Pak Rachmad dan rekans ysh, Kebetulan akhir tahun 1997 sd 1998 saya melakukan studi bersama NSW & PPI tentang urban drainage system. Kebetulan ada bagian yang menyinggung permukiman bagi komunitas sekitar sungai Ciliwung (bagian dari kajian ini digunakan John Lang sebagai proyek kajian mahasiswanya, dan sudah disajikan di dki, termasuk berbagai catatan kelemahannya). Dengan terjadinya krisis properti dan reformasi tahun 1998 usulan dan rencana relokasi serta pembangunan baru di tempat relokasi dan di kawasan kota sekitar (sesuai studi tersebut) tidak dilanjutkan apalagi direalisasi.
Hal yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa lahan permukiman masyarakat yang mengungsi (yang setiap tahun tahun diblow up di mass media) setempat memang berada di bawah muka air sungai saat banjir. Menurut ramalan bahkan pada banjir 100 tahunan bahkan lebih dari 2 m di bawah muka air saat banjir (beberapa bahkan lebih dari 4 m). Mereka sendiri setiap tahun selalu siap untuk pindah ke rumah saudara atau kerabat lainnya. Ini juga diakui oleh beberapa peserta yang tinggal dilokasi serupa pada saat saya ceramah tentang banjir pada kesempatan lain. Artinya, untuk sekian banyak KK yang terlibat terdapat kecenderungan: 1). ada lahan yang memang tidak kondusif untuk dibangun rumah susun karena memang berada di bawah permukaan air sungai saat banjir. 2). warga setempat sudah biasa ber-daur-hidup bersama banjir dan siap mengantisipasinya dengan pindah secara periodik setiap tahunnya, bahkan sejak bertahun yang lalu. 3). warga tidak mau pindah dan mengubah cara hidupnya. 4). bangunan yang tenggelam banyak pula yang permanen. 5) kondisi tersebut tentu berbeda dengan konsep LR atau LP yang dibicarakan selama ini. Saya cuma ingin memberi catatan bahwa setiap usulan dan perhitungan hendaknya diuji dengan pengetahuan yang memadai mengenai lingkungan tempat terjadinya masalah (place & people based)...sebelum menyiapkan usulan tertentu atau bahkan yang lebih drastis (urban renewal, seperti kawasan tertentu di Korea dan Jepang). Salam, ATA 2010/2/15 - ekadj <[email protected]> > > > Pak Rachmad dan Pak BTS, mudah-mudahan bisa nyangkut ke Pak MosheDayan juga > ysh. > Mengenai istilah ini sebenarnya mengandung maksud yang hampir sama, hanya > berbeda dalam metode di tiap negara, sehingga bisalah kita masukkan dalam > kategori 'land management/development'. Kalau secara picik asal-usulnya > adalah 50% LR Jepang diterapkan oleh Taiwan menjadi Land Banking, dan 50% LB > Taiwan diterapkan oleh Indonesia menjadi Land Consolidation. Kalau > diperhatikan dari kebijakan kita, LC merupakan 'pengaturan paling primitif > dari land management', karena hanya menata batas-batas persil serta > 'menyisakan' (sekitar 10%?) untuk lahan publik. Jadi hampir tanpa proses > replotting persil. LC lumayan efektif pada kasus 'lahan perdesaan', seperti > telah diuraikan Pak BTS, atau pada lahan yang relatif kosong. > Land pooling seperti yang diungkapkan Pak BTS, lumayan meluas diterapkan di > (perkotaan) Australia. Namun metode ini saya perkirakan cukup egois, seperti > yang telah diuraikan di bawah. > LR dihitung berdasarkan 'konsep nilai lahan', dan memiliki jarak pengaruh > pada lahan sekitarnya. Metode ini digunakan untuk merekonstruksi perkotaan > di Jepang, Korea, Jerman, dan mulai diterapkan di US, Eropah, dll. Sekitar > 50-70% lahan perkotaan di Jepang dibangun dengan metode ini. Metode ini > mampu menyediakan 30-40% lahan publik. > > Dari kasus yang disampaikan Pak Rachmad di bawah, bila menggunakan LR, > dengan asumsi ada 12.750 m2, maka cakupan kawasan yang dievaluasi mencakup > 3~4 x 12.750 m2. Dari perhitungan standar, maka akan diperoleh sekitar 30% x > (3~4 x 12.750) m2 lahan untuk publik (jalan, RTH, dll), atau praktis seluruh > lahan rawan banjir dapat dijadikan sebagai lahan publik. Beberapa prakondisi > dari penerapan LR ini adalah perkiraan kenaikan nilai lahan sekurangnya 160% > selama kurun waktu rencana (20 tahun? atau bisa dipatok 10% (during > construction)). > > Sementara demikian dulu. Salam. > > -ekadj > > 2010/2/15 Rachmad M <[email protected]> > > >> >> Pak bambang ysh, >> >> Terima kasih dan maaf kalau ada istilah yang membingungkan karena saya >> bukan orang PL sih. Tapi konsep LC yang saya maksud ya LP itu :-) >> >> Mindset Pemerintah daerah harus diubah dari konsep menggusur dengan ganti >> untung menjadi menata. Ini sangat penting mengingat menggusur hanya akan >> membuat kota menjadi melebar dan penanganan infrastrukturnya menjadi sulit >> dan mahal. >> >> Namun jika kita gunakan konsep menata, maka akan memperoleh partisipasi >> aktif dari masyarakat. Bisa dimulai dari daerah bantaran sunagai yang stiap >> tahunnya kebanjiran walau hanya sehari dua hari dan bisa dilanjutkan ke >> kantong-kantong kemiskinan dengan infrastruktur yang buruk seperti rumah >> liar di sepanjang rel etc. >> >> Prioritasnya adalah masyarakat setempat sehingga diperoleh lahan baru guna >> pengembangan selanjutnya. Dari contoh Pemda butuh modal awal 5.000 m2. >> Kemudian dengan memindahkan 425 KK korban banjir diperoleh setidaknya 12.750 >> jika masing-masing keluarga kita asumsikan hanya punya 30 m2. 5.000 >> diperbaiki dari bahaya banjir dan dibangun apartemen baru dan sisanya 7.750 >> dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH). >> >> Kita pindahkan lagi 425 KK berikutnya, dan RTH menjadi 15.500 m2 demikian >> seterusnya sehingga RTH juga akan terus berkembang luas sebagai sarana >> rekreasi dan olah raga masyarakat setempat pasa daat tidak banjir tentunya >> :-) >> >> Salam >> >> RM >> >> >> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, "Bambang >> Tata Samiadji" <bta...@...> wrote: >> > >> > >> > >> > Bung RM, terima kasih,..jadi bukan Land Readjustment (sorrry sebelumnya >> > saya tulis Reajustment) tapi ide Anda disebut Land Pooling. >> > >> > Sekedar share saja. Kalau di Indonesia itu pengertian Land >> > Consolidation (L/C) itu sama dengan Land Readjustment (L/R), yaitu >> > replotting hak-hak tanah di mana pemilik masih berada di kavling semula >> > (biasnya pada tanah-tanah kosong), hanya bentuknya di -adjust; sedangkan >> > Land Pooling (L/P) itu hak-hak tanahnya di-pool, seterusnya di atur >> > kembali dan pemilik tanah tidak harus berada di kavling tanahnya. Kalau >> di >> > Jepang (saya ingat ketika bekerja di JICA), L/C terdiri atas 2 cara >> yaitu >> > L/R atau L/P. Jadi ketika Anda menyebut L/C sebetulnya tidak salah >> > karena L/P bagian dari L/C juga, cuma saya duga L/C yang Anda >> > maksud L/C-nya pengertian Indonesia yang sama dengan L/R. >> > >> > Thanks. CU. BTS. >> > >> > > Pak Bambang ysh, >> > > >> > > Betul, dalam contoh ini kita mau reploting 425 KK yang mengungsi >> > ini >> > > kedalam lahan 5.000 m2 milik pemda yang dijadikan Rumah >> > Susun. Otomatis >> > > hak-haknya akan rumah permanen atau semi >> > permanen dilahan terdahulu hilang >> > > begitu dipindahkan. Dan lahan >> > itu dapat diplot lagi untuk kepentingan >> > > selanjutnya dengan >> > demikian maka RTH akan bertambah sesuai deret ukur. >> > > >> > > >> > Jasi maksud saya bukan reploting dengan tetap tinggal di lahan datar, >> > > mereka kita naikkan keatas. >> > > >> > > >> > > Salam >> > >> > > >> > > RM >> > > >> > > --- In >> > [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, Bambang Tata >> Samiadji <btsamiadji@> >> > >> > > wrote: >> > >> >> > >> Ysh. Bung RM...semua di >> > dunia ini apa sih yang nggak mungkin? Yang saya >> > >> cermati >> > adalah ide Konsolidasi Tanah. Konsolidasi Tanah, lebih tepatnya >> > >> Land Reajustment, adalah semacam replotting hak-hak tanah. >> > Umumnya >> > >> tanah-tanah yang akan di-replot itu masih kosong >> > atau ada bangunan semi >> > >> permanen..atau kalau sudah ada >> > bangunan permanen masih banyak yang >> > >> kosong sehingga bisa >> > di-replot. Kalau di Jakarta sedikit yang kosong >> > >> sehingga >> > tidak bisa /sulit bisa di-replot. >> > >> Â >> > >> Thanks. CU. BTS. >> > >> >> > >> --- Pada Ming, >> > 14/2/10, Rachmad M <rachmadm@> menulis: >> > >> >> > >> >> > >> Dari: Rachmad M <rachmadm@> >> > >> Judul: [referensi] Re: Banjir dan Penyelesaiannya >> > >> Kepada: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com> >> > >> Tanggal: >> > Minggu, 14 Februari, 2010, 2:14 PM >> > >> >> > >> >> > >> Â >> > >> >> > >> >> > >> >> > >> Pak Bambang ysh, >> > >> >> > >> Memang tidak >> > mudah tapi asal ada kemauan yang keras guna meningkatkan >> > >> >> > kesejahteraan masyarakat untuk dapat hidup dilingkungan yang lebih baik >> > >> > >> pasti bisa. >> > >> >> > >> Sebagai gambaran >> > untuk pengungsi yang berjumlah 1.700 jiwa ini. >> > >> Dibutuhkan >> > lahan hanya 5.000 m2, sementara akibat pemindahan 1.700 jiwa >> > >> akan diperoleh lahan seluas 425 KK X luas masing-masing >> > keluarga. Jika >> > >> masing-masing hanya punya tanah 30 m2 sudah >> > kembali seluas 12.750 m2 dan >> > >> demikian seterusnya . >> > >> >> > >> Salam >> > >> >> > >> RM >> > >> >> > >> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Bambang >> > Tata Samiadji" <btatas@> >> > >> wrote: >> > >> >> > > >> > >> > >> > >> > >> > >> > Yth. Bung >> > RM, saya hargai pendapat Anda. Tapi tak mudah. Konsolidasi >> > >> >> > tanah >> > >> > itu tidak bisa dilakukan pada kawasan yang sudah >> > terbangun seperti >> > >> Jakarta >> > >> > ini. >> > >> > >> > >> > Thanks. CU. BTS. >> > >> > >> > >> > >> > > Pak Eka Ysh, >> > >> > > >> > >> > >> > >> > > Terus terang saya gemes melihat >> > bencana banjir yang selalu >> > >> > berulang tiap >> > >> > > tahunnya. Memang jika terjadi banjir 100 tahunan >> > >> > apa mau dikata, tapi >> > >> > > kalau >> > tahunan dan tahun depan akan >> > >> > menghadapi hal yang sama >> > tentu ini >> > >> > > suatu kesalahan yang fatal >> > >> > :-) >> > >> > > >> > >> > > Ide >> > ini sebenarnya juga untuk mengakomodasi >> > >> > kebutuhan akan >> > Ruang Terbuka >> > >> > > Hijau (RTH) dan sekaligus Mitigasi >> > >> > >> > (tindakan terencana dan berkelanjutan >> > >> >> > > > agar bisa mengurangi >> > >> > dampak jangka panjang >> > atas kehidupan dan properti di >> > >> > > satu >> > >> > daerah yang terkena bencana) >> > >> > > >> > >> > > Gagasan yang ada >> > >> > dibelakangnya >> > adalah konsolidasi lahan yang seharusnya >> > >> > > diawali >> > >> > >> > dari lahan pemerintah didekat lokasi yang hendak >> > ditata agar >> > >> > > >> > >> > masyarakat tidak >> > tercabut dari akarnya. Saya gunakan istilah Tata >> > >> untuk >> > >> > >> > >> > > menggati 'pembebasan lahan' >> > karena pada dasarnya sebuah kota >> > >> > metropolitan >> > >> > > seperti Jakarta ini memang membutuhkan keragaman >> > >> > jenis tenaga kerja yang >> > >> > > sangat >> > lebar. Dilain pihak penggusuran >> > >> > dengan ganti rugi >> > ternyata juga >> > >> > > menimbulkan masalah baru yakni >> > >> > semakin melebarnya kota yang menjadi sulit >> > >> >> > > > penanganannya. >> > >> > > >> > >> > > >> > Konsolidasi lahan ini tentunya ditujukan agar biaya >> > >> > >> > konstruksi pembangunan >> > >> > > apartemen murah ini tidak >> > dibebani >> > >> > tingginya harga tanah. >> > >> > >> > > >> > >> > > salam >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > RM >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > >> > >> > > --- In >> > >> > refere...@yahoogrou >> > ps.com, "ffekadj" <4ekadj@> wrote: >> > >> > >> > >> > >> >> > >> > >> >> > >> > >> > >> Pak Rachmad ysh, sudah lama >> > >> > tak posting, >> > mudah-mudahan bisa intens lagi. >> > >> > >> Gagasannya >> > >> > >> > menarik, konstruktif, dan feasible pak. Ada beberapa >> > gagasan >> > >> > >> sebenarnya: 1) provisi lahan publik >> > (RTH/RTB), 2) mitigasi >> > >> > bencana, 3) >> > >> > >> > >> heavy construction for the poor, 4) investasi >> > >> > >> > >> > >> > >> <http://groups. yahoo.com/ >> > group/referensi/ message/92> >> > >> > publik, 5) >> > >> > >> (local) government initiatives, dll. >> > >> > >> >> > >> > >> Kalau dapat gagasan >> > ini dibicarakan dalam >> > >> > diskusi Jakarta 2030. Uangnya >> > >> > >> > >> juga 'uang kecil', sekitar >> > >> >> > > 0,05% APBD. Jadi t1 bisa inisiasi, t2 >> > >> > >> >> > konstruksi, dan t3 >> > >> > ditempati. Untuk masalah bencana >> > kita memang harus >> > >> > >> >> > >> > >> > pragmatis, 'belum kuat' menentang kehendak alam. Termasuk >> > >> >> > > >> >> > >> > dipertimbangkan juga pak, banjir 2006 >> > sudah sampai ke Merdeka Utara. >> > >> > >> Salam. >> > >> > >> >> > >> > >> -ekadj >> > >> > >> >> > >> > >> >> > >> > >> > >> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Rachmad >> > >> >> > > M" <rachmadm@> wrote: >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > Setiap tahun pasti >> > kita membaca problem banjir yang melanda Jakarta. >> > >> > >> > >> Telah banyak upaya dilakukan antara lain membuat Banjir Kanal >> > >> > Timur yang >> > >> > >> menelan banyak >> > biaya. >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > Namun, sebenarnya ada cara yang lebih mudah mengatasi ini >> > >> >> > > yakni >> > >> > >> membiarkan daerah genang menjadi >> > daerah hijau. Pada >> > >> > saat banjir, biarkan >> > >> >> > > >> daerah ini banjir oleh karenanya pada >> > >> > >> > daerah tersebut dilarang >> > >> > >> dipergunakan untuk >> > hunian. >> > >> > Pergunakan saja untuk pertamanan atau kawasan >> > >> > >> > >> kaki lima. >> > >> > >> > >> >> > > >> > >> > >> > >> > Jika kita perhatikan >> > jumlah >> > >> > pengungsi yang mencapai 1.700 Jiwa, maka >> > >> > >> ini diperkirakan >> > >> > sekitar 425 >> > KK jika masing-masing KK terdiri dari >> > >> > >> >> > >> > Ibu,Bapak, dan dua anak. Kalau dibuatkan apartemen >> > sederhana >> > >> > >> masing-masing dengan luasan 50 m2 >> > maka hanya dibutuhkan 21.250 >> > >> > m2. >> > >> > >> > >> Dengan dasar bangunan 2000 m2 maka dibutuhkan sekitar >> > >> > 11 lantai dengan >> > >> > >> harga >> > sekitar 22.000 x 2.500.000 = 55 M >> > >> > cukup dibangun >> > diatas 5.000 m2 >> > >> > >> milik pemda. >> > >> >> > > >> >> > >> > > >> > >> > >> > >> > Maka selesailah masalah banjir ditambah >> > >> > bertambahnya >> > daerah hijau >> > >> > >> serta tertatanya kehidupan >> > >> > masyarakat perkotaan. >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > Salam >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > RM >> > >> > >> > >> > >> > >> >> > >> > > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > Jakarta - >> > >> > Banjir yang melanda Ibu kota >> > selama dua hari menyebabkan >> > >> > >> >> > >> >> > > ribuan warga mengungsi. Hingga, Sabtu, 13 Februari malam, jumlah >> > >> > >> pengungsi terus bertambah. >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> >> > >> > > >> > "Jumlah pengungsi bertambah dari semula 1.039 menjadi 1.700 jiwa >> > >> > >> > >> > >> karena khawatir ada kenaikan >> > air pada malam hari," >> > >> > kata Staf Khusus >> > >> > >> Presiden Bidang Bantuan Sosial dan >> > >> >> > > Bencana, Andi Arif melalui pesan >> > >> > >> singkat >> > kepada detikcom, >> > >> > Sabtu (13/2/2010) malam. >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > Pengungsi, menurut Andi, saat ini telah menerima bantuan >> > dari berbagai >> > >> > >> pihak. Tapi di beberapa tempat, >> > pengungsi masih membutuhkan >> > >> > bantuan. >> > >> >> > > >> > >> > >> > >> > "Di >> > tempat-tempat >> > >> > pengungsian masih memerlukan bantuan >> > terutama untuk >> > >> > >> >> > >> > anak-anak >> > dan para usia lanjut," imbuh lulusan FISIP UGM ini. >> > >> >> > > >> > >> > >> > >> > Hujan lebat di Bogor >> > menyebabkan air >> > >> > sungai Ciliwung yang mengarah ke >> > >> > >> Jakarta meluap. Akibatnya, >> > >> > >> > banjir pun tak terbendung. Satu orang tewas >> > >> > >> >> > karena >> > >> > tenggelam selama dua hari banjir melanda Ibu >> > kota. >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> >> > >> > http://www.detiknew s.com/read/ 2010/02/14/ >> > 022152/1299065/ >> > >> 10/pengungsi- ban\ >> > >> > >> > >> > >> jir-jaka\ >> > >> > >> > >> > rta-capai-1700- jiwa >> > >

