Dear Cak Andri ysh,

Kalau dalam ekonomi, keragaman kegiatan melalui aglomerasi lebih banyak
memberi peluang keterkaitan ekonomi sehingga lebih efisien. Macet justru
dapat semakin manambah peluang terjadinya transaksi sehingga dianggap
meningkatkan kestabilan dan keberlanjutan usaha di tempat macet tersebut.
Ukurannya bukan kepentingan dan kenyamanan individu namun bertambahnya
peluang baru untuk lahirnya usaha baru untuk memenuhi permintaan baru
konsumen atau lahirnya pasar konsumen baru. Semakin tinggi kegiatan ekonomi
semakin tinggi peluang pertumbuhannya. Ekonomi lebih mengutamakan consumer
driven.

Dalam ekologi, keragaman hayati juga dianggap mampu meningkatkan
keberlanjutan suatu ekosistem. Yang perlu dicatat adalah semakin beragam
semakin banyak yang terlibat dalam ekosistem yang terbatas maka semakin
kecil jumlah masing-masing spesies yang dapat berkembang di dalamnya.
Indonesia memiliki keragaman spesies sangat tinggi, berarti kelimpahan
jumlah setiap spesies semakin terbatas. Dengan demikian semakin rentan
terhadap kehancuran ekosistem bila dikembangkan upaya pembudi dayaan secara
mono kultur (penyeragaman sumber makanan, produksi tertentu, dll). Ekosistem
cenderung producer driven.

Mengenai aspek negatif, karena bidang usaha yang dapat tumbuh maupun jenis
spesies yang bdapat berkembang semakin beragam, tentu saja itu termasuk
aspek-aspek yang tidak dikehendaki yang antropogenik (kriminalitas, korupsi,
dll) maupun ekologik (penyakit, parasit, dll). Oleh karena itu lahirlah
teori-teori mengenai penataan ruang, pengelolaan lingkungan hidup,
pengelolaan pembangunan dan kepemerintahan yang baik yang mengupayakan agar
baik aspek antropogenik maupun ekologik yang baik dapat dijaga dan
dikembangkan sedangkan yang merugikan dapat dibatasi dan dikurangi.

Tentu selalu ada seleksi antropogenik dan ekologis, selalu ada yang
dikorbankan. Masalahnya adalah bagaimana keseimbangan antara nilai-nilai
kultur manusia dan alam yang disepakati dikembangkan dalam waktu-ruang
tertentu adalah memang yang termasuk "baik" dan bukan justru sebaliknya.
Disinilah tantangan bagi para ilmiawan, praktisi serta perubahan alam
sendiri yang menentukan apakah keseimbangan unsur-unsur sistem setempat
dapat semakin "seimbang", "berkualitas" dan "berkelanjutan" atau justru
menuju "overshoot and collapse" atau mengubah risiko (alami dan manusiawi)
menjadi bencana...

...tanpa usaha, manusia tidak dapat mengubah hari depannya...

Semoga diskusi sederhana ini cukup bermanfaat,

Salam,
ATA

2010/6/16 <[email protected]>

>
>
> Dear Pak BTS,
>
> Terima kasih atas penjelasan Bapak yang menarik. Menelaah kembali
> penjelasan Pak BTS bahwa fungsi-fungsi kota tersebut tidak bisa dibagi-bagi
> lagi membuat saya sedikit merenung.
>
> Dan akhirnya, saya jadi berpikir, bila fungsi-fungsi tersebut sudah
> *terlalu banyak* dimiliki oleh sebuah kota, maka kemacetan dan kriminalitas
> yang tinggi di kota tersebut adalah konsekuensi logis yang harus diterima
> dengan lapang dada.
>
> Salam,
> CA
>
> BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®
> ------------------------------
> *From: * Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Wed, 16 Jun 2010 14:35:04 +0800 (SGT)
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Bls: [referensi] Penumpukan Fungsi-fungsi Kota di Jakarta
>
>
>
> Dear Cak Andri
>
> Pertanyaan Cak Andri memang sering dilontarkan banyak orang.
> Pandangan saya, kota itu aglomerasi ekonomi, jadi segala fungsi ekonomi
> "tumblek bleg" di kota. Semakin besar kota semakin banyak juga variasi
> ekonomi "tumblek bleg" di kota. Yang membedakan kota satu dengan lainnya
> selain besaran kota tadi, adalah lokasinya. Kalau lokasinya di dataran
> tinggi yang kebetulan ada banyak objek wisata, maka ada tambahan fungsi
> pariwisata, atau ada khas-khas lainnya yang membedakan.
>
> Jadi fungsi kota itu tidak bisa dibagi-bagi hanya satu atau beberapa fungsi
> saja, misalnya kota fungsi pariwisata saja, atau kota pendidikan saja,
> ataupun hanya 2 fungsi saja. Kota yang demikian justru tidak langgeng
> (sustain). Ingat prinsip-prinsip lingkungan bahwa semakin tingggi
> keanekaragaman, akan semakin langgeng.
>
> Soal kemacetan lalu lintas dan segala kesemrawutan kota itu tidak
> disebabkan oleh banyaknya fungsi, tetapi itu soal manajemen saja. Kota
> besar bisa  di manage dengan prinsip : maximum transaction, minimum traffic
> (dengan teknoologi dan inovasi tentunya), sehingga tidak menyebabkan
> kesemrawutan seperti sekarang ini.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
>
>
> --- Pada *Rab, 16/6/10, [email protected] <[email protected]>* menulis:
>
>
> Dari: [email protected] <[email protected]>
> Judul: [referensi] Penumpukan Fungsi-fungsi Kota di Jakarta
> Kepada: "ITB" <[email protected]>, "IA-ITB Asli" <[email protected]>,
> "Kuyasipil" <[email protected]>, "Referensi" <
> [email protected]>, "Futurologi" <[email protected]>,
> "Indonesia" <[email protected]>, "Galia-Sipil" <
> [email protected]>
> Tanggal: Rabu, 16 Juni, 2010, 4:51 AM
>
> Rekan-rekan yth.,
>
> Berikut cuplikan diskusi ringan dan santai di milis 
> [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>dan 
> milis baru alumni ITB (
> [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>).
> Semoga berkenan memberikan tanggapan.
>
> CA:
> Bagaimana bila Bandung jadi kota pemerintahan saja? :-) Dan fungsi-fungsi
> (ibu)kota lain hendaknya didistribusikan, misalnya, kota pelabuhan di
> Sabang, kota artis di Jakarta, kota ekonomi di Sorong, ibukota di Tomohon.
> Fungsi-fungsi Ibukota harus dibagi, jangan tumplek blek di satu tempat saja,
> ya macet... :>
>
> AP:
> kan orangnya sama-sama juga, mantan artis jadi pejabat, pengusaha jadi
> pejabat, anak pengusaha jadi artis, anak pejabat jadi artis.. ;) tumplek
> bleg deh..
>
> CA:
> Ya, begitulah. :-) Dan penumpukan fungsi ibukota di satu tempat ini ibarat
> menaruh semua telur dalam satu keranjang.
>
> Bila keranjang telur tersebut jatuh (misalnya karena ada gempa > 8.5 SR di
> Jakarta), maka telur akan pecah semua (orang-orang pinter dan berbakat
> Indonesia pada tewas, gedung-gedung pemerintahan skala nasional hancur,
> dlsb.). Dan yang rugi pasti se-Indonesia Raya.
>
> Sebaliknya, kalau keranjangnya tidak jatuh, telurnya biasanya dimakan
> sendiri oleh empunya keranjang ... yang biasanya masih berdomisili di dalam
> radius 100 km dari Monas. :p
>
> Worst comes to worst, kalau dia ngutang, gagal bayar, lalu "kabur" sehingga
> dikhawatirkan berdampak "sistemik", maka terpaksalah utang tersebut
> ditanggung renteng dari Sabang sampai Merauke... ;>
>
> Salam,
> CA
> BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®
>
> ------------------------------------
>
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>   
>

Kirim email ke