Saya jadi ingat masa sekolah di amrik dulu, ada mata kuliah ethics in decision 
making process. Disitu diajarkan ada saringan terakhir dlm membuat kebijakan 
publik, yaitu ethic. Walaupun technically, financially and economically 
feasible, tetap aja masalah etika dikedepankan.
Saya juga berteman dgn jurnalis dr public television. Dia menunjukkan proses 
editing sampai suatu berita siap ditayangkan. Ada komisi etik yg mengawasi.
Gimana dgn di kita? 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: <[email protected]>
Date: Tue, 20 Apr 2010 15:04:39 
To: <[email protected]>
Subject: Re: Fw: [referensi] Nilai-nilai kemanusiaan dalam perencanaan...

Pak Bambang dan sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Membaca tulisan Pak Bambang di bawah, saya jadi teringat terhadap apa yang 
sudah pernah saya baca sebelumnya, yaitu globalisasi tidak hanya membawa 
pengaruh baik, tetapi juga membawa pengaruh buruk. Keterbukaan tidak dapat 
menyaring informasi, pengaruh dan hal-hal lain yang ingin/bisa masuk. Oleh 
karena itu maka, konon katanya, mereka yang memiliki keterbukaan tersebut lah 
yang harus melakukan penyaringan agar dapat memanfaatkan keterbukaan tersebut 
untuk menunjang kepada pencapaian kebaikan. 
 
Tapi, dalam konteks masyarakat dan bahkan dalam konteks bangsa, ternyata 
alternatif solusi penyaringan yang cukup sederhana tadi, tidak lagi menjadi 
sederhana. Derasnya keterbukaan dan pengaruh pengagungan terhadap kapital, 
terkadang (atau sering kali) telah membuat "keterasingan di dalam keramaian". 
Seringkali argumen peningkatan kesejahteraan kalah oleh argumen peningkatan 
pertumbuhan, argumen penguatan kekerabatan kalah oleh argumen efisiensi, 
argumen moral kalah oleh argumen popularisme, dan lain-lain..
 
Hal-hal ini kemudian sering membuat saya kembali berpikir tentang nilai-nilai 
(norma) yang seharusnya digunakan sebagai acuan dalam perencanaan: nilai-nilai 
budaya abstrak / normatif yang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai 
nilai-nilai budaya yang terdapat di dalam pikiran obsesi kita, atau nilai-nilai 
budaya praktis yang berkembang di alam nyata / realitas kehidupan masyarakat 
yang terkadang (atau sering kali) jauh dari nilai-nilai budaya abstraksi tadi? 
Atau bahkan perencanaan perlu memiliki nilai-nilai acuannya tersendiri yang 
berbeda dari kedua bentuk nilai-nilai di atas, walaupun merupakan gabungan atau 
kombinasi dari kedua bentuk nilai-nilai tadi?
 
Pertanyaan ini terus menjadi pemikiran karena sering kali jawaban yang 
bersandar kepada praksis bahwa perencanaan juga merupakan alat untuk membentuk 
masyarakat, sering kali, ternyata tidak berjalan sesuai dengan apa yang 
diharapkan.... Apalagi ternyata banyak nilai-nilai absrak-normatif yang 
bertentangan dengan nilai-nilai praktis, sehingga upaya untuk 
menggabungkan/mengkombinasinya pun tidak terlalu mudah untuk dilakukan....
 
Mohon pencerahan dari Pak Bambang dan/atau sahabat-sahabat referensiers 
semuanya..
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 


--- En date de : Mar 20.4.10, [email protected] <[email protected]> a 
écrit :


De: [email protected] <[email protected]>
Objet: Re: Fw: [referensi] Mbak Priuk : Situsnya ataukah Mbah Priuknya?
À: [email protected]
Date: Mardi 20 avril 2010, 12h48


  




Mas BTS ysh,
saya harus mengakui bahwa di Jakarta patung2 tersebut sudah seperti kehilangan 
makna bagi sebagian besar masyarakat Jakarta kecuali hanya sekedar menjadi 
"tetenger" saja. Namun ya itulah kota seperti Jakarta ... kota yang 
masyarakatnya sudah terhisap pada nilai2 global dan "keduniawian" . Saya 
kebetulan sekarang sudah pindah dari Jogja ke Jakarta sangat bisa merasakan hal 
itu ... bagaimana nilai2 spiritualitas yang begirtu banyak bisa saya serap di 
Jogja menjadi hampir2 tidak ada ketika tinggal di Jakarta ini. Yang saya temui 
adalah sebuah kekeringan ..... 
Bila standard kehidupan sudah menjadi tunggal .... bila nilai baik dan buruk 
sudah menjadi tunggal ... bila semua nilai menjadi tunggal ... maka si pemegang 
kekuasaan itulah yang akan menjadi penentu. Cilakanya adalah pemilik capitalIni 
yang saya sangat khawatirkan. Saya jadi teringat dengan bukunya Owen tahun 
60-70an ... judulnya saya lupa .... saya jadi ingat John Lenon dengan lagunya 
Imagine .... namun semangat yang tumbuh adalah tunggalisme. Dan itu adalah 
standardisasi.
Mengapa ini terjadi ... karena kita didorong untuk selalu berpikir rasionalis 
dan strukturalis. Saya sangat sepakat dengan Uda Eka bahwa nilai2 patung itu 
masih ada. Saat ini menjadi hilang karena orang Jakarta memang sudah kehilangan 
terhadap rasa budaya itu (maaf maaf sekali). Kemasan keindahan tidak muncul 
dari persentuhan rahsa. ... tetapi betul2 hanya dilihat dari sisi aestetika dan 
NILAI EKONOMI. Sebagai ilustrasi orang melihat seorang tukang becak yang tua 
sedang mengayuh dengan peluh berleleran dilihat dari sisi artistiknya ... 
seperti yang sering muncul dalam lukisan2 realis dan surealis. Tetapi pancaran 
rasa perjuangan dlsb tidak ada. wuaduh saya kok nglantur ... Orang naik bendi 
di kompleks2 perumahan mewah karena aestetika. Orang belanja makanan2 
tradisional di mall2 karena aestetika. Bahkan para perencanapun (sekali lagi 
sangat mohon dimaafkan) basis pembelajarannya adalah aestetika... . bukan pada 
nilai2 kemanusiaan. Manusia lebih dihitung
 dari angka... tidak lebih dari angka. Dan nilai2 kemanusiaan tersebut hilang 
dihadapkan pada nilai2 ekonomi dan aestetika tersebut. 
Intinya saya hanya mau menyampaikan ... bahwa pada saat nilai budaya kita sudah 
di drive oleh nilai2 global ... pada saat ituy yang berbicara adalah efisiensi 
dan capital. Pada titik itulah nilai2 kemanusiaan akan hilang. Inginkah kita 
sebagai perencana kehilangan kemanusiaan kita??? Jawabannya ada pada diri kita 
masing2. 
Salam dan maaf sekali kalau menyinggung
bambang sp (jogjs/jakarta)







      

Kirim email ke