Pak Risfan tema diskusinya bisa menarik yaitu hal yang sama direspons oleh dua orang dengan ciri rasial berbeda. Nuwun sewu ini bukan ingin mengkontraskan tema rasialisme melainkan dalam kajian diskusif perlu jelas dodok selehnya. Menarik karena perilaku setiap orang dengan ciri rasial tertentu dituntun oleh dunia batin yang berbeda. Orang Jawa umumnya berorientasi ke feodalisme (dugaan sementara) karena selalu mengagungkan kraton sebagai punvak kehidupan, sementara Cina perantauan mungkin punya idealisme yang lain. Saya dalam rangka membangun berpikir yang pluralistik ingin mencari pijakan baru, sebab pijakan pikiran feodalisme nggak cocok dalam gaya berpikir pluralistik.
Fenomena feodalisme di kalangan masyarakat masa lalu adalah semacam air bagi ikan, sesuatu yang tidak terhindarkan, tetapi pada masa sekarang tidak demikian. Jika seorang teman S2 dari Bali "takut" bertanya kepada seniornya meskipun dalam suatu diskusi ilmiah, saya melihat teman saya itu terkungkung pikiran lokal yang mengagungkan kasta. Kejadian ini nyata dan pernah saya saksikan. Kejadian yang sama juga akan selalu terjadi di kalangan kita jika pikiran lama yang feodalistik masih menjadi kungkungan di alam dan dunia batin kita. Dengan pluralisme kita berdiri sejajar-sederajat dan lebih bebas menghormati diri sendiri dan orang lain tanpa halangan kubah imajiner dari masa lalu. Apakah begitu ya Pak ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 8/24/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: RE: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi To: [email protected] Date: Monday, August 24, 2009, 8:11 AM Pak Djarot dan rekans ysh, Yang saya ceritakan rekan saya, jadi saya tahu itu pekerjannya yang dikerjakan dalam jangka relatif panjang. Bukan jadi sopir tapi wirausaha telor, untuk ngantar nyopiri juga dia. Saya kan nyambung Pak BTS dan Pak Onnos, kalau chinese serba mungkin, tapi kalau bumiputera banyak gengsinya. Saya tambahi, teman kita yang chinese lebih realistis, merenspons sikon dengan action. Sementara si bumiputera respons cepatnya biasanya 'menyalahkan pemerintah?, lalu nunggu godot adanya UU, PP, Perda, atau calon yang bijak bestari. Yang dari jaman ke jaman kayaknya kagak ada. Kalau dulu sudah kenal Pak Djarot pasti sudah tak teliti pakai fenomenologi

