Pak BTS ysh, mohon maaf saya mengganggu sedikit dengan cuplikan berikut,
diambil dari Sahlins "Marxism and Two Structuralism": Pada Mei 1968, Sahlins
berkesempatan menyaksikan debat informal di Paris antara seorang ahli hukum
Amerika dan seorang antropolog Perancis.

After a long period of question and discussion, the American summed up his
views in this way: "I have a friend," he said, "who is doing a sociological
study of equrstrian statues in Central Park. It's a kind of structuralism.
He finds a direct relation between the cultural status of the rider and the
number of legs the horse has off the ground. One leg poised has a different
historical and political connotation from a horse rearing on hind legs or
another cast in flying gallop. Of course the size of the statue also makes a
difference. The trouble is," he concluded, "people don't ride horses
anymore. The things in a society that are obsolete, out of contention, those
you can structure. But the real economic and political issues are undecided,
and the decision will depend on real forces and resources".
The Parisian anthropologist thought about that a moment. "It is true," he
finally said, "that people don't ride horses anymore. But they still build
statues".
( ... Setelah diskusi panjang, si Amerika meringkas pandangannya: "Aku punya
teman," katanya, "sedang melakukan suatu studi sosiologis tentang
patung kuda di Central Park. Semacam strukturalisme. Dia menemukan hubungan
langsung antara status budaya pengendara dan jumlah kaki kuda yang
diangkat dari tanah. Satu kaki memiliki konotasi sejarah dan politik yang
berbeda dari posisi kaki belakang atau kondisi kaki yang terangkat. Tentu
saja ukuran patung itu juga membuat perbedaan, Masalahnya," ia menyimpulkan,
"orang sekarang ini tidak naik kuda lagi. Segala sesuatu dalam masyarakat
mudah usang, sebagaimana yang anda strukturkan. Isue ekonomi dan politik yang
nyata tidak lagi menentukan, dan keputusan tergantung pada kekuatan-kekuatan
dan sumber daya yang jelas".
Sang antropolog memikirkan hal itu sejenak. "Memang benar," ia akhirnya
berkata, "bahwa orang tidak naik kuda lagi Tapi mereka masih membangun
patung" ...)

Dari anekdot di atas dapat dinilai bila produk materi memang berubah dan
mudah ketinggalan, namun faktor 'budaya' tetap masih berlangsung. Mungkin
contoh yang lebih terang adalah 'patung porno' di Pancoran itu, kenapa
manusia Indonesia yang sudah merdeka dan beradab masih
'dianalogi-strukturkan' dengan patung itu? Salam pak.

-ekadj


2010/4/19 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

>
>
>    Mas BSP ysh.
>
> Dari latar belakang cerita yang ada soal Mbak Priuk ini, saya kemudian
> mengajukan pertanyaan, mana yang penting : Lokasi/Situs Mbah Priuk atau
> "jasad" Mbaj Priuk.
>
> Mengingat bahwa penziarah di Mbah Priuk itu adalah warga Banten umumnya
> (Jawa Barat pada umumnya) yang punya latar belakang Agama Islam yang kuat,
> saya berpikir lebih pada Mbah Priuknya yang diziarahi daripada situs
> makamnya. Walaupun keduanya menurut Islam sama musyrik-nya, tapi ada Islam
> yang menganggap menziarahi arwah tidak musyrik sepanjang hanya berdoa, atau
> arwah sebagai mediator ke Allah, tapi Islam yang tidak terpengaruh kejawen,
> semestinya tidak mengkeramatkan lokasi/situs.
>
> Berbeda dengan kasus yang Mas BSP sampaikan yaitu makam Sunan Bonang ada 3.
> Masyarakat kejawen tidak mempersoalkan "jasad", tapi lebih mengkeramatkan
> situsnya sehingga ketiga makamnya, walaupun 2 di antaranya pasti kosong,
> tetap diziarahi karena situs/lokasi bagi Budaya Jawa sangat penting. Makam
> Bung Karno di Blitar, seandainya dipindah ke Bogor, tetap saja situsnya itu
> tetap akan diziarahi masyarakat Jawa pengagum Bung Karno.
>
> Jadi soal kekeramatan itu penting dalam penataan ruang kota. Apakah
> masyarakat lebih mementingkan situs makam sehingga "jasad"nya bisa
> dipindahkan; ataukah masyarakat lebih mementingkan "jasad" yang dihormati
> daripada makamnya sehingga bisa dipindah tempat ziarahnya ke lokasi yang
> lebih akses, lebih nyaman, dan situsnya cukup diberi monumen sebagai
> tengeran saja, ataukah masyarakat sangat mengkeramatkan ya situs makamnya ya
> "jasad"nya. Kalau gitu ya tak ada jalan lain dikonservasi (cagar budaya).
>
> Nah apakah makam Mbak Kriuk perlu dikonservasi? Ini pertanyaan tak mudah,
> perlu analisis antropologis dsb. Tapi perkembangan informasi tentang Mbak
> Priuk sudah berkembang jauh yang tak ada kaitannya dengan kekeramatan makam
> Mbah Priuk. Memang aneh, penziarah Mbah Priuk banyak yang dari luar Koja
> (umumnya warga Banten) , tapi yang membela upaya "penggusuran" itu justru
> orang lokal (pendatang), begitu juga FPI yang saya tahu pahamnya Wahabi
> semestinya memusyrikkan makam, tapi ini koq membela-belain? Belakangan
> diinformasikan bahwa soal Mbak Priuk itu soal sengketa tanah biasa antara
> ahli waris (kebetulan pimpinan FPI) dengan Pelindo. Pihak ahli waris belum
> setuju dengan ganti rugi, tapi keputusan pengadilan sudah menetapkan sebagai
> Hak Pengelolaan oleh Pelindo. Pelindo minta bantuan polisi, karena anggota
> polisi tidak cukup, meng-outsourcing-kan ke Satpol PP. Ini benar-benar soal
> "duit". Begitu juga FPI akhirnya ingin menegosiasikan yang 4 hektar. Ini
> soal duit juga. Ada juga penyerobot tanah yang ikut-ikutan, termasuk juga
> pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari makam itu sebagai tempat ziarah.
>
> Begitulah Mas BSP. Sudahlan, ngggak usah didiskusikan lagi. Saya sedih dan
> kasihan terhadap korban. Ngeri sekali bagaimana mereka dihabisi. Kita
> nggak bisaq membela alasan para pembunuh, siapapun dia.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
>

Kirim email ke