2009/11/9 ffekadj <[email protected]> > > > > --- In [email protected], Harya Setyaka <harya.sety...@...> > wrote: > > > dan budaya pun dibangun oleh memori kolektif .. bagaimana dengan > memori > > kolektif saudara kita kelahiran Papua yang ditindas aparat berlogo > Garuda? > > > pernah lama di papua, dan melewati satu siklus waktu?
+++ Belum pernah. Paling lama 'stay' di Papua 2 minggu berturut-turut. Tapi kalao bolak-balik ya lumayan laah.. sampai sekarang kegandrungan kopi Papua.. kopi lain, jadi kurang 'kena'. Dulu sempat ikut berkecimpung dalam 'capacity building' Majelis Rakyat Papua, ketika baru terbentuk.. Btw, 1 siklus waktu itu apa? Saya ketinggalan diskusi mengenai defisini dan batasan mengenai hal tsb. Memang yg saya pahami mengenai Papua memang dari pengalaman sekunder, tidak saya alami sendiri. Sama lah ketika kita mempelajari Macaca, meskipun sudah 7 tahun, tetap saja bukan Macaca. Begitu pula ketika mempelajari dan mengutip suku Nevis di Karibia. > Olwig bercerita tentang suku Nevis Lengkapnya, Nevis adalah bagian dari kepulauan Karibia yg pernah menjadi koloni Inggris.. Tidak terlalu penting membedakan Nevis dengan Karibia, karena memang tidak berbeda; (Mungkin 'membentak' lebih berbeda dengan 'berteriak-teriak') Kalau ada orang dari suku Piliang di Jakarta, atau Bandung, kan tetap digeneralisasi sebagai 'orang Padang'.. Nevis adalah ex- koloni Inggris; So, kalau ada orang Nevis yg bermigrasi ke London, ya padananannya kelahiran Jawa, Ambon atau Indonesia in general, atau Suriname atau Sri Lanka yang bermigrasi ke Amsterdam dlsb. Juga membandingkan jarak.. Maroko dan Belanda tidak punya masa lalu kolonial (colonial past). Setahu saya; Maroko itu ex-Koloni Perancis.. > > > Mengenai deterritorialized world; secara semangat sih saya setuju > saja.. > > karena, bagi saya, detteritorialized adalah sub-definisi dari > globalisasi. > > Obama adalah produk Globalisasi gelombang ke-3.. > > Negara Amerika, Australia, Canada, Amerika Selatan juga produk > Globalisasi > > gelombang sebelumnya. > > > > maksudnya bukan itu, dia keturunan afro, lalu berayah dan pernah tinggal > di Indonesia, sekarang di Amerika, dia pakai kebudayaan apa? disini saja > hipotesis geert sudah gagal. > ++++ Speaking of analogy yg tidak pas; sulit menolak satu hipotesis dari satu sampel saja. Obama mungkin adalah pengecualian, exception, not the rule. Malah menurut saya, Obama pakai kebudayaan keluarga ibunya.. Ibunya Obama adalah salah satu yg pertama pioneer, wanita karier independen yg memanfaatkan globalisasi dalam berkarier. Pendidkan ibu Obama diatas rata-2 dan exposure ibu Obama terhadap dunia juga sangat diatas rata-rata diantara ibu-2 lainnya. Melang-lang-buana-nya ibu Obama juga sedikit sekali disebabkan oleh push-factor dalam bermigrasi. Obama pun sangat lekat dengan keluarga ibunya.. bahkan adek-tirinya yg berdarah Indonesia, Maya Soetoro pun tinggal di Hawaii agar dekat dengan nenek dari ibunya (yg meninggal tahun lalu, ketika Obama sedang kampanye). So, Obama belongs to his maternal family. Sangat Beda dengan karakteristik migrasi dari Maroko ke Eropa, yg rata-2 adalah diawali oleh kaum pria sebagai pekerja menengah bawah. Mereka lalu memboyong istri dari Maroko dan berkeluarga disana, kalau datang awalnya sebagai pemuda. Beda dengan ibu Obama yg menikah dengan orang lokal.. dan berbeda dengan ibu Obama, migrasi ini sangat besar push-factor nya. mengapa saya sangat menekankan pernikahan dengan orang lokal, adalah karena ini adalah bentuk asimilasi budaya yg bisa menelurkan budaya baru yg urban, dalam jumlah yg cukup signifikan tentunya.. (Contoh: Babah & Peranakan) Tapi, menurut saya hipotesis Geert bukan itu, kalaupun dia mengajukan hipotesis yg ber-domain di ranah ilmiah-empiric. Hipotesis Geert bisa diuji dengan studi demografi, dengan sample yg memadai tentunya. Hipotesis lain yg saya cerap dari Geet adalah dia menggangap bahwa 'Islam adalah lawan kata dari kebebasan'.. Ini perlu dijawab dengan wacana teologi pembebasan yg berbasis Islam, dan itu ada. Bahwa kebebasan adalah nilai universal yg melandasi agama. Geert gagal mendialisis teologi agama dari perilaku-budaya. Kalau agama bukan produk dari dinamika budaya, tentunya dia bisa membedakan mana yg umum mana yg partikelir. Sepertinya masalah lingkungan yg diceritakan Geert, kalaopun benar, hanya menunjukkan bahwa kepolisian sangat lemah.. Mengenai Geert, yg saya duga kuat adalah sbb: dia sedang 'cari dana kampanye di USA... artinya di Belanda dia sebenarnya gak laku.. dia mungkin iri dengan politisi-2 USA yg banjir duit dari lobby-ist Zionis.. (Zionis beda dengan Yahudi; menyamakan Zionis dengan Yahudi sama saja dengan menyamakan Al Qaeda dengan Islam). Saya tidak tahu bagaimana dia bisa dijerat secara hukum mengenai pidatonya ini; tapi secara politik dia bisa saja di-hukum (punish).. antara lain, kalau kita baca teliti; dia menuduh kolega nya anggota parlemen berpaspor ganda sebagai indikasi a-nasionalis.. ini bisa di-ajukan ke dewan etik, kalao ada. Fakta yg perlu slalu kita ingat adalah: partainya Geert bukanlah mayoritas.. Salam, -K- > > > > Saya sekarang baru sadar; kalau saya mendekati ini dari sudut pandang > hukum, > > dan bukan dari pisau antropologi budaya seperti anda, dimana si Geert > diakui > > sebagai manusia karena secara hukum dia diterima sebagai manusia. > > Kesaksian dia di muka hukum dianggap sah. Hak politik dia juga sebagai > > manusia diakui.. beda dengan si Lassie. > > > > Mengenai 'cranial bone'.. wah.. semoga anak-cucu kita lahir dengan > fisik > > sempurna deh.. amit-2 kalau karena ada sedikit cacat fisik lantas > derajatnya > > diturunkan secara kategoris oleh otoritas-definisi ilmu. > > Si Geert lahir tidak bisa memilih apakah dia akan lahir dengan fisik > > sempurna atau tidak. > > Saya kira, kitapun tidak akan senang kalau kita dinilai secara fisik. > > Bukannya saya setuju dengan ucapan Geert; tapi saya lebih tidak setuju > kalau > > kita menilai seseorang dari kelengkapan/kesempurmaan fisik; itu lebih > parah > > dari SARA., karena saat lahir kita tidak bisa memilih "badan/tubuh > manusia > > seperti apa yg akan kita pinjam untuk hidup".. > > > > tolong dibaca lagi premisnya. pandangannya itu menunjukkan bukan orang > berbudaya. konsep budaya baru muncul pada kalangan primata sejak 2 juta > tahun yang lalu, karena secara biologis ditunjukkan oleh broca area, > atau mulai ada pemisahan otak depan dan otak belakang. jadi kalau ada > orang yang tidak berbudaya, dan ditunjang dengan ciri-ciri fenotip, bisa > diperkirakan level primatanya. jadi bukan genotip. > > > > > > > Terima kasih atas sarannya, sangat bermanfaat. Saya terima dengan > ucapan > > syukur. > > > > > > Salam, > > -K- > > > > > > > > > > > > 2009/11/9 ffekadj 4ek...@... > > > > > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > Harya > > > Setyaka harya.setyaka@ > > > wrote: > > > > > > > > Mohon ralat sebagai catatan; saya tidak punya dugaan apa-2 > mengenai si > > > > Geert. > > > > > > > Salah! Si Geert ini sudah dikenal reputasinya sejak 2-3 tahun yang > lalu. > > > > > > > > > > Yang bagi saya 'shocking' adalah; ternyata dalam thread ini ada > > > > 'generalisasi' terhadap dua individu yang berbeda; satu seorang > pemuda > > > yg > > > > ber-sepeda-motor membentak Pak Hendro di taman dan satu lagi > seorang > > > Suami > > > > yg tinggal di apartemen atas di Rotterdam-- sebagai satu entitas: > 'Si > > > > > > Salah! Tidak ada tulisan tentang 'membentak'. > > > > > > > > > > Maroko' ... tanpa sedikitpun kita ragukan bahwa perilaku kedua > > > individu > > > > lepas tersebut adalah dilatar-belakangi hal lain yang non-genetik, > > > > non-kultural dan non-origin. > > > > > > Salah! Itu kisah tentang 'consociates', tidak bisa ditarik > generalisasi. > > > > > > > > > > Begitupula si Geert, yang lantas disebut sebagai jenis primata > > > atoleran, > > > > dalam men-generalisir para imigran Muslim di Eropa. > > > > > > > Betul! Perlu penghayatan 1 siklus kehidupan untuk menangkap emic's > > > meaning. Geertz mengatakan, manusia yang berbudaya itu berpikir pun > > > sudah publik. Tapi srigala yang selalu menyeringai adalah homo > homini > > > lupus. Primata berbudaya (homo habilis) baru dimulai 2,3 juta tahun > yang > > > lalu, ditandai dengan ceruk (niche) pada tengkorak atas. Saya lihat > di > > > foto si Geert ini masih memiliki 'thinner cranial bone'. Silahkan > > > periksa! > > > > > > > > > > Lantas; apakah seorang kelahiran Papua, yang keturunan ras > Melanesia, > > > lalu > > > > sah untuk berapriori kepada 'si Jawa' karena kawannya disiksa > Polisi > > > > kelahiran Jawa? > > > > > > > Contoh perbandingan tidak pas. Belajarlah memahami emic, bukan > logika, > > > karena masyarakat itu membangun kategori-kategorinya sendiri. > > > > > > > > > > >> Karen Fog Olwig: 'God created the earth for people to go and > from, > > > not to > > > > stay in one place" > > > > > > > > Lalu mengapa ada 'Kepemilikan Lahan' ? Mengapa ada pagar rumah - > > > bangunan? > > > > Tapi memang dari 4 kata pertama dalam kutipan si Olwig pun sudah > dapat > > > > diketahui bahwa si Olwig ini hanya sedang ber-sastra-ria.. tidak > ada > > > nilai > > > > ilmiahnya sama sekali. > > > > > > > Salah! Perlu waktu 2 tahun di Karibia untuk sampai pada kalimat itu; > > > sama dengan ilmuwan mengerti konsep 'immitation' setelah 7 tahun > > > memelototi Macaca. Olwiglah yang pertama kali memperkenalkan istilah > > > 'deterritorialized world', dan terus berkembang menjadi konsep > populer > > > saat ini: 'third culture kids', terutama setelah ada fenomena Obama. > > > > > > > Salam, > > > > -K- > > > > > > Saran: daripada berkomentar ringkas, sebaiknya kembangkan juga > kemampuan > > > ber-proposisi secara lengkap. Salam. > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > > ================ > > Harya Setyaka > > > > 973 Turtle Crest Drive | Irvine, CA 92603 > > Phone : +1.949.769.3624 | Mobile : +1.949.748.0978 > > Skype ID : harya.setyaka | BB-M PIN: 20EEEBB4 > > > >

