Rekan Reintje Kawengian ysh,
Pertama trims atas tgpnya….. saya senang sekali membacanya krn  saya jg bosan 
membaca postingan  saya sendiri terus….:--))
++++: Kayaknya bikin jembatan antar pulau mau jadi mode dan  melupakan atau 
mengabaikan model intermoda.
>>>>: Kalau soal jembatan antar pulau mau dijadikan mode (fashion)… saya tahu… 
>>>>pihak yg paling hrs diserang abis adalah  tiada lain harus mas Fajar…. Krn 
>>>>beliaulah yg mengusumkan ( bhs inggris khas semarang dari memusimkan, or 
>>>>make it being mode or fashion)……. Kemarin baru selesai bikin Suramadu  hari 
>>>>ini sudah mau bikin JSS… lusa mau bikin bbrp lagi  ditempat lain….. 
Ya nggak gitulah duduk perkaranya mas Reintje……. Bikin jembatan lintas pulau 
utk kondisi geografik dan kantong kita tidaklah bisa secara absurd dibilang 
mode gitu…….. 
bikin jembatan antar pulau teknologi maupun uangnya tidaklah sesederhana 
membuat jembatan melintas sungai…  bahkan membuat jembatan melintas sungai 
selebar 200 meter sajapun bagi ukuran kantong negeri kita sdh trmsk  kaliber 
spektakuler dan terpaksa …….. 
Walau tdk terlalu salah kalau mau anda bilang mode…. Tapi jembatan2 yg dibuat 
seperti  seolah beruntun (Barelang 1992, Suramadu 2009,  JSS 2025, Malaka-Dumai 
200?) ya gak bisa jugalah  kalau serta merta dibilang mode atau latah gitu……
Walau Barelang dan Suramadu selesai duluan…. Tapi Ide paling dini ttg membuat 
JSS pun konon sdh dilontarkan pertama kali pd 1960 yg melalui bbrp rezim 
presiden ide itu trs dimatangkan…..  lalu konon 2015 akan dimulai proses 
fisiknya dan selesai 2025……..jadi  dalam 65 tahun (antara 1960 -2025)  terbuat 
3 jembatan lintas pulau (tapi yg di Barelang actually 6 jembatan sih) ya nggak 
cocoklah kalao dibilang mode…….
 
++++: Rasanya model intermoda ( yang cukup tenar diwaktu yl ) belum atau tidak 
ditangani dengan baik. Ada saja ketimpangan yang menyolok dalam menangani 
sarana angkutan darat disatu pihak dengan angkutan laut dilain pihak. 
>>>>: Kalau soal hasil yg kurang memuaskan… saya kira ini terkait dgn tingkat 
>>>>kemakmuran negri kita yg memang masih blm memuaskan dlm banyak hal…..  
>>>>bukan hanya sistem transpor antar moda saja yg blm memuaskan…..lha  wong 
>>>>alutsista saja juga tak terbeli?......bgmn mau konsentrasi dgn tenang 
>>>>membangun ekonomi agar bisa terbeli alutsista yg pantas dan terbangun 
>>>>sistem transpor  antarmoda yg memuaskan?..... lha korupsi selama ini (or 
>>>>selama itu?) terus merongrong…..demokrasi (dulu) dipasung agar sebuah rezim 
>>>>bisa seumur hidup memerintah (dan korupsi)....   blm lagi kalau ekonomi mau 
>>>>digeber nanti masyaralat sosial  dan budaya marah2…… bikin  industri 
>>>>pesawat saja biar kocek negara kita bisa nambah tebal  aja masyarakat 
>>>>pertanian dan sosial juga marah2…….
Kalau soal model antar moda…. Walau saya nggak ngerti teknik transportasi…. 
Tapi saya kira yg dimaksud dgn model antar moda jg mengutamakan juga banyak 
faktor2 … spt ekonomisasi biaya… ekonomisasi waktu tempuh, peningkatan 
kenyamanan dsb…… walau perjalanan melintas sungai lebar akan memenuhi azas 
antarmoda kalau utk itu disediakan fasilitas getek atau perahu penyebrangan… 
saya kira anda akan tak keberatan kalau utk itu dibuat jembatan permanen agar 
kendaraan dpt langsung melintas  lalu  akibat krnnya  pasar pengusaha angkutan 
penyeberangan jadi   sepi…….. apakah disini anda mau tetap pertahankan  
pentingnya antar moda?.......
 
++++: Saat membahas program pembangunan infrastruktur, rasanya cuma jalan darat 
saja yang jadi pusat perhatian sementara intermoda terlantar.  
>>>>: saya mengaku gak tahu persis kalau soal yg gini2….. tapi mungkin 
>>>>pertimbangannya adlah  krn  utk aktivitas produksi serta aktivitas rutin 
>>>>antar manusia dan transaksi  akhir antar manusia itu  hrs dilakukan dgn 
>>>>mobilitas  dan hrs saling jumpa……utk itu khan  terbanyak adanya  harus 
>>>>dilakukan didarat…… bukan dilaut ataupun diangkasa?……
 
++++: Saya ingat betul ada daftar yang isinya dominan jaringan jalan darat 
serta  tidak realistis targetnya.
>>>>: bisa jadi mengingat kebiasaan kita yg suka molor dan loyo… maka dibuatlah 
>>>>target yg tinggi sehingga semolor2nya kita hasilnya nanti lumayan…… 
>>>>contohnya acara mau dimulai jam 10…. Undangan sengaja ditulis jam 8.30 .. 
>>>>jadi kalaulah molor2 resultnya bisa dekat2 sekitar jam 10 juga….:-))  

++++: Di saat-saat  awal SBY duduk di kursi RI 1, saya ingat betul teman-teman 
penyusun konsep infrastructure acceleration  tidak atau kurang menyentuh 
intermoda ini dengan serius.  Semangatnya "aduhai " dan melayang rasanya karena 
gagasannya itu  penuh dengan tanda tanya.  Saya pun mengerti bahwa hal ini 
"sekedar " melengkapi janji -janji politik  dalam kampanye si SBY  saat itu. 
++++: Saya ingat juga bahwa, daftar yang berisi program pembangunan  
infrastruktur ( darat ) yang aduhai dan tidak realistis itu dengan gagahnya 
diperlihatkan kepada siapa saja.   Reaksi pihak dimaksud cuma mesem-mesem,  
bersungut  dan kemudian diam. Apa jadinya dengan Infratructure Summit itu ? ? 
>>>>:  Mohon maaf kalo kemarin saya singgung ttg SBY bukan maksud saya mau 
>>>>kampanye… tapi hanya mengutip berita dari website JSS saja…. Beritanya 
>>>>ditulis sbg tertanggal Selasa, 01 Januari 2008 (08.26 WIB) atau waktu seblm 
>>>>ramai musim kampanye…. Selebihnya utk paragraf ini saya no comment…..
 
++++: Mungkin saya terlalu pesimis dengan semua argumentasi para perencana 
jembatan antar pulau ini bahwa keadaan suatu wilayah (terutama masyarakatnya )  
akan jadi lebih baik, maju, sejahtera dst dst. Apa ya ? Apakah  seperti itu 
yang akan terjadi ? 
>>>>: Yg jelas  dgn adanya jembatan.... maka mobilitas jadi bisa lebih mudah 
>>>>dilakukan … krn waktu utk mobilitas menjadi jauh lebih pendek…… contohnya 
>>>>waktu nyebrang efektif dgn ferry di Suramadu adlh 30 menit…. Tapi utk agar 
>>>>kendaraan bisa naik dikapal dan siap berangkat waktu nunggunya efektif  kan 
>>>>pasti  nggak cukup 5 menit… belum lg waktu total utk turun disebrang juga 
>>>>pasti tak  kan cukup 5 menit…. Lbh parah adlh di Merak -Bakauheni…. Waktu 
>>>>menyeberang efektif  sih 2.5jam… tapi  kalau kapal ada yg rusak/ diserpis… 
>>>>atau dermaganya  rusak atau  cuaca sdg buruk/  gelombang tinggi …… waktu 
>>>>menunggu bilangannya tak cukup hanya bbrp jam saja…. Aplg disekitar hari 
>>>>lebaran waktu tunggu utk truk sembako dan sayur  bahkan bisa 5 hari dan 
>>>>barang angkutan jadi membusuk, upah sopir habis utk makan selama berhari2 
>>>>mengantre………
 
++++:  Apa para penyusun  rencana itu tidak merasa berdosa dan menambah panjang 
lagi daftar dosa  ? ? 
>>>>: Ya tentu saja daftar dosanya bisa lbh panjang kalo selama bekerja sambil 
>>>>para perencana itu juga tak lupa berbuat maksiat……. Ngomong2 kok anda 
>>>>demikian mudahnya menyebut ttg banyak orang lain dgn dosa dan daftar dosa 
>>>>baru … apakah maap… anda sendiri sebenarnya tergolong bergelimang dosa 
>>>>juga?......:-))

++++: Apakah tidak lebih baik benahi dulu infrastruktur dalam kawasan pulau  
baru mikir yang antar pulau  itu. Soal kemajuan wilayah, selain berbagai hal 
yang selama ini dipandang sebagai faktor penentu,  
 saya melihat aspek "masyarakat  dan mutu kebijakan " merupakan faktor penentu 
yang lainnya. Bagaimana ya ?
>>>>: kalau maksud anda  konteksnya masih berkait   ‘jembatan penyeberangan 
>>>>lintas pulau’….. makna/ filosofi  dasar awal dari  yg namanya ‘jembatan’  
>>>>(diatas sungai) yg jelas dimaksud  utk memudahkan  orang nyebrang dari tepi 
>>>>satu ketepi sungai disebrangnya (total waktunya lebh cepat, caranya lbh 
>>>>mudah, hampir pasti  juga caranya lbh aman) ….. filosofi dasar dari maksud 
>>>>dibuatnya jembatan lintas pulau antara  pulau A kepulau B pun sama…. jadi 
>>>>jembatan itu dimaksudkan utamanya lbh utk memudahkan/ mempercepat  
>>>>mobilitas manusia/ penduduk….. setidaknya bisa diharapkan juga ini dpt 
>>>>utamanya memudahkan  penduduk Jawa utuk bermigrasi ke Sumatera misalnya….. 
>>>>soal kemajuan pembangunan intra pulau itu masalah lain yg tak sepenuhnya 
>>>>bisa dibebankan tgjawabnya pada sijembatan…….
Lagipula kalau  spt kasus jembatan JSS yg mau bikin adalah swasta Tommy Winata 
dan tidak menggerogoti APBN sepeserpun ….. lalu  dosa apa lagi yg dibuat oleh 
Winata atau kata anda ‘para perencana’nya itu?..... dlm 10 thn masa pengerjaan 
akan terdapat sekian ribu mata pekerjaan…. Akan trdpt belanja/ pembelian  
material sekurangnya senilai 25 triliun atau mungkin 50 triliun rp lebh…. Yg 
ini akan menghidupi demikian banyak perusahaan lainnya…..

++++: Minta maaf sebesar-besarnya kepada para milister jikalau  statemen ini 
berkelebihan atau tidak pada tempatnya. 
>>>>: Sama2 dan trimakasih banyak pd  rekan Reintje atas minat diskusinya…… mhn 
>>>>agar lbh sering lg berkenan berdiskusi agar seru……..

Salam,

--- On Sat, 6/13/09, Reintje Kawengian <[email protected]> wrote:


From: Reintje Kawengian <[email protected]>
Subject: [referensi] Jembatan Selatan Sunda
To: [email protected]
Date: Saturday, June 13, 2009, 9:19 PM













Teman-teman milister,

Kayaknya bikin jembatan antar pulau mau jadi mode dan  melupakan atau 
mengabaikan model intermoda.

Rasanya model intermoda ( yang cukup tenar diwaktu yl ) belum atau tidak 
ditangani dengan baik. Ada saja ketimpangan yang menyolok dalam menangani 
sarana angkutan darat disatu pihak dengan angkutan laut dilain pihak. Saat 
membahas program pembangunan infrastruktur, rasanya cuma jalan darat saja yang 
jadi pusat perhatian sementara intermoda terlantar.  Saya ingat betul ada 
daftar yang isinya dominan jaringan jalan darat serta  tidak realistis 
targetnya.

Di saat-saat  awal SBY duduk di kursi RI 1, saya ingat betul teman-teman 
penyusun konsep infrastructure acceleration  tidak atau kurang menyentuh 
intermoda ini dengan serius. Semangatnya "aduhai " dan melayang rasanya karena 
gagasannya itu  penuh dengan tanda tanya. Saya pun mengerti bahwa hal ini 
"sekedar " melengkapi janji -janji politik  dalam kampanye si SBY  saat itu. 
Saya ingat juga bahwa, daftar yang berisi program pembangunan  infrastruktur ( 
darat ) yang aduhai dan tidak realistis itu dengan gagahnya diperlihatkan 
kepada siapa saja. Reaksi pihak dimaksud cuma mesem-mesem,  bersungut  dan 
kemudian diam. Apa jadinya dengan Infratructure Summit itu ? ?  
  
Mungkin saya terlalu pesimis dengan semua argumentasi para perencana jembatan 
antar pulau ini bahwa keadaan suatu wilayah ( terutama masyarakatnya ) akan 
jadi lebih baik, maju, sejahtera dst dst.  Apa ya ? Apakah  seperti itu yang 
akan terjadi ?  Apa para penyusun  rencana itu tidak merasa berdosa dan 
menambah panjang lagi daftar dosa  ? ? 

Apakah tidak lebih baik benahi dulu infrastruktur dalam kawasan pulau  baru 
mikir yang antar pulau  itu. Soal kemajuan wilayah, selain berbagai hal yang 
selama ini dipandang sebagai faktor penentu,  saya melihat aspek "masyarakat  
dan mutu kebijakan " merupakan faktor penentu yang lainnya. Bagaimana ya ? 

Minta maaf sebesar-besarnya kepada para milister jikalau  statemen ini 
berkelebihan atau tidak pada tempatnya. 

Thanks,

Reintje



















      

Kirim email ke