Mohon dibedakan antara issue rural transport dan non-motorized vehicle (sepeda, becak) walaupun yg kedua itu jg merupakan bagian dr rural (dan urban) transport, tapi saya kira issue2 yg diangkat di rural transport bisa lebih luas...
Saya tertarik dgn pembahasan Pak Ibnu, Mas DwiAgus, dan Pak Djarot... Untuk Pak Ibnu, saya teringat satu buku terbitan LP3ES, Bantuan Mematikan, terjemahan dr bhs Jerman yg pernah kita diskusikan di sini http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/6144 antara lain bahwa pembangunan jalan ternyata bisa merugikan masyarakat lokal... apakah ini masalah yg terkait dgn proses modernisasi sebuah kelompok masyarakat? Mungkin masalah ini juga dekat dgn perdebatan apakah globalisasi menguntungkan atau merugikan negara berkembang... Dgn adanya jalan penghubung jelas masyarakat akan mendapatkan barang dgn harga lebih murah dan kemudahan mencapai fasilitas kesehatan (seperti yg diungkap Mas DwiAgus di NTB/NTT)... mungkin akan lebih lengkap bila Pak Ibnu bersedia menjelaskan jenis kegiatan perekonomian apa yg mereka lakukan...karena ini terkait dgn apa yg bisa mereka jual ke masyarakat di luar kampung tsb...karena perlu juga diselidiki apakah pendapat mereka benar atau tidak, bisa jadi ketakutan mereka sebenarnya tidak beralasan... Yang juga menarik Pak, adalah kalau dibangun jalan penghubung, kelas sosial mana yg akan mengambil manfaat dan mana yg akan dirugikan, karena di kampung tsb mungkin ada kelas2 sosial yg memiliki perbedaan thd penguasaan sumber daya cukup besar (mungkin, karena sy jelas tidak tahu, tapi bisa saja masyarakat kampung tsb cukup egaliter)... Masalah ini juga yg membuat saya selalu tidak sependapat apabila ada yg mengatakan (dan sering sy temui) bahwa untuk membangun "kawasan tertinggal" cukup kita hubungkan saja (maksudnya dibangun jalan) dgn "kawasan andalan"... pandangan seperti ini jelas terlalu memandang sederhana sebuah permasalahan... Utk Mas DwiAgus, menarik sekali informasinya bahwa minimnya transportasi pedesaan ini terkait dgn angka kematian dan otomatis dgn HDI... hal ini juga yg dlm pikiran sy ketika menuliskan bahwa masalah yg perlu diteliti dr rural transport ini antara lain adalah keandalan (ada ketika diperlukan)... dan masalah ini sebenarnya tidak hanya di NTB/NTT, bahkan di Pulau Jawa, tentu dgn derajat yg jauh lebih rendah... Yg dikemukakan Pak Djarot juga menarik, dan kreatifitas yg muncul akibat keterbatasan ini bisa berbahaya utk diri sendiri maupun orang lain ya pak, seperti juga 20 orang yg diangkut di atas pickup... hanya solusinya bagaimana ya? salam.. --- On Sat, 12/12/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: From: Harya Setyaka <[email protected]> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: [email protected] Date: Saturday, December 12, 2009, 10:14 PM >>>> Tetapi yang ingin disampaikan adalah, ketika kita sudah enak naik sepeda >>>> motor ada rasa enggan untuk kembali naik sepeda, apalagi ketika sudah >>>> nyaman mengendarai mobil sang ...... ++ Ah masa iyaa... Trus mas Dwiagus gmana? Trus anggota Bike2Work yg 10ribu itu gmana? Turis Belanda yg di Jogja nge-becak atau ngojek, pas balik lagi ke Belanda.. Apa lantas beli motor disana?? Kebanyakan mitos nih.. -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Sat, 12 Dec 2009 13:08:50 -0800 (PST)To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? Ya, teorinya memang kebablasan karena tanpa basis evidensi yang mantap. Tetapi yang ingin disampaikan adalah, ketika kita sudah enak naik sepeda motor ada rasa enggan untuk kembali naik sepeda, apalagi ketika sudah nyaman mengendarai mobil sangat sulit untuk kembali ke pola hidup berjalan kaki lagi seperti masa kecil kita. Apalagi pada saat masih di dalam kandungan sudah naik mobil, waaah rasanya agak mustahil deh diajak apalagi berpikir nikmatnya berjalan kaki. Tampaknya perlu ada revolusi berpikir yang mampu mengubah mindset kita untuk ke arah itu. Pemahaman dan kesadaran tentang teori-teori pemanasan global, polusi dsb barangkali belum cukup. Tentu ada penjelasan lain yang diperlukan deh. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sun, 12/13/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote: From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, December 13, 2009, 12:41 AM Tapi saya belum pernah lihat tas atau sepatu buatan Bantul atau Cibaduyut di butik mewah di paris hua ha ha ha..... (kalo sepatu kodian macem Nike sih sering lah....) Salam, Fadjar Undip --- On Sun, 12/13/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, December 13, 2009, 12:15 AM Karena HDI Paris>>>HDI Jkt>> HDI NTB&NTT.. -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Sat, 12 Dec 2009 02:27:06 -0800 (PST) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? Mas, tetapi ada teori yang menentangnya lho. Orang desa dimana-mana ingin ke kota, setelah di kota lulus sekolah, ingin kerja di Jakarta. Setelah di jakarta, dia ingin ke Singapore, atau Paris. Ketika di Paris beli tas dan sepatu di butik mewah, eee ternyata tas dan sepatu itu buatan Manding (Bantul) atau Cibaduyut (Jabar).... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 12/12/09, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> wrote: From: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, December 12, 2009, 2:40 PM Saya juga mau berkomen yg hampir sama dengan koko. Kalow di NTT dan NTB, angka HDI yg buruk disumbang dari angka kematian ibu dan anak yg lumayan tinggi. Dan kebanyakan disebabkan karena keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan, yg dikarenakan tak adanya sistem angkutan rural yg bisa membawa ibu hamil dan anak yg bermasalah kesehatan ke rumah sakit. Tambahan lagi, hal tersebut juga membuat para keluarga enggan membawa ibu dan anak ke fasilitas kesehatan. Dan mereka prefer pergi ke dukun. Salah satu konsep intervensinya, maka sistem transportasi menjadi salah satu bagian sistem kesiagaan sebuah desa utk menghadapi permasalah kesehatan ibu dan anak. Mulai dari identifikasi siapa punya kendaraan apa, kendaraan mana membantu siapa, dst. Itu yg dilakukan AusAID dan diteruskan GTZ di NTT dan NTB dan kemudian jd program nasional Desa Siaga-nya Menkes. Jadi saya numpang teriak amin, utk menegaskan pentingnya rural transportation system. Salam Dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!! From: "Harya Setyaka" <harya.setyaka@ gmail.com> Date: Sat, 12 Dec 2009 06:47:10 +0000 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? Teman2 dari PUSTRAL(Pusat Studi Transp Logistic) UGM menggiati rural transport cukup intensive. Prof. Danang Parikesit, salah satu profesor muda di bidang transport juga sempat menjadi ketua IFRTD: Ins. For Rural Transp Devt., yg berkedudukan di London. Di luar Jawa, misal di Papua, minimnya infastruktur transportasi menjadi kendala pelayanan kesehatan&pendidikan. HDI nya jadi keok. JaTeng Yogya HDI nya cukup tinggi.. Mengenai mangga busuk di Kediri: artinya harga produksi mangga+investasi pendingin+ ongkos angkut / kg >>> harga jual /kg di pasar/kota.. (Basic Von Thunnen). Kalau sudah panen tapi tidak terangkut juga; artinya ongkos angkut >= harga jual. Sulitnya Informasi mengenai harga jual (price signal) ini menjadi tantangan bagi petani.. Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Date: Fri, 11 Dec 2009 20:30:13 -0800 (PST) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] rural transport di Indonesia? Bapak, Ibu, referensiers ysh., Selain MRT dan sepeda utk memecahkan masalah urban transport, saya kira kita juga punya masalah dgn rural transport... sayangnya (rasanya) belum pernah kita diskusikan di milis ini... saya terpikir setelah melihat foto2 kawan di Jawa Tengah dan Yogya yg memperlihatkan beberapa pickup (yg juga sudah penuh dgn barang) masih dipenuhi oleh 20 an orang...aneh tapi nyata... sungguh miris melihat di era masa kini di mana ada indikasi korupsi ratusan milyar bahkan triliun rupiah, masih ada sekelompok saudara2 kita yg tidak hanya dihilangkan haknya utk menikmati transportasi yg nyaman, tapi bahkan juga yg aman... masalah "keamanan" dlm bertransportasi publik mungkin sudah sering kita lihat di KA Jabotabek... Tapi rural transport pun ternyata bermasalah, dan saya tidak tahu banyak ttg ini di Indonesia... kecuali bahwa pernah ada penelitian di Planologi ITB ttg dampak lingkungan dari rural transport, yg kalau hipothesis saya sih tidak akan signifikan dampaknya karena karakter dari rural transport yg merupakan low volume traffic... menurut saya yg perlu diteliti dr rural transport di Indonesia adalah keandalannya (ada ketika diperlukan), murahnya (kasus panen mangga di Kediri yg akhirnya dibiarkan membusuk akibat transportasi yg mahal dan tdk tersedianya fasilitas pendingin), kenyamanan dan keamanan (kasus manusia yg dijejal2 di belakang pickup).... dan masalahnya bisa bervariasi antara wilayah2 di Jawa dan luar Jawa, di dalam pulau dan antar pulau... barangkali ada bapak/ibu yg berkenan sharing pengetahuannya, terimakasih. .. salam.

