bagaimana persisnya distribusi urban-rural dari 'demographic shift' tsb?
karena pertumbuhan negatif, artinya mortalitas > fertilitas.. dan tentunya
ada 'penuaan' demographic..
distribusi usia-jenis kelamin ini dapat dilihat dari piramida penduduk.
Namun saya duga, hal ini tidak seragam di desa dan kota.
I have no idea about Japan..
tapi jelas beda dampaknya.. secara fiskal, dilihat dari rasio
ketergantungan.. dimana penduduk usia kerja membayar pajak yg hasilnya
digunakan untuk membiayai program pemerintah yg mentargetgkan usia
non-kerja, seperti untuk pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan. Sering
juga disebut dividen demografi.

Tapi kalao di kota tidak demikian, makan tekanan2 terhadap infrastruktur dan
daya dukung fisik kota tetap menderas.

Biasanya penurunan fertilitas adalah dampak logis dari peningkatan kualitas
pendidikan terutama bagi perempuan... tentu juga nilai-2 (values) berperan.
Kalau perempuan punya pilihan.. atau terserap oleh industri yg berjenjang
karier, keputusan untuk beranak pinak akan berbeda.
Tentu juga ada trade-off kualitas vs kuantitas.


salam,
-K-


================
Harya Setyaka

973 Turtle Crest Drive | Irvine, CA 92603
Phone : +1.949.769.3624 | Mobile : +1.949.748.0978
Skype ID : harya.setyaka | BB-M PIN: 20EEEBB4

2010/2/2 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Pak Eka san sahabats,
>
> Jika memang ada rencana kopi darat di Jogja saya siap terlibat karena
> memang harus terlibat sebaik-baiknya. Seperti pesan pak Deden kepada saya
> via chatting, milis itu penting tetapi akan sangat bermanfaat jika ujungnya
> juga publikasi. Nah, kita tentunya juga akan semakin kuat menuju ke arah itu
> ya.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Tue, 2/2/10, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: - ekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] our progress [2 Attachments]
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, February 2, 2010, 11:21 PM
>
>
>
> Referensiers ysh.
>
> Ada satu budaya di Bali, yaitu 'potong gigi', ketika memasuki usia dewasa.
> Sampai sekarang saya juga masih mencari tamsil dari 'patah taring' bagi
> Ganeca, sang dewa ilmu pengetahuan. Indonesia juga seharusnya makin dewasa
> setelah Timtim dan Sipadan-Ligitan lepas dari teritorial kita.
>
> Pada tahun 2006 untuk pertama kali tercatat pertumbuhan negatif penduduk
> Jepang. Ketika sempat stagnan beberapa abad, kesertaan pada beberapa perang
> sampai pada WW2 justru meningkatkan pertumbuhan secara eksponensial hanya
> dalam hitungan puluhan tahun. Namun sejak bubble economic, pertumbuhan ini
> menurun signifikan, dan mencapai puncaknya pada 2006 ketika malah menjadi
> negatif. Pada tahun 2006 itu saya bertemu Prof Takashi Onishi dari Tokyo
> University, gurunya Jehan-Pradono- Puspita-Vera. Saya tanya kecenderungan
> ini, dijawab bahwa itu kecenderungan baik karena ada optimasi pemanfaatan
> fasilitas, namun juga sekaligus memprihatinkan untuk masa depan Jepang. Saya
> tanya lebih lanjut berapa selayaknya jumlah penduduk Jepang yang saat itu
> berjumlah hampir 128 juta. Dijawab oleh Onishi, untuk layak dan nyaman, yaah
> sekitar 100 juta.
> Sesuai dengan program kita, hari ini kita sudah 500 dari semula 700. Jadi
> sudah masuk dalam kategori kota menengah yang 'optimal'. Untuk masuk ke kota
> yang 'ideal', kita akan masuk ke tahap 4, supaya 300. Siapa bilang 'kota'
> tidak bisa 'dikendalikan'?
>
> Dalam beberapa bulan ke depan saya akan mengefektifkan 'Mazhab Yogya' dan
> '(Mazhab) Bandung', serta kemungkinan munculnya 'mazhab' lain. Dalam arti
> saya akan 'mengobservasi' pertumbuhan pemikiran di antara kita. Ini juga
> berarti selain mengefektifkan kopi darat, dalam kesempatan yang ada saya
> akan melakukan kunjungan-kunjungan pribadi ke beberapa rekan dan tokoh,
> mengumpulkan informasi secara langsung, ke Bandung, Yogya, dan siapa tahu
> ada yang mengajak ke Paris dan Chicago. Bulan Maret mendatang mudah-mudahan
> dimulai ke Yogya.
>
> Pak Risfan emailnya redundance terus setiap 15 menit, sementara saya
> moderasi dulu, namun keep posting pak.
> Untuk Bu Yati, ibu tentunya selalu ada dalam hati saya.
>
> Sementara demikian dulu. Salam.
>
> an.Mods,
> -ekadj
>
>
>  
>

Kirim email ke