Mas Risfan M. ysh, Sejak kita memasuki 'era reformasi' sepuluh tahun lalu (awal 2000an), ada yang mengatakan kita seperti 'kuda lepas dari kandang' dan sedang mencari 'kandang baru'. Masa ini mungkin seperti waktu memasuki awal era kemerdekaan atau awal 'orla' (1950an) dan awal 'orba' (1970an). Masalahnya saat ini teknologi informasi & komunikasi sudah sangat maju, sehingga semua maunya serba cepat, seperti 'dalam seratus hari' harus sudah ada realisasi program-2 pembangunan. Mungkinkan 'campursari community' ini akan butuh 'interval' waktu yang sama dengan masa 'orla' (1950an s/d 1970an) dan 'orba' (1970an s/d 2000an) yang butuh perubahan sekitar 20 - 30 tahunan (sekitar satu generasi) atau lebih cepat ? Maaf ini hanya prakiraan saja.
Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Fri, 29 Jan 2010 15:53:41 -0800 Subject: [referensi] Campursari community Rekans ysh, Kalau saya ikuti diskusi kita yang menggunakan istilah "kearifan lokal", Barat, mazhab Jogja, Bandung, kesultanan, NKRI, demokrasi, kuantitatif, kualitatif. Kesimpulan saya, pada kenyataannya kita hidup pada "ruang, waktu" yang berciri Campursari. Perubahan politik, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi (plesot) yang sulit bagi siapapun untuk berpegang atau berciri asli (original). Dalam upaya masing2 untuk "meraih yang di depan, sambil melestarikan yang lama", yang terjadi adalah CAMPURSARI. Sebagian senior mengatakan si yunior kebablasan, kebelinger. Tapi si yunior juga bilang 'ortu'nya jadul (jaman dulu). "Malin Kundang anak durhako". Demikianlah si Malin dijuluki karena mencampakkan Ibunya. Tapi dalam konteks budaya, almarhum AA Navis mengkritik anggapan itu. Menurut dia Ibunya juga punya andil besar dalam kesalahan itu, karena dia mendorong, mendoakan anaknya jadi "orang kaya, pejabat, di kota". Setelah jadi itu semua, tiba2 Ibunya menuntut si Malin menerapkan pola adat (kampung), hidup sederhana, dst. Ini tidak fair, katanya. Kita hidup dalam "ruang dan waktu". Saya hidup hari ini di Jabodetabek (nglaju, commuting), sementara Pak Djarot di Jogja, Mas Eko di Perancis, Deden di Savanah, USA. Karena teknologi kita bisa komunikasi real time. Banyak hal yang kita rasakan sebagai hal "yang sama", walau sesungguhnya kalau disadari situasi kita berbeda. Kesimpulannya, dalam komunitas Campursari, soal "ruang, waktu" bisa dijembatani. Masing2 masih bisa mengaktualisasikan budaya, kebiasaannya, dicampur dengan fakta2 aktual, kekinian, pengaruh "luar" yang sulit dihindari. Alternatif dari Campursari mungkin bukan "kembali ke tradisi", tapi Simplicity. Kalau kita berada di pusat putaran (as, Kabah), tentu kita tidak ikut pusing walau roda (kehidupan) berputar cepat. Salam, Risfan Munir _________________________________________________________________ Windows Live: Friends get your Flickr, Yelp, and Digg updates when they e-mail you. http://www.microsoft.com/windows/windowslive/see-it-in-action/social-network-basics.aspx?ocid=PID23461::T:WLMTAGL:ON:WL:en-id:SI_SB_3:092010

