Mas BTS ysh,

saya harus mengakui bahwa di Jakarta patung2 tersebut sudah seperti kehilangan 
makna bagi sebagian besar masyarakat Jakarta kecuali hanya sekedar menjadi 
"tetenger" saja. Namun ya itulah kota seperti Jakarta ... kota yang 
masyarakatnya sudah terhisap pada nilai2 global dan "keduniawian". Saya 
kebetulan sekarang sudah pindah dari Jogja ke Jakarta sangat bisa merasakan hal 
itu ... bagaimana nilai2 spiritualitas yang begirtu banyak bisa saya serap di 
Jogja menjadi hampir2 tidak ada ketika tinggal di Jakarta ini. Yang saya temui 
adalah sebuah kekeringan ..... 

Bila standard kehidupan sudah menjadi tunggal .... bila nilai baik dan buruk 
sudah menjadi tunggal ... bila semua nilai menjadi tunggal ... maka si pemegang 
kekuasaan itulah yang akan menjadi penentu. Cilakanya adalah pemilik capitalIni 
yang saya sangat khawatirkan. Saya jadi teringat dengan bukunya Owen tahun 
60-70an ... judulnya saya lupa .... saya jadi ingat John Lenon dengan lagunya 
Imagine .... namun semangat yang tumbuh adalah tunggalisme. Dan itu adalah 
standardisasi.

Mengapa ini terjadi ... karena kita didorong untuk selalu berpikir rasionalis 
dan strukturalis. Saya sangat sepakat dengan Uda Eka bahwa nilai2 patung itu 
masih ada. Saat ini menjadi hilang karena orang Jakarta memang sudah kehilangan 
terhadap rasa budaya itu (maaf maaf sekali). Kemasan keindahan tidak muncul 
dari persentuhan rahsa. ... tetapi betul2 hanya dilihat dari sisi aestetika dan 
NILAI EKONOMI. Sebagai ilustrasi orang melihat seorang tukang becak yang tua 
sedang mengayuh dengan peluh berleleran dilihat dari sisi artistiknya ... 
seperti yang sering muncul dalam lukisan2 realis dan surealis. Tetapi pancaran 
rasa perjuangan dlsb tidak ada. wuaduh saya kok nglantur ... Orang naik bendi 
di kompleks2 perumahan mewah karena aestetika. Orang belanja makanan2 
tradisional di mall2 karena aestetika. Bahkan para perencanapun (sekali lagi 
sangat mohon dimaafkan) basis pembelajarannya adalah aestetika.... bukan pada 
nilai2 kemanusiaan. Manusia lebih dihitung dari angka... tidak lebih dari 
angka. Dan nilai2 kemanusiaan tersebut hilang dihadapkan pada nilai2 ekonomi 
dan aestetika tersebut. 

Intinya saya hanya mau menyampaikan ... bahwa pada saat nilai budaya kita sudah 
di drive oleh nilai2 global ... pada saat ituy yang berbicara adalah efisiensi 
dan capital. Pada titik itulah nilai2 kemanusiaan akan hilang. Inginkah kita 
sebagai perencana kehilangan kemanusiaan kita??? Jawabannya ada pada diri kita 
masing2. 

Salam dan maaf sekali kalau menyinggung

bambang sp (jogjs/jakarta)

Kirim email ke