Punten nimbrung,

Dana 117 triliun untuk satu infrastruktur di Indonesia adalah sangat
besar, bisa bangun 80 Jalan Tol seperti Cipularang dengan uang ini.
Swasta-swasta juga belum tentu berani dengan dana seperti ini.  Yang ikut
tender jalan tol juga sedikit kok.
Revenue tol dari Suramadu itu misalnya, hanya untuk menutup pemeliharaan
saja. Investasinya belum tentu balik.

Yang menjadi tantangan adalah Financial Engineeringnya, belum lagi
menghadapi pihak yang kontra, karena dana itu juga diperlukan bagi sektor
lain.  Kita lihat saja perkembangannya. Kalau memang bisa jadi  ya
terjadilah. :-)

----------------------------------------------------------------


Kalau keputusan sudah mengarah ke membangun JSS, dan soalnya tinggal cari
mitra investor. Ya harus siap-siap. Jangan sampai seperti pulau Madura,
waktunya habis untuk pro-con, debat intern, akhirnya setelah Suramadu
terbangun mereka nggak siap.
 
Logikanya, dengan fungsi P1*P2/d, kalau P1 kuat, d mengecil, maka P2 harus
diperkuat supaya terjadi keseimbangan arus dua arah.
Seperti adanya Cipularang, membuat banyak orang Jakarta ke Bandung,
belanja di FO, distro, lotek,  batagor, colenak saung kuring, atau beli
CD nya Nining Maida, ya ikut naik juga lah ekonomi Bandung. Tinggal
eksternalities macet, polusi, sampah siapa yang bayar?
 
Nanti RM Begadang di Bandar Lampung, keripik pisang dan pempek Palembang
makin laris. Apa lagi ya? Ikan patin?....
 
Salam,
Risfan Munir
 
 


--- On Thu, 11/19/09, benny hermawan <[email protected]> wrote:


From: benny hermawan <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Jembatan Selat Sunda
To: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected]
Date: Thursday, November 19, 2009, 12:49 AM


 



Pak Harya Setyaka dan milis yth,ijin urun rembug aja...
 
kesan saya membaca berita tersebut memang sama dengan apa yang disampaikan
bapak bahwa pembagian tugas belum efektif. Saya ingin sedikit sharing
(bukan klarifikasi lho..he2)  ttg hal tersebut karena sy tidak dalam
posisi untuk meresponnya. Niat saya hanya mencoba sharing informasi apa
yang saya tahu saja, meskipun saya yakin Pak Harya dan rekan milist sudah
memakluminya.
Kehadiran Bapak Menteri dan Pak Wamen yang sementara ini masih merangkap
sebagai Dirjen Bina Marga dalam rapat koordinasi bidang perekonomian yang
salah satu agendanya adalah tentang pembangunan infrastruktur penghubung
Jawa Sumatera atau disingkat IPJS memang sesuai dengan kebutuhan dalam
rapat tersebut. Memang jika memperhatikan surat undangan menko
perekonomian tersebut,hanya tercantum Menteri, pejabat setingkat menteri
(kepala BPN dan Kepala BPPT) dan Gubernur DKI, namun
biasanya (pasti bapak juga sudah memaklumi), pada rapat koordinasi seperti
ini (termasuk dalam rapat2 wapres yang bersifat koordinatif diluar sidang
kabinet) para menteri sering mengajak pejabat teknis terkait, bahkan jika
perlu dan memungkinkan sampai level eselon 3. Dalam konteks ini, bapak
menteri mengajak para pejabat2 dari ditjen bina marga yang sehari-hari
secara teknis mengurusi rencana pembangunan IPJS. Jadi wajar memang benar
kalo terkesan borongan bareng atau bahkan bisa disebut rombongan karena
setahu saya dari PU yang hadir lebih dari dua pejabat. Kalo bapak cermati
media masa lainnya, yang jadi nara sumber tidak hanya Pak Menteri dan Pak
Wamen, tetapi juga ada Dir Bintek dan kepala BPPT, selain menko tentunya.

Kalo urusan substansi, setahu saya sudah ada tim yang telah menyiapkan
kelayakan pembangunan IPJS tersebut dan lebih lnajut hal ini akan dibahas
terus di tiga pokja yang dibentuk.Perdebatan filosofi sedot menyedot atau
sebar menyebar saya kira menarik, tapi yang jelas sudah ada investor yang
berminat dengan mengajukan konsesi pengelolaan beberapa kawasan
produksi.Menurut hemat saya, hitung-hitungan swasta yang sangat optimis
inilah yang perlu kita pelajari dan cermati sebagai bagian dari upaya
menyedot berbagai teori untuk disebarkan dalam praktek real pembangunan
yang bermanfaat bagi kita semua tentu tetap pro keberlanjutan-
lah....tentu masih banyak kawasan-kawasan lain yang secara praktikal bisa
dikembangkan dengan pola ini(opini aja he2)
 
Demikian pak sharing informasi saya...nuhun. .

--- On Wed, 11/18/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:

From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Jembatan Selat Sunda
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, November 18, 2009, 8:11 PM

 

NarSum kunci yg saya usulkan adalah Bp. Suwarpani Wardjoko..
Saya merasa beruntung dulu beliau pernah ngajar saya, dan saat itu pula
beliau di Perhubungan, kalao tidak salah sempat DirUt ASDP ..

Pernah juga tahun 2005, ITB mengadakan seminar mengenai Selat Sunda ini..

intinya; Penyebrangan adalah jalan darat yg terputus..

Sedot atau Sebar?
Kalau tidak ada perubahan strategi pembangunan di Sumatera, maka cenderung
Sedot.. karena sekarang pun 'default' nya sedot..
Kalau 'Sebar' finansial sih infrastrukturnya yg diperlukan bukan
Jembatan.. tapi insentif pajak..
wong duit udah tinggal kirim lewat e-Banking..

Nanti kalau sudah ada penghubung; bisa sekalian sambung pipa untuk minyak
sawit, dlsb..

sdangkan yg terjadi juga, dugaan saya, adalah 'sedot' finansial.. terutama
karena pajak terkait sumberdaya alam, seperti Batu Bara kan terpusat..

Saya malah agak tertarik membaca
detail potongan berita tsb:
Sepertinya Pembagian tugas Mentri dan Wakil Mentri PU belum efektif nih;
rapat masih borongan bareng..
trus yg malah jadi narsum wakil mentri nya.. hmm..
trus dari Perhubungan, koq ga ada metri/wakil nya yah?

yg dibahas memang teknologi konstruksi, jadi bukan lagi apakah
Sumatera-Jawa akan disambung atau tidak, tapi dengan apa; Terowongan atau
Jembatan..
yg diambil adalah engineering decision., menurut saya planning decision
nya sudah diambil lama..
kalau ada political decision utk memisah, maka ferry pun di-stop..

Dengan Jembatan dimana pakai sistem rel (ban berjalan) memang lebih baik
karena terutama factor safety..

Salam,
-K-

 

2009/11/18 <efha_mardiansjah@ yahoo.com>

 

Sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Pemerintah sudah memutuskan akan membangun Jembatan Selat Sunda (JSS) atau
Jembatan Jawa Sumatera (JJS) untuk memperlancar aliran barang dan orang di
antara kedua pulau besar tersebut. Akankah JSS atau JJS ini menjadi elemen
peningkatan kualitas pemerataan pembangunan wilayah antara Jawa dan
Sumatera, atau bahkan malah menjadi elemen penguat bagi penyedotan
sumber-sumber daya (alam, manusia, finansial dll) dari Sumatera ke Jawa,
akan sangat bergantung kepada bagaimana penyiapan di kedua belah pinggiran
tersebut dipersiapkan. .
 
Saya mengundang Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Sahabat-sahabat referensiers
semua untuk mendiskusikan apa yang harus persiapkan dalam konteks
pengembangan wilayah di kedua pinggiran jembatan dan/atau di kedua pulau
besar tersebut agar tujuan pembangunan jembatan bisa diperluas juga
menjadi sebagai salah satu elemen penguatan kualitas pemerataan
pembangunan wilayah di kedua kawasan.
 
Terima kasih atas responnya di dalam our lovely discussion.. .
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 
 
 
 
Diambil dari harian Kompas, 18 Nvember 2009

Jembatan di Selat Sunda
Gempa dan Angin Dihitung

Rabu, 18 November 2009 | 03:48 WIB
Jakarta, Kompas - Pemerintah menolak opsi pembangunan terowongan dan
memilih jembatan untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera melintasi
Selat Sunda. Indonesia dinilai sudah memiliki teknologi yang lebih maju
dalam membangun jembatan ketimbang terowongan.
”Dalam rapat kami putuskan adalah jembatan bukan terowongan,” ujar
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dargak di Jakarta, Selasa (17/11),
seusai menghadiri Rapat Koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator
Perekonomian Hatta Rajasa. Rapat dihadiri juga oleh Menteri Pekerjaan Umum
Djoko Kirmanto, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan
Perikanan Fadel Muhammad, dan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi.
Menurut Hermanto, opsi jembatan menjadi pilihan karena kondisi alam di
selat Sunda yang berpalung-palung dalam. Beberapa palung punya
kedalamannya lebih dari 150 meter.
”Begitu juga aspek keselamatan, misalnya gempa bumi atau kebakaran,
sudah menjadi pertimbangan. Opsi jembatan lebih menguntungkan,” ujarnya.
Opsi terowongan ditolak karena konsep pengangkutan mobil menggunakan
kereta. Akibatnya, kapasitasnya akan sama dengan daya angkut kereta
sehingga tidak efisien dan sangat terbatas.
”Namun untuk jembatan, kapasitasnya bisa maksimal, mobil dan kereta bisa
bersamaan menyeberangi jambatan. Selain itu, dengan adanya jembatan,
Indonesia akan memiliki landmark (simbol kebanggaan). Yang penting
teknologinya memungkinkan lagi,” ujar Hermanto.
Setelah membentuk Tim Nasional Pembangunan Jembatan Selat Sunda yang
dipimpin Hatta Rajasa, pemerintah juga akan membentuk tiga kelompok kerja
(pokja). Pertama, pokja teknis, yang menentukan desain yang mengikuti
kondisi dasar lautan, aspek angin, hingga gempa.
Kedua, pokja pengembangan wilayah dan lingkungan. Ketiga, pokja ekonomi
agar layak secara finansial dan kelembagaannya.
Pemerintah mengantongi lima desain pembangunan jalan akses yang
menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Itu termasuk alternatif akses
berupa terowongan dasar laut atau terapung, seperti terowongan antara
Inggris dan Perancis saat ini.
Jika opsi terowongan, nilai investasinya lebih dari Rp 49 triliun, tetapi
waktu pemakaiannya singkat, sekitar 20 tahun. Adapun opsi jembatan butuh
investasi hingga Rp 117 triliun, tetapi sanggup menampung lonjakan
kendaraan hingga 100 tahun.
Dalam Paparan Direktorat Bina Teknik Ditjen Bina Marga Departemen
Pekerjaan Umum yang disampaikan kepada wakil presiden terpilih Boediono
pada awal pekan lalu disebutkan, pada tahun 2050 akan ada 57.600 kendaraan
per hari yang tidak tertampung, jika Sumatera-Jawa bergantung feri. Karena
kapasitas maksimal feri saat ini hanya 18.000 kendaraan per hari.
Jika dikombinasikan antara feri dan terowongan, masih ada 32.900-49.500
kendaraan per hari tidak tertampung tahun 2050. Kapasitas maksimal feri
dan terowongan hanya 16.600-33.200 kendaraan per hari.
Jembatan jadi pilihan karena bisa menampung semua kendaraan hingga 100
tahun sejak jembatan siap tahun 2030. (OIN)
 
 











Kirim email ke