Memang kasus Priok ini banyak anehnya :
1. Itu makam Habib Hasan bin Muhammad Hadad, mengapa dibilang Mbak Priuk? kalau 
"Mbah" itu orang Jawa. Kalau asli betawi dipanggil engkong.
2. M. Biki bilang kalau Habib Hasan itu pahlawan dan meninggal ditembak 
Belanda, tapi sumber lain mengatakan bahwa Habib berlayar dari Palembang ingin 
menyebarkan Agama Islam, tapi keburu ada kecelakakan di laut dan tewas. 
3.Bentrokan kemarin saya lihat tidak ada dari keluarga Habib, tapi kenapa pada 
pertemuan dengan Pemda DKI dan Pelindo, koq hampir semua berhidung mancung. Ke 
mana mereka ketika terjadi bentrokan?
4.Komnas HAM bilang bahwa Satpol PP telah melanggar HAM berat, padahal yang 
tewas dari Satpol PP.
5.Habib Rizieq pimpinan FPI bilang bahwa penggusuran Makam Habib Hasan telah 
menghalang-halangi hak umat untuk beribadah bagi agamanya, tapi bagaimana 
FPI merusak dan membakar aset Ahmadiyah? Bukankah itu juga menghalangi-halangi 
umat beribadah bagi Ahmadiyah?
6. Diceritakan (mungkin hanya legenda saja) bahwa nama Tanjung Priuk berasal 
ketika Habib tewas meninggalkan dayung dan periuk. Patahan dayung menjadi nisan 
kuburan Habib dan kemudian tumbuh menjadi pohon Tanjung, maka namanya Tanjung 
Priuk. Kalau begitu ada cerita yang sama bahwa ada Habib yang membawa piring 
perak ke Surabaya, dan juga ada habib lain membawa piring emas ke Semarang? Ah 
namanya juga legenda. tapi koq ya banyak yang percaya?
7.Pada tahun 1760-an ketika Habib tewas, kawasan Koja itu tidak ada apa-apa, 
mungkin hutan belukar dan tidak ada pemukiman (tidak ada situs peninggalan lain 
di sekitar makam). Mengapa dimakamkan di Koja? Betulkan ia meninggal pada tahun 
itu?
8.yang paling lucu : Ahli waris minta (memaksa) Pemda DKI untuk menetapkan 
Makam Habib sebagai cagar budaya. Tapi mereka minta yang di Cagar Budaya itu 
Makam Habib dan halaman seluas 1 hektar saja, sisanya sekitar 4 hektar minta 
dinegosiasi dengan Pelindo. Ah... akhirnya DUIT  juga maunya.
 
Kalau begini sungguh kasihan kepada para korban. Sangat memprihantinkan !
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Jum, 16/4/10, [email protected] <[email protected]> 
menulis:


Dari: [email protected] <[email protected]>
Judul: Re: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan & budaya komunal
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 16 April, 2010, 3:52 AM


  



Dalam sebuah diskusi kecil, tercetus pertanyaan. Mengapa ketika penggusuran 
menyangkut orang-orang yang masih hidup (gusuran permukiman atau PKL) 
perlawanan yang diberikan terhadap satpol PP/penggusur tidak seanarkis ketika 
penggusuran menyangkut tanah seperti penggusuran makam ini. Reaksi yang timbul 
ketika beberapa pulau kita diakui oleh Malaysia pun lebih besar daripada ketika 
TKW kita dibunuh oleh majikan Malaysianya.

Apakah sebidang tanah lebih berarti daripada nyawa manusia?

Just some points to ponder.

Salam. 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: Risfan M <risf...@yahoo. com> 
Date: Thu, 15 Apr 2010 14:38:23 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan budaya komunal

  

Rekans ysh,

Memang percobaan analisisnya bisa dibawa ke mana-mana. Ken Arok, etnis, 
konspirasi pemecah bangsa (lah, pemicunya kan policy, petugas?), dst.
Tapi jangan lupa pemicu spesifiknya yaitu: PENGGUSURAN. Karena ini yang 
langsung terkait implementasi rencana. 
Adakah cara resettlement
, renewal yang lebih baik (buat penduduk dan petugas lapangan). Supaya jangan 
seperti adu domba antar orang kecil. 
Juga bagaimana agar dalam merencana dilengkapi juga kajian risiko dalam 
implementasi, termasuk DRR (disaster risk reduction) nya? Sebetulnya dari peta 
sosekbud kan bisa diketahui mana kawasan bronx, little italy nya, potensi 
rusuhnya. Dan, menggusur simbol (keramat) komunitas itu juga perlu ekstra 
perhatian, mungkin empathy juga. Karena itu efeknya kuat dalam mempersatukan 
komunitas.

Salam,
Risfan Munir

Pada Kam, 15 Apr 2010 10:36 CDT Harya Setyaka menulis:

>Tul betuul ...
>Sepakbola Eropa masih acap ternoda tingkah hooligans & tifosi.
>
>Although, yg jadi gang di LA itu kebanyakan non-Bule, atau euphemisme nya:
>"people of color".
>
>Sejarah USA juga tidak bersih dari tindakan kekerasan kolektif..
>dan.. selalu ada elemen etnis.
>
>Di Indonesia.. laah.. anak SMA tawuran (terutama Jakarta 1990an), Mahasiswa
>tawuran bahkan di-rutin-kan, tiap kali wisudaaan tawur dan bangga
>pulak... warga juga tawuran (terakhir di Manggarai tahun lalu)..
>eeh... antar instansi bersenjata juga tawuran.. masih ingat Linud vs. Brimob
>di Binjai, 2002?
>
>
>Salam,
>-K-
>
>
>
>2010/4/14 risfano <risf...@yahoo. com>
>
>>
>>
>> Rekans ysh,
>>
>> Barat yang mana Pak Ukon, Pak BTS yang gak kenal kerusuhan? Hooliganism kan
>> rutin tiap tahun bikin rusuh di turnamen Eropa. Kerusuhan di LA,
>> tembak-menembak yang hampir rutin di beberapa metropolitan, sampai gas
>> beracun di Jepang, dst.
>>
>> Lalu apa sebabnya? Urbanisasi dan ketimpangan kesejahteraan, pengangguran
>> (tak kentara)? Suara yang tak pernah didengar?
>> Jujur saja bagaimana plotting "kawasan padat" itu peta RTRW, adakah
>> petrencana mengakui kehadiran kaum informal, atau yang mampu beli/sewa tanah
>> (formal) saja? Bagaimana transisi (darurat)nya mengingat kondisi sosial
>> ekonomi masyarakat kita masih harus migrasi ke kota-kota tanpa bekal?
>> Dalam diskusi Disaster Risk Reduction (DRR) sebetulnya risiko konflik
>> sosial ini sudah masuk agenda Pengelolaan Kota juga. Sehingga layak
>> dipikirkan Action Plan untuk mengantisipasi sebelum kasus terjadi, sert
>> diadopsi ke rencana. Mungkinkah?
>>
>> Salam,
>> Risfan Munir
>>
>>
>> --- In refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoog roups.com> , "ukonisme"
>> <ukon...@... > wrote:
>> >
>> > Rekans,
>> > Kekerasan massal sesungguhnya sudah sangat kerap terjadi. Ada rusuh
>> antarsuporter sepakbola, bentrok antar warga kampung, bentrok antar ormas,
>> dan terakhir rusuh priok yg melibatkan satpol pp dan masyarakat. Sungguh
>> memprihatinkan.
>> >
>> > Saya jadi berpikir jangan2 kebiasaan rusuh massal ini ada sedikit andil
>> dari budaya kita yg komunal. Di masyarakat yg cenderung individualistis
>> seperti di barat, masyarakatnya lebih taat hukum dan takut melanggar aturan
>> karena mungkin ngerasa tak punya beking. Sedangkan di masyarakat komunal
>> karena ngerasa banyak temen, dia jadi lebih berani untuk bertindak rusuh.
>> >
>> > Mohon pencerahan dari para planolog yg antropolog.
>> >
>> > Salam.
>> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
>>
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: i_gume...@.. .
>> > Date: Thu, 15 Apr 2010 01:34:28
>> > To: <refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoog roups.com> >
>> > Subject: Re: [referensi] tanjung priok
>> >
>> > Saya jadi ingat nonton video ttg pamswakarsa dimana anak2 kecil ikut
>> memukul dan menikam korban. Saya menontonnya di australia. Sebelumnya saya
>> juga menonton pengakuan dan penyelasan seseorang yg waktu mudanya ikut
>> pembunuh petani yang dituduh PKI. Di periok pun ada anak2 yg terlibat.
>> > Saya khawatir anak2 yg ikut dlm kerusuhan di tg periok akan mengalami
>> kegelisahan seumur hidup seperti yg dialami pemuda yg ikut membunuh petani.
>> > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
>> Teruuusss... !
>>
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: rachm...@...
>> > Date: Thu, 15 Apr 2010 01:00:46
>> > To: <refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoog roups.com> >
>> > Subject: Re: [referensi] tanjung priok
>> >
>> > Saya pikir kita juga harus menilai dari dua sisi. Satpol PP ya masyarakat
>> juga. Perlakuan yang buruk terhadap Satpol PP juga bisa dinilai sebagai
>> pelanggaran HAM oleh masyarakat kecuali satpol pp sudah dihilangkan Hak
>> Azasi nya.
>> >
>> > Perilaku masyarakat yang buruklah yang harus segera ditangani.
>> >
>> > Salam
>> >
>> > RM
>> >
>>








__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

Kirim email ke