Mas Aby ysh,
Maaf kalau penjelasan saya terkesan campur aduk. Sebenarnya poin utama dari 
semua itu adalah seperti isu yang saya angkat pertama kali, yaitu menyangkut 
inisiatif dan peran seperti apa yang bisa menggerakkan suatu gagasan 
pembangunan wilayah. Jadi saya sebenarnya tidak menyinggung substansi 
pengembangan wilayah. Pada contoh Tama-center di Tokyo juga begitu, bukan 
membandingkan substansiya dengan pemb wilayah KTI. Poin yang diangkat adalah 
betapa spillover yang bermula dari  inisiatif sektor publik bisa sangat 
efektif. Banyak kasus lain lagi di Jepang yang bisa kita kaji dari perspektif 
ini. Seperti pengembangan pusat baru di selatan Jepang (Fukuoka, Kyushu) 
sebagai pusat urbanisasi keempat setelah Tokyo, Osaka dan Nagoya. Yang jelas 
inisiatif publik jugalah yang menggerakkan kebangkitan kota-kota dari 
kehancuran akibat gempa. 

Begitu juga dengan sektor perumahan di tanah air yang masih sangat menyedihkan. 
Ketika Pak Risfan menyebut perumahan swadaya masyarakat dan swasta yang 
menunjukkan kecilnya peran pemerintah /sektor publik, justru poin saya adalah 
pentingnya peran pemerintah/sektor publik. Tapi bukan peran yang sederhana. 
Bahwa membangun sektor perumahan rakyat jauh lebih tidak sederhana ketimbang 
membangun rumah-rumah, Inilah cognitive constraint yang masih melekat di sektor 
publik perumahan di tanah air. Akhirnya Kemenpera dan Cipta Karya sebenarnya 
mengalami kebingungan dalam pembagian perannya dengan Perumnas. Yang membangun 
rumah susun itu harusnya siapa? Satker/Pimpro di Kemenpera/PUCK atau Perumnas? 
Padahal semuanya adalah lembaga-lembaga di sektor publik!

Kembali ke pengembangan wilayah. Kita ambil contoh lagi di Kawasan Jembatan 
Suramadu. Inisiatif pemerintah masih terlihat seperti barisan yang beserak, 
langkah kanan, kiri, mencong dsb. Mengapa? karena masih ada gap antara visi 
(yang juga belum tentu dicapai consensus) dan praktek koordinasi di lapangan. 
Apakah misalnya Kawasan Suramadu bisa dijalankan hanya dengan dibangunnya 
jembatan Suramadu oleh Binamarga? Bagaimana perencanaan dan PEMANFAATAN ruang 
di dua ujung kawasan tersebut? Bagaimana pengembangan kota dan permukimannya? 
Ini masih koordinasi di PU. Belum lagi dengan perhubungan, perindustrian, dsb. 
Bagaimana misalnya nasib pelabuhan Tanjung - Kamal yang akhirnya mati pelan2?  

Benang merah dari semua itu adalah masalah kapasitas kelembagaan termasuk 
koordinasi, yang tidak bisa lagi ditangani dengan cara-cara common sense... Apa 
maksudnya common sense? Misalnya, kurangnya koordinasi tidak bisa ditangani 
semata dengan himbauan seorang Menteri agar para eselon-I berkoordinasi, 
apalagi kalau antar Kementerian. Juga tidak bisa diselesaikan semata dengan 
paksaan pasal-pasal Undang-undang. Pembicaraan substansi penataan ruang maupun 
ekonomi wilayah secanggih apa-pun, tidak akan dapat diimplementasikan dengan 
baik tanpa kapasitas institusi yang memadai.  

Salam,
Jehan

--- On Fri, 4/9/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

Rekan Jehan dan milisters ysh, 
Trims
bhw tgp balik anda benar2 telah menghidupkan diskusi kita ....... hanya
krn anda (terpaksa) harus menanggapi kembali masalah housings  yg sambil lalu 
dikemukakan yg pdhal adalah bukan pokok diskusi  ...maka terpaksa pula anda 
menyertakan tgp balik menyangkut  housings pula  yg terpaksa pula nyampur dgn 
masalah ‘pembangunan  wilayah’ yg sebenarnya lbh merupakan pokok  diskusi kita 
(dan diakhir posting malah semakin anda tambah
 lagi dgn gambaran ‘prinsip pembangunan  kota baru di Jepang’ ya?) 
.........sehingga maaf bhw nampaknya campur(aduk) an  ini lalu sedikit banyak 
jadi menyebabkan kerancuan juga antara  masalah
pembangunan wilayah (tertinggal) dan contoh pembangunan suburban dari
sebuah megapolitan Tokyo yg anda kemukakan ........yg bagi  Indonesia kita yg 
penduduk perkotaannya (saja)  kini telah melampaui angka 100 juta jiwa  
......masalah suburban development ini (walau dgn kadar mutunya yg jauh lbh 
sederhana dibanding kecanggihan Jepang)  sebenarnya malah secara kwantitatip 
kita ini  lbh ‘spektakular’ dibanding
 Jepang...... .. 

++++: ....Begini,
maksud saya adalah bahwa pembangunan wilayah sebagai suatu pendekatan
pembangunan (bukan praktek-praktek pembangunan di wilayah-wilayah) pada
dasarnya merupakan kepentingan bangsa, ada di domain publik, dan
menyangkut public interest.  
Jadi
tidak mungkin menjadi interest sebuah bank, misalnya. Tidak ada banking
business itu berupa pembangunan wilayah. World Bank saja nggak, kok,
apalagi Bank Mandiri. However, bank is a bank...  Jadi kesamaan antara
perusahaan2 tersebut adalah adanya specific interest masing2 yang
dilatarbelakangi "business positioning" masing2..... ...... 
>>>>:  
   
Boleh
jadi anda benar bhw pembangunan wilayah (PW) sbg ‘pendekatan
pembangunan’ itu perlu dipisahkan dari ‘praktek pembangunan wilayah’  
....apalagi kalau anda angkat  studi kasus Tama Center tokyo barat sbg contoh 
penjelasannya. ...... 
Namun bagi Indonesia dan konteks diskusi kita  adlh
‘pembangunan wilayah KTI” ......dimana kita tahu luas wilayah KTI (62%
RI) darat serta laut2nya (krn gerak jelajah disini terpaksa hrs
mengarungi/ menerbangi atas laut pula) bahkan adalah nyaris 2x lipat
luas seluruh negeri Jepang dari pulau Kyushu sampai. Hokaido..... ....
bagi kita pengertian ‘pendekatan pembangunan’ atau ‘praktek pembangunan’  di 
KTI kiranya malah hampir2 tak lagi perlu dibedakan/ dipisahkan .......krn yg  
kita butuhkan adlh  sebanyak2

konkretisasinya, bukan hanya di sektor suburban perkotaan plus
integrated infrastructurenya saja (spt kasus Tama Center anda)
........namun bahkan kita membutuhkan pembangunan KTI itu pada segala
multisektornya  yg amat sangat luas (maklum namanya  saja kawasan tertinggal) 
..........  
Berbeda dgn Tama yg samasekali tak  memerlukan pengembangan  aglomerasinya
---justru krn konteks dari Tama Center adlh pengembangan suburban to
world megapolitan city dan daya aglomerasinya yg kelewat hebat sdh  nebeng pada 
Tokyo--- atau  lbh fokusnya lagi tadinya malah tujuannya hanya ingin 
mengembangkan  proyek
low cost housings saja (demi menghindari urban sprawl) tak bedanya kita
dulu membangun Depok atau Klender (Depok malah kini jadi metropolitan
sementara Tama penduduknya smp Maret 2010 ini sptnya bukan 500an ribu
tapi 200-n ribu)  ..........KTI kita justru memerlukan pembentukan aglomerasi 
(perkotaan) itu sbg salah satu kata kuncinya yg terpenting  .......bahkan lbh 
daripada itu ...kalau mengingat bhw dari total penduduk nasional kita  yg 235 
juta itu lbh dari 100jutanya tinggal berdesak2an di Jawa yg hanya 6.7% RI dan 
sementara  itu KTI adlh 62% wilayah RI  dan penduduknya hanya sekitar 35 juta 
jiwa ......wajar bhw  timbul pikiran bhw jumlah penduduk dari KBI  dan
Jawa perlu diredistribusi ke KTI ........dimana kalau saja misalnya
jumlah penduduk KTI skrg ‘hanya’ 35 juta ... lalu timbul pemikiran pula
pembangunan  KTI perlu berdimensi  ‘transmigrasi kolosal’ katakanlah  agar
penduduknya menjadi 50 juta atau 60 juta jiwa misalnya .......dan itu
tentu samasekali bukanlah perbandingan yg proporsional dijejerkan dgn
contoh kasus Tama Center itu (20km dari Tokyo) yg sasarannya semula
hanya ingin mengembangkan perumahan  murah (dan tak sekaligus harus memikirkan 
kesempatan kerja)   bagi kurang dari 500 ribu penduduk ........dimana kalau 
proyek Tama pun  tak
usah repot dgn masalah menciptakan kesempatan kerja bagi penduduknya
.......sementara itu dgn KTI kita harus pusing tujuh keliling
memikirkan seabreg  kesulitan spt  masalah langkanya dana investasi 
.....masalah sulitnya skenario menginjeksikan/ memigrasikan  SDM
lingkup industri manufaktur unggulan kesana sbg ujungtombak pembangunan
perkotaan, masalah mengembangkan industri manufaktur perkotaan itu
sendiri sbg penegak kehidupan budaya urban yg lbh visioner  dan sekaligus 
masalah  bgmn harus mengembangkan kota primatnya  (Makassar) agar benar2 
menjadi metropolitan dlm kapasitasnya sbg pusat layan KTI yg 2x lipat luas 
negeri Jepang...... ..... 
   
++++: ......Nah,
sekarang bisakah komunitas seperti kita ini mulai merumuskan visi dan
inisiatif sebuah pengembangan kawasan? Nggak usah KTI lah yang terlalu
besar, coba saja dengan kota baru di sekitar jabodetabek misalnya.  
Dimulai dari kumpulan individual vision lalu menjadi collective 
vision?..........  
>>>>:
Nha ini adlh pola pandang nasehat yg bisa jadi bias dan perlu dihindari
:-) .........maksud hati sih mau ‘mengembangkan regional dvlpment’ (yg
pdhal kalau sekedar utk wilayah Jawa/ Lampung sebenarnya utk kita
tingkat kesulitannya mah  trmasuk  kelas
ringan saja krn tak usah mikirin pembentukan aglomerasi dan
infrastruktur baru yg superberat) ......namun apadaya nasehat itu
prakteknya malah bisa memperhebat jawasentrisme ......bisa semakin
mempersempit areal lahan pertanian dan ruanghijau di Jawa selain ia
akan semakin memperhebat in-migrasi menuju Jawa/ braindrain dari KTI
.........regional development yg kita butuhkan dasar merayap
mengembangkan kota2 baru didekat2 jabodetabek atau selat Sunda
........tapi kelas kebutuhan kita yg urgen adlh tingkat meredakan
ketimpangan regional serta ketertinggalan yg kronis yg diidap oleh KTI
yg luasnya tak kurang 1.2juta km2 itu .......salam,  
aby





 



  






      

Kirim email ke