Pak Jehan, Maryadi, BTS dan Rekans ysh, Kalau saya baca posting BTS, Pak Maryadi, jadi sesungguhnya masalahnya mikro kan. Akses dan situs-situs budaya itu bisa di adjust dengan Site Planning. Memang ada biaya dan kerepotan ekstra. Namanya juga pembangunan, apalagi di kawasan padat selalu ada risiko konflik kepentingan, sampai fisik. Pak Jehan, betul Pak. Dulu kan ada pendekatan LARAP (land acquisition & resettlement action plan), apakah ini sudah dilaksanakan sesuai prosedur. LARAP mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi pasca reformasi. Tapi intinya mau repot memetakan stakeholders, peta kepentingan masing-masing. Dan action plan yang lebih dialogis, memperhitungkan risiko-risiko politik sesuai situasi saat ini. Kita berdoa lah supaya yang seperti ini tidak berulang, dan jangan ada korban orang kecil lagi. Salam, Risfan Munir
--- On Thu, 4/15/10, Jehan Siregar <[email protected]> wrote: From: Jehan Siregar <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan & budaya komunal To: [email protected] Date: Thursday, April 15, 2010, 11:41 PM Betul Pak Risfan, pemicunya itu penggusuran. Penggusuran yang selalu bersisian dengan kekerasan itulah sinyal yang sampai di warga. Dan ini tidak mudah menghapusnya begitu saja dengan pendekatan yang persuasif. Makanya Foke masih komentar aneh, ' kita akan meminta Satpol PP untuk lebih persuasif ". Lha, apa satpol PP mau pakai batik? Mengenai resettlement, sebenarnya kita sudah punya pengalaman sejak dulu, seperti di waduk KedungOmbo, Paspati di Bandung dan terakhir di Lapindo Sidoarjo dan BKT-BKB di Jakarta (on going). Tapi sayangnya semuanya tidak ada yang melembaga dan mengakumulasi kapasitas yang memadai. Sedemikian sehingga kita bisa tunjuk lembaga mana yang bisa dihandalkan. Hal ini sangat mengkhawatirkan sekali. Mengapa? Karena akibatnya, setiap kali membayangkan resettlement maka akan kebayang suatu urusan yang maha repot. Sehingga akhirnya tidak menjadi pilihan. Padahal keadaan seringkali hanya menyisakan pilihan ini. Salam, Jehan --- On Fri, 4/16/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan & budaya komunal To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, April 16, 2010, 6:38 AM Rekans ysh, Memang percobaan analisisnya bisa dibawa ke mana-mana. Ken Arok, etnis, konspirasi pemecah bangsa (lah, pemicunya kan policy, petugas?), dst. Tapi jangan lupa pemicu spesifiknya yaitu: PENGGUSURAN. Karena ini yang langsung terkait implementasi rencana. Adakah cara resettlement , renewal yang lebih baik (buat penduduk dan petugas lapangan). Supaya jangan seperti adu domba antar orang kecil. Juga bagaimana agar dalam merencana dilengkapi juga kajian risiko dalam implementasi, termasuk DRR (disaster risk reduction) nya? Sebetulnya dari peta sosekbud kan bisa diketahui mana kawasan bronx, little italy nya, potensi rusuhnya. Dan, menggusur simbol (keramat) komunitas itu juga perlu ekstra perhatian, mungkin empathy juga. Karena itu efeknya kuat dalam mempersatukan komunitas. Salam, Risfan Munir

