Pak Tommy, ternyata dari sebelumnya hanya Rp4 triliun, sekarang sudah
naik jadi sekitar Rp21 + 4 triliun. Kalau jumlahnya sampai Rp25 triliun,
menurut saya sudah aman untuk dibuka berdasarkan perhitungan
kasar di posting saya sebelum ini.

Kalau cuma Rp4 triliun, memang berat. Tapi kalau Rp25 triliun,
mengutip iklan telkomsel "Kaaasih daaah...."  :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

2008/10/12 Tommy Jayamudita <[EMAIL PROTECTED]>

>  Setuju Pak IAN, lebih baik pasar modal yang ditutup saat ini, daripada
> pasar Senen dan pasar Tanah Abang yang terpaksa harus ditutup di kemudian
> hari.
>
>
>
> ----- Original Message -----
> *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Sunday, October 12, 2008 12:00 AM
> *Subject:* [saham] Nilai Kapitalisasi Pasar BEI per 8 Oktober 2008
>
>  Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia per penutupan
> tanggal 8 Oktober 2008, tanggal terakhir BEI buka,
> adalah sebesar Rp1,167,288,582,974,942
> atau sekitar Rp1167 triliun. Dengan kurs Rp10.000/USD,
> maka akan setara dengan USD116,7 milyar.
>
> Sumber dari website BEI,
> http://202.155.2.90/market_summary/daily/Market_Indices/IX081008.txt
>
>
> Jumlah ini jelas tidak kecil. Nilai Rp 4 triliun jadi terasa kecil bila
> dibandingkan dengan angka kapitalisasi pasar.
>
> Pemerintah harus benar2 memperhitungkan kekuatan yang ada bila
> nantinya ingin membuka kembali bursa saham. Jangan sampai
> karena bursa, ekonomi nasional jadi terganggu. Lebih baik
> mengorbankan bursa dengan membiarkannya tetap tutup sampai
> kondisi lebih kondusif, ketimbang memaksakan diri membukanya
> sementara kondisi yg ada belum kondusif, yang pada akhirnya malah
> hanya memperburuk kondisi.
>
> Pihak asing bisa saja ngomong A, B, C, D, tapi kitalah yang tahu
> kondisi kita sendiri, kita yang tahu kebutuhan dan kepentingan
> kita sendiri.
>
> Saat ini banyak pihak bisa saja mencibirkan maupun mempertanyakan
> keputusan yang diambil pemerintah. Tapi pada akhirnya, hasil akhirlah
> yang nanti bicara. Bila pemerintah tetap konsisten mendahulukan
> kepentingan nasional di atas hal yg lain, berhasil melewati krisis ini
> dengan selamat, maka banyak pihak yang tadinya mencibir ataupun
> mempertanyakan keputusan pemerintah, akan melihat kebenaran langkah
> yang dilakukan pemerintah.
>
> Ada perbedaan mendasar antara Bernanke dan Alan Greenspan.
> Ini saya baca di awal terpilihnya Bernanke menggantikan Alan
> Greenspan sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika.
>
> Alan Greenspan adalah tipe pengambil keputusan yang sifatnya
> antisipatif yaitu mengambil kebijakan dengan berdasarkan antisipasi
> keadaan yang akan terjadi akibat masalah awal yg timbul. Dia cenderung
> tidak akan menunggu data2 keluar, tapi dia akan cepat mengambil
> keputusan antisipasinya.
> Dengan stylenya yg seperti ini dia berhasil menyelamatkan kondisi
> Amerika dari krisis kepercayaan di sektor finansial beberapa kali.
>
> Sebaliknya, Bernanke adalah tipe pengambil kebijakan yang reaktif.
> Artinya reaktif disini adalah terjadi dulu masalah, dan didukung oleh
> data2 ekonomi, baru kemudian dia mengambil kebijakan untuk
> memperbaikinya. Itulah sebabnya beberapa kali tahun lalu Bernanke
> disesalkan oleh pasar karena terlalu lambat mengambil keputusan penting,
>
> Sektor finansial adalah sektor yang sangat didukung oleh kepercayaan.
> Sekali kepercayaan itu runtuh, hancurlah sektor tersebut.
>
> Suatu negara yg sektor finansialnya jauh lebih maju dari sektor riilnya,
> akan menanggung resiko besar bila kepercayaan runtuh.
> Sewajarnya adalah sektor riil lebih maju dari sektor finansial.
> Sektor finansial hanyalah pendukung dari sektor riil.
>
> Kejadian ini bisa menjadi pengalaman yg sangat berharga bagi
> bangsa kita akan dikemudian hari lebih fokus lagi pada pengembangan
> sektor riil. Sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan
> perlu mendapatkan porsi perhatian dan penanganan yang lebih serius lagi..
>
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
>  
>

Kirim email ke