Sorry sulit mengikuti diskusi sebelumnya, atau lampirannya, habis pake HP sulit buka banyak. Tapi soal "generalisasi" atau "simplifikasi" nampaknya kecenderungan natural pikiran manusia kalau dihadapkan persoalan yang rumit, yang bahkan diluar kontrolnya akan begitu. Bayangkan saja, seperti sekarang ini, sudah habis pemilu legislatif, pemilu pimpinan negara - yang begitu ribut, begitu menegangkan, begitu banyak harapan.......ternyata hasilnya ngurusi satu orang pencoleng saja seluruh unsur lembaga ketertiban dan pengadilan ribut sendiri, legislatif begitu, termasuk pemimpin nya tampak tak berdaya. Analisa rumit apa lagi..... Orang biasa segera men"simplifikasi"nya. Atau ada pihak men"simplifikasi"nya sehingga masyarakat terbawa persepsinya. Hikmahnya, dalam ber-Planning juga sebaiknya ke masyarakat bahasanya yang "sederhana" dan "tunggal", kalau rumit pakai multi sektor, meta disiplin, perlu koordinasi, sinkronisasi, dst....yah Pemda dan masyarakatnya akan men"simplify" dengan logikanya sendiri. Pemda tahunya kan nomen-klatur agar tak disalahkan Pusat. Yang mungkin bagi kita aneh. Salam, Risfan Munir
--- On Mon, 11/9/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: From: Harya Setyaka <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last man standing To: [email protected] Date: Monday, November 9, 2009, 1:33 AM Mohon ralat sebagai catatan; saya tidak punya dugaan apa-2 mengenai si Geert. Yang bagi saya 'shocking' adalah; ternyata dalam thread ini ada 'generalisasi' terhadap dua individu yang berbeda; satu seorang pemuda yg ber-sepeda-motor membentak Pak Hendro di taman dan satu lagi seorang Suami yg tinggal di apartemen atas di Rotterdam-- sebagai satu entitas: 'Si Maroko' ... tanpa sedikitpun kita ragukan bahwa perilaku kedua individu lepas tersebut adalah dilatar-belakangi hal lain yang non-genetik, non-kultural dan non-origin. Begitupula si Geert, yang lantas disebut sebagai jenis primata atoleran, dalam men-generalisir para imigran Muslim di Eropa. Lantas; apakah seorang kelahiran Papua, yang keturunan ras Melanesia, lalu sah untuk berapriori kepada 'si Jawa' karena kawannya disiksa Polisi kelahiran Jawa? >> Karen Fog Olwig: 'God created the earth for people to go and from, not to >> stay in one place" Lalu mengapa ada 'Kepemilikan Lahan' ? Mengapa ada pagar rumah - bangunan? Tapi memang dari 4 kata pertama dalam kutipan si Olwig pun sudah dapat diketahui bahwa si Olwig ini hanya sedang ber-sastra-ria. . tidak ada nilai ilmiahnya sama sekali. Salam, -K- 2009/11/7 ffekadj <4ek...@gmail. com> Saya kira dugaan anda dan saya sama, kalau si Geert itu dulu pernah dirampok sama si Maroko. Hanya bedanya dia nggak bisa nyerocos pake Bahasa Indonesia. --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" <harya.setyaka@ ...> wrote: > > > Waah.. Kalao dari testimoni ini, Geert tidak 100% omong kosong yah.. Atauu... > -K- > > > > > Pedal Powered BikeBerry > > > -----Original Message----- > From: "ffekadj" 4ek...@... > Date: Sat, 07 Nov 2009 02:59:49 > To: refere...@yahoogrou ps.com > Subject: [referensi] Re: Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last man standing > > > Mbak Franciska dan Pak Wawo, saya sebenarnya punya dua kenangan dengan > orang Maroko ini. Pertama, waktu menemani Pak Hendropranoto shopping di > China Boot di samping Euromast itu. Waktu itu Pak Hendro baru > mendapatkan apartemen yang cukup eksklusif di seberang taman Het Park > (Euromast), dan saya diajak untuk mencari lokasi apartemennya itu. > Setelah ketemu, saya menggoda Pak Hendro agar mencari 'teman' untuk > mengisi apartemen dengan 3-4 kamar itu. Kami pun kemudian ke Boot untuk > shopping kebutuhan sehari-hari beliau. Sepulang dari Boot, kami > melintasi Het Park sambil membawa belanjaan yang banyak. Pak Hendro > kemudian minta istirahat dulu untuk duduk-duduk di taman yang sepi. Tak > berapa lama kemudian tiba-tiba datang seorang pemuda Maroko yang tinggi > besar sangar naik sepeda motor menghampiri kami. Di atas sadel motornya > dia kemudian teriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah belanjaan > kami. Sebenarnya dari gesture-nya dia minta agar kami menyerahkan barang > belanjaan kepadanya. Saya melihat Pak Hendro yang ngerti Dutch sprechen > terlihat sedikit gentar. Saya kemudian bangkit dan kemudian berbicara > keras: "... saya tidak ngerti kamu ngomong apa, ..." , mengimbangi nada > bicaranya. Si Maroko kemudian terdiam sebentar, lalu menyadari handicap > of language, kemudian berusaha berbicara terpatah-patah dengan bahasa > Inggris. Kemudian saya jawab lagi dengan bahasa Indonesia ala kadarnya, > sepertinya menimbulkan enigma. Kelihatannya dia masih bertahan dan mulai > menunjukkan gelagat kurang baik. Saya kemudian mengambil sebungkus > kerupuk udang dari barang belanjaan dan kemudian menyerahkan kepadanya. > Si Maroko mengambil kerupuk itu, kemudian 'away' dari tempat itu. > Sehabis itu kejadian ini kami bahas sambil ketawa-tawa sampai ke > apartemennya Pak Hendro. > > Kedua, di lantai atas apartemen saya dan Holi sebenarnya tinggal > keluarga Maroko, yang istrinya cantik tapi suaminya selalu sangar dan > kurang bersahabat, serta beberapa anak. Setelah sekian lama, pernah satu > malam saya terbangun dari tidur gara-gara mendengar pertengkaran di > lantai atas. Sepertinya si suami baru pulang larut malam, dan si istri > tidak terima dan menangis. Cukup seru dan cukup lama, malah ada > banting-banting pintu. Terakhir saya kesal juga karena tidak bisa > tidur-tidur. Lalu saya kumpulkan tenaga dalam-dalam kemudian berteriak > "f*ck y*u'. Tiba-tiba suasana menjadi hening, walau kemudian ada suara > bisik-bisik, namun selanjutnya menjadi tenang. Sejak itu malam-malam > terasa lebih senyap. Rasanya saya sudah berperan dalam mendamaikan suatu > household di Rotterdam. Salam. > > -ekadj

