Dear sahabats,

Perkara pendatang dan asli dalam diskusi itu adalah kasus yang diungkapkan 
untuk menguji konsep kearifan lokal. Pada waktu itu tidak ada kesan membelokkan 
topik pembicaraan, tetapi menguji lebih jauh, dan ujungnya adalah : kearifan 
lokal mana yang akan diangkat untuk menjadi substansi prinsip penataan ruang 
kota jika kearifan lokal memang layak digunakan. Hal ini muncul karena pembahas 
dari antropologi mengatakan bahwa kearifan lokal adalah praktik hidup 
sehari-hari, maka pertanyaan itu muncul. Jawaban saya di milis ini juga 
demikian, tidak membelokkan topik, melainkan menunjukkan betapa sangat 
beragamnya kearifan lokal jika mengikuti pikiran antropolog itu. Begitu ya.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 1/30/10, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re:  Campursari dan Adaptasi
To: [email protected]
Date: Saturday, January 30, 2010, 11:33 AM







 



  


    
      
      
      Pak Onnos dan Rekans ysh,



Sebetulnya saya menulis istilah Campursari ini bukan saya kaitkan dengan 
gonjang-ganjing transisi politik, tapi gejala kebudayaan dalam jangka panjang 
(pura-pura seperti Toffler gitu lah Pak). Karena ada teman yang menulis tentang 
"kearifan lokal" lalu disambut dengan "pendatang vs asli".



Lokal itu apa? Asli itu apa? murni teori Indonesia itu apa? teori import itu 
apa? Lha budaya Indonesia (yang murni bukan daerah) itu juga apa?



Apa ada "manusia Indonesia" masa kini yang "asli", dengan ilmu yang "asli" 
pula? Tapi pola pikir dikotomis kan mengatakan kalau tidak asli ya pendatang. 
Kalau saya per-rumit lagi, lho "asli = suku" dong? Aslinya dulu kan Jawa, 
Sunda, Batak, Makassar, Bone, Ambon, Papua dst 



Untunglah dari Gunungkidul muncul kearifan nasional dengan istilah CAMPURSARI 
(Gunungkidul) . Jadi tak perlu debat tegang-tegang, karena istilahnya sudah 
ada, ada budaya baru namanya CAMPURSARI. Campuran lagu tradisional (Jawa, 
Batak, Manado, Minang, dst) dicampur irama disko, rock, RnB, tripping, dangdut. 
Jangan lupa irama kroncong, yang sepertinya Jawa itu juga hasil ADAPTASI dari 
musik Portugis, Balanda, daerah nusantara.



Di Kompas hari ini, ada artikel (Teroka) tentang ADAPTASI hidup di perkotaan. 
Hidup di lingkungan kota yang padat menimbulkan berbagai masalah psikologis. 
Maka warganya melakukan strategi ADAPTASI, yang muncul dalam dua gejala: (1) 
menata lingkungan, rumah, atau ruang senyaman mungkin (sesuai kepribadian dan 
budayanya); (2) ya adaptasi "persepsi" pikirannya untuk bisa menerima kenyataan 
seak, bertetangga dengan warga dari daerah yang adatnya beda-beda.



Pada dasarnya hampir semua warga hidup dalam ADAPTASI, yang seperti CAMPURSARI. 
Campuran "modern/tradisional ", maksud ekonomi/sosial.



Pak Wawo, waktu saya kuliah dulu, menanggapi budaya masyarakat transmigrasi 
pernah bilang, l.k. "nantinya masyarakat Indonesia hanya bisa mengatakan LOKASI 
tempat asalnya, bukan SUKU nya". 



Bersiaplah menjadi manusia Indonesia yang ADAPTIF, sambil menikmati musik 
CAMPURSARI, musik khas Indonesia (?).



Salam,

Risfan Munir



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..> wrote:

>

> 

> 

>  

> 

> 

> From: sugion...@.. .

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Subject: RE: [referensi] Campursari community

> Date: Sat, 30 Jan 2010 03:00:07 +0000

> 

> 

> 

> Mas Risfan M. ysh,

> Sejak kita memasuki 'era reformasi' sepuluh tahun lalu (awal 2000an), ada 
> yang mengatakan kita seperti 'kuda lepas dari kandang' dan sedang mencari 
> 'kandang baru'. Masa ini mungkin seperti waktu memasuki awal era kemerdekaan 
> atau awal 'orla' (1950an) dan awal 'orba' (1970an). Masalahnya saat ini 
> teknologi informasi & komunikasi sudah sangat maju, sehingga semua maunya 
> serba cepat, seperti 'dalam seratus hari' harus sudah ada realisasi program-2 
> pembangunan. Mungkinkan 'campursari community' ini akan butuh 'interval' 
> waktu yang sama dengan masa 'orla' (1950an s/d 1970an) dan 'orba' (1970an s/d 
> 2000an) yang butuh perubahan sekitar 20 - 30 tahunan (sekitar satu generasi) 
> atau lebih cepat ? Maaf ini hanya prakiraan saja.

> Wassalam,

> Onnos

>  

> 

> 

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> From: risf...@...

> Date: Fri, 29 Jan 2010 15:53:41 -0800

> Subject: [referensi] Campursari community

> 

>   

> 

> 

> Rekans ysh,

> 

> Kalau saya ikuti diskusi kita yang menggunakan istilah "kearifan lokal", 
> Barat, mazhab Jogja, Bandung, kesultanan, NKRI, demokrasi, kuantitatif, 
> kualitatif. 

> Kesimpulan saya, pada kenyataannya kita hidup pada "ruang, waktu" yang 
> berciri Campursari.

> 

> Perubahan politik, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi (plesot) 
> yang sulit bagi siapapun untuk berpegang atau berciri asli (original). Dalam 
> upaya masing2 untuk "meraih yang di depan, sambil melestarikan yang lama", 
> yang terjadi adalah CAMPURSARI.

> 

> Sebagian senior mengatakan si yunior kebablasan, kebelinger. Tapi si yunior 
> juga bilang 'ortu'nya jadul (jaman dulu).

> 

> "Malin Kundang anak durhako". Demikianlah si Malin dijuluki karena 
> mencampakkan Ibunya. Tapi dalam konteks budaya, almarhum AA Navis mengkritik 
> anggapan itu. Menurut dia Ibunya juga punya andil besar dalam kesalahan itu, 
> karena dia mendorong, mendoakan anaknya jadi "orang kaya, pejabat, di kota". 
> Setelah jadi itu semua, tiba2 Ibunya menuntut si Malin menerapkan pola adat 
> (kampung), hidup sederhana, dst. Ini tidak fair, katanya.

> 

> Kita hidup dalam "ruang dan waktu". Saya hidup hari ini di Jabodetabek 
> (nglaju, commuting), sementara Pak Djarot di Jogja, Mas Eko di Perancis, 
> Deden di Savanah, USA. Karena teknologi kita bisa komunikasi real time. 
> Banyak hal yang kita rasakan sebagai hal "yang sama", walau sesungguhnya 
> kalau disadari situasi kita berbeda.

> 

> Kesimpulannya, dalam komunitas Campursari, soal "ruang, waktu" bisa 
> dijembatani. Masing2 masih bisa mengaktualisasikan budaya, kebiasaannya, 
> dicampur dengan fakta2 aktual, kekinian, pengaruh "luar" yang sulit dihindari.

> 

> Alternatif dari Campursari mungkin bukan "kembali ke tradisi", tapi 
> Simplicity.

> 

> Kalau kita berada di pusat putaran (as, Kabah), tentu kita tidak ikut pusing 
> walau roda (kehidupan) berputar cepat.

> 

> Salam,

> Risfan Munir

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger  
>                                   

> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

> New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.

> http://windows. microsoft. com/shop

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke