Dr. Djarot ysh. Bila disimak pandangan umumnya, saya memahami bila ada
kesepahaman untuk membangun mazhab, dengan varian yang khas dari sekedar
penafsiran kearifan lokal; masuk dalam kajian 'spatial-culture' yang
telah kita kembangkan di milis ini. Saya berani mentabalkan, dengan
mengharapkan restu dari para sepuh, menyebut mazhab ini sebagai 'Mazhab
Yogya'. Mudah-mudahan dengan platform ini dapat dikembangkan secara
lebih terukur pemikiran knowledgeable di kemudian hari.

Satu ciri dari Mazhab Yogya ini yang saya tangkap adalah rujukan
perencanaan pada strategi keruangan yang telah dikembangkan secara
turun-temurun pada suatu tempat, dan hal-hal lain yang perlu dipertajam
lebih lanjut. Aspek strategi keruangan ini sebenarnya sudah termaktub
pada beberapa khazanah budaya, seperti ungkapan
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/775>  : "nan lorong
tanami tabu, nan tunggang tanami bambu, nan gurun buek kaparak, nan
bancah jadikan sawah, nan munggu pandam pakuburan, nan gauang katabek
ikan, nan padang kubangan kabau, nan rawang ranangan itiak".

Adapun perbedaan pandangan bapak dan antropolog masalah 'taktik' dan
'strategi', sebenarnya persoalan genre; dan patokan tentang hal itu
bersifat relatif. Seperti misalnya dalam "Negara Teater" disebutkan
patokan bagi orang Bali untuk menentukan titik awal sejarahnya adalah
dari kedatangan Gajah Mada. Saya pikir hal ini bukan permasalahan yang
prinsip.

Saya mencatat para pendukung mazhab ini sebagaimana bapak sebutkan: Dr.
Djarot, Sudaryono, Ilya Maharika, Jo Santoso, Eko Prawoto, mungkin juga
bisa dimasukkan Yando. Mohon juga dicatat simpatisan untuk mazhab ini
yaitu Prof Deden, Pak BSP, dan saya sendiri.

Mungkin demikian pak, ditunggu 'efek Yogya'-nya lebih lanjut, khususnya
untuk pengembangan metodologi planologi. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Eka dan sahabats,
>
> Paparan Prof Deden memang sedikit mengejutkan saya, sebab sangat
sejalan dengan "mashab" yang dikembangkan Prof Sudaryono (Pak Guru saya)
yang sudah sejak tahun 2001 beliau canangkan dan buktikan secara
empiris, terutama saya terlibat dalam penelitian Parangtritis. Jika
orang-orang antropologi UGM mengatakan bahwa kearifan lokal adalah
"every day activities", bukan kata-kata bijak lokal (local wisdom) maka
saya cenderung mengatakan adanya nilai-nilai lokal yang mendasari
perilaku lokal sehari-hari. Penegasan ini perlu saya sampaikan sebab
kita perlu membedakan "taktik lokal" (pandangan antropolog kemarin) dari
"strategi lokal" (pandangan saya). Sementara Pak Guru saya bisa juga
berbeda, karena biasanya tinjauannya lebih mendalam, maklum senior ya.
Bagi antropolog, ojek dan angkringan merupakan siasat (taktik) lokal
yang memanfaatkan semua unsur lokalitas yang ada, dan ini sama dengan
pandangan Prof Deden yang cenderung ke siasat sebagai batu bata
> kearifan lokal, yang akan digunakan untuk melakukan pengambilan
keputusan - tindakan perencanaan ruang kota.
>
> Pak Eka tentang siapa pemashab kearifan lokal selain saya dan Pak
Guru, mungkin ada lagi yaitu teman-teman dari UII, minimal kemarin
tampil dalam seminar terbatas itu yaitu Dr. Ilya Maharika. Beliau
membimbimbing mahasiswa untuk merancang ruang publik kampung yang berada
4,2 m diatas permukaan tanah. Ini fenomena pikiran baru, bahwa ruang
publik tidak lagi melekat di tanah melainkan dirancang ada diantara
bangunan-bangunan bertingkat di kampung. Pemashab lain, saya kira
teman-teman dari UKDW atau para sahabat yang meyakini bahwa kampung
merupakan inspirasi untuk menata ruang perkotaan di Indonesia. Jadi Pak
Jo Santoso atau Pak Eko Prawoto bisa jadi masuk dalam mashab kearifan
lokal ini, karena ikonnya kampung menjadi sumber teori untuk penataan
ruang kota di Indonesia.
>
> Pak Eka saya merekam seluruh diskusi dengan handycam, jadi jika
memerlukan akan saya kirimkan via pos saja sebab dikemas dalam dvd,
termasuk foto-fotonya jika diperlukan. Semoga dalam waktu dekat bisa
saya kemas ke dalam dvd, dan dibagikan kepada sahabat yang memerlukan.
Bisa juga kalau mampir ke Jogja saya serahkan jika ada acara ke Jogja,
sambil kopi darat ya. Bahan presentasi konon menurut panitia bisa
didownload di situs mereka http://urp.ucrc-yogya.or.id.
>
> Sementara demikian,
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Thu, 1/28/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Mashab Kearifan Lokal
> To: [email protected]
> Date: Thursday, January 28, 2010, 2:46 AM
>
> Pak Djarot dan rekan2 ysh, selamat dan sukses untuk acaranya. Salah
satu
>
> kunci keberhasilan kalau boleh saya buka di sini, adalah karena Prof
>
> Deden sudah dibekali dengan "Negara Teater"-nya Geertz pada waktu kopi
>
> darat kemarin. Namun seperti biasa, tentu, saya tidak akan menerima
>
> begitu saja hasil pencerahannya. Kalau boleh saya komentari sedikit :
>
>
>
> 1) Saya cukup mengerti dengan Mazhab Chicago, yang dikumandangkan
>
> 1920an, sebagai salah satu bentuk reaksi terhadap penelitian adat
>
> kebiasaan, kepercayaan, serta praktek-praktek sosial lainnya
sebagaimana
>
> telah diprakarsai oleh Boaz, Lowie, dll, dan menggantinya dengan
>
> pendekatan dan studi kekinian untuk masalah kekinian dengan antara
lain
>
> penggunaan kuesioner dll. Selain Park, Radcliffe-Brown dan Malinowski
>
> sampai mengatakan: masa lampau itu sudah mati dan terkubur. Jadi makna
>
> 'mazhab kearifan lokal' saya tafsirkan sebagai kembali ke era histori,
>
> mitos, dan legenda, sebagaimana dirintis kembali oleh Neo Boazian dkk.
>
> Hanya kurang mengerti dan tidak tahu tentang Mazhab Los Angeles,
>
> siapa-siapa saja penggagasnya, dan bagaimana konsepnya. Mohon pak
>
> penjelasannya? Kalau boleh sekalian melampirkan materi bahan diskusi.
>
>
>
> 2) Efek Chicago terhadap perencanaan kota di antaranya muncul
>
> central-place theory, spatial diffusion of innovations, dst. Mohon
>
> penjelasan apa bentuk 'model baru' dari mazhab kearifan lokal itu
untuk
>
> perencanaan kota? Serta tentunya anti-efek Los Angeles? Mohon
kesediaan
>
> urai-babarkan sebelum tanggal 5 Feb.
>
>
>
> 3) Mazhab itu sudah lebih maju dari paradigma. Mohon kesediaan
>
> menjelaskan siapa-siapa saja yang masuk dalam mazhab kearifan lokal,
>
> selain Pak Djarot sendiri, sekurangnya ada 3-4 orang lagi?
>
>
>
> Terima kasih sebelumnya. Foto-fotonya ditunggu juga pak. Salam.
>
>
>
> -ekadj
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
>
> >
>
> > Dear All,
>
> >
>
> > Rabu tanggal 27 Januari 2010 Dr. Deden Rukmana memberikan pencerahan
>
> bagi kalangan pemerhati planning perkotaan yang menjadi peserta
Seminar
>
> Terbatas tentang "Perencanaan Kota dan Kearifan Lokal" di FIB,
>
> Yogyakarta. Inti gagasan yang disampaikan adalah bahwa mashab Chicago
>
> dan Loa Angeles sudah perlu ditinggalkan sebab terbukti menimbulkan
>
> banyak masalah bagi perencanaan kota-kota di Indonesia karena
tekanannya
>
> pada rasionalitas mean-end approach, maka perlulah mempertimbangkan
>
> kekuatan kearifan lokal sebagai mashab baru !!!
>
> >
>
> > Setelah diskusi di FIB, kami sempat berjalan menelusuri sudut-sudut
>
> kota Yogyakarta dan akhirnya piknik ke Parangtritis. Rute perjalanan
>
> kami cukup jauh, yaitu UGM, Pantirapih, Kridosono, Kotabaru, Tugu,
Jalan
>
> Mangkubumi,
>
> > Malioboro, Alun-alun utara (ada sekaten), SD Keputran, Masjid Gede,
>
> > Monumen SO di Kraton, Tamansari, Alun-alun selatan (melihat
Masangin),
>
> > Panggung Krapyak, Kasongan, RM. Parangtritis, Parangkusumo, Pantai
>
> > Parangkusumo, Parangtritis, Bukit atas Parangtritis, dan pulang ke
>
> > Bandara.
>
> >
>
> > Demikian, sekilas info jumpa darat yang sangat mengesankan
(foto-foto
>
> di Parangtritis menyusul).
>
> >
>
> > Salam,
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Djarot Purbadi


Kirim email ke