Mohon ralat sebagai catatan; saya tidak punya dugaan apa-2 mengenai si
Geert.

Yang bagi saya 'shocking' adalah; ternyata dalam thread ini ada
'generalisasi' terhadap dua individu yang berbeda; satu seorang pemuda yg
ber-sepeda-motor membentak Pak Hendro di taman dan satu lagi seorang Suami
yg tinggal di apartemen atas di Rotterdam-- sebagai satu entitas: 'Si
Maroko' ... tanpa sedikitpun kita ragukan bahwa perilaku kedua individu
lepas tersebut adalah dilatar-belakangi hal lain yang non-genetik,
non-kultural dan non-origin.
Begitupula si Geert, yang lantas disebut sebagai jenis primata atoleran,
dalam men-generalisir para imigran Muslim di Eropa.

Lantas; apakah seorang kelahiran Papua, yang keturunan ras Melanesia, lalu
sah untuk berapriori kepada 'si Jawa' karena kawannya disiksa Polisi
kelahiran Jawa?

>> Karen Fog Olwig: 'God created the earth for people to go and from, not to
stay in one place"

Lalu mengapa ada 'Kepemilikan Lahan' ? Mengapa ada pagar rumah - bangunan?
Tapi memang dari 4 kata pertama dalam kutipan si Olwig pun sudah dapat
diketahui bahwa si Olwig ini hanya sedang ber-sastra-ria.. tidak ada nilai
ilmiahnya sama sekali.

Salam,
-K-



2009/11/7 ffekadj <[email protected]>

>
>
> Saya kira dugaan anda dan saya sama, kalau si Geert itu dulu pernah
> dirampok sama si Maroko. Hanya bedanya dia nggak bisa nyerocos pake
> Bahasa Indonesia.
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, "Harya
> Setyaka" <harya.sety...@...>
> wrote:
> >
> >
>
> > Waah.. Kalao dari testimoni ini, Geert tidak 100% omong kosong yah..
> Atauu...
> > -K-
> >
> >
> >
> >
> > Pedal Powered BikeBerry
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "ffekadj" 4ek...@...
> > Date: Sat, 07 Nov 2009 02:59:49
> > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> > Subject: [referensi] Re: Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last
> man standing
> >
> >
> > Mbak Franciska dan Pak Wawo, saya sebenarnya punya dua kenangan dengan
> > orang Maroko ini. Pertama, waktu menemani Pak Hendropranoto shopping
> di
> > China Boot di samping Euromast itu. Waktu itu Pak Hendro baru
> > mendapatkan apartemen yang cukup eksklusif di seberang taman Het Park
> > (Euromast), dan saya diajak untuk mencari lokasi apartemennya itu.
> > Setelah ketemu, saya menggoda Pak Hendro agar mencari 'teman' untuk
> > mengisi apartemen dengan 3-4 kamar itu. Kami pun kemudian ke Boot
> untuk
> > shopping kebutuhan sehari-hari beliau. Sepulang dari Boot, kami
> > melintasi Het Park sambil membawa belanjaan yang banyak. Pak Hendro
> > kemudian minta istirahat dulu untuk duduk-duduk di taman yang sepi.
> Tak
> > berapa lama kemudian tiba-tiba datang seorang pemuda Maroko yang
> tinggi
> > besar sangar naik sepeda motor menghampiri kami. Di atas sadel
> motornya
> > dia kemudian teriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah belanjaan
> > kami. Sebenarnya dari gesture-nya dia minta agar kami menyerahkan
> barang
> > belanjaan kepadanya. Saya melihat Pak Hendro yang ngerti Dutch
> sprechen
> > terlihat sedikit gentar. Saya kemudian bangkit dan kemudian berbicara
> > keras: "... saya tidak ngerti kamu ngomong apa, ..." , mengimbangi
> nada
> > bicaranya. Si Maroko kemudian terdiam sebentar, lalu menyadari
> handicap
> > of language, kemudian berusaha berbicara terpatah-patah dengan bahasa
> > Inggris. Kemudian saya jawab lagi dengan bahasa Indonesia ala
> kadarnya,
> > sepertinya menimbulkan enigma. Kelihatannya dia masih bertahan dan
> mulai
> > menunjukkan gelagat kurang baik. Saya kemudian mengambil sebungkus
> > kerupuk udang dari barang belanjaan dan kemudian menyerahkan
> kepadanya.
> > Si Maroko mengambil kerupuk itu, kemudian 'away' dari tempat itu.
> > Sehabis itu kejadian ini kami bahas sambil ketawa-tawa sampai ke
> > apartemennya Pak Hendro.
> >
> > Kedua, di lantai atas apartemen saya dan Holi sebenarnya tinggal
> > keluarga Maroko, yang istrinya cantik tapi suaminya selalu sangar dan
> > kurang bersahabat, serta beberapa anak. Setelah sekian lama, pernah
> satu
> > malam saya terbangun dari tidur gara-gara mendengar pertengkaran di
> > lantai atas. Sepertinya si suami baru pulang larut malam, dan si istri
> > tidak terima dan menangis. Cukup seru dan cukup lama, malah ada
> > banting-banting pintu. Terakhir saya kesal juga karena tidak bisa
> > tidur-tidur. Lalu saya kumpulkan tenaga dalam-dalam kemudian berteriak
> > "f*ck y*u'. Tiba-tiba suasana menjadi hening, walau kemudian ada suara
> > bisik-bisik, namun selanjutnya menjadi tenang. Sejak itu malam-malam
> > terasa lebih senyap. Rasanya saya sudah berperan dalam mendamaikan
> suatu
> > household di Rotterdam. Salam.
> >
> > -ekadj
>
>  
>

Kirim email ke