Inggih Pak ATA, kita memang harus selalu terbuka dan taat pada proses. Matur 
nuwun atas wanti-wanti yang diberikan dengan sepenuh hati,

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 1/29/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Mazhab Yogya
To: [email protected]
Date: Friday, January 29, 2010, 4:38 PM







 



  


    
      
      
      ....asalkan Mas Djarot tetap arif ...
...bahwa...
...bukan "pandangan" atau "mashab"...yang melahirkan kesejahteraan. ...
...tetapi hasil unjuk kerja yang sesuai dengan waktu-ruang- kultural setempat...


...artinya: lahirnya suatu teori baru atau berjayanya suatu mashab adalah 
karena ternyata permasalahan yang dihadapi dalam suatu masa (waktu) di suatu 
tempat (ruang) dan bagi masyarakat yang sedang berkepentingan (kultural) tidak 
lagi dapat diselesaikan melalui teori hingga mashab yang lama...

...dan kemudian penggantinya ternyata mampu menyelesaikan dengan lebih baik...
...sebelum selanjutnya terbukti bahwa dalam wrk selanjutnya ternyata ditemukan 
semakin banyak anomali baru yang menuntut perubahan... lagi....

...alam dan manusia selalu berubah...

...kalau proses pemikiran terlalu lama, suatu konsep matang secara 
antroposentris - terbatas tetapi bisa saja ternyata ....langsung ketinggalan 
jaman...
...obat "tertentu" manjur untuk penyakit yang khas dengan ke"tertentu"annya...


Salam,
ATA 
 

2010/1/29 ffekadj <4ek...@gmail. com>
















 



  


    
      
      
      

Pak Djarot ysh, memang sudah saatnya. Kita targetkan saja 6 bulan dari

sekarang, jadi sekitar Juli 2010. Saya kira karena sudah pernah diteliti

mungkin akan lebih mudah. Dari beberapa annual book yang saya lihat

cenderung berbicara masalah metodologi, sehingga pendekatannya akan

mudah untuk diikuti. Sedang obyek penelitiannya hanya dibicarakan

sekilas. Sambil jalan kita akan coba merumuskan kriterianya. Saya

mengharapkan beberapa rekan sepuh dan senior berkenan menjadi editor,

seperti Pak Wawo, ATA, Risman, Aca, A. Djunaedi, Boy, Suhadi, dll. Saya

juga mengharapkan ini bisa menjadi proyek bersama dengan organisasi

profesi dan Ditjen Penataan Ruang. Dulu Pak Deni berulang kali nagih

buku-buku apa saja yang bisa diterbitkan dari Referensi.



Sementara demikian dulu pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:

>

> Pak Eka, tampaknya memang harus dimulai ya, proses kristalisasi

pemikiran yang kayaknya menjadi mashab ini....jika para pihak yang saya

sebutkan berkenan mengisinya, tentu jadilah....yang paling saya tahu ya

mulai dari diri sendiri dulu....

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Thu, 1/28/10, ffekadj 4ek...@... wrote:

>

> From: ffekadj 4ek...@...

> Subject: [referensi] Re: Mazhab Yogya

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Thursday, January 28, 2010, 5:05 PM

>

> Baik Pak Djarot, saya barusan kepikiran, bagaimana kalau "kearifan

lokal

>

> dalam perencanaan ruang" bisa diangkat sebagai tema dalam annual book

>

> kita? Kalau sudah ada tulisan dan bahan dari sekitar 10 oranglah,

sudah

>

> bisa kita mulai? Salam.

>

>

>

> -ekadj

>

>

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:

>

> >

>

> > Pak Eka dan sahabats,

>

> >

>

> > Menurut saya masih ada satu tokoh mashab kearifan lokal yang lupa

saya

>

> sebutkan. Beliau ada di Unibraw jebolan sebuah universitas di

Perancis,

>

> namanya Dr. Galih Wijil Pangarsa. Beliau ini lebih gila menggali

>

> kearifan lokal di nusantara. Kebetulan saja, beliau ini teman satu

>

> angkatan dengan saya dan Pak Eko Prawoto. Beliau berdua adalah murid

>

> Romo Mangun, sementara saya hanyalah Bambang Ekalaya !!!

>

> >

>

> > Salam,

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > Djarot Purbadi

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> >

>

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> >

>

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> >

>

> > --- On Thu, 1/28/10, ffekadj 4ekadj@ wrote:

>

> >

>

> > From: ffekadj 4ekadj@

>

> > Subject: [referensi] Mazhab Yogya

>

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

>

> > Date: Thursday, January 28, 2010, 3:10 PM

>

> >

>

> > Dr. Djarot ysh. Bila disimak pandangan umumnya, saya memahami bila

ada

>

> kesepahaman untuk membangun mazhab, dengan varian yang khas dari

sekedar

>

> penafsiran kearifan lokal; masuk dalam kajian 'spatial-culture' yang

>

> telah kita kembangkan di milis ini. Saya berani mentabalkan, dengan

>

> mengharapkan restu dari para sepuh, menyebut mazhab ini sebagai

'Mazhab

>

> Yogya'. Mudah-mudahan dengan platform ini dapat dikembangkan secara

>

> lebih terukur pemikiran knowledgeable di kemudian hari.

>

> > Satu ciri dari Mazhab Yogya ini yang saya tangkap adalah

rujukan

>

> perencanaan pada strategi keruangan yang telah dikembangkan secara

>

> turun-temurun pada suatu tempat, dan hal-hal lain yang perlu

dipertajam

>

> lebih lanjut. Aspek strategi keruangan ini sebenarnya sudah termaktub

>

> pada beberapa khazanah budaya, seperti ungkapan : "nan lorong

tanami

>

> tabu, nan tunggang tanami bambu, nan gurun buek kaparak, nan bancah

>

> jadikan sawah, nan munggu pandam pakuburan, nan gauang katabek ikan,

nan

>

> padang kubangan kabau, nan rawang ranangan itiak".

>

> > Adapun perbedaan pandangan bapak dan antropolog masalah 'taktik' dan

>

> 'strategi', sebenarnya persoalan genre; dan patokan tentang hal itu

>

> bersifat relatif. Seperti misalnya dalam "Negara Teater" disebutkan

>

> patokan bagi orang Bali untuk menentukan titik awal sejarahnya adalah

>

> dari kedatangan Gajah Mada. Saya pikir hal ini bukan permasalahan yang

>

> prinsip.

>

> > Saya mencatat para pendukung mazhab ini sebagaimana bapak sebutkan:

>

> Dr. Djarot, Sudaryono, Ilya Maharika, Jo Santoso, Eko Prawoto, mungkin

>

> juga bisa dimasukkan Yando. Mohon juga dicatat simpatisan untuk mazhab

>

> ini yaitu Prof Deden, Pak BSP, dan saya sendiri.

>

> > Mungkin demikian pak, ditunggu 'efek Yogya'-nya lebih lanjut,

>

> khususnya untuk pengembangan metodologi planologi. Salam.

>

> > -ekadj

>

> >

>

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

>

> > >

>

> > > Pak Eka dan sahabats,

>

> > >

>

> > > Paparan Prof Deden memang sedikit mengejutkan saya, sebab sangat

>

> sejalan dengan "mashab" yang dikembangkan Prof Sudaryono (Pak Guru

saya)

>

> yang sudah sejak tahun 2001 beliau canangkan dan buktikan secara

>

> empiris, terutama saya terlibat dalam penelitian Parangtritis. Jika

>

> orang-orang antropologi UGM mengatakan bahwa kearifan lokal adalah

>

> "every day activities", bukan kata-kata bijak lokal (local wisdom)

maka

>

> saya cenderung mengatakan adanya nilai-nilai lokal yang mendasari

>

> perilaku lokal sehari-hari. Penegasan ini perlu saya sampaikan sebab

>

> kita perlu membedakan "taktik lokal" (pandangan antropolog kemarin)

dari

>

> "strategi lokal" (pandangan saya). Sementara Pak Guru saya bisa juga

>

> berbeda, karena biasanya tinjauannya lebih mendalam, maklum senior ya.

>

> Bagi antropolog, ojek dan angkringan merupakan siasat (taktik) lokal

>

> yang memanfaatkan semua unsur lokalitas yang ada, dan ini sama dengan

>

> pandangan Prof Deden yang cenderung ke siasat sebagai batu bata

>

> > > kearifan lokal, yang akan digunakan untuk melakukan pengambilan

>

> keputusan - tindakan perencanaan ruang kota.

>

> > >

>

> > > Pak Eka tentang siapa pemashab kearifan lokal selain saya dan Pak

>

> Guru, mungkin ada lagi yaitu teman-teman dari UII, minimal kemarin

>

> tampil dalam seminar terbatas itu yaitu Dr. Ilya Maharika. Beliau

>

> membimbimbing mahasiswa untuk merancang ruang publik kampung yang

berada

>

> 4,2 m diatas permukaan tanah. Ini fenomena pikiran baru, bahwa ruang

>

> publik tidak lagi melekat di tanah melainkan dirancang ada diantara

>

> bangunan-bangunan bertingkat di kampung. Pemashab lain, saya kira

>

> teman-teman dari UKDW atau para sahabat yang meyakini bahwa kampung

>

> merupakan inspirasi untuk menata ruang perkotaan di Indonesia. Jadi

Pak

>

> Jo Santoso atau Pak Eko Prawoto bisa jadi masuk dalam mashab kearifan

>

> lokal ini, karena ikonnya kampung menjadi sumber teori untuk penataan

>

> ruang kota di Indonesia.

>

> > >

>

> > > Pak Eka saya merekam seluruh diskusi dengan handycam, jadi jika

>

> memerlukan akan saya kirimkan via pos saja sebab dikemas dalam dvd,

>

> termasuk foto-fotonya jika diperlukan. Semoga dalam waktu dekat bisa

>

> saya kemas ke dalam dvd, dan dibagikan kepada sahabat yang memerlukan.

>

> Bisa juga kalau mampir ke Jogja saya serahkan jika ada acara ke Jogja,

>

> sambil kopi darat ya. Bahan presentasi konon menurut panitia bisa

>

> didownload di situs mereka http://urp.ucrc- yogya.or. id.

>

> > >

>

> > > Sementara demikian,

>

> > >

>

> > > Salam,

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > Djarot Purbadi

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> > >

>

> > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> > >

>

> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> > >

>

> > > --- On Thu, 1/28/10, ffekadj 4ekadj@ wrote:

>

> > >

>

> > > From: ffekadj 4ekadj@

>

> > > Subject: [referensi] Re: Mashab Kearifan Lokal

>

> > > To: refere...@yahoogrou ps.com

>

> > > Date: Thursday, January 28, 2010, 2:46 AM

>

> > >

>

> > > Pak Djarot dan rekan2 ysh, selamat dan sukses untuk acaranya.

Salah

>

> satu

>

> > >

>

> > > kunci keberhasilan kalau boleh saya buka di sini, adalah karena

Prof

>

> > >

>

> > > Deden sudah dibekali dengan "Negara Teater"-nya Geertz pada waktu

>

> kopi

>

> > >

>

> > > darat kemarin. Namun seperti biasa, tentu, saya tidak akan

menerima

>

> > >

>

> > > begitu saja hasil pencerahannya. Kalau boleh saya komentari

sedikit

>

> :

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > 1) Saya cukup mengerti dengan Mazhab Chicago, yang dikumandangkan

>

> > >

>

> > > 1920an, sebagai salah satu bentuk reaksi terhadap penelitian adat

>

> > >

>

> > > kebiasaan, kepercayaan, serta praktek-praktek sosial lainnya

>

> sebagaimana

>

> > >

>

> > > telah diprakarsai oleh Boaz, Lowie, dll, dan menggantinya dengan

>

> > >

>

> > > pendekatan dan studi kekinian untuk masalah kekinian dengan antara

>

> lain

>

> > >

>

> > > penggunaan kuesioner dll. Selain Park, Radcliffe-Brown dan

>

> Malinowski

>

> > >

>

> > > sampai mengatakan: masa lampau itu sudah mati dan terkubur. Jadi

>

> makna

>

> > >

>

> > > 'mazhab kearifan lokal' saya tafsirkan sebagai kembali ke era

>

> histori,

>

> > >

>

> > > mitos, dan legenda, sebagaimana dirintis kembali oleh Neo Boazian

>

> dkk.

>

> > >

>

> > > Hanya kurang mengerti dan tidak tahu tentang Mazhab Los Angeles,

>

> > >

>

> > > siapa-siapa saja penggagasnya, dan bagaimana konsepnya. Mohon pak

>

> > >

>

> > > penjelasannya? Kalau boleh sekalian melampirkan materi bahan

>

> diskusi.

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > 2) Efek Chicago terhadap perencanaan kota di antaranya muncul

>

> > >

>

> > > central-place theory, spatial diffusion of innovations, dst. Mohon

>

> > >

>

> > > penjelasan apa bentuk 'model baru' dari mazhab kearifan lokal itu

>

> untuk

>

> > >

>

> > > perencanaan kota? Serta tentunya anti-efek Los Angeles? Mohon

>

> kesediaan

>

> > >

>

> > > urai-babarkan sebelum tanggal 5 Feb.

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > 3) Mazhab itu sudah lebih maju dari paradigma. Mohon kesediaan

>

> > >

>

> > > menjelaskan siapa-siapa saja yang masuk dalam mazhab kearifan

lokal,

>

> > >

>

> > > selain Pak Djarot sendiri, sekurangnya ada 3-4 orang lagi?

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > Terima kasih sebelumnya. Foto-fotonya ditunggu juga pak. Salam.

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > -ekadj

>

> > >

>

> > >

>

> > >

>

> > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .>

>

> wrote:

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > > Dear All,

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > > Rabu tanggal 27 Januari 2010 Dr. Deden Rukmana memberikan

>

> pencerahan

>

> > >

>

> > > bagi kalangan pemerhati planning perkotaan yang menjadi peserta

>

> Seminar

>

> > >

>

> > > Terbatas tentang "Perencanaan Kota dan Kearifan Lokal" di FIB,

>

> > >

>

> > > Yogyakarta. Inti gagasan yang disampaikan adalah bahwa mashab

>

> Chicago

>

> > >

>

> > > dan Loa Angeles sudah perlu ditinggalkan sebab terbukti

menimbulkan

>

> > >

>

> > > banyak masalah bagi perencanaan kota-kota di Indonesia karena

>

> tekanannya

>

> > >

>

> > > pada rasionalitas mean-end approach, maka perlulah

mempertimbangkan

>

> > >

>

> > > kekuatan kearifan lokal sebagai mashab baru !!!

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > > Setelah diskusi di FIB, kami sempat berjalan menelusuri

>

> sudut-sudut

>

> > >

>

> > > kota Yogyakarta dan akhirnya piknik ke Parangtritis. Rute

perjalanan

>

> > >

>

> > > kami cukup jauh, yaitu UGM, Pantirapih, Kridosono, Kotabaru, Tugu,

>

> Jalan

>

> > >

>

> > > Mangkubumi,

>

> > >

>

> > > > Malioboro, Alun-alun utara (ada sekaten), SD Keputran, Masjid

>

> Gede,

>

> > >

>

> > > > Monumen SO di Kraton, Tamansari, Alun-alun selatan (melihat

>

> Masangin),

>

> > >

>

> > > > Panggung Krapyak, Kasongan, RM. Parangtritis, Parangkusumo,

Pantai

>

> > >

>

> > > > Parangkusumo, Parangtritis, Bukit atas Parangtritis, dan pulang

ke

>

> > >

>

> > > > Bandara.

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > > Demikian, sekilas info jumpa darat yang sangat mengesankan

>

> (foto-foto

>

> > >

>

> > > di Parangtritis menyusul).

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > > Salam,

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > >

>

> > >

>

> > > > Djarot Purbadi

>

> >

>





    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke