Pak Dwiagus, tampaknya best practices sudah ada dan mudah ditemukan, tinggal 
bagaimana kita saja ya. Artinya, apakah kita punya skenario besar yang 
dilengkapi dengan detil skenario kecil-kecil menuju kepada visi yang jauh dan 
"terukur". Saya kok masih percaya kepada nasihat guru samurai saya, bahwa 
perang besar hakekatnya adalah sama saja dengan perang kecil-kecil yang sangat 
banyak. Memang persoalan leadership kadang hanyalah masalah ada tidaknya "lone 
samurai" dan "swordless samurai" di dalam teamwork yang terlibat dan mengawal 
perang itu. 

Kini sudah saatnya bertindak secara nyata dan dilandasi oleh "konsep perang" 
yang stratejik heheheheee.....untuk memenangkan perang bersama !!!!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus S. <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] 
QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; 
Experiences./Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. 
Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:55 AM







 



  


    
      
      
      












Pak Djarot,
Iya pak. Di skala kecil, memang sdh byk yang coba utk kembangkan sistem 
informasi terpadu di RS. Tp ya itu, kuncinya di leadership kyknya.
Di RS Zainal Abidin di Aceh juga mencoba yang sama. Tp masih terseok-seok 
sepertinya, ketika ganti kepemimpinan dan manajemen, tiba2 agak macet. 

Kalau di ngawi kalau ndak salah, sistem informasinya sudah sedikit menyangkut 
informasi sosial terkait kesehatan.
Beberapa indikator status keshatan masyarakat jg terpantau oleh kantor kepala 
dinas. Jd memudahkan kepala dinasnya utk segera bertindak, kalau ada kasus2 
tertentu. Akan lbh bagus lagi kalau sudah integrasi dengan sistem early warning 
. 

Bisa saja nanti dikembangkan jadi sistem informasi sosial-ekonomi daerah. 
Dengan sistem early warningnya. Misal kalau tiba2 ada desa yg tiba2 menurun 
produksi pertaniannya, langsung ada lampu merah kelap-kelip. Keren juga 
kayaknya.  Bisa jadi rumit, tapi tidak mustahil, apalagi kalau Putri Solo yg 
mengerjakannya.
Hehehehhehee

Salam, dwiagus

»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss... !!!From:  
Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Date: Mon, 22 Feb 2010 17:39:56 -0800 (PST)To: <refere...@yahoogrou 
ps.com>Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: 
[se-urdv-id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - 
Advice; Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data 
sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]

 



    
      
      
      Pak Dwi Agus, nimbrung nih ya, tetapi pada skala yang sangat kecil.

Di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, manejemen pelayanan dikelola dengan TI dan 
kayaknya sangat menarik. Setiap transaksi yang masuk dapat dipantau dengan 
seksama, sampai setiap karyawan bisa melihat "jasa medis" yang akan mereka 
terima setiap harinya (dengan password). Dari yang saya dengar, sistem 
pemantauan "realtime" ini telah menjadi bagian dari budaya kerja para karyawan, 
sehingga mereka bisa dengan mudah merencanakan pola keuangan mereka. Saya 
dengan juga sistem pengelolaan layanan dengan TI ini, yang transparan semacam 
itu tadi, baru ada di Bantul. Sekarang RSUD Bantul semakin maju karena telah 
ada di hati setiap warga Bantul, masyarakat puas dengan layanan dan karyawan 
puas dengan penggajian yang transparan. 

Jika sistem semacam ini bisa dikembangkan di setiap layanan
 publik, alangkah bagusnya ya....meskipun proses untuk mencapai kondisi semacam 
itu tidak gampang... pada titik "pembagian rejeki" tentu selalu ada dialog - 
tarik-ulur berbagai kepentingan, yang hendaknya dilandasi prinsip keadilan 
substansial. 

Dalam kondisi semacam itu, manusia memang dikendalikan sistem dan angka-angka, 
tetapi jika itu semua merupakan bagian dari proses memperjuangkan keadilan dan 
hormat pada profesi serta menjunjung tinggi etika, rasanya ekselen juga !!!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:

From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-id] QUERY: 
Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice; Experiences. 
/Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-ekonomi. Reply by 4 
March 2010. [SEC=PERSONAL]
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:27 AM







 



    
      
      
      Pak Aby yang baik,... 



saya ingin mbantu pak jokowi pak,... kirain pak Aby menyarankan saya untuk 
mengawini putri solo,.... wah, kalau ini saya nunggu ketok palu RUU Perkawinan 
dulu pak ,.. huehehehehee



Yang saya tau itu di sektor kesehatan, pemanfaatan sistem informasi untuk 
koordinasi, sampai policy making itu, adalah sangat memungkinkan, ... contoh 
yang saya tau Kab.Ngawi. Di mana ada sistem informasi kesehatan yang linked 
(secara online kalau gak salah) dari tingkat fasilitas sampai ke Dinas 
Kesehatannya, .. jadi kepala dinasnya bisa memonitoring perkembangan pelayanan 
puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya di tingkat kecamatan,.. ... dan bisa 
mengkoordinasinya pula secara online,.... 



salam, 

dwiagus



--- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote:

>

> Halo mas Dwi yg baik,

> Walau pertanyaan pak Jokowi itu sebenarnya lbh mengharapkan jawaban dari 
> Solution Exchange-UN ....namun pandangan berikut ini justru berasal dari 
> mitos yg banyak dipercaya kebenarannya baik oleh  orang solo sendiri maupun 
>   oleh orang bukan asli Solo  lho.........

> Denger2 sih ada mitos .. kalau mau berkarier sukses ....katanya sih syaratnya 
> KAWINI-lah dulu putri Solo.......Kalo gak percaya silahken nanya sendiri kpd 
> yg udh pada  mempraktekken. ....Soeharto misalnya .. semenjak mengawini ibu 
> Tien (puti Solo keturunan Mangkunegaran) kariernya  lalu melesat dan bahkan 
> sempat jadi presiden sampai 32 tahun dan itupun ada yang bilang ..gara2 
> ditinggal Ibu Tien maka semenjak itu bintangnya redup dan lengser..... . lalu 
> Akbar Tanjungpun ikut2an cari putri Solo dan hasilnya?... . ia menjadi 
> menteri termuda (usia 36 tahun) bahkan kemudian menjadi ketua DPR dan malah 
> skrg meraih gelar doktor dari UGM....... Amien Rais, Jendral Djoko Santoso 
> dan pak Djoko Kirmanto (Menteri PU) apalagi ........selain pada mengawini 
> putri Solo mereka sendirioun konon juga asli Solo ......jadi maka gak usah 
> ditanya lagilah bgmn hasil kariernya... ....

> Jadi kalau mas Dwi bener mau nolongin pak walikota Solo itu ......silahken 
> anda nanya .....pak Djokowi itu sudah mengawini putri Solo ato belum....... 
> kalau belum ya  kalo memang bener ingin sukses ya gimanalah gitu caranya 
> ......biar kariernya sbg walikota bisa sukses besar gitu lho ......salam,

> aby

> 

>  

> 





    
     



 





      

    
     

    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke