Milisters ysh,
Kembali lagi ke pertanyaan …..dptkah sebuah kota Banjarmasin … dikembangkan 
menjadi ibukota negara ………
Tetapi pd ketika yg sama tiba2  muncul jg pertanyaan serupa ….kalau Banjarmasin 
bisa ditanyakan apakah ia pantas atau tidak jadi  ibukota ……..laIu mengapa pula 
tidak dgn Pontianak ..Balikpapan atau Samarinda atau Palangkaraya  …mrk juga 
tentu ingin  ditanyai pula …pantaskah atau tidak mereka juga  mencalonkan diri 
….toh  status mereka juga sama2 ibukota propinsi …..sama2 memiliki sungai  dan 
sama2 ada di Kalimantan pula…….…
Tapi tiba2 muncul pula pertanyaan lainnya lagi …...setidaknya dari saya sendiri 
….. . kenapa harus hanyalah the only memindahkan ibukota sbg satu2nya langkah 
…..kenapa tidak  samasekali sedikitpun berupaya mengurangi primacy ibukota  
………lalu ingatan jg tiba2 kembali ke Brasilia dan Brazil………
Kalau mengingat jumlah total penduduk nasional kita …… lalu mengingat pula 
jumlah penduduk ibukota kita …...rasanya kurang relevan utk mengaitkan rencana  
kepindahan itu dgn kasus Putrajaya (Kualalumpur 1.8jt, kwsn metropolitan 7jt)  
di Malaysia ( total penduduk 28 jt) yg bahkan hanya sejauh sekitar 50ankm saja 
dari Kualalumpur……..
Kalau menilik  jumlah penduduk serta rencana pemindahan ibukota jauh dari Jkt 
….drpd dgn Malaysia dan Putrajaya  ….rasanya kasus Brazil (192 jt) dgn Brasilia 
(inner city 2.6 jt, kwsn metropolitan 3.45 jt)  lalu spt lbh relevan utk 
menjadi referensi  atau setidaknya pantas sekedar utk dilarak-lirik……
Brazil sbg negara hasil jajahan Portugis ….. ketika awalnya memiliki rencana 
utk memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro “kesuatu tempat lain yg ideal”  
……namun rencana itu telah  lama muncul bahkan sejak setidaknya pd tahun2 1823 
(Portugis bermain2 di Brazil setidaknya sejak thn 1763)….bahkan telah sekalian 
dgn usulan namanya …ialah Brasilia …… lalu pd 1891 atau 2 thn setelah Brazil 
menjadi republik ….rencana itu telah disahkan dgn UU ….lalu pd 1894 (3 th 
kemudian) lokasinya yg matang telah ditetapkan …dan  pd 1922 telah mulai 
diletakkan batu pertamanya …….. pembangunan fisik dimulai pd 1955 dan 
pemindahan ibukota secara resmi dari Rio de Janeiro dilakukan pd 1960 …dgn 
jumlah penduduk awal sekitar 70 ribu jiwa …… lalu kini berpenduduk 2.6 jt (kwsn 
metro 3.4 jt) ……namun benarkah kasus Brazil serupa dgn Indonesia …….dan kasus  
ibukota baru sesudah Jkt akan nanti serupa pula dgn kasus Brasilia?
 ........salam,
aby

--- On Mon, 8/16/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:


From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: (3) Banjarmasin Banjarmasin
To: [email protected]
Date: Monday, August 16, 2010, 3:11 PM


  








Rekan H. Ekadj dan milisters ysh, 

Trims atas perhatiannya .....Betapa  strategisnya peran kota2 khususnya 
metropolitan  dlm menopang perekonomian tiap negara ….ambil contoh   fakta 
hampir pada sebarang negara didunia …. Praha sbg ibukota Republik Cheko 
disebutkan ….ia memiliki 10% penduduk nasionalnya, 15 % tenagakerja nasional, 
lbh 20% GDP dan lbh dari 50%  revenue dari turisme…….kota2 diseluruh dunia, 
kaya dan miskin baik di negara maju atau negara sdg berkembang  pd tiap benua, 
semuanya  mengikuti pola yg sama …..spt di Belgrade dgn 41% GDP dan 14% dari 
national population …….. di Bangkok, dgn 41% GDP nasional dan 9% population…. 
Alasan dari disparitas ini adlh krn kawasan urban (kalau dinegara sdg 
berkembang ya dikawasan metropolisnya) adlh hanya ‘satu2nya’ tempat yg mampu  
mengkombinasikan 2 elemen sgt penting dlm menjenerate produktivitas dan inovasi 
….. yg adlh mrpkn saluran utama dimana ekonomi menciptakan nilai dan 
berkompetisi pd pasar gobal……. Kedua elemen itu adlh spesialisasi dan diversiti 
 ……dimana hanya kawasan urbanlah  (lbh jauh adlh kwsn metropolitan) yg mampu 
mengumpulkan   sejumlah  massa kritis dari orang2 dgn spesialisasi dan keahlian 
tinggi yg mengerti bgmn caranya bekerja  dlm aktivitas produktif yg sangat 
khusus…… 
Kalau saja sejak lama masyarakat perencanaan kita tlh amat memahami fenomena 
keunggulan dan makna strategis dari fungsi2 kota metropolitan …..utamanya dlm 
perannya sbg mesin utama perekonomian nasional maupun juga peran strategis 
sosbudnya …….tentulah wacana2 pengembangan sistem kota kita secara nasional dpt 
lbh maju bbrp langkah …….tak sekedar  lbh banyak berkutat pada aspek Place saja 
serta kedalamannya ….yg ini lalu asyik menjurus ke aspek zonasi, transportasi, 
komunikasi, infrastruktur, lingkungan ekologi dan fisik …….lalu tanpa terasa 
aspek Folk dan Work lalu spt hanya ditengok  agak  ala kadarnya saja……… 
Padahal kalau kita telah akrab memahami makna fungsi strategis kota 
metropolitan dalam peran2nya  tak hanya ekonomi  namun juga sosial dan budaya 
dan juga dampak multipliernya  …..pada skala kota metropolitan kita dpt terus 
menggali  lbh dalam lagi aspek Urban Folk dan Urban Work  …..dimana   ia 
sebenarnya tak mutlak dan tak manja hrs menunggu dulu diselesaikannya masalah 
Place spt infrastruktur …krn bagaimanapun  juga didaerah juga bukannya  
samasekali belum  memiliki infrastruktur ……atau dpl.  infrastruktur didaerah  
bukanlah berada pada angka nol……. 
Urban Folk dari kelas menengah dari unsur bisnis dan kewiraswastaan dari 
leading industries  tidaklah selalu manja minta2 infrastruktur terus  
…..demikian juga Urban Work dari kelompok industri2 memimpin nasionalpun  sama 
juga ………mrk tidaklah manja dan cengeng selalu meminta infrastruktur hrs 
dibangun dulu …..krn didaerah tertinggal juga tak kurang telah terdapat yg 
namanya pelabuhan/ bandara internasional spt apa yg terdapat di Makassar  dan 
Manado….demikian juga ketersediaan infrastruktur fisik dan eksosbud lainnya 
…….masalahnya khan adalah kata mereka dari Urban Work dan Urban Folk itu  
……..emangnya yg planners itu siapa gitu …..apa sini apa situ ……kalau kami tak 
diajak atau diminta ....ya tak perlulah kami repot2 kerajinan membuat langkah2 
pioneering didaerah (tertinggal) .....krn lagi2 ....yg planners itu 
siapa  …..apa sini apa situ gitu …….salam, 
aby

--- On Mon, 8/16/10, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: (2) Banjarmasin Banjarmasin
To: [email protected]
Date: Monday, August 16, 2010, 7:42 AM


  


Sebentar pak, saya mau ambil pulpen dulu untuk mencatat :
 
"............. maka kepastian pandangan itu jadi perlu, agar jelas visi dan 
langkah kita tentang kota-kota hari ini dan yang akan datang itu bagaimana ……"

Yaaa sudah bisa dilanjut pak, monggo.

 
2010/8/16 hengky abiyoso <[email protected]>


  









Milisters ysh, 

Ttg arah pengembangan kota  ….terutama lagi berbicara  berkait  size kota  
…..kalau kita merefer ke pendpt  Mark A.Weiss  misalnya (Teamwork : Why 
Metropolitan Economic Strategy is The Key to Generating Sustainable Prosperity 
and Quality of Life for The World (Global Urban Development Volume 1 Issue 1 
May 2005)  ….dikatakannya l/k bhw  unit geografik terpenting dari aktivitas 
ekonomi dunia hari ini, selain drpd  nation-state  itu sendiri ….adlh tak lain 
dari  apa yg disebut namanya sbg ‘kawasan urban’/ urban regions ……yg lbh lanjut 
akan dikatakannya secara eksplisit bhw yg dimaksud lbh jauh dgn kawasn urban 
itu tiada lain adlh kawasan2 metropolitan…….. 
Dimana-mana diseluruh dunia, disetiap negara …..lbh dari separuh pendapatan 
nasionalnya digerakkan oleh apa yg disebut namanya sbg kawasan urban …..dimana 
persentasenya bervariasi dari rata2 55% di negara berkembang dgn pendapatan 
rendah ….sampai kpd rata2 85% pada negara maju berpendapatan tinggi……… 

Apa yg perlu digaris bawahi mnrt Weiss dari statistik tsb adlh bhw 
pd setiap data peran kawasan urban berkait persentase pendapatan nasionalnya 
….persentase tsb  (terutama pd kawasan2 metropolitannya) selalu melampaui 
persentase rata2  nasionalnya……..Pd negara2 berpendapatan rendah dimana urban 
areanya mengcover rata2 55% dari pendapatan rata2 nasional….urban share dari 
populasi rata2nya adlh  32% ......Pd middle income countries, urban share dari 
rata2 income nasionalnya adlh 73%, dimana urban share dari population rata2 50% 
.....sementara utk negara high income ….rata2 kontribusi urban kpd pendapatan 
nasionalnya adlh 85% ….dimana proporsi urban dari total penduduk nasionalnya 
adlh 79% ........ Ini menunjukan bhw semakin besar level dari urbanisasi pd 
sebuah negara …semakin besar pula tingkat kesejahteraannya …...dan sebaliknya 
semakin  sejahtera sebuah negara ……pd saat yg sama ia semakin urbanized pula…… 

Sepertinya skrg perlu lbh dipastikan…… apakah pandangan2 anti pengembangan 
metropolitan itu masih berlaku  kenceng dimasyarakat perencanaan kita ataukah 
sdh mulai berubah ……. Kalau masih kenceng juga ya lalu  utk apa mau kembangkan 
(kota besar) Banjarmasin …..krn kalau ia jadi bagus …pasti ia jadi berkembang 
…akan berdatangan migran ….dan pastilah sedikit lagi ia akan jadi metropolis 
juga…….maka kepastian pandangan itu jadi perlu  ….agar jelas visi dan langkah 
kita ttg kota2 hari ini dan yad  itu bgmn …… salam, 
aby 
 

--- On Sun, 8/15/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:


From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: (1) Banjarmasin Banjarmasin
To: "referensi" <[email protected]>
Date: Sunday, August 15, 2010, 7:56 AM


  






Milisters ysh, 
Walau jarang disentuh oleh banyak milisters …dan daripada tidak samasekali (krn 
sepertinya banyak yg lbh asyik ngerumpiin masalah2 lain non-keruangan/ termasuk 
saya juga disitu :-))……..) 
 ….namun sungguh asyik membayangkan mimpi pengembangan kota2 menengah di 
Indonesia kala ada satu dua yg mengemukakannya..…..  
Ya walaupun mimpi  pengembangannya itu tak semata murni krn telah secara umum 
muncul greget pd masyarakat planners indonesia utk selalu ingin mengembangkan 
sistem kota2 utama  agar secara umum dpt menjadi lbh dinamis …dan kali ini 
kebetulan dikaitkan dgn pertanyaan ttg kemungkinan jadi lokasi baru ibukota 
negeri  ………namun setidaknya ini sdh menjadi bagian utama dari upaya  
terusmenerus menegakkan issue keruangan yg menjadi ciri khas pembahasan dimilis 
ini……… 
Memindahkan ibukota negeri kelokasi amat dekat dari ibukota lama (spt dari Jkt 
ke Jonggol) akan segera mengingatkan kita pada kasus Putrajaya, Malaysia ……dan 
sebaliknya memindahkan ibukota negeri nun jauh ketengah hutan amat menjauh dari 
ibukota lama (tapi tak dirawa2 tepi sungai) …..segera membawa ingatan kita pd 
pengalaman Brazil dalam memindahkan ibukotanya ke Brasilia ………dimana keduanya 
bolehlah dikata sbg berhasil….… 
Sebenarnya akan sangat baik kalau kita selalu dgn amat sering mewacanakan  
teknik pengembangan kota-kota menengah dan kota besar diluar Jawa agar  dpt 
menjadi kota2 yg secara eksosbudlinghankamkum mampu meningkatkan kesejahteraan  
eksosbud komunitas, bangsa dan negara ……… tapi memang situasinya spt menjadi 
aneh ketika kita akan coba dengan wacana2 demikian….….. 
Setidaknya akan ada yg mengejek itu mimpi dan utopia …..ada juga malahan 
seorang guru besar dari kiblat pengajaran planologi yg  sekitar 1 atau 2 dekade 
lalu  saya dapatkan dulu (di Kompas) berpandangan bahwa perkembangan kota 
metropolitan Jakarta amat merisaukan …..yg itu bisa saja diartikan secara 
mendua oleh para mahasiswanya  dan masyarakat luas….spt bahwa pertama 
pengembangan kota metropolitan itu tdk merisaukan …..namun perkembangan Jkt sbg 
kota primat tanpa tandinganlah yg merisaukan ……atau bisa juga diartikan bhw Jkt 
atau bukan …pokoknya asalkan yg namanya kota metropolitan itu arah 
perkembangannya merisaukan ……… 
Tak kurang  masih pada sekitar dekade yg sama dgn itu …seorang (kini) guru 
besar sosiologi (masih dari lingkungannya prof ATA juga)  malah mengatakan bhw 
yg namanya kota metropolitan itu adlh ‘kota yg kecelakaan’ ……seakan ia mau 
mengatakan bhw kota yg gak celaka itu ya adalah kota2 kecil dan menengah ……nah 
pandangan2 demikian inilah yg bisa dikata repot utk bangsa dan negara  juga 
mahasiswa jadi berpandangan bias……..terutama dikaitkan dgn upaya 
mensejahterakan eksosbud bangsa dan negara namun  dgn cara ingin menghindari 
pengembangan kota2 besar dan metropolitan…….. 








 












 


. 











      

Kirim email ke