Assalamualaikum wr.wb. Salam hormat dan salam kenal, Pak! :)
Aline juga pernah mendapat cerita ini dari seorang ustadz waktu Aline masih SMA. Saya juga sudah lupa, apakah waktu itu Bapak ustadz ini menyebutkan dalilnya atau tidak. Tetapi, kalau diteliti atau direnungi, saya pikir, hal ini amat masuk logika. Kenapa? Karena, agama kita mengajarkan, rasa syukur itu adalah induknya iman. Walaupun, kita sudah yakin bahwa diri kita hebat, kita tdk boleh juga sombong. Bukankah kesombongan (jika menjadi tujuan) akan meruntuhkan segala amalan baik kita? Maka, akhirnya ludes deh! hehehe! Kan kosong tuh? Jadinya, masuk neraka juga. hehehe! Betul sekali, Pak! Aline sepakat! kalau cobaan itu patut disyukuri. Kenapa? Karena sesungguhnya cobaan berarti Allah mencintai kita. Aline pun amat tdk setuju dulu dengan teori ini. Tetapi, setelah dirasakan atau setelah kita betul2 terketuk hatinya, yakinlah! Bahwa cobaan itu pertanda Allah masih mencintai kita. Karena dgn ianya, kita bisa merasakan kalau seolah-olah kita dekat dengan Dia. Hehehe! Aline sok tua, Pak! ^_^ Salam hormat, Aline (gadis pembelajar 20 thn:).....) --- In [email protected], Zuhriyyah Hidayati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > alkisah, di zaman Nabi Musa as, ada seorang rahib bertanya kepada Nabi Musa as. > "hai Musa, aku bertanya kepadamu, kira2 setelah mati nanti, di manakah tempatku? di surga atau di neraka?" > "wah, itu urusan Allah. aku tidak tau tentang itu." jawab Nabi Musa > "sebagai nabi Allah, pastilah kamu dapat menanyakannya kepada Allah." > "oke... aku akan meminta petunjuk kepada Allah tentang tempatmu kelak." jawab Nabi Musa. > > setelah tiga hari, Nabi Musa kembali dengan membawa jawaban untuk si rahib. > "tempatmu di surga karena ketaatanmu kepada Allah." jawaban Nabi Musa > "o.. iya, tentu tempatku di sana. aku sudah mengiranya. thanks ya Musa." rahib berlalu sambil tersenyum-senyum. > > tidak lama kemudian, datanglah pemuda yang terkenal pemabuk, perampok, dan penjahat. hampir segala kejahatan pernah dia lakukan. si pemuda mendekati Nabi Musa dengan membawa pertanyaan yang sama dengan sang rahib. Nabi Musa juga tidak langsung menjawab, tapi menangguhkannya sampai tiga hari. > > pada hari ketiga, si pemuda kembali bertanya kepada Nabi Musa tentang tempatnya kelak sesudah mati. > "tempatmu di neraka, karen kedurhakaan yang telah kamu lakukan." > "alhamdulillah, aku masuk neraka." jawab si pemuda yang membuat Nabi Musa heran. > "kenapa kamu bahagia dengan neraka sebagai tempat hari depanmu?" tanya Nabi Musa. > "aku bahagia, setidaknya Allah masih mnegingatku, memedulikanku, serta memberikanku tempat setelah aku mati kelak. sungguh Allah adalah Zat Yang Maha Pemurah." > > konon, kisah kedua orang tersebut terbalik di akhir ceritanya. sang rahib ditempatkan di neraka karena ksombongannya. dan si pemuda masuk surga karena keikhlasannya, juga karena si pemuda berobat setelah pertemuannya dengan Nabi Musa. > > cerita ini memang sederhana. cerita ini aku dapat dari pak Untung S. Rajab, brigadir jenderal polisi di markas besar polri di bilangan kebayoran baru. aku ke sana untuk wawancara dan menjadikan beliau sebagai profil di majalah yang kami olah. > > aku pribadi, menjadikan kisah tersebut sebagai penyemangat hidupku. di tengah beratnya ujian yang aku hadapi, aku harus menanamkan kepercayaan dalam diri, bahwa ini adalah ujian, wujud kecintaan Allah kepadaku. juga merupakan bukti bahwa Allah masih memedulikanku. > > dan, hanya kepada Mu, ya Allah, aku mengadu. hanya kepada Mu, aku pasrah. hanya kepda Mu aku merintih. > > > > www.zuh86.multiply.com > > --------------------------------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. >
