Wawancara Deputi Gubernur BI
RI Bisa 'Kebanjiran' Dana Asing
Nurul Qomariyah - detikcom
Jakarta - Investor asing tampaknya masih shock dengan keluarnya
aturan
baru dari Thailand. Indonesia pun berpeluang 'kebanjiran' dana
dari para
investor asing itu.
"Itu bisa saja terjadi," jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia
(BI) Aslim
Tadjudin dalam perbincangannya dengan detikcom, Selasa
(19/12/2006).
Namun melihat tipikal modal yang bersifat short term capital
inflow, BI
akan tetap mewaspadainya. "Untuk sementara aturan yang kita
terapkan
sudah bisa (mengatur)," tambahnya.
Bank Sentral Thailand terhitung pada hari ini mengeluarkan
aturan yang
mewajibkan 30 persen dari mata uang asing dengan nilai lebih
dari US$
20.000 harus didepositokan tanpa bunga. Kebijakan itu tidak
berlaku
untuk mata uang asing yang berhubungan dengan perdagangan barang
atau
jasa.
Namun para analis dan pelaku pasar shock dengan kebijakan baru
itu.
Mereka menilai kebijakan baru itu akan menghalangi masuknya
investasi
asing termasuk ke pasar saham Thailand.
"Ini seperti memukul semut dengan palu. (Langkah) ini mungkin
bisa
membantu mereka mencapai tujuan, seperti memberikan tekanan pada
baht,
namun bisa meluas ke instrumen lainnya," ujar Sriyan Pietersz,
kepala
analis JP Morgan seperti dikutip dari AFP.
Analisis itu tampaknya benar. Contohnya adalah di pasar saham
Thailand
yang langsung terpuruk. Akibat kepanikan di pasar saham, sekitar
pukul
11.30 waktu setempat, indeks saham Thailand anjlok hingga 10,10
persen
(73,80 poin) ke level 656,75.
Penurunan ini merupakan yang terparah sejak pertengahan tahun
1997,
sebelum akhirnya Negeri Gajah Putih itu terjerumus ke jurang
krisis
ekonomi. Di akhir sesi pagi, seperti dilansir dari AFP, indeks
saham
Thailand ditutup anjlok hingga 11,76 persen, menyusul terjadinya
kepanikan di pasar saham.
Sebagai tambahan, sepanjang Januari hingga November 2006,
capital inflow
atau aliran modal asing yang masuk melalui pasar modal dan
obligasi
Indonesia nilainya mencapai Rp 35,39 triliun. Sebanyak Rp 15,09
triliun
masuk melalui pasar modal, dan sisanya Rp 20,3 triliun masuk
melalui
pasar obligasi Indonesia.
(qom/ir)