Pak Aby dan Milisters Ysh,
Terima kasih masukannya. Memang hal-hal/isu-isu seperti inilah yang akan 
menjadi 'key word' atau 'based on' nya penyediaan ruang untuk kegiatan informal 
yang perlu digali terlebih dahulu, dari semua aspek. Hal ini sudah mulai kami 
kumpulkan dari  beberapa masukan melalui refrensi ini  sejak beberapa bulan 
yang lalu. 
 
Salam

--- On Thu, 6/11/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:


From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Penyediaan Lahan ut PKL
To: [email protected]
Date: Thursday, June 11, 2009, 1:28 PM













Ibu Cut dan Milisters ysh, 
Dinegara maju kakilima adalah sekedar asesoris ruang pelengkap kebutuhan dan 
keunikan kota yg sengaja diadakan…. Dibbrp tempatpun juga tidak beroperasi 
setiap hari….. sementara itu dinegeri kita kakilima adalah masalah sosial dan 
informal yg maha serius……. Jadi mohon dpt dibedakan prinsip dasarnya……. 
Mengelola aspek teknik keruangan/ PRnya/ manajemen pengelolaannya pada skala 
kota  saya kira lbh tepat untuk meminta pada kalangan arsitek dan ahli 
interior……… sementara itu untuk aspek sosial/ urbanisasi/migrasin ya barulah 
ditangani oleh planners dgn visi nasional….. masalahnya kemudian perlu 
dikaitkan dgn kebijakan migrasi nasional dan  persebaran sistem kota secara 
nasional….... trmsk diantaranya mengaitkan dgn aspek filialisasi (sbg ganti 
relokasi) industri manufaktur……… 
PKL tidaklah berdiri sendiri……… ia berdiri krn ada daya beli…. Pembeli utamanya 
siapa lagi kalau bukan kelas menengah bahkan kelas atas bermobil  (kelas bwh 
tekor terus hingga bahkan tak terbeli  apa2 semua  yg diperdagangkan oleh PKL 
bahkan utk sekedar makanan gorengan sekalipun)……..krn itu PKL lbh banyak 
terdapat dikota2 besar dimana terdapat banyak kelas menengah dan atas……… dimana 
keberadaan kelas menengah atas adlh juga krn keberadaan industri manufaktur sbg 
magnet awalnya…… dimana itupun erat sekali tak terlepas pula dari teknologi dan 
inovasi (impor)……yg kalau sdh begini apalagi kalau  ini tidak akan lalu  
melibatkan pula aspek global dan tenaga2 kerja asing dlm kaitan dgn teknologi 
yg diimpor disini….… yg dimata sektor informal dan PKL orang2 asing adalah juga 
dewa2 yg akan meramaikan pasaran dunia mereka……. 
  
Salam,

--- On Wed, 6/10/09, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> wrote:


From: cut safana <cutsaff...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Penyediaan Lahan ut PKL
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, June 10, 2009, 8:11 PM









Para milister Ysh, mohon masukannya yang lebih kearah kebijakan dan strategi 
(konteks yang makro dulu) yang perlu diambil oleh Pemerintah/Pemda (tidak 
terlalu menbicarakan yang terlalu detil-detil) , sehingga akan lebih mudah bagi 
Pemerintah untuk menyusun norma-normanya, dan seterusnya ke pedoman.
Terima kasih....... ......... ....

--- On Thu, 6/11/09, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote:


From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Re: Penyediaan Lahan ut PKL
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, June 11, 2009, 8:40 AM




Kang Irwan,
Negara kita sedikit kaya aja dan merata kaya Malaysia, kita ngga terlalu cape 
mikiran PKL. Aniwei, mudah2an for the time being, kita lakukan spt idea2nya Uda 
Eka, Bang Hotasi dan lainnya, mungkin idea Walikota Solo juga sementara. Kita 
akan ngga berenti ngeluarin idea2 kreatif. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Irwan Prasetyo 
Date: Thu, 11 Jun 2009 08:22:31 +0700 (WIT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Re: Penyediaan Lahan ut PKL



Ysh, Para Milister,

Setuju sekali PKL mendapat perhatian untuk penggunaan lahan temporer,
namun saya juga ingin mengangkat issue pergerakan PKL ini, terutama
gerobak-gerobak dorong itu. Perlu difasilitasi jalur-jalurnya, jam-jam
pergerakannya juga.

Saya perhatikan pergerakan gerobak-gerobak tersebut di jalan lokal sempit
yang tidak ada trotoarnya pada jam-jam sibuk, sehingga menyebabkan
kemacetan. Kasihan dua-duanya ya gerobak ya mobil. Demikian usulan saya.
Terimakasih.

Pak Iman dkk ysh,

Beberapa topik terkait PKL dan Jokowi
<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7092> ini sudah banyak
dibahas dan dapat dilihat di arsip
<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7100> kita. Saya ingin
mengungkap sedikit mengenai bentuk PKL ini, dari uraian Pak Djarot
<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/3442> seharusnya PKL
sebagai sektor informal ini tidak menempati ruang usaha yang tetap,
apalagi mempunyai gudang
<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5106> juga. Bila
tetap, maka bentuknya sudah beralih kepada sektor formal
<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/3076> , dan membutuhkan
banyak persyaratan.

Pewadahan PKL ini seharusnya didisain secara temporer atau kagetan.
Beberapa contoh yang pernah saya lihat di beberapa tempat, sifat
temporer bentuknya tidak rutin day-to-day, dan boleh menempati
ruang-ruang publik yang leluasa. Contoh pewadahan PKL ini adalah Pasar
Blaak <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7006> di
Rotterdam, yang digandrungi teman2 saya dari Delft untuk datang setiap
hari Rabu dan Sabtu. Area Blaak sehari-hari hanyalah plaza biasa yang
digunakan untuk jalur transportasi. Di barat Amsterdam ada kota kecil
Beverwijk, yang setiap Sabtu ramai dikunjungi dari seluruh penjuru
Belanda. Area PKL menempati bangunan-bangunan hanggar yang kelihatannya
tidak begitu digunakan. Flea market
<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5106> di Tokyo
menempati area sekitar stadion bola, dst. Tidak ada pedagang yang steady
berlokasi secara tetap.

Sebenarnya Pemda DKI pernah bereksperimen seperti itu, yaitu menyediakan
ruang di Parkir Timur Senayan pada hari Minggu, juga 'Sogo jongkok' di
sekitar Tanah Abang. Seharusnya hal ini dapat dihidupkan lagi di
beberapa tempat lain, dan diatur waktunya sehingga menjadi Pasar Senen,
Pasar Minggu, Pasar Rebo, Pasar Jum'at, dst. Mereka diarahkan untuk
menggunakan ruang publik yang leluasa secara temporer sehingga tidak
mengganggu aktivitas perkotaan lainnya. Saya kira konsep ini bisa
dikembangkan di kota-kota besar dan menengah kita.

Demikian sedikit saran. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote:
>
>
> Pak Iman, pak Risfan dan milister ysh,
> Â
> Waduh.. lagi enak2 ngikutin diskusi ttg Manohara kok sdh pada
ngajakin pindah  ngomongin soal PKL siih?.....
> Saya setuju 100% contoh praktis penanganan PKL kota Solo oleh Walikota
Jokowi dapat dikedepankan  dgn syarat ….. kalau yg namanya
“arus urbanisasiâ€� di Indonesia sudah mulai mendekati Â
reda…. Yg ditandai dgn angka urbanisasi yg telah mencapai katakan
 angka 80% (Indonesia pd 2008  telah 50%)………
tapi kalau angka urbanisasi kita blm mencapaiÂ
80-85%...…yg itu artinya  arus urbanisasi kita masih deras
sekali…… saya baru  50% saja dulu setuju kota Solo
dijadikan contoh (city planning) krn yg 50% lagi kita msh harus mengurus
manajemen arah tujuan2 urbanisasi/ migrasi dari penduduk kota lbh kecil/
desa secara nasional  (management of urban flow)…… yg
menyerbu kekota2 dimana bila tidak diintervensi dgn teknologi
keruangan…. arus itu nampaknya tidak  akan mengubah pola
kecenderungan favoritisme penduduk dlm memilih kota2
tujuannya…… yg itu akan berdampak tidak akan mengubah pola
kecenderungan primacy dan ketimpangan
>  persebaran besaran kota2 yg ada sekarang……….. Â
> Angka urbanisasi terbesar muncul di megapolitan Jabodetabek……
  diikuti 3 kota terbesar lainnya Surabaya, Medan,
Bandung……. kemudian berikutnya pada kota2 metropolitan tahap
awal spt Palembang, Semarang, Makassar dsb…… barulah
berikutnya…. dgn angka yg semakin kecil terjadi pada kota2
menengah spt. Solo, Kediri, Manado, Pontianak dsb.… berikutnya
lagi dgn angka yg semakin lbh kecil lagi  terjadi pada kota yg lbh
kecil lagi … malah kotamadya Magelang  pernah dilaporkan sbg
minus pertambahan  jumlah penduduknya……
> KotaSolo baik sbg  salah satu contoh ttg manajemen PKL pada kota
dgn angka urbanisai tidak terlalu besar… tetapi kita blm punya
contoh sukses atau tak sangguplah rasanya akan mengelola kota2 besar dgn
arus urbanisasi yg demikian besarnya  tanpa disisihkan kebijakan/
strategi mengalirkan sbgn arus urbanisasi kerencana kota metro atau
rencana kota mega lainnya……
> Selain itu PKL bukanlah masalah perkotaan yg berdiri sendiri… ia
berkait erat pula dgn pemukiman ilegal dan kumuh….. keduanya
memiliki satu  persamaan ciri… ialah kenekatan dan sikap
bisaan…… sebagian bsr berpikir……begitu ada ruang yg
mereka anggap kosong dan strategis ditengah kota… kesanalah mereka
masuk……tanpa peduli lagi estetika kota dan azas
legalitas…….
> Mereka memang bikin penguasa kota geleng kepala…. Tetapi para
penguasa kota2 besar yg kewalahan dgn arus urbanisasi… tapi terus
berpikir mengatasinya dikota mereka sendirinya dan mereka tak
pernah berpikir ttg bgmn mengalirkan sebagian arus urbanisasi itu kekota
besar lain… sebenarnya mrk patut digelengin kepala juga……
krn mereka pd dasarnya tergolong keras kepala juga…… sdh tahu
pekerjaan mrk tak akan pernah berhasil tapi  sombong dan nekat
juga………
> Salam,
> Â
>
> --- On Sun, 5/31/09, Risfan M risf...@... wrote:
>
>
> From: Risfan M risf...@...
> Subject: RE: [referensi] Penyediaan Lahan ut PKL
> To: "isoedradjat@ ..." isoedradjat@ ...
> Cc: "refere...@yahoogrou ps.com" refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Sunday, May 31, 2009, 7:28 PM
>
> Dear Pak Iman & Rekans yth,
>
> Contoh praktis barangkali Kota Solo. Pertama, pendekatannya yang
memanusiakan pelaku sektor informal (PKL). Kedua, memberi tempat,
lokalisasi yang dibayar lewat retribusi harian yang dikelola sangat rapi
(anti bocor), tanpa downpayment. Sebagian lagi, dirapikan tempat
jualannya, tertib dan rapi. Tapi lalu penegakannya juga konsisten. Kalau
melihat beberapa site, seperti sekitar Mangkunegaran, bahkan
bangunan-bangunan semi permanen yang jadi semi ruko bisa dibersihkan.
Selain itu juga kerjasama dengan pertokoan modern.
>
> Saya sempat tanya langsung ke Walikota Pak Jokowi, kenapa begitu
telaten soal UMKM, PKL. Jawabnya: Solo sudah tak punya lahan lagi untuk
kegiatan ekonomi skala besar. Jadi memang harus serius soal pemanfaatan
lahan yang terbatas.
>
> Kesimpulan, selain teknik tata ruang, juga ada soal manajemen
pelayanannya, yang perlu diperbaiki. Dan, perubahan sikap Pemda (dan
urban planner) bahwa pembukaan lapangan kerja juga tanggung jawabnya.
Jadi berhentilah menganggap PKL sebagai perusuh. Dari awal jurusan
Planologi sudah peduli ini, di awal 1960an kan ada diktat stensilan
tentang &quot;hawkers and peddlers&quot; dari bule-bule pelopor
Planologi ITB itu.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> isoedradjat@ yahoo.com wrote:
> > Headline Kompas hari ini 1 Juni 2009 "Satpol PP Cerminan Pemda" ,
sebenarnya kesantunan Satpol tdk cukup mencerminkan Pemda dalam
menertibkan PKL, krn dibalik itu banyak persoalan persoalan yg belum
terjawab, apakah itu kemiskinan, lapangan pekerjaan, komposisi informal
sektor, ekonomi kerakyatan dsb. Di aspek Tata Ruang, sebenar sdh mencoba
menjawab terutama perencanaan Tata Ruang Kota, pasal 28 UU No 26/ 2007
tentang PR, ut menyediakn Ruang Terbuka Hijau , Non Hijau, jaringan
pejalan kaki, sektor informal, dan ruang evakuasi bencana. Menurut saya
hal ini tdk mudah, apalagi kalau dikaitkan terbatasnya hal penguasaan
lahan oleh Pemda, hak kemilikan masyarakat, kemampuan pemda dsb.
Barangkali teman teman bisa share ut mewujudkan cita cita ini. Tabek trm
ksh.
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®



















      

Kirim email ke