From: [email protected]
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Campursari community
Date: Sat, 30 Jan 2010 03:00:07 +0000
Mas Risfan M. ysh,
Sejak kita memasuki 'era reformasi' sepuluh tahun lalu (awal 2000an), ada yang
mengatakan kita seperti 'kuda lepas dari kandang' dan sedang mencari 'kandang
baru'. Masa ini mungkin seperti waktu memasuki awal era kemerdekaan atau awal
'orla' (1950an) dan awal 'orba' (1970an). Masalahnya saat ini teknologi
informasi & komunikasi sudah sangat maju, sehingga semua maunya serba cepat,
seperti 'dalam seratus hari' harus sudah ada realisasi program-2 pembangunan.
Mungkinkan 'campursari community' ini akan butuh 'interval' waktu yang sama
dengan masa 'orla' (1950an s/d 1970an) dan 'orba' (1970an s/d 2000an) yang
butuh perubahan sekitar 20 - 30 tahunan (sekitar satu generasi) atau lebih
cepat ? Maaf ini hanya prakiraan saja.
Wassalam,
Onnos
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Fri, 29 Jan 2010 15:53:41 -0800
Subject: [referensi] Campursari community
Rekans ysh,
Kalau saya ikuti diskusi kita yang menggunakan istilah "kearifan lokal", Barat,
mazhab Jogja, Bandung, kesultanan, NKRI, demokrasi, kuantitatif, kualitatif.
Kesimpulan saya, pada kenyataannya kita hidup pada "ruang, waktu" yang berciri
Campursari.
Perubahan politik, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi (plesot) yang
sulit bagi siapapun untuk berpegang atau berciri asli (original). Dalam upaya
masing2 untuk "meraih yang di depan, sambil melestarikan yang lama", yang
terjadi adalah CAMPURSARI.
Sebagian senior mengatakan si yunior kebablasan, kebelinger. Tapi si yunior
juga bilang 'ortu'nya jadul (jaman dulu).
"Malin Kundang anak durhako". Demikianlah si Malin dijuluki karena mencampakkan
Ibunya. Tapi dalam konteks budaya, almarhum AA Navis mengkritik anggapan itu.
Menurut dia Ibunya juga punya andil besar dalam kesalahan itu, karena dia
mendorong, mendoakan anaknya jadi "orang kaya, pejabat, di kota". Setelah jadi
itu semua, tiba2 Ibunya menuntut si Malin menerapkan pola adat (kampung), hidup
sederhana, dst. Ini tidak fair, katanya.
Kita hidup dalam "ruang dan waktu". Saya hidup hari ini di Jabodetabek (nglaju,
commuting), sementara Pak Djarot di Jogja, Mas Eko di Perancis, Deden di
Savanah, USA. Karena teknologi kita bisa komunikasi real time. Banyak hal yang
kita rasakan sebagai hal "yang sama", walau sesungguhnya kalau disadari situasi
kita berbeda.
Kesimpulannya, dalam komunitas Campursari, soal "ruang, waktu" bisa
dijembatani. Masing2 masih bisa mengaktualisasikan budaya, kebiasaannya,
dicampur dengan fakta2 aktual, kekinian, pengaruh "luar" yang sulit dihindari.
Alternatif dari Campursari mungkin bukan "kembali ke tradisi", tapi Simplicity.
Kalau kita berada di pusat putaran (as, Kabah), tentu kita tidak ikut pusing
walau roda (kehidupan) berputar cepat.
Salam,
Risfan Munir
Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger
_________________________________________________________________
New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.
http://windows.microsoft.com/shop