Bagi saya valuasi harga wajar itu adalah harga pasar. Jadi, harga pasar
yang terjadi, itulah harga wajar saham tersebut pada saat itu atau hari
tersebut.

Sementara yang suka diasumsikan valuasi wajar atau harga wajar yang umum
dipakai para analis saat ini, sebenarnya harus dibaca dengan valuasi wajar
menurut analis tersebut dengan asumsi2 yang dia gunakan.  Saya cenderung
tidak menggunakan lagi istilah valuasi wajar atau harga wajar, melainkan
saya lebih suka menggunakan istilah valuasi teoritis. Dengan demikian
pembaca tidak akan salah tangkap artinya.

Teoritis dan realitas tidak harus sama, tidak harus selalu ketemu disatu
saat. Bisa saja valuasi teoritis tersebut tidak pernah bertemu dengan harga
realita karena adanya penggunaan asumsi2 yang dipakai saat melakukan
perhitungan2.  Tidak ketemunya tidak selalu valuasi teoritis selalu berada
di atas harga pasar, tapi bisa juga valuasi teoritis selalu dibawah harga
pasar.

Seperti contoh, saya berkali2 menghitung valuasi teoritis UNVR dengan cara
yg saya pahami, selalu hasilnya jauh dibawah harga pasar.  Bukan berarti
harga pasar salah, harga pasar tidak wajar, melainkan menurut pengamatan
saya adalah karena ada hitung2an dan asumsi2 pelaku pasar yang mungkin
berbeda dengan hitung2an dan asumsi2 yang saya gunakan ketika mencoba
menghitung valuasi teoritis UNVR. Perbedaan asumsi dan cara hitung valuasi
teoritis akan menghasilkan harga akhir yang berbeda.

Contoh lain lagi. Beberapa analis asing ada yang menghitung harga teoritis
AAPL (saham Apple Inc. di AS) saat harga AAPL di pasar saat itu sekitar
$600. Ada analis yang membuat perhitungan menghasilkan harga teoritisnya
menurut dia di $1000, ada juga yang menghitung di $800, ada juga yang
menghitung di $600, tapi ada juga yang menghitung di $400.  Perbedaan yang
ekstrim seperti ini bisa dimaklumi karena bicara soal future/masa
mendatang, bisa dibilang tidak ada yang tahu pasti. Akhirnya berangkat
dengan menggunakan asumsi2 dan teknik perhitungan yang mungkin juga
berbeda. Saham teknologi seperti AAPL ini patut dipahami sangat rentan
terhadap perubahan, alias sektornya sangat volatile dan sulit untuk
memperkirakan apa yang akan terjadi 5 tahun dari sekarang. Apakah masih
bisa survive dan makin maju, ataukah mengalami kemunduran dan akhirnya
terancam bangkrut, sulit untuk bisa dipastikan.  Sudah banyak kasus
perusahaan teknologi yang awalnya jawara, akhirnya beberapa tahun kemudian
keok karena terjadi perubahaan dan masuk pendatang baru.

Hal seperti ini. valuasi wajar vs valuasi teoritis, sudah sering saya
sampaikan ke para sahabat saya yang kebetulan bekerja sebagai analis.
Mengajar mereka untuk menggunakan istilah yang menurut saya lebih pas agar
umum tidak sampai salah persepsi. Tapi tentunya semua kembali ke masing2
pihak sajalah, mana yang terbaik menurut mereka. Di milis ini pun juga
bebas2 saja mau pakai istilah mana. Yang penting paham dan menangkap saja
maksud intinya.  :)

Semoga bermanfaat ya.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu




2013/8/29 Fabianto Wangsamulya <[email protected]>

>
>
> Rekan-rekan anggota milis terutama yang punya background analisis
> fundamental, saya ada pertanyaan terkait dengan valuasi harga wajar.
> Kenapa umumnya analis fundamental menghitung harga wajar suatu saham
> dikaitkan dengan PER sektor atau industrinya?
>
> Mis saham ABCD harganya 1000 dengan PER 10 sedangkan PER rata-rata sektor
> atau industrinya 14, maka harga wajar ABCD adalah 1400.
>
> Perhitungan itu sepertinya dilandasi oleh pemikiran bahwa harga suatu
> saham itu akan mengikuti harga rata-rata sektornya sehingga jika PER suatu
> saham di bawah rata-rata maka dibilang murah dan sebaliknya.
> Saya lagi berpikir kenapa tidak dibalik?
>
> Mis saham ABCD harga 1000 dengan PER 10 itu sudah harga wajar walaupun PER
> rata-rata sektornya 14, justru harga saham yang lain dalam sektor yang sama
> kemahalan.
>
> Lagipula jika mis saham ABCD yang harganya 1000 itu menjadi 1400, maka
> rata-rata PER sektornya akan naik juga (karena rata-rata dari total,
> apalagi jika kapitalisasi saham ABCD ini besar) sehingga target PER 14 itu
> akan naik lagi. Bagi saya tidak mungkin saham satu sektor itu PER nya sama
> semua karena ada perbedaan pertumbuhan laba, margin profit, besarnya beban
> utang, dll.
>
> Silakan didiskusikan terutama bagi yang punya background analisis
> fundamental apalagi yang belajarnya resmi dan punya sertifikat :)
>
> Terima kasih.
>
> ---
> Fabianto
> www.fabianto.com - my blog
> www.fordiso.com - my company: supply chain IT company based in Indonesia
> www.maxlogistix.com - low cost cloud warehouse management system (WMS)
>
>
> 
>

Kirim email ke