Mas Harya Setyaka yang mumpuni dan saya hormati,

Sebenarnya saya tidak ingin membedah terlalu dalam tentang masalah 
keistimewaan, karena sekali lagi... saya ingin matur kalau apa yang dilihat dan 
didengar sekarang itu jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.  Saya takut teman2 
yang para linuwih dan adiluhung ini menjadi salah persepsi kalau hanya melihat 
dari koran dan tv saja.

Tentang pernyataan bahwa PisAg itu dibayar itu sudah menjadi omongan banyak 
masyarakat bawah. Bahkan ada koran lokal yang nakal memotret amplop berisi 
50.000. Dan kalau diperhatikan bahwa dalam PisAg kekuatannya adalah pamong yang 
mayoritas digerakkan dari Bantul... nah ini ada kaitan menarik ... tetapi kalau 
mau tahu silahkan secara japri saja.

Jadi proses adiluhung yang menjadi ciri paugeran keraton Mataram yang turun 
temurun ternyata "sedikit" terpeleset. 

Disisi lain pemerintah yang dalam hal ini RI1 juga melakukan pendekatan "semi 
represif". Dalam pertemuan waktu mau pilpres 2009 yang lalu, SBY telah bertemu 
dengan salah satu adik HBX yang kebetulan ketua partai pendukung SBY di Gedung 
Agung (saya mendapat informasi dari beliau adik HBX sendiri). yang mewartakan 
bahwa SBY mempunyai setumpuk informasi yang bisa menjungkir balikkan kondisi 
karena adanya kasus2 yang sangat crucial. Kebetulan sebagian saya tahu karena 
itu masuk jaman saya. 

Jadi disinilah sebabnya mengapa pemerintah pusat begitu keukeuh. Sementara HBX 
tidak berani bersifat frontal. Cara yang dipergunakan adalah melalui selatan 
atau Bantul. Karena itu saat ini sedang ada usaha untuk menekan Bantul.

Terlepas dari itu semua, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa percaturan 
tentang UUK adalah murni permainan politik masa kini yang coba dinuansakan 
berwarna budaya.

Begitu mas Harya. Salam.


bambang sp

 

Kirim email ke