Rekans ysh,
Kalau saya ikuti diskusi kita yang menggunakan istilah "kearifan lokal", Barat,
mazhab Jogja, Bandung, kesultanan, NKRI, demokrasi, kuantitatif, kualitatif.
Kesimpulan saya, pada kenyataannya kita hidup pada "ruang, waktu" yang berciri
Campursari.
Perubahan politik, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi (plesot) yang
sulit bagi siapapun untuk berpegang atau berciri asli (original). Dalam upaya
masing2 untuk "meraih yang di depan, sambil melestarikan yang lama", yang
terjadi adalah CAMPURSARI.
Sebagian senior mengatakan si yunior kebablasan, kebelinger. Tapi si yunior
juga bilang 'ortu'nya jadul (jaman dulu).
"Malin Kundang anak durhako". Demikianlah si Malin dijuluki karena mencampakkan
Ibunya. Tapi dalam konteks budaya, almarhum AA Navis mengkritik anggapan itu.
Menurut dia Ibunya juga punya andil besar dalam kesalahan itu, karena dia
mendorong, mendoakan anaknya jadi "orang kaya, pejabat, di kota". Setelah jadi
itu semua, tiba2 Ibunya menuntut si Malin menerapkan pola adat (kampung), hidup
sederhana, dst. Ini tidak fair, katanya.
Kita hidup dalam "ruang dan waktu". Saya hidup hari ini di Jabodetabek (nglaju,
commuting), sementara Pak Djarot di Jogja, Mas Eko di Perancis, Deden di
Savanah, USA. Karena teknologi kita bisa komunikasi real time. Banyak hal yang
kita rasakan sebagai hal "yang sama", walau sesungguhnya kalau disadari situasi
kita berbeda.
Kesimpulannya, dalam komunitas Campursari, soal "ruang, waktu" bisa
dijembatani. Masing2 masih bisa mengaktualisasikan budaya, kebiasaannya,
dicampur dengan fakta2 aktual, kekinian, pengaruh "luar" yang sulit dihindari.
Alternatif dari Campursari mungkin bukan "kembali ke tradisi", tapi Simplicity.
Kalau kita berada di pusat putaran (as, Kabah), tentu kita tidak ikut pusing
walau roda (kehidupan) berputar cepat.
Salam,
Risfan Munir