Hallo Pak BTS, wah kepancing juga nich yee... Pertama pemakainan istilah KIB/KIT atau KBI/KTI okay saja, yang penting maksudnya sepaham. Kedua mengenai manusia 'semut' sepertinya memang punya sifat bergerombol dalam mencari makanan/kehidupan. Semakin mereka 'pinter', seperti orang Jepun, mereka tetap saja bergerombol di kota-kota besarnya, mereka bahkan mencari bahan makanan dan bahan baku lainnya dari mana saja (termasuk dari Indonesia). Manusia 'semut' di KIB sepertinya juga lebih senang hidup bergerombol (terutama dikota-kota besarnya), mereka mendatangkan bahan baku dari KIT atau kawasan yang ada/kaya SDA lainnya. Mungkin pepatahnya diubah 'ada semut ada gula', jadi kalau mau mendorong pembangunan wilayah di KIT, mungkin perlu terobosan agar kota-kota besarnya (misalnya: Ambon-Ternate-Sorong-Manokwari-Jayapura-Merauke) dapat tumbuh pesat/besar sehingga menarik 'semut-semut' berdatangan makan 'gula' yang banyak disekitarnya. Maaf kalau salah mohon dikoreksi ya.
Wassalam, Onnos. To: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 7 Apr 2010 11:15:56 +0800 Subject: RE: [referensi] Pembangunan Wilayah Bung Onnos, apakah betul orang-orang KIB bersenang-senang makan "gula" berasal dari KIT? Dulu data-data NUDS menggambarkan sebaliknya bahwa arus komoditas dari Jawa ke KIT jauh lebih besar daripada sebaliknya. Apakah sudah ada data baru pola pembalikan? Catatan : Saya lebih suka menggunakan istilah Kawasan Indonesia Barat (KIB) dan Kawasan Indonesia Timur (KIT) sebab KIB dan KIT adalah tetap bagian wilayah Indonesia, sedangkan Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) itu bukan wilayah Indonesia. Contohnya Kawasan Jakarta Timur itu memang kawasan Jakarta bagian Timur, tapi kalau Kawasan Timur Jakarta itu kabupaten Bekasi. Thanks. CU. BTS. --- Pada Rab, 7/4/10, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> menulis: Dari: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Judul: RE: [referensi] Pembangunan Wilayah Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Tanggal: Rabu, 7 April, 2010, 1:28 AM Rekan-2 ysh, ada pepatah mengatakan: 'ada gula ada semut', ternyata 'semut'nya lebih senang bergerombol makan 'gula' sambil ramai-ramai bersenang-senang, jadi 'gula'nya diambil dari jauh (KTI) tetapi dimakannya di KBI. Mungkinkah sifat manusia 'semut' memang demikian ? Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: watashi...@yahoo. com Date: Tue, 6 Apr 2010 16:10:40 -0700 Subject: Re: [referensi] Pembangunan Wilayah Kompas : “........Ketika sumber daya alam di Pulau Jawa dan Kawasan Barat Indonesia (KBI) kian menipis, Kawasan Timur Indonesia (KTI) menjadi tumpuan. ....... >>>>: Boleh jadi demikian ............ tapi nyatanya Jawa semakin berkembang >>>>dgn semakin meninggalkan ketergantungan pada potensi2 sumber daya alamnya >>>>seperti hutan jati, sawah padi, perkebunan teh, kopi, karet, migas, minyak, >>>> ikan (khan Jawa juga punya Laut Jawa dan Samudera Hindia?) ........kita >>>>bisa lihat yg berkembang dan malah menjadi daya tarik bagi datangnya migran >>>>dari KTI adalah justru industri perkotaan manufaktur dan jasa, bisnis >>>>properti dan bahan bangunan, bisnis jalan tol, bisnis media, bisnis IT, >>>>bisnis seni budaya, otomotif dan suku cadang ....dsb..... .. Kalau dibilang KTI mau dijadikan ‘tumpuan baru’ .....nyatanya wacana pengembangan KTI spt kita bisa lihat malah lbh banyak dimaksudkan utk ‘membangunkan’ KTI dari ketertinggalannya .... ..dan spt bukan untuk menguras SDAnya bukan?...... .... Kompas : “.......Rekomendasi Selaras dengan visi Indonesia 2025 yang maju, adil, dan makmur, keberpihakan terhadap KTI tidak lagi hanya cukup dengan political will, tetapi sudah harus menjadi political action. Diperlukan kerangka implementasi yang lebih konkret untuk mengatasi permasalahan KTI. Mengingat masa depan KTI bukan hanya di darat, tetapi jauh lebih berpotensi pada potensi kelautan, saatnya tersedia basis data pelaku usaha di sektor kelautan dan pesisir. ............ .....dst. ..... Diperlukan ”konsolidasi- inovasi-sinergi” semua pemangku kepentingan, antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, antara perbankan dan pemerintah, antara masyarakat dan pemerintah, antara dunia usaha dan pemerintah. Boleh jadi, harus ada ”new deal” sesama pemangku kepentingan di KTI untuk mengoptimalkan sumber dayanya ataupun antara KTI dan pemerintah pusat dalam hal perlakuan khusus yang lebih spesifik dan lebih adil serta implementatif. !........”. >>>>: Lagi2 rekomendasinya masih saja tetap seputar gali SDA di KTI dan >>>>bukannya pendekatan kembangkan industri manufaktur memimpin dgn cara >>>>menyemai industri manufaktur memimpin dari Jawa/ pusat pertumbuhan nasional >>>>yg jelas2 memiliki daya propulsif dan dampak ganda yg luas .....bukannya >>>>kembangkan pendekatan ‘migrasikan SDM kerah putih/ pendapatan menengah >>>>atas’ dari pusat pertumbuhan nasional sbg ujung tombak SDM kreatif >>>>penggerak perekonomian perkotaan di KTI ........dan bukannya ‘kembangkan >>>>kota internasional di KTI yg dinamis ......tempat ia menjadi tapak dan >>>>ruang bagi habitat SDM kerah putih hasil migrasi maupun tapak dan ruang >>>>dari pecahan/ hasil semai industri manufaktur perkotaan memimpin sbg pusat >>>>pertumbuhan yg benar2 dinamis dari KTI...... Sbgmn perkembangan menuju ‘lepas landas’ dari Jawa diawali dikota2 metropolitannya spt Jakarta dan Surabaya serta industri2 manufaktur perkotaannya dgn berbagai multiplier efectnya yg luas .........dan bukannya dimulai dari Laut Jawa atau Lautan Hindia ...perkembangan KTIpun seharusnya demikian pula......dimulai dgn internasionalisasi dan dinamisasi kota metropolitan (satu2)nya Makassar .....dlm mana perlu diinjeksikan sejumlah SDM kelas menengah atas dan sejumlah persemaian industri manufaktur perkotaan dari kelas nasional/ internasional memimipin dan bukannya dimulai dari menggali hasil laut atau hasil2 bumi dari pedalamannya. ......... . --- On Tue, 4/6/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Pembangunan Wilayah To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, April 6, 2010, 4:23 AM PEMBANGUNAN WILAYAH Saatnya Beraksi di Timur Kompas, Selasa, 6 April 2010 | 04:30 WIB Pulau Jawa adalah masa lalu, Sumatera dan Kalimantan adalah masa kini, sedangkan Kawasan Timur Indonesia adalah masa depan. Ungkapan itu sering dilontarkan pelaku ekonomi nasional dengan berpijak pada perspektif sumber daya alam dan kedaulatan wilayah. Ketika sumber daya alam di Pulau Jawa dan Kawasan Barat Indonesia (KBI) kian menipis, Kawasan Timur Indonesia (KTI) menjadi tumpuan. Potensi ekonomi tersebar pada 12 provinsi di KTI, yakni 6 provinsi di Pulau Sulawesi, 2 di Nusa Tenggara, 2 di Kepulauan Maluku, dan 2 di Papua. Sebagai contoh, di KTI, potensi energi panas bumi terdapat di wilayah Nusa Tenggara dan Sulawesi. Saat ini energi panas bumi di KTI yang tergarap baru sebagian kecil. Pulau Sulawesi yang memiliki potensi cadangan energi panas bumi 959 megawatt electrical (MWe) baru termanfaatkan 40 MWe. Mengutip data Badan Pusat Statistik, Agus Martowardojo menyebutkan, struktur perekonomian KTI didominasi sektor berbasis sumber daya alam. Sektor pertanian (yang mencakup subsektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan) menyumbang 27 persen dari produk domestik regional bruto (PDRB) serta sektor pertambangan dan penggalian yang menyumbang 18 persen dari PDRB. Hanya saja, dibandingkan dengan KBI yang didominasi kontinental (daratan), KTI lebih sarat problematik. Limpahan potensi sumber daya alam KTI tersebar tidak merata di kepulauan. Untuk menjangkau dan mengolahnya, perlu biaya dan waktu berlipat ganda dibandingkan dengan di KBI. Setiap kali sarana dan fasilitas publik hendak dibangun, situasi dilematis mencuat. Ongkos yang dikeluarkan tidak seimbang dengan nilai ekonomisnya. Dari sekitar 218,8 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 29,6 juta berdiam di KTI. Sementara luas KTI 62 persen wilayah RI. Lebih dari 50 persen luas KTI adalah kepulauan dan perairan. Celakanya, paradigma anggaran publik sangat lekat dengan aspek populasi dan masih berpihak pada daratan. Dari 183 kabupaten/kota tertinggal di seluruh Indonesia, 128 di antaranya berada di KTI. Sebaliknya, alokasi keuangan negara sekitar 70 persen berpihak ke KBI. Ketertinggalan itu terutama karena aspek sarana dan prasarana (50,81 persen), perekonomian lokal (18,35 persen), sumber daya manusia (17,41 persen), bencana alam dan konflik (9,38 persen), serta kelembagaan daerah (4,02 persen). Sebaran penduduk yang tidak didukung infrastruktur transportasi memadai berdampak pada pelayanan hak dasar, yakni pendidikan, kesehatan, dan penghasilan di bawah standar layak. Capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Utara (75,16) yang menempati urutan kedua nasional setelah DKI Jakarta (78) seperti menjadi hampa ketika dikomparasikan dengan 11 provinsi lain di KTI. Pasalnya, Provinsi Papua mencapai nilai terendah (57). Potret IPM di KTI menunjukkan sebagian besar di bawah IPM nasional (71,17). Yang (sedikit) membanggakan, di tengah keterbatasan itu, proses pembangunan di KTI dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren positif. Ketua Forum Kelompok Kerja KTI Winarni Monoarfa mengungkapkan, indikator-indikator makroekonomi menunjukkan pertumbuhan ekonomi di KTI mengalami percepatan. Meski rata-rata pertumbuhan PDRB kawasan ini 4 persen, sejumlah wilayah, seperti Sulawesi, lebih dari 6 persen, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat, kontribusi KTI terhadap perekonomian Indonesia masih relatif rendah. Kontribusi KTI hanya 7 persen dari total PDB Nasional 2008 yang Rp 4.954 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari tiga provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Papua, dan NTB. Kontribusi ini relatif rendah dibandingkan dengan Jawa dan Bali, yaitu 59 persen, Sumatera 23 persen, dan Kalimantan 11 persen. Rekomendasi Selaras dengan visi Indonesia 2025 yang maju, adil, dan makmur, keberpihakan terhadap KTI tidak lagi hanya cukup dengan political will, tetapi sudah harus menjadi political action. Diperlukan kerangka implementasi yang lebih konkret untuk mengatasi permasalahan KTI. Mengingat masa depan KTI bukan hanya di darat, tetapi jauh lebih berpotensi pada potensi kelautan, saatnya tersedia basis data pelaku usaha di sektor kelautan dan pesisir. Diperlukan ”konsolidasi- inovasi-sinergi” semua pemangku kepentingan, antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, antara perbankan dan pemerintah, antara masyarakat dan pemerintah, antara dunia usaha dan pemerintah. Boleh jadi, harus ada ”new deal” sesama pemangku kepentingan di KTI untuk mengoptimalkan sumber dayanya ataupun antara KTI dan pemerintah pusat dalam hal perlakuan khusus yang lebih spesifik dan lebih adil serta implementatif. Upaya Bank Mandiri menggelar Papua Investment Day Oktober 2009 dan Maluku Investment Day 2010 merupakan contoh komitmen lembaga perbankan untuk mendorong pelaku ekonomi menggerakkan potensi yang ada. Praktik cerdas untuk pola-pola kemitraan, seperti public private partnership, model bedah desa, dan model kawasan produksi, juga harus lebih dikembangkan. KTI menunggu aksi nyata! --- On Tue, 4/6/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: [referensi] Pembangunan Wilayah To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, April 6, 2010, 3:56 AM Rekans ysh, Mengutip Kompas hari ini (6/4/10): Pembangunan Wilayah, Saatnya Beraksi di Timur , pulau Jawa adalah masa lalu, Sumatera dan Kalimantan adalah masa kini, sedangkan Kawasan Timur Indonesia adalah masa depan. Ada yang mengikuti diskusinya? Salam, Risfan Munir New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online _________________________________________________________________ Windows Live: Friends get your Flickr, Yelp, and Digg updates when they e-mail you. http://www.microsoft.com/windows/windowslive/see-it-in-action/social-network-basics.aspx?ocid=PID23461::T:WLMTAGL:ON:WL:en-id:SI_SB_3:092010

