Rekans ysh, Mungkin perlu dipelajari kemungkinan lain. Hilangnya peluang pendapatan misalnya. Salam, ATA
2010/4/20 [email protected] <[email protected]> > > > Mas BTS ysh, > > saya harus mengakui bahwa di Jakarta patung2 tersebut sudah seperti > kehilangan makna bagi sebagian besar masyarakat Jakarta kecuali hanya > sekedar menjadi "tetenger" saja. Namun ya itulah kota seperti Jakarta ... > kota yang masyarakatnya sudah terhisap pada nilai2 global dan "keduniawian". > Saya kebetulan sekarang sudah pindah dari Jogja ke Jakarta sangat bisa > merasakan hal itu ... bagaimana nilai2 spiritualitas yang begirtu banyak > bisa saya serap di Jogja menjadi hampir2 tidak ada ketika tinggal di Jakarta > ini. Yang saya temui adalah sebuah kekeringan ..... > > Bila standard kehidupan sudah menjadi tunggal .... bila nilai baik dan > buruk sudah menjadi tunggal ... bila semua nilai menjadi tunggal ... maka si > pemegang kekuasaan itulah yang akan menjadi penentu. Cilakanya adalah > pemilik capitalIni yang saya sangat khawatirkan. Saya jadi teringat dengan > bukunya Owen tahun 60-70an ... judulnya saya lupa .... saya jadi ingat John > Lenon dengan lagunya Imagine .... namun semangat yang tumbuh adalah > tunggalisme. Dan itu adalah standardisasi. > > Mengapa ini terjadi ... karena kita didorong untuk selalu berpikir > rasionalis dan strukturalis. Saya sangat sepakat dengan Uda Eka bahwa nilai2 > patung itu masih ada. Saat ini menjadi hilang karena orang Jakarta memang > sudah kehilangan terhadap rasa budaya itu (maaf maaf sekali). Kemasan > keindahan tidak muncul dari persentuhan rahsa. ... tetapi betul2 hanya > dilihat dari sisi aestetika dan NILAI EKONOMI. Sebagai ilustrasi orang > melihat seorang tukang becak yang tua sedang mengayuh dengan peluh > berleleran dilihat dari sisi artistiknya ... seperti yang sering muncul > dalam lukisan2 realis dan surealis. Tetapi pancaran rasa perjuangan dlsb > tidak ada. wuaduh saya kok nglantur ... Orang naik bendi di kompleks2 > perumahan mewah karena aestetika. Orang belanja makanan2 tradisional di > mall2 karena aestetika. Bahkan para perencanapun (sekali lagi sangat mohon > dimaafkan) basis pembelajarannya adalah aestetika.... bukan pada nilai2 > kemanusiaan. Manusia lebih dihitung dari angka... tidak lebih dari angka. > Dan nilai2 kemanusiaan tersebut hilang dihadapkan pada nilai2 ekonomi dan > aestetika tersebut. > > Intinya saya hanya mau menyampaikan ... bahwa pada saat nilai budaya kita > sudah di drive oleh nilai2 global ... pada saat ituy yang berbicara adalah > efisiensi dan capital. Pada titik itulah nilai2 kemanusiaan akan hilang. > Inginkah kita sebagai perencana kehilangan kemanusiaan kita??? Jawabannya > ada pada diri kita masing2. > > Salam dan maaf sekali kalau menyinggung > > bambang sp (jogjs/jakarta) > > >

