya 
karena ada sms dari yang kalah yang menyatakan mereka kolusi, membuat mereka 
merasa tidak nyaman. Akhirnya PNS yang punya setifikat dipaksa gubernur untuk 
menjadi panitia lelang, namun mereka di back-up oleh tim konsultasi yang juga 
melibatkan Bappenas (LKPP). Selain itu juga ada kesepakatan dgn kejaksanaan dan 
polri untuk tidak langsung tangkap atau periksa.
 
Tahun 2008 kami mulai memperkenalkan e-procurement. Hasilnya lumayan, 
kepercayaan fihak ketiga mulai pulih dan staf mulai berani menjadi panitia 
lelang. Tahun 2009, sebagian kab/kota juga sudah memulai e-procurement.
 
Seharusnya ada aturan yang mengatur agar keluarga kepala dinas perhubungan 
tidak punya bisnis di bidnag transportasi, kepala dinas pPU tidak punya 
kontraktor, dst.nya. Di berbagai negara ini termasuk dalam code of conduct PNS.
 
Saya sendiri, juga tidak membolehkan keluarga saya untuk berbisnis di Kepri. 
Itu menghindar conflict of interest.
 
Salam,
 
 
On Sun, 6/7/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Stop Keluarga Pejabat Ikut Proyek Berdana APBN/APBD!
To: [email protected]
Date: Sunday, June 7, 2009, 3:23 AM








Mas Andri ysh,

Secara umum saya dengan mudah bisa mengatakan sepakat dengan konsep tersebut. 
Namun sebenarnya hal itu menjadi sangat sukar. Saya tidak menggunakan case 
orang lain ... biar tidak di Prita-kan. Ini adalah kasus saya sendiri selama di 
DIY. 

Sebagai seorang pengambil keputusan waktu itu, baik semasa di Kanwil PU maupun 
semasa di Sekertariat Daerah, saya tidak mengijinkan sama sekali istri saya 
yang notabene adalah seorang konsultan (karena hanya itu yang bisa 
dikerjakannya sebagai seorang lulusan Planologi) untuk masuk ke Jogja. Sebagai 
konsekuensinya, dia terpaksa harus hidup terpisah dengan saya selama 11 tahun 
ini. Ini adalah karena mencoba untuk mengikuti konsep seperti yang ditawarkan 
oleh mas Andri. 

Pernah suatu kejadian, saya marah kepada istri saya karena dia menang dalam 
suatu paket besar sehingga menyumbang hand-tractor ke propinsi lain (Sulawesi 
Selatan) dan itu di cover TV swasta, dan saya lihat. Dalam berita tersebut 
dikatakan bahwa ada bantuan dari PT X kepada pemerintah prop. sulawei selatan 
10 hand tractor. Complain saya adalah mengapa itu tidak disumbangkan ke DIY 
saja. Jawabnya adalah ... lho saya mencari makan dari tempat lain kok? Disitu 
saya terdiam ... ternyata ini akibat dari sebuah usaha untuk konsisten terhadap 
sebuah nilai ... katakan ... etika.

Dan selama 11 tauhn itu, perusahannya tidak pernah menyentuh DIY. Padahal itu 
bukan miliknya. Dia hanya salah satu direktur dari perusahaan itu.

Mari kita bayangkan ... bila saya menjadi salah satu pejabat di departemen ... 
yang notabene pasti akan sama dengan ruang keahlian istri saya ... lalu apakah 
berarti perusahaan itu tidak bisa bekerja disitu ?? Saya tidak mencoba untuk 
membela tentang issue bahwa keluarga pejabat tidak boleh memanfaatkan 
APBN/APBD. Saya hanya ingin untuk memperlihatkan dari sudut pandang lain.

Pernah istri gubernur menanyakan kepada istri saya : "mengapa bu Bambang tidak 
pindah ke Jogja?" Jawab istri saya : "kalau suami saya diijinkan korupsi saya 
akan segera pindah ke Jogja. Saya mempunyai kebutuhan hidup yang perlu 
dipenuhi." Disitulah gubernur dan istri memahami sikap saya dan istri. Tetapi 
demi Allah kehidupan keluarga saya selama 11 tahun menjadi tidak normal .... 
karena etika ini. Bahkan muncul rumors yang macam2 dan itu tidak lebih dari 
akibat etika ini.

Baru sekarang, istri saya bisa masuk ke Jogja dan bidding untuk sebuah 
kegiatan. Alhamdulillah saya sudah menjadi staf lagi jadi tidak masuk dalam 
kategori yang dilarang.

Mungkin ini bisa sedikit memberikan pandangan lain.

Salam

bambang sp















      

Kirim email ke