Pak Eka dan sahabats,

Paparan Prof Deden memang sedikit mengejutkan saya, sebab sangat sejalan dengan 
"mashab" yang dikembangkan Prof Sudaryono (Pak Guru saya) yang sudah sejak 
tahun 2001 beliau canangkan dan buktikan secara empiris, terutama saya terlibat 
dalam penelitian Parangtritis. Jika orang-orang antropologi UGM mengatakan 
bahwa kearifan lokal adalah "every day activities", bukan kata-kata bijak lokal 
(local wisdom) maka saya cenderung mengatakan adanya nilai-nilai lokal yang 
mendasari perilaku lokal sehari-hari. Penegasan ini perlu saya sampaikan sebab 
kita perlu membedakan "taktik lokal" (pandangan antropolog kemarin) dari 
"strategi lokal" (pandangan saya). Sementara Pak Guru saya bisa juga berbeda, 
karena biasanya tinjauannya lebih mendalam, maklum senior ya. Bagi antropolog, 
ojek dan angkringan merupakan siasat (taktik) lokal yang memanfaatkan semua 
unsur lokalitas yang ada, dan ini sama dengan pandangan Prof Deden yang 
cenderung ke siasat sebagai batu bata
 kearifan lokal, yang akan digunakan untuk melakukan pengambilan keputusan - 
tindakan perencanaan ruang kota. 

Pak Eka tentang siapa pemashab kearifan lokal selain saya dan Pak Guru, mungkin 
ada lagi yaitu teman-teman dari UII, minimal kemarin tampil dalam seminar 
terbatas itu yaitu Dr. Ilya Maharika. Beliau membimbimbing mahasiswa untuk 
merancang ruang publik kampung yang berada 4,2 m diatas permukaan tanah. Ini 
fenomena pikiran baru, bahwa ruang publik tidak lagi melekat di tanah melainkan 
dirancang ada diantara bangunan-bangunan bertingkat di kampung. Pemashab lain, 
saya kira teman-teman dari UKDW atau para sahabat yang meyakini bahwa kampung 
merupakan inspirasi untuk menata ruang perkotaan di Indonesia. Jadi Pak Jo 
Santoso atau Pak Eko Prawoto bisa jadi masuk dalam mashab kearifan lokal ini, 
karena ikonnya kampung menjadi sumber teori untuk penataan ruang kota di 
Indonesia.

Pak Eka saya merekam seluruh diskusi dengan handycam, jadi jika memerlukan akan 
saya kirimkan via pos saja sebab dikemas dalam dvd, termasuk foto-fotonya jika 
diperlukan. Semoga dalam waktu dekat bisa saya kemas ke dalam dvd, dan 
dibagikan kepada sahabat yang memerlukan. Bisa juga kalau mampir ke Jogja saya 
serahkan jika ada acara ke Jogja, sambil kopi darat ya. Bahan presentasi konon 
menurut panitia bisa didownload di situs mereka http://urp.ucrc-yogya.or.id. 

Sementara demikian,

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 1/28/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Mashab Kearifan Lokal
To: [email protected]
Date: Thursday, January 28, 2010, 2:46 AM







 



  


    
      
      
      

Pak Djarot dan rekan2 ysh, selamat dan sukses untuk acaranya. Salah satu

kunci keberhasilan kalau boleh saya buka di sini, adalah karena Prof

Deden sudah dibekali dengan "Negara Teater"-nya Geertz pada waktu kopi

darat kemarin. Namun seperti biasa, tentu, saya tidak akan menerima

begitu saja hasil pencerahannya. Kalau boleh saya komentari sedikit :



1) Saya cukup mengerti dengan Mazhab Chicago, yang dikumandangkan

1920an, sebagai salah satu bentuk reaksi terhadap penelitian adat

kebiasaan, kepercayaan, serta praktek-praktek sosial lainnya sebagaimana

telah diprakarsai oleh Boaz, Lowie, dll, dan menggantinya dengan

pendekatan dan studi kekinian untuk masalah kekinian dengan antara lain

penggunaan kuesioner dll. Selain Park, Radcliffe-Brown dan Malinowski

sampai mengatakan: masa lampau itu sudah mati dan terkubur. Jadi makna

'mazhab kearifan lokal' saya tafsirkan sebagai kembali ke era histori,

mitos, dan legenda, sebagaimana dirintis kembali oleh Neo Boazian dkk.

Hanya kurang mengerti dan tidak tahu tentang Mazhab Los Angeles,

siapa-siapa saja penggagasnya, dan bagaimana konsepnya. Mohon pak

penjelasannya? Kalau boleh sekalian melampirkan materi bahan diskusi.



2) Efek Chicago terhadap perencanaan kota di antaranya muncul

central-place theory, spatial diffusion of innovations, dst. Mohon

penjelasan apa bentuk 'model baru' dari mazhab kearifan lokal itu untuk

perencanaan kota? Serta tentunya anti-efek Los Angeles? Mohon kesediaan

urai-babarkan sebelum tanggal 5 Feb.



3) Mazhab itu sudah lebih maju dari paradigma. Mohon kesediaan

menjelaskan siapa-siapa saja yang masuk dalam mazhab kearifan lokal,

selain Pak Djarot sendiri, sekurangnya ada 3-4 orang lagi?



Terima kasih sebelumnya. Foto-fotonya ditunggu juga pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Dear All,

>

> Rabu tanggal 27 Januari 2010 Dr. Deden Rukmana memberikan pencerahan

bagi kalangan pemerhati planning perkotaan yang menjadi peserta Seminar

Terbatas tentang "Perencanaan Kota dan Kearifan Lokal" di FIB,

Yogyakarta. Inti gagasan yang disampaikan adalah bahwa mashab Chicago

dan Loa Angeles sudah perlu ditinggalkan sebab terbukti menimbulkan

banyak masalah bagi perencanaan kota-kota di Indonesia karena tekanannya

pada rasionalitas mean-end approach, maka perlulah mempertimbangkan

kekuatan kearifan lokal sebagai mashab baru !!!

>

> Setelah diskusi di FIB, kami sempat berjalan menelusuri sudut-sudut

kota Yogyakarta dan akhirnya piknik ke Parangtritis. Rute perjalanan

kami cukup jauh, yaitu UGM, Pantirapih, Kridosono, Kotabaru, Tugu, Jalan

Mangkubumi,

> Malioboro, Alun-alun utara (ada sekaten), SD Keputran, Masjid Gede,

> Monumen SO di Kraton, Tamansari, Alun-alun selatan (melihat Masangin),

> Panggung Krapyak, Kasongan, RM. Parangtritis, Parangkusumo, Pantai

> Parangkusumo, Parangtritis, Bukit atas Parangtritis, dan pulang ke

> Bandara.

>

> Demikian, sekilas info jumpa darat yang sangat mengesankan (foto-foto

di Parangtritis menyusul).

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke