Mas Kuswanto ysm,

Luar biasa catatan panjenengan ... saya sangat sepakat. Panjenengan mengatakan :


Saya kok kurang sejalan dengan meributkan demokrasi. Demokrasi hanyalah sebuah 
propaganda, thesis besar untuk menuju sebuah negara ideal. Sama dengan thesis 
tentang sosialisme oleh Karl Max yang mempunyai daya jangkau dan tempo 
terbatas. artinya bahwa tidak bisa di terapkan di setiap tempat ato di 
sepanjang waktu kehidupan. Kita bangsa Indonesia hendaknya menggali sendiri 
sistem ideal merencanakan pembangunan kita sendiri.

>>>>

Saya garis bawahi secara tebal-tebal. Karena budaya yang melatar belakangi kita 
sangat2lah berbeda dengan bangsa di barat sana. Demokrasi atau sosialisme 
basisnya adalah pada pemuasan individu semata. Padahal disini kita disudah 
dirajut dengan paham2 integralisme dan harmonisasi. Saya kira tidak akan 
mungkin kita menemukan paham "semene yo cukup, trimo ing pandum" yang justru 
menyebabkan munculnya ketahanan sosial di masyarakat. Mereka masih bisa tertawa 
jernih meskipun bila orang yang sudah berpendidikan barat sana mengatakan 
kondisinya "unbelievable jeleknya". Tengoklah hal itu di Maros sana, atau di 
Dompu, atau di Kepahyang, atau di Sanggau. Senyum yang renyah dan bukan resah. 

Demokrasi dan sosialisme lebih pada usaha para ahli yang tetap pada "pemuasaan" 
diri pribadi. Maaf. Karena itu saya sepakat... galilah nilai2 yang ada di 
negara kita. Bila mau melihat contoh "demokrasi" ... Indonesia punya segudang 
contoh bahkan pada sistem sosial yang masih "primitive" sekalipun seperti di 
Nias. Jadi, galilah dari kashanah kita. 

Komentar saya adalah ... justru panjenengan yang nun jauh di Amrik sana bisa 
melihat dengan jernih permasalahan ini ... luar biasa.


Panjenengan juga mengatakan :

Kalo saya lebih condong kita meributkan cara2 pemda menangani pelayanan publik. 
karena bicara planning ujungnya pelayanan publik. Kalau memang kediktaktoran 
ternyata lebih memakmurkan kenapa kita hindari. Kenapa harus ada pemilihan 
gubernur jogja kalo memang masyarakat sebenarnya sudah merasa aman dan tenteram 
dengan rajanya sekaligus sebagai gubernur? 

>>>>>>

Saya juga sangat sepakat dengan panjenengan ... ujung2nya adalah pelayanan 
publik. Nah untuk itu yang perlu dicermati adalah konsep RUUKnya. Apakah dengan 
UU Keistimewaan ini rakyat menjadi lebih "makmur" ... saya lebih memilih kata 
"bahagia" karena bahagia lebih mencerminkan sebuah nilai yang lebih tingggi. 
Karena makmur lebih kepada nilai material sedang bahagia adalah gabungan nilai 
material dan immaterial. Ada 6 aspek yang diatur dalam RUUK dan ternyata 4 
darinya justru perlu dicermati lagi agar tidak membebani masyarakat. Saya 
mendengar saat ini ada pembaruan konsep lagi. Tetapi kalau spiritnya masih 
seperti yang lama ya sama saja.

Demikian mas Kuswanto ... apresiasi tinggi ... dan selamat mengejar ilmu di 
Amrik.

Salam

bambang sp

Kirim email ke