Pak Djarot dan rekan2 ysh, selamat dan sukses untuk acaranya. Salah satu kunci keberhasilan kalau boleh saya buka di sini, adalah karena Prof Deden sudah dibekali dengan "Negara Teater"-nya Geertz pada waktu kopi darat kemarin. Namun seperti biasa, tentu, saya tidak akan menerima begitu saja hasil pencerahannya. Kalau boleh saya komentari sedikit :
1) Saya cukup mengerti dengan Mazhab Chicago, yang dikumandangkan 1920an, sebagai salah satu bentuk reaksi terhadap penelitian adat kebiasaan, kepercayaan, serta praktek-praktek sosial lainnya sebagaimana telah diprakarsai oleh Boaz, Lowie, dll, dan menggantinya dengan pendekatan dan studi kekinian untuk masalah kekinian dengan antara lain penggunaan kuesioner dll. Selain Park, Radcliffe-Brown dan Malinowski sampai mengatakan: masa lampau itu sudah mati dan terkubur. Jadi makna 'mazhab kearifan lokal' saya tafsirkan sebagai kembali ke era histori, mitos, dan legenda, sebagaimana dirintis kembali oleh Neo Boazian dkk. Hanya kurang mengerti dan tidak tahu tentang Mazhab Los Angeles, siapa-siapa saja penggagasnya, dan bagaimana konsepnya. Mohon pak penjelasannya? Kalau boleh sekalian melampirkan materi bahan diskusi. 2) Efek Chicago terhadap perencanaan kota di antaranya muncul central-place theory, spatial diffusion of innovations, dst. Mohon penjelasan apa bentuk 'model baru' dari mazhab kearifan lokal itu untuk perencanaan kota? Serta tentunya anti-efek Los Angeles? Mohon kesediaan urai-babarkan sebelum tanggal 5 Feb. 3) Mazhab itu sudah lebih maju dari paradigma. Mohon kesediaan menjelaskan siapa-siapa saja yang masuk dalam mazhab kearifan lokal, selain Pak Djarot sendiri, sekurangnya ada 3-4 orang lagi? Terima kasih sebelumnya. Foto-fotonya ditunggu juga pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Dear All, > > Rabu tanggal 27 Januari 2010 Dr. Deden Rukmana memberikan pencerahan bagi kalangan pemerhati planning perkotaan yang menjadi peserta Seminar Terbatas tentang "Perencanaan Kota dan Kearifan Lokal" di FIB, Yogyakarta. Inti gagasan yang disampaikan adalah bahwa mashab Chicago dan Loa Angeles sudah perlu ditinggalkan sebab terbukti menimbulkan banyak masalah bagi perencanaan kota-kota di Indonesia karena tekanannya pada rasionalitas mean-end approach, maka perlulah mempertimbangkan kekuatan kearifan lokal sebagai mashab baru !!! > > Setelah diskusi di FIB, kami sempat berjalan menelusuri sudut-sudut kota Yogyakarta dan akhirnya piknik ke Parangtritis. Rute perjalanan kami cukup jauh, yaitu UGM, Pantirapih, Kridosono, Kotabaru, Tugu, Jalan Mangkubumi, > Malioboro, Alun-alun utara (ada sekaten), SD Keputran, Masjid Gede, > Monumen SO di Kraton, Tamansari, Alun-alun selatan (melihat Masangin), > Panggung Krapyak, Kasongan, RM. Parangtritis, Parangkusumo, Pantai > Parangkusumo, Parangtritis, Bukit atas Parangtritis, dan pulang ke > Bandara. > > Demikian, sekilas info jumpa darat yang sangat mengesankan (foto-foto di Parangtritis menyusul). > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

