Pak Sariffuddin dan rekans ysh,

Salam kenal, ikut urun rembug tentang 'kehidupan masyarakat kota', saya kira 
masyarakat kota dimanapun diatas bumi ini pada umumnya akan mengutamakan 
masalah 'ekonomi' baru 'sosial' dan 'lingkungan'. Sebagai manusia 'urban' 
awalnya harus dapat bertahan hidup dalam persaingan yang keras, kalau secara 
ekonomi sudah 'mapan' biasanya baru mulai ber-sosialisasi dengan masyarakat 
sekitarnya dan memperhatikan lingkungannya. Hanya saja kenapa banyak warga kota 
yang secara ekonomi sudah 'mapan', justru sifat 'individualisme'nya sangat 
tinggi, dengan tetangga sebelah saja banyak yang tidak saling kenal...walaupun 
mereka sudah sadar dengan kebersihan/keindahan lingkungannya, apa ini kesalahan 
'planning & design lingkungan kota' nya ?

Berbeda dengan masyarakat 'desa', mereka memang sangat dekat dengan lingkungan, 
karena hidup/makan dari hasil tani/hutan dan sangat guyub & erat kekarabatannya 
(aspek sosial), demikian juga masyarakat 'kampung-kota'. Semoga pendapat saya 
tidak terlalu melenceng dari topic diskusi.

Wassalam,

Onnos    
 


To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Thu, 11 Feb 2010 09:35:34 +0800
Subject: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  




Kepada Yth. 
Bpk. Risfan Munir dan Rekan-rekan ysh.

Sangat menarik membicarakan wacana Sustainable City, bahkan banyak konsep yang 
telah ditawarkan untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dari compact city 
hingga garden city. Tidak kalah menariknya jika kita dudukkan lagi konsep 
tersebut pada pernyataan Doxiadis (1968) yang berusaha 'membagi' kota dalam dua 
elemen besar yaitu 'content' dan 'container' atau pernyataan Prof. Eko 
Budiharjo mengenai 'city' dan 'citizen'. Prinsip sederhana yang ditawarkan 
adalah Kota bisa berkelanjutan jika ada hubungan yang harmonis antara 'content' 
dan 'container' atau 'city' dengan 'citizen-nya'. Literatur-literatur 
sustainable development banyak yang mengemukakan bahwa sustainable city dapat 
tercapai jika keseimbangan antara 'environment-social-economy' tercapai. Namun, 
dari beberapa penelitian yang pernah saya lakukan hal itu ternyata tidak 
sepenuhnya berlaku dalam lingkup masyarakat kita.

Penelitian pertama *Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Semarang, UNDIP" 
menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat berjenjang dari 
"EKONOMI-SOSIAL-LINGKUNGAN', Orientasi hidup mereka lebih mengutamakan ekonomi 
terlebih dahulu, kemudian sosial dan terakhir lingkungan. Akibatnya perhatian 
masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Pada kelompok masyarakat yang 
memiliki kemampuan ekonomi cukup baik (relatif kaya) , ternyata mereka memiliki 
perhatian terhadap lingkungan (namun setelah mereka di 'perkaya' oleh 
lingkungan sekitarnya). Mereka membuat kelompok-kelompok masyarakat untuk 
mengaktifkan kembali peran masyarakat terhadap lingkungan seperti gotong 
royong, arisan bahan bangunan untuk membangun rumah, program taman kampung, dll 
yang dimotori oleh PKK. 

Menurut pandangan saya, ini menunjukkan bahwa pembangunan dalam lingkup 
'content' akan cukup efektif untuk mewujudkan Sustainable City. Content yang 
saya maksud dikhususkan untuk manusia, atau human development. Ide sederhana 
ini sebenarnya terinspirasi oleh bukunya Dr.-ing. Jo Santoso (Menyiasati Kota 
Tanpa Warga) yang menggarisbawahi pentingnya pembangunan manusia dalam lingkup 
pembangunan. 

Mengingat selama ini, lingkup pembangunan di Indonesia atau mungkin bahkan 
sebagian besar dunia lebih berkonsentrasi pada lingkup 'container' semata yaitu 
wadah berupa pembangunan jalan, kawasan-kawasan budidaya, dll namun lingkup 
'human' sering ditinggalkan. Jika ini dibiarkan maka ketakutan Graham dalam 
bukunya Splintering Urbanism kemungkinan besar akan terjadi yaitu terjadinya 
polarisasi ruang atau fragmentasi ruang kota. Ketakutan saya pribadi jika aspek 
kemanusiaan menjadi 'anak tiri' pembangunan maka yang akan terjadi adalah 
'fenomena generasi gelembung sabun' (Soemardjan, 1984), yaitu semain besar 
gelembung sabun maka akan terlihat semakin indah dan mewah namun rawan pecah. 
Kondisi ini terjadi saat pekerjaan masyarakat tertransformasi dari sektor vital 
ke non vital atau bahkan sama sekali tidak vital, yaitu dari petani pemilik dan 
penggarap pertanian menjadi seorang buruh pabrik yang keberlanjutannya 
dipengaruhi oleh mekanisme pasar. 
Salam
Sariffuddin Abdullah


Referensi:


Budihadjo, Eko.  1998. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Bandung: Alumni.
Budiharjo, Eko. 2003. Kota dan Lingkungan Pendekatan Baru Masyarakat Berwawasan 
Ekologi. Jakarta: LP3ES.
Budiharjo, Eko., & Sudanti. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Alumni.
Doxiadis, C. A. 1968. Ekistics, the Science of Human Settlements. Science , 
393-404
Graham, Stephen and Marvin, Simon. 2001. Splintering Urbanism: Networked 
Infrastructure, Technological Mobilities, and the Urban Condition. London: 
Routledge.
Soemardjan, Hindro T.  1984. ”Pengembangan Ruang dan Papan Dalam Rangka 
Peningkatan Ketahanan Nasional”. In Boedihardjo (ed). Sejumlah Masalah 
Permukiman Kota. Bandung: Alumni, pp. 125-133

Santoso, J. 2006. [Menyiasati] Kota Tanpa Warga. Jakarta: KPG dan Centropolis.
Sariffuddin. 2006. Quality of Life and The Perception of Community in Semarang 
(Case Study: Settlement Area in Genuk, Semarang). 2nd International Conference 
on Environment and Urban Management (Science, Nature and Justice) (p. 32). 
Semarang: Soegijapranata Catholic University.




Dari: Risfan Munir <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Cc: [email protected]
Terkirim: Kam, 11 Februari, 2010 07:19:17
Judul: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  

Sdr Irendra dan Rekans ysh,

Masih terkait cerita upaya Anda, tampaknya dalam wacana Sustainable City ini 
muncul bebera buzz words seperti smart-city, compact-city, green-city.

Sebagaimana kisah Anda, keberlanjutan kota tentu mencakup atau bergantung pada 
keberlanjutan secara ekonomi, ekologi dan sosial.

Smart-city dikaitkan dengan keunggulan atau kemandirian ekonominya, selain 
teknologinya (ada cybercity?). Juga dalam pengelolaan waste, agar tidak ekspor 
sampah, air kotor ke tempat lain.

Compact-city, mengacu pada kekompakan, pengaturan agar bisa mengurangi 
kebutuhan transportasi. Tidak lapar lahan. Pada aspek sosial juga bisa 
diartikan sebagai cohesiveness, kuatnya social capital, kerukunan warga.
Green-city, barangkali ini sudah banyak dibahas.

Pendekatannya seperti biasa tiga jalur. Jalur pemerintah dengan turbinwas nya. 
Jalur swasta dengan mengundang atau mengendalikan pembangunan yang mereka 
lakukan, mempromosikan sustainable city itu.
Jalur ketiga, yang Anda sudah mulai, dan yang saya ceritakan kemarin. mudah2an 
memancing tulisan dan ide lain.

Salam,
Risfan Munir









From: Irendra Radjawali <ra...@hotmail. com>
Sent: Tuesday, February 09, 2010 4:11 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  



Pak Risfan yang baik,



kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, 
ekonomi, dan sosial-budaya.
dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang 
"energi". Akhirnya,
kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang 
politik kota agar warga
bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan 
sampah basah dan kering,
kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan 
"fuel-cell", kemudian kampanye
juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), 
dan kami juga mencoba membuka
jaringan pada pengambil keputusan. 


Salam hormat dan jabat erat,
Radja

"Hasta La Victoria Siempre"





To: refere...@yahoogrou ps.com
From: risf...@yahoo. com
Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800
Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  


Rekans ysh,

Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman 
pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan 
lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi.
DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit.

Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan.

Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan?

Salam,
Risfan Munir






Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger



Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)



                                          
_________________________________________________________________
New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for you.
http://windows.microsoft.com/shop

Kirim email ke