Sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Pemerintah sudah memutuskan akan membangun Jembatan Selat Sunda (JSS) atau 
Jembatan Jawa Sumatera (JJS) untuk memperlancar aliran barang dan orang di 
antara kedua pulau besar tersebut. Akankah JSS atau JJS ini menjadi elemen 
peningkatan kualitas pemerataan pembangunan wilayah antara Jawa dan Sumatera, 
atau bahkan malah menjadi elemen penguat bagi penyedotan sumber-sumber daya 
(alam, manusia, finansial dll) dari Sumatera ke Jawa, akan sangat bergantung 
kepada bagaimana penyiapan di kedua belah pinggiran tersebut dipersiapkan..
 
Saya mengundang Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Sahabat-sahabat referensiers semua 
untuk mendiskusikan apa yang harus persiapkan dalam konteks pengembangan 
wilayah di kedua pinggiran jembatan dan/atau di kedua pulau besar tersebut agar 
tujuan pembangunan jembatan bisa diperluas juga menjadi sebagai salah satu 
elemen penguatan kualitas pemerataan pembangunan wilayah di kedua kawasan.
 
Terima kasih atas responnya di dalam our lovely discussion...
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 
 
 
 
Diambil dari harian Kompas, 18 Nvember 2009


Jembatan di Selat Sunda 
Gempa dan Angin Dihitung

Rabu, 18 November 2009 | 03:48 WIB
Jakarta, Kompas - Pemerintah menolak opsi pembangunan terowongan dan memilih 
jembatan untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera melintasi Selat Sunda. 
Indonesia dinilai sudah memiliki teknologi yang lebih maju dalam membangun 
jembatan ketimbang terowongan.
”Dalam rapat kami putuskan adalah jembatan bukan terowongan,” ujar Wakil 
Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dargak di Jakarta, Selasa (17/11), seusai 
menghadiri Rapat Koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian 
Hatta Rajasa. Rapat dihadiri juga oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, 
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel 
Muhammad, dan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi.
Menurut Hermanto, opsi jembatan menjadi pilihan karena kondisi alam di selat 
Sunda yang berpalung-palung dalam. Beberapa palung punya kedalamannya lebih 
dari 150 meter.
”Begitu juga aspek keselamatan, misalnya gempa bumi atau kebakaran, sudah 
menjadi pertimbangan. Opsi jembatan lebih menguntungkan,” ujarnya.
Opsi terowongan ditolak karena konsep pengangkutan mobil menggunakan kereta. 
Akibatnya, kapasitasnya akan sama dengan daya angkut kereta sehingga tidak 
efisien dan sangat terbatas.
”Namun untuk jembatan, kapasitasnya bisa maksimal, mobil dan kereta bisa 
bersamaan menyeberangi jambatan. Selain itu, dengan adanya jembatan, Indonesia 
akan memiliki landmark (simbol kebanggaan). Yang penting teknologinya 
memungkinkan lagi,” ujar Hermanto.
Setelah membentuk Tim Nasional Pembangunan Jembatan Selat Sunda yang dipimpin 
Hatta Rajasa, pemerintah juga akan membentuk tiga kelompok kerja (pokja). 
Pertama, pokja teknis, yang menentukan desain yang mengikuti kondisi dasar 
lautan, aspek angin, hingga gempa.
Kedua, pokja pengembangan wilayah dan lingkungan. Ketiga, pokja ekonomi agar 
layak secara finansial dan kelembagaannya.
Pemerintah mengantongi lima desain pembangunan jalan akses yang menghubungkan 
Pulau Jawa dan Sumatera. Itu termasuk alternatif akses berupa terowongan dasar 
laut atau terapung, seperti terowongan antara Inggris dan Perancis saat ini.
Jika opsi terowongan, nilai investasinya lebih dari Rp 49 triliun, tetapi waktu 
pemakaiannya singkat, sekitar 20 tahun. Adapun opsi jembatan butuh investasi 
hingga Rp 117 triliun, tetapi sanggup menampung lonjakan kendaraan hingga 100 
tahun.
Dalam Paparan Direktorat Bina Teknik Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan 
Umum yang disampaikan kepada wakil presiden terpilih Boediono pada awal pekan 
lalu disebutkan, pada tahun 2050 akan ada 57.600 kendaraan per hari yang tidak 
tertampung, jika Sumatera-Jawa bergantung feri. Karena kapasitas maksimal feri 
saat ini hanya 18.000 kendaraan per hari.
Jika dikombinasikan antara feri dan terowongan, masih ada 32.900-49.500 
kendaraan per hari tidak tertampung tahun 2050. Kapasitas maksimal feri dan 
terowongan hanya 16.600-33.200 kendaraan per hari.
Jembatan jadi pilihan karena bisa menampung semua kendaraan hingga 100 tahun 
sejak jembatan siap tahun 2030. (OIN)
 
 


      

Kirim email ke