....hmmmm, ....tahun 1960-an 90 % penduduk non-kota ada berapa ya...? ....sedangkan 50 % penduduk non-kota tahun 2010 tinggal berapa ya...??? ....yah masih ratusan juta.....dengan kemampuan yang kira-kira tidak sangat jauh berbeda.....namun dengan daya dukung lingkungan non-kota plus imbas kota yang lebih parah.... ...kalau begitu ...apakah prioritas pembangunan (plus penataan ruang...?) masih bias kota atau adakah pahlawan bagi mereka? ... who cares...???
Salam, ATA 2010/2/10 hengky abiyoso <[email protected]> > > > Pak Risfan ysh, > > Sesuai zamannya atau masanya dan dasar lbh berlatar belakang arsitektur > ….saya kira pak Wawo tidak salah ……. > > Beliau lbh mengajarkan ttg city planning sbg barang baru di Indonesia pd > sekitar 1960-an dimana proporsi penduduk urban kita barangkali masih kurang > dari 10% atau artinya jumlah penduduk Indonesia yg tinggal diperkotaan baru > kurang dari angka 10%an dan 90%an masih tinggal di perdesaan ….atau artinya > arus urbanisasi hampir2 saja belum memiliki arti penting dlm kehidupan > perkotaan ……Jakarta mungkin baru berpenduduk sekitar angka 2 juta jiwa….… > > Sekarang sudah tahun 2010 atau 50 tahun tlah berlalu….. kala itu yg namanya > studio televisi dan pesawat tv dirumah penduduk juga belum ada …..namanya > kamera dan foto juga masih baru mengenal yg B&W….. pesawat telpon masih > banyak yg model diputar dulu lalu pelanggan minta per lisan kekantor > telpon utk dihubungkan dgn nomor lain …. Interlokal minta dari Jkt ke Puncak > pagi ini minta ke operator siang nanti mungkin baru tersambung krn ngantre…… > > Satu dekade kemudian yg namanya tv masih B&W dan baru hanya ada 1 channel > yaituTVRI, mulai siaran sekitar jam 4.30 sore berakhir pkl 11.00 malam (jd > remote control belum perlu) ….sistem fotografi mengenal foto color yg masih > pake film dan perlu 3 hr utk cuci cetak krn prosesnya masih di Singapura > ……sampai Juli 1981 kantor saya dulu perusahaan PMA jg masih belum pake > secuil perangkat komputerpun ….. > > Tapi kini ……proporsi penduduk urban kita sudah melewati angka 50% > .....semua perangkat kehidupan modern planners yg harus serba diimpor dan > harus ditukar dgn ekspor kita berupa apa saja sejak dari ekspor gas, kayu > gelondongan smpai ekspor pesawat dan teaga PRT ……city planning sejak lama > sdh diwarnai dgn bentrokan antara satpol PP dan pedagang kakilima yg digusur > …..angka pengangguran 9 juta pekerja ….jalan tol sdh hampir selalu macet > ….pc komputer sdh hinggap hampir ditiap rumah penduduk perkotaan ….tak lagi > kapasitas 265 mhz namun 100GB ….hampir setiap orang tlh memiliki telpon > genggam ……pertanyaan ini mungkin bukan semata tertuju ke pak Risfan…. > masihkah dunia pendidikan dan otoritas planning mau bergeming dgn city > planning kelas pot tanaman dirumah2 penduduk dan pemilah2an sampah kering > dan basah?...........salam, aby > > > --- On *Tue, 2/9/10, Risfan M <[email protected]>* wrote: > > > From: Risfan M <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > To: [email protected] > Date: Tuesday, February 9, 2010, 8:22 PM > > > Pak Aby dan Rekans ysh, > > Hi..hi..hi.. .Ya begitulah Pak Aby, sekali lagi silahkan main-main ke Cipta > Karya, Tri-Bina itu asli konsep dari situ kok, dulu untuk KIP tapi filosofi > atau prinsipnya dikembangkan terus sampai sekarang, sebagian tentu dibawa ke > KemPerumahan oleh teman-teman yang migrasi kesana. > > Atau Bapak lebih mengenal lagi lah pemikiran dan karya Pak Wawo. Yang > ngajari saya menggarap yang appropriate (small is beautiful) juga beliau > kok. Malah Pak Wawo setahu saya jarang bicara soal skala regional, nasional. > Atau Pak ATA, Ekadj, Djarot dengan fenomenologi dan kearifan lokalnya yang > tiap hari muncul disini. > > Jangan dilihat kecilnya, tapi replikasinya yang meluas. Dan, ada proses > menfasilitasi partisipasi komunitas nya. Apalagi di era sekarang ini. > Seperti posting sdr Pandhu kemarin.Yang mengisi ruang itu masyarakat > (investor, swasta, swadaya warga). Swasta a.l. pengembang dari yang > membangun new town, sampai rumah tinggal, ruko-ruko. Investor jalan tol. > Di sisi lain ada Swadaya masyarakat (insentif KIP, fasilitasi model PNPM > (PPK, P2KP)yang juga Tribina itu). Sekali lagi peran pemerintah (nasional, > daerah) dalam memfasilitasi, mendorong replikasi, membuat panduan, termasuk > yang teknis (tata ruang. tata lingkungan, tata bangunan, sistem drainase, > pembuangan sampah dst) > > Sekolah PWK juga belajar siteplan dan tata-desa atau community development > lho Pak. Sedih ya .. tidak sesuai bayangan Bapak. Tapi, ya itulah dunia PWK > ada yang nasional, regional, kota, kampung, site. > > Jadi ada yang membuat kerangka ruang, ada juga dikembangkan model > fasilitasi kegiatan untuk mengisinya. Dengan begitu, bukan aspek perencanaan > saja, aspek pemanfaatan, dan nanti pengendaliannya juga tersentuh. Istilah > sdr. Pandhu tidak nyusun kitab saja. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > --- On *Tue, 2/9/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>* wrote: > > > From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Tuesday, February 9, 2010, 9:40 PM > > > > > > From: "Risfan M" <risf...@yahoo. com : > > *“…….**Pak Aby, dengan segala hormat ada baiknya Bapak lebih mengenal > berbagai sisi dari dunia PWK dan praktisinya lebih lengkap. Mungkin yang > Bapak gauli baru dari sisi "national spatial planning"nya. Ada baiknya Bapak > kenalan juga dengan teman2 di Cipta Karya dan Kementerian Perumahan yang > sudah lama mengembangkan community based housing atau infrastructure. Ada > konsep seperti Tribina "bina lingkungan - bina usaha - bina manusia" yang > awalnya dikembangkan planner yang terus mengalami perkembangan dengan > berbagai manifestasinya hingga saat ini…**…”.* > > > > Pak Risfan ysh, > > Terimakasih utk nasehatnya ….dengan segala maaf dan dengan segala hormat > saya juga, saya tentu saja serba sedikit telah mencoba mengenali bbrp sisi > dunia PWK (saya lihat ada “W”nya juga selain ada “K”nya) dan coba > kenali satu dua praktisinya …..bhw saya terlihat lbh banyak menggauli sisi > “national spatial planning’ ….juga sisi national urban planning lbh daripd > sisi city planning atau plgi community planning …..krn saya berpikir bhw > sisi city planning atau aplg community planning msh banyak disiplin > ilmiah lain yg bisa bantu dan mau dgn senang hati bantu lakukan ……spt > arsitek, ahli lingkungan, sosiolog dsb …termasuk jg contoh kasus desa > Banjarsari Cilandak, JktSel yg tlh anda singgung ….kita dpt lihat disana bhw > seorang Ibu Harini B Wahono (70thn) yg mungkin tak pernah belajar city > planningpun (jg Niniek Nuryanto dari Kp, Rawajati dsb yg jg mperoleh > penghargaan lingkungan) ternyata mampu menggerakkan lingkungannya utk > sadar lingkungan hijau dan sadar budaya daur ulang (waste management) ……aplg > arsitek dan ahli lingkungan…… > > Demikian jg dgn tribina….. selain Bina Lingkungan spt contoh diatas > menunjukkan dpt ditangani oleh nonplanners ….rasanya yg namanya Bina > Usaha jg dgn telaknya dpt ditangani oleh KemUKM bahkan jg Ditjen Industri > Kecil …Bina Manusia jg kiranya bisa oleh yayasan rohaniah misalnya….. > > Bhw sy berpendpt masyarakat planning perlulbh menambah bobot perhatiannya > ke urban planning serta lbh memperhatikan kepentingan skala nasional berkait > ekonomi dan sosial, demografik, hankam dsb … itu krn pd bidang2 itu rasanya > orang2 spt Ibu Harini dan ibu Niniek diatas kiranya tak akan lagi mampu > membantu masyarakat planners walau mereka2 tentu ingin ……banyak sekali > agenda national urban planning yg strategis dan masih tercecer blm > tertangani/ terjamah …..dan blm tentu itu dpt menjadi fokus pemikiran > disiplin2 ilmiah lain selain drpd planning ……salam, aby > > > > --- On *Tue, 2/9/10, Risfan M <risf...@yahoo. com>* wrote: > > > From: Risfan M <risf...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Tuesday, February 9, 2010, 5:23 PM > > > Bu Yati, Irendra, Pak Aby dan Rekans ysh, > > Iya Bu Yati, minggu lalu saya lihat di Kompas (lembar anak) ada foto > kegiatan anak-anak dihadapan billboard besar bertulisan "Kota Kita", disitu > anak diajak mengapresiasi lingkungan sekitarnya. Saya jadi ingat dulu Pak > Otto Soemarwoto juga sampai menulis cerita anak-anak pula untuk mengenalkan > ekologi. Sekarang yang melakukan Prof Johanes Suryo unuk mengenalkan IPA > pada anak-anak. > > Rekan Irendra, saya pikir yang Anda lakukan bersama betul-betul merupakan > awal yang menggembirakan. Melihat sustainable city dari sisi "waste > management" dan "alternative energy". Dan sudah menggarapnya berbasis > governance (dialog public), sehingga melibatkan peran masyarakat. > > Apa yang ditulis Pak Ibnu Taufan sebelumnya mengenai kampung Banjarsari di > Jakarta Selatan juga inisiatif seorang ibu dalam mengolah sampah menjadi > kompos, lalu mengembangkan tanaman hias, yang ternyata meluas ke kelurahan > lain, dan berbagai bagian dari metropolitan Bodetabek. Suatu hal yang sejauh > ini belum berhasil dilakukan Dinas-dinas yang berwenang. Tentu keterbukaan > Pemda untuk mereplikasinya amat penting. > > Saya juga pernah memfasilitasi pengembangan kegiatan sejenis di kota > Bukittinggi. Kota wisata itu punya masalah laten dalam pengelolaan sampah. > Karena kapasitas Pemda terbatas dan kesulitan lokasi TPA, karena TPA nya di > Kabupaten Agam. Seperti kasus kota Tangerang Selatan saat ini. Yang saya > fasilitasi inisiatif nagari-nagari untuk mengorganisir warga mengolah sampah > sendiri, mengenalkan teknologi kompos, lalu supaya lebih bergairah saya > usulkan dikembangkan menjadi kegiatan pengembangan tanaman hias. Ini > menyangkut teknologi sederhana, tapi kuncinya ialah mengajak warga, > menggunakan social capital yang ada. Replikasi sudah terjadi, mudah-mudahan > itu berjalan sustainable. > > Pak Aby, dengan segala hormat ada baiknya Bapak lebih mengenal berbagai > sisi dari dunia PWK dan praktisinya lebih lengkap. Mungkin yang Bapak gauli > baru dari sisi "national spatial planning"nya. Ada baiknya Bapak kenalan > juga dengan teman2 di Cipta Karya dan Kementerian Perumahan yang sudah lama > mengembangkan community based housing atau infrastructure. Ada konsep > seperti Tribina "bina lingkungan - bina usaha - bina manusia" yang awalnya > dikembangkan planner yang terus mengalami perkembangan dengan berbagai > manifestasinya hingga saat ini. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > --- On *Tue, 2/9/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>* wrote: > > > From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > To: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> > Date: Tuesday, February 9, 2010, 6:28 PM > > > > Iya bener itu pak….. dan gimana kalau sekalian tiap sabtu minggu mereka > diajakin pd bawa pengki dan sapu lidi bersihin got dan jalan ….khan biar > sekalianan ….bukan hanya hijau saja tapi sekaligus bersih gitu …….hehe …ini > ceritanya planner jenuh dan ngajak tukeran lingkup pengabdian sama > arsitek lansekap dan ahli lingkungan gitu ya hehe…… iya sih… bener itu, biar > mereka ganti sekali2 pd tahu dan ngerasa bhw mikirin lingkungan itu ternyata > ‘lbh mewah’ dan ‘lbh asyik’ ketimbang bgmn beratnya mikirin penanggulangan > kemiskinan, perluasan kesempatan kerja ataupun peningkatan kapasitas ekonomi > nasional dan memajukan ekonomi sosial kawasan2 tertinggal …. Kalau nanem yg > hijau2 gitu khan enak, konkrit dan asyik gitu ya …. Sudah kerjanya > gampang, langsung keliatan hasilnya dan bisa langsung dinikmati pula > pemandangannya …..yah maklumlah, kerjanya planner itu (supposed) > memikirkan yg berat2 (amat sering jg abstrak) dan amat sangat melelahkan > (tapi mulia) ttg ekonomi sosial ruang …bahkan tak kurang jg hankam, budaya > dsb ……jadi kalau pegel ya sekali2 perlu ‘rekreasi’ batin juga dong ya? > :).......…lanjutkan, lbh cepat lbh baik…....:) > > > > > > Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > > Tuesday, February 9, 2010 1:35 PM > > From: "Budhy TS Soegijoko" <budh...@gmail. com> > > > > Pak, bgm kl mengajak warga menanam di"pekarangan" masing2 dalam pot2 dari > kaleng, dari kotak2 bunga kayu. Paling tidak menghijaukan dan membuat > lingkungan sekitar kita asri. Ajak anak2, spy dari dini mereka telah 'aware' > ttg tanam-menanam. > > > > On Feb 9, 2010, at 6:56 AM, Risfan M wrote: > > > > RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > > Tuesday, February 9, 2010 1:11 AM > > From: "Irendra Radjawali" <ra...@hotmail. com> > > > > > > Pak Risfan yang baik, > > kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, > ekonomi, dan sosial-budaya. dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba > membongkarnya dari sudut pandang "energi". Akhirnya, kami mencoba > melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang politik > kota agar warga > > bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti > memisahkan sampah basah dan kering, kemudian teman-teman muda di Unhas > mencoba mengganti beberapa ojek dengan "fuel-cell", kemudian kampanye juga > mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), dan > kami juga mencoba membuka jaringan pada pengambil keputusan. > > Salam hormat dan jabat erat, > > Radja > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > From: risf...@yahoo. com > Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800 > Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City > > Rekans ysh, > Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, > penanaman pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah > terjadi. Bulan lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi. > DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya > deficit. > Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan. > Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan? Salam, > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > >

