Pak Djarot, betul totem merupakan inisiasi manusia terhadap alam, terbangun
karena ingin mendapatkan keselarasan dan keteraturan.
Cook menuliskan: "... when any thing is forbidden to be eat, or made use of,
then say, that it is taboo." Istilah taboo, tabu, sepertinya meluas ke
berbagai kebudayaan, seperti di Timor istilahnya 'salu'? Di Jawa ini kan
'saru', atau yang umum di Indonesia 'pantangan'. Semua kebudayaan di
Indonesia saya kira sepakat kalau hubungan seks pranikah adalah taboo.
Salam.

-ekadj

2010/6/10 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Pak Eka, semacam taboo juga ada di Timor, misalnya totem. Suku Salu,
> misalnya dilarang nenek-moyang mereka agar tidak makan ayam karena salu =
> ayam. Demikian juga suku-suku yang lain punya totemnya masing-masing, mulai
> dari hewan sampai tanaman. Taboo di sini ada kaitan dengan sejarah suku,
> misalnya suku tertentu dilarang makan anjing karena di jaman dulu
> nenek-moyang pernah diselamatkan oleh seekor anjing dari suatu peperangan.
> Taboo semacam ini tampaknya semacam psikologi balas budi, bahwa sepanjang
> masa ikatan batin dan hormat nenek-moyang kepada anjing atau tanaman yang
> menyelamatkannya di masa lalu diteruskan - diabadikan. implikasinya, hewan
> atau tanaman dijadikan totem dan tentunya ini bukan penyembahan berhala
> karena "sekedar" meneruskan persahabatan nenek-moyang oleh generasi masa
> kini.
>
> Sementara demikian.
>
> Salam,
> Djarot
>
>
> --- On *Thu, 6/10/10, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>    Referensiers, saya coba penuhi permintaan Pak Fadjar beberapa waktu
> yang lalu untuk bicara masalah hukum. Sependek yang saya pahami, hukum
> pertama yang diajarkan kepada manusia adalah 'taboo', satu istilah yang
> ditemukan Captain 'Wilmar' Cook dari penjelajahan di Pasifik; "Saya heran
> orang-orang setempat melarang untuk melakukan sesuatu, dan mereka bilang itu
> 'taboo'." Dan hukum taboo yang pertama kali diajarkan adalah melarang
> memakan buah khuldi (atau versi lain: apel). Setiap pelanggaran taboo akan
> menghadapi sanksi yang tegas.
> Taboo berikutnya adalah larangan mengawini saudara sepelahiran; sehingga
> terjadilah peristiwa Habil-Qabil atau Abel-Cain. Pada generasi kedua manusia
> ini, sudah diperkenalkan sistem pertukaran, yaitu pertukaran wanita di dalam
> kelompok untuk dikawinkan ke dalam kelompok lain. Perkawinan di dalam
> kelompok dianggap taboo, atau lebih tepatnya 'incest-taboo'. Toleransinya
> berikutnya dalam berbagai budaya adalah sampai pada garis sepupu.
> Konsep taboo berkembang ke dalam berbagai bentuk relasi sosial dan relasi
> alam. Banyak ahli yang mempelajari hal ini, mulai Levi-Strauss,
> Sahlins, hingga Marvin Harris. Kalau taboo dalam ruang, kita pernah
> dijelaskan oleh Pak Koes, misalnya kuburan keramat di Madura, hingga
> terakhir kasus Priok. Juga konsep taboo dalam struktur sosial, termasuk
> makanan. Di tempatnya Harya sekarang, anjing dan kuda adalah taboo untuk
> dimakan, karena kedua binatang ini sangat dekat hubungannya dengan manusia,
> malah diberi nama seperti manusia. Kritik Marxian, kenapa ditabookan?,
> bukankah secara prinsip ekonomi produksi-reproduksi kedua binatang ini
> justru berposisi paling efisien dalam lingkaran kehidupan manusia? Dan
> konsep taboo dalam makanan ini ternyata berbeda-beda di dalam setiap
> kebudayaan.
> Di Indonesia, kita mengenal banyak sekali hukum taboo dalam masyarakat.
> Selain makanan, yang paling dominan justru adalah masalah perkawinan, dan
> selalu menjadi isu terbesar di berbagai sistem kebudayaan, sejak Adam hingga
> sekarang ini. Relasi gender hendaknya berdasarkan 'sistem pertukaran' dan
> melalui 'ritual perkawinan', sangat kuat dipegang oleh berbagai masyarakat
> di Indonesia hingga saat ini. Setiap pelanggaran maka akan masuk ke dalam
> hukum taboo. Namun demistifikasi konsep taboo ini memang sangat gencar
> dilakukan dengan berbagai fenomena, seperti melalui isu perselingkuhan,
> free-sex, pornografi, pornoaksi, dan sebagainya. Bila hal ini telah menjadi
> maklum, maka kita tidak akan punya lagi 'rasa taboo' di dalam diri kita,
> yang sebenarnya dapat menjadikan kita bermartabat, dan dapat menyelamatkan
> generasi di belakang kita.
> Sekedar kesan saja. Salam.
>
> -ekadj
>
>

Kirim email ke